
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Eh.. Aku menatap anggota jurnalistik yang sudah mulai ribut berkerumun, membuat ku lupa sepenuhnya dengan kekhawatiran tentang perasaan Feli.
Mereka membawa kamera dan ponsel mereka. Tampak bahwa mereka mengambil gambar dan rekaman, mencoba mewawancarai ku sejenak. Astaga, sungguh cepat sekali.
Aku tersenyum. Ini akan menjadi kesempatan bagus, karena aku masih punya kejutan terakhir.
“Queen, bagaimana perasaanmu sekarang? Oh, kamu melakukan hal gila!” Ara tampak sangat antusias. Ah, aku lupa dia juga masuk jurnalistik.
“Queen, prestasi khusus apa yang kamu lakukan?”
“Queen, apakah ada komentar mengenai keberhasilan ini?”
“Queen, apa hubungan mu dengan Ares?” Seru siswa jurnalistik lain, berebut berita.
Meski mereka sama-sama anggota Jurnalistik, mereka berasal dari beberapa kelompok berbeda. Dalam jurnalistik memang ada yang menangani penyiaran, berita eksklusif, mading, majalah caturwulan, dan lain-lain. Aku menatap mereka.
“Terimakasih untuk semua yang datang. Semua masalah untuk 10 hari ke depan akan diselesaikan Mayor dan anggota Kings Killer lain. Bagaimana perasaan saya? Saya bahagia tentunya. Saya akan menikmati waktu liburan saya selama 10 hari dengan penuh cinta.” Ucapku, memberikan senyuman paling manis di depan kamera.
“Haha.. Kamu terlihat seolah memang sengaja melakukannya, Queen.” Ucap Ara.
“Tentu saja saya sengaja. Namun, sudah cukup untuk wawancara hari ini. Bukankah kalian harus mengajukan permintaan wawancara resmi?” Tanyaku, tersenyum lebar. Telinga ku terasa panas mendengar keributan mereka.
Aku pun segera meraih tas ku. Mayor dan anggota Kings Killer lain dengan sigap membantu membukakan jalan dan memberikan brikade. Anak-anak masih berkumpul karena mereka juga memiliki banyak pertanyaan. Mereka masih sangat ribut dengan berbagai pertanyaan. Aku melirik Ares, memberinya isyarat untuk mengikuti ku.
“Mundur, menyingkir!!” Teriak Mayor. Namun tak ada gunanya.
Mayor pun memimpin anggota Kings Killer lain, berusaha mempertahankan brikade dan memaksa mereka memberikan jalan.
“Ares! Ares! Tolong satu pertanyaan untuk Ares!
“Ares, bagaimana perasaan mu?”
“Queen, kenapa kamu membela Ares?”
Aku tetap melangkah, berusaha keluar. Astaga, mereka ngotot sekali. Masih tak mau menyerah mendapat informasi lain.
“Apa hubungan kalian?”
“Queen, apa benar kalian pacaran?”
“Ares, Kalian pacaran?”
Aku akhirnya menyeringai kecil, berhenti. Membuat gerakan Kings Killer dan Ares juga berhenti, menatapku penuh tanya. Terutama Mayor. Dalam hati ia merutuk, berpikir bahwa ‘sudah pasti Queen berniat membuat masalah lain’.
“Tolong jawab-
“BENAR!” ucap ku lantang, membuat suasana riuh itu hening sekejap. Lantas, kegaduhan kembali semakin menjadi.
__ADS_1
“Ah, Shitttt. Queen sialan!” gumam Mayor. Ketakutannya benar-benar terjadi.
“Ares, apa itu benar?”
“apa itu benar?”
“Sungguh?”
Bukan hanya mereka. Anggota Kings Killer juga menatapku terkejut. Bahkan Ares membeku sesaat. Menatapku penuh tanya.
“Jadi kita pacaran?” tanya Ares, menaikkan satu alis. Membuat anak-anak semakin heboh lagi.
Aku menatap mereka, lantas meraih tangan Ares, menggenggamnya dan menunjukkan pada mereka.
“Benar. Kami pacaran. Sudah bukan?” ucap ku. Ares bahkan tampak mati gaya. Tak pernah menyangka bahwa aku akan melakukan hal gila itu.
Namun, bukannya mereda, mereka malah mengajukan lebih banyak pertanyaan lain.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Ares, apa itu benar?"
"Ares, bukankah kamu punya pacar?"
Ck! Aku berdecak kesal.
“DIAM DAN BUBAR SEKARANG JUGA!!” Teriakku lantang dengan seluruh tenaga, mengangkat satu tangan.
“BUBAR SEKARANG! Aku masih Queen, apa kalian lupa?” ucap ku, menatap mereka garang. Mereka masih tampak sedikit riuh.
“Feli, catat nama-nama yang ku sebutkan!” Ucapku keras. Feli yang bingung dengan cepat menyiapkan alat tulis dari tas-nya.
“Ara, kelas Nest. Mela, kelas Spark. Kise, kelas Mian. Loir, kelas Shade. Zumi, kelas Lux. Nerya.. Harus ku lanjutkan?” Ancam ku, mendikte dan menatap mereka dengan galak. Mereka tampak mulai panik dan gelisah. Terutama nama yang ku sebut.
“Shane, Erta, Galang! Apa yang King lakukan sekarang?! Giring mereka keluar!!” perintah ku, menatap tiga anggota King yang berada di dekat situ. Mereka tampak sangat terkejut.
Begitulah, dengan cepat masalah itu teratasi. Kings Killer akhirnya di tinggal sendiri di dalam GOR. Semua anak keluar satu persatu.
“Astaga. Ternyata kamu bisa bertingkah keren.” Ucap Teguh. Menatap ku lekat.
Aku akhirnya kembali tersenyum.
“Apa kalian pikir Ibu Pengawas memilih ku tanpa alasan? Lagipula, aku yakin beliau akan membuat ku memegang jabatan ini sampai aku lulus. Jadi, bukankah aku harus mulai menegakkan kekuasaan?” ucap ku.
“Ya, kamu benar. Aku akan mulai memikirkan bagian itu juga.” Balas Binner.
“Sudahlah. Ayo kita bereskan GOR saja sekarang. Mayor, kamu yang handle. Feli, ikut aku, masih ada beberapa nama yang akan ku sebutkan. Terutama King, aku akan buat mereka menderita karena lalai bertugas.”
Sepuluh orang itu pun mulai sibuk dengan aktivitas mereka, membereskan kursi dan membersihkan GOR, termasuk Ares yang membantu. Queen mengucapkan banyak nama lain sambil mengangkat kursi, sedang Feli sibuk mencatatnya.
__ADS_1
Suasana mereka cukup tenang, lupa bahwa mereka juga memiliki banyak hal untuk ditanyakan. Mereka malas bergurau karena sudah lelah. Memilih fokus untuk cepat-cepat menyelesaikan semua itu. Lantas mereka pun pulang satu per satu setelah berpamitan dengan yang lain.
Aku menatap punggung mereka yang menjauh. Terutama Feli. Dia tampak sangat diam. Raut wajahnya masih buruk. Membuat ku kembali teringat masalah Feli dan merasa bersalah, dan hubungan kami jadi sangat kikuk. Aku akan meminta maaf padanya besok secara terpisah.
“Haa… benar-benar rubah ya..” ucap Ares kemudian, setelah semua orang sudah keluar, menyisakan mereka berdua.
“Apa?” aku menatap Ares dengan sedikit bingung. Dia sedang mengejek, atau memuji ku?
“Kamu tuh bener bener Rubah. Sangat licik.”
“Licik? Setelah aku membantu mu sebanyak ini?”
“Haha. Tapi bukankah itu artinya kita sangat cocok. Anjing dan Rubah. Dan kita sama-sama gila. Meski aku juga baru tahu sisi gila seorang penyendiri berwajah kelam.”
Aku menatap Ares lekat.
“Ya. Mungkin saja. Bukankah kamu adalah Raja iblis? Dan aku adalah Queen Kings Killer.”
“Haha.. Kamu harus tangung jawab sepenuhnya dengan semua kata-katamu. Jadi, kita sekarang benar-benar pacaran bukan?” Tanya Ares kemudian, meminta kejelasan.
“Lalu??” Aku mengangkat satu alis. “Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur juga.”
“Bagus. Sekarang, ayo kita keluar!”
Ares lantas menyeringai.
“Pa. Car. Ku..” bisiknya lirih.
Deg..
Untuk sesaat, giliran aku yang mati gaya, speechless. Belum selesai di sana, Ares bahkan menggenggam tanganku dan menggandengnya, mengajakku berjalan. Kali ini dia yang melakukannya lebih dulu.
Dia ini.. memang benar-benar terlalu tampan dan mempesona.
“Tunggu..” aku menghentikan langkah dan melepaskan tangan kami yang masih bergandengan. Ares pun ikut berhenti dan menatap ku.
Aku pun meraih tas gendong ku yang sempat terlupakan, lantas kembali beranjak.
“Sudah. Ayo pulang.” Ucap ku kemudian.
“Apa? Hei.. tunggu dulu. Kenapa harus lepas tangan segala?”
“Hee.. kenapa harus pegangan segala? Toh kita bisa jalan sendiri..”
“Apa? Toh hanya pegangan tangan.”
“Gak mau.”
“Apa?? Hei!!”
__ADS_1
...**...
...Duh kasian Feli dilupakan...