
“Apa kamu mempertanyakan keputusanku atas opsi sanksi yang diberikan?” Miss Ruai menatapku tajam.
“Saya yakin tidak ada aturan yang melarang hal itu, Miss. Sidang ini digelar untuk mencapai keputusan paling bijaksana dan rasional atas pelanggaran seorang siswa. Dan saya adalah Queen, saya mewakili satu suara dari 3 suara utama yang akan diperhitungkan.” Jawabku dengan tegas dan tenang.
Seisi GOR mulai dipenuhi bisikan para siswa yang bertanya-tanya tentang sikapku yang secara terang-terangan seolah sedang menentang narrator. Aku masih berdiri menunggu. Miss Ruai tampak berbisik dengan ketiga dewan hakim.
“Jadi, hukuman apa yang anda ajukan, Queen?” tanya Miss Ruai kemudian. Aku menatapnya lekat. Sikapnya yang tak lagi menentang ku, artinya sikapku tak salah. Bagus juga aku membaca buku panduan yang membosankan itu, dan berhasil mengambil titik buta.
“Jika kita membicarakan mengenai hukuman dari semua pelanggaran yang dibuat oleh Ares, maka Dropout adalah hukuman yang paling rasional.” Ucapku kemudian.
Aku lantas melirik Sang Raja Iblis sekilas, ia tampak sedikit mengerutkan dahi dan wajahnya tampak sedikit pucat dan tegang. Tangannya yang tersembunyi di balik meja mengepal erat. Dia mungkin kesal, sebal, dan gugup. Namun, ia melihat lurus ke depan bukan menatapku dengan kebencian. Aku suka itu.
Artinya dia tidak menyalahkan ku, juga tidak membenciku. Meski mungkin dia tak suka keputusanku yang menjadikan Miss Ruai sebagai narrator, dan sangat tak suka dengan pernyataanku mengenai dropout.
TENG..
Miss Ruai membunyikan bel satu kali dan berdiri.
“Baiklah, dengan ini, tiga kesaksian sudah didapatkan. Sebelum menuju keputusan sidang dewan, apakah pelanggar, Ares, memiliki sanggahan?” Tanya Miss Ruai, menatap Ares.
"Tidak." Jawab Ares, untuk pertama kalinya memberikan komentar. Miss Ruai pun melanjutkan kalimatnya.
“Pelanggar, Ares, tidak memiliki pembelaan terhadap permasalahan ini. Sekarang, mari kita dengarkan keputusan yang akan disampaikan oleh dewan pe-”
“MAAF!!” Seruku kencang, memotong ucapan Miss Ruai. Sejak tadi, aku masih berdiri dan belum duduk.
“Saya belum menyelesaikan pertanyaan dan pendapat saya!! Jadi, harap izinkan saya untuk meneruskan.” Sambung ku.
Para dewan tampak berbisik mempertimbangkan, termasuk Miss Ruai. Sebagai seorang narrator, adalah suatu kecerobohan melanjutkan sidang saat aku masih berdiri, pertanda bahwa aku belum selesai dengan pernyataan ku. Lalu,
“Dipersilahkan..” Ucap Miss Ruai pada akhirnya, Ia kembali duduk.
“Saya minta maaf, saya akan mengulangi kembali pernyataan saya!!
Para Dewan Hakim yang terhormat.. Ares telah melakukan peretasan, mengganggu jam pelajaran satu sekolah, melakukan kekerasan, dan melawan King serta Kings Killer. Atas pelanggaran berat tersebut, sesuai hukum Akademi, sanksi ‘paling rasional’ adalah dropout.
__ADS_1
Apakah saya Benar?” tanyaku lagi, menekankan kata ‘benar’.
“Ya. Itu Benar..” Ibu pengawas menjawab setelah beberapa saat. Narrator memang tak memiliki andil untuk memberi jawaban atas pertanyaan ini. Nampaknya, semua orang mulai jengah dengan pertanyaan ku yang terus berputar dalam hal yang sama.
Smirk..
Aku menyeringai kecil, memiringkan kepalaku sedikit.
Saatnya aku masuk ke dalam stage kedua dalam rencana ku. Suasana seketika tegang. Setelah aku tampak sangat serius sejak awal sidang dimulai, senyuman ku sangat berbanding terbalik dengan situasi serius ini. Dan mereka yang mengingat hal gila yang pernah aku lakukan sebelumnya mulai bertanya-tanya atas sikap ku.
“Haa.. apalagi masalah yang akan dia buat?!” gumam Mayor pelan. Feli yang di sampingnya melirik Mayor sekilas.
“Benar.. Aku juga mulai memikirkan ucapanmu terakhir kali. Jika Queen tersenyum, entah sejak kapan, rasanya ada hawa dingin yang menusuk tulang dan alarm bahaya menyala begitu saja. Berdengung kencang di telingaku.” Ucap Feli lirih, tersenyum pahit.
“Entahlah.. Tapi sekarang, senyumannya benar-benar terasa seperti bencana!!” Teguh menimpali.
“Aku juga melihatnya dalam khayalan ku. Angka-angka kematian yang mendekat!!” Jero ikut bicara.
Haha.. Mereka tertawa hambar dengan lirih, teringat akan ucapan terahir Queen yang menyatakan bahwa bukan hanya Ares yang gila. Seolah mereka baru menyadari satu fakta penting yang terkubur selama ini.
Nampaknya pemimpin mereka sangat gila.
“Kalau begitu, Dewan Hakim yang berwawasan dan bijaksana..” ucap ku, mulai melanjutkan.
Dewan Hakim juga tampak sedikit tegang. Terutama Ibu Pengawas, salah satu yang paling tahu mengenai aku di antara semua orang di sini.
Aku sungguh minta maaf, Ibu Pengawas. Bukankah anda yang memberikan tugas merepotkan ini pada ku? Maka aku juga akan dengan senang hati merepotkan anda dengan ulah ku. Jika anda tak menyukainya, makzulkan saja aku dari posisi Queen.
Aku tersenyum menatap Dewan Hakim, bersiap melanjutkan kalimat ku.
“Pertama, Ares telah berhasil meretas sistem sekolah. Artinya keamanan sekolah ini berada di level bawah, amatir, dan rendahan. Di masa, depan hal seperti ini akan sangat mudah terjadi lagi. Jika seorang siswa saja bisa membobolnya, bagaimana dengan agen elite?
Lalu, fakta bahwa Ares telah menilik data akademi. Bagaimana jika informasi pribadi sekolah disebarkan? Atau sistem sekolah kembali diretas dan dikacaukan? Daripada membiarkan satu bom terlepas keluar, bukankah lebih baik mematikannya dari dalam?” aku menatap tepat ke manik Ibu pengawas, tersenyum licik.
“Apakah Saya Salah?!” tanyaku tegas, menatap kea rah Mr. Madelas.
__ADS_1
Dengan ini, Mr. Madelas sebagai KAMSA pasti merasa sedikit tertusuk. Dia sebagai kepala keamanan, telah mendeklarasikan diri bahwa ia gagal melindungi data akademi. Bahkan dari tempat ku berdiri, aku bisa melihat kerutan di dahinya, dan tatapan membunuh yang sangat ganas di matanya.
Seketika seluruh GOR mulai riuh. Sedang para dewan hakim maupun Miss Ruai sebagai narrator diam. Para guru mulai berbisik.
Tanpa sadar, mereka telah jatuh dalam salah satu perangkap yang ku siapkan. Sejak awal sidang, aku terus bertanya apakah pernyataanku benar. Dan semua pernyataanku benar, tanpa perlu sanggahan atau koreksi.
Namun, aku kali ini bertanya apakah aku salah. Bahkan jika pernyataanku tak benar, mereka tak bisa mengatakan bahwa apa yang aku katakana salah. Jadi, ketika mereka masih sedikit kebingungan dengan situasi ini, aku harus secepatnya kembali beraksi.
“Kedua. Ares telah berhasil mengganggu jam pelajaran satu sekolah. Dewan Hakim, Ibu Pengawas sendiri segera menghubungi saya secara langsung setelah genderang perang dibunyikan. Dan bahkan beliau tampak kebingungan menyelesaikannya. Itu memang tugas saya.
Namun, pernahkah kalian berpikir siapa yang membunyikan genderang perang di tengah pembelajaran? Ares sendiri yang melakukannya!
Lalu kenapa Ibu Pengawas tahu bahwa Ares lah pelakunya dan menghubungi saya bahkan sebelum Ares mulai memakai speaker? Bagaimana anda tahu bahwa Ares lah yang membuat masalah sebesar MSP?"
"Artinya, MSP kali ini bukan terjadi begitu saja, tapi terjadi karena anda tak mampu menghentikannya meskipun anda tahu itu akan terjadi. Bahkan jika dewan guru tidak ikut campur terhadap masalah siswa, dewan akan ikut campur terhadap semua MSP. Bagaimana bisa, seorang guru lepas tangan dengan masalah sebesar itu yang akan terjadi di depan matanya?"
"Jadi, ini juga merupakan kesalahan besar anda sendiri bukan? Apakah Saya Salah?!”
Kali ini Dewan Hakim tampak mulai ikut ribut. Ibu Pengawas sendiri sedikit pucat. Yah, kata-kataku cukup menampar bukan? Bersabarlah, karena ini masih baru dimulai.
“Ketiga. Ares melawan otoritas King dan Kings Killer secara terbuka. Faktanya, kedua faksi itu bahkan kesulitan menangani Ares yang seorang diri. Dan saya pikir, yang dilawan oleh Ares bukan King dan Kings Killer saja, tapi semua siswa terlibat di sana."
"Tanpa sadar, Ares telah berada pada rantai makanan tertinggi seluruh siswa Akademi. Ares, dapat dikatakan, adalah murid terbaik akademi ini.
Saya sedikit melakukan riset, pada semester kedua, hampir semua nilai akademik Ares di atas 80. Meski ada pula nilai yang sangat kacau. Ares tetap masuk dalam jajaran peringkat 30 teratas akademi dalam angkatan.
Dan selama 2 tahun terakhir, jumlah prestasi yang didapatnya masuk kategori 15 terbanyak dalam sejarah akademi. Jumlah poin yang diakumulasikan untuk kenaikan kelasnya selalu berada pada middle rank meski sudah dikurangi oleh semua pelanggaran yang ia buat."
"Dari tiga hal tersebut, sanksi yang ditujukan untuk Ares, yaitu dropout atau pindah sekolah. Menurut saya, dua sanksi tersebut hanyalah sebuah bom bunuh diri!!” Aku menatap Miss Ruai dan Miss Hayas bergantian dengan tajam.
“Apakah Saya Salah?!” tanyaku dingin.
Sebuah ultimatum yang ku keluarkan telah dengan telak menghantam mereka. Miss Hayas sebagai guru BK yang sangat teliti pasti mengakui kebenaran dari kata-kataku. Dan Miss Ruai sebagai orang yang mempertimbangkan sanksi juga berada pada posisi serba salah.
Aku tersenyum puas. Dengan semua ini, kemungkinan terbesar adalah diadakannya sidang ulang dengan opsi sanksi yang lain. Yang tentu saja diperingan. Mereka telah mendapat serangan telak. Mungkin dengan ini sudah cukup. Sudah sangat luar biasa untuk karir dan pesonaku sebagai Queen. Dan aku sudah memberikan jalan setapak, sebuah pintu keluar tersembunyi untuk Ares sebagaimana janjiku.
__ADS_1
Tapi..
“Saya belum selesai!!” lanjutku. Membuat wajah pias para Dewan Hakim semakin geram, memancarkan amarah dan kebencian mereka.