Academy Zone

Academy Zone
Dropout?!


__ADS_3

Note. Segala sesuatu yang terjadi dalam cerita adalah murni khayalan penulis dan tidak terikat dengan dunia nyata.


“Hadirin yang terhormat. Dengan ini, Sidang Dewan dalam rangka memutuskan hukuman untuk Ares, siswa kelas Last, resmi dimulai. Saya selaku narrator akan memandu jalannya acara. Harap perhatikan dan ikuti jalannya persidangan ini dengan seksama.” Miss Ruai, selaku narrator, membuka acara.


Aku menatap beliau. Seorang guru etika yang mengajar sastra. Aku yang menyuruh Mayor menunjuknya sebagai narrator, tentu saja dengan pertimbangan Binner setelah memberikan alasan. Padahal dia dikenal sebagai salah satu guru paling killer. Karena itulah anak-anak sudah mulai saling berbisik di awal acara.


Jangan terlalu bersemangat dulu. Karena aku masih punya beberapa kejutan. Aku melirik Ares sekilas. Ingin tahu reaksinya saat melihat Miss Ruai menjadi narrator. Namun, dia masih tenang meski tampak sedikit tegang. Jelas saja. Faktanya, orang-orang pasti berpikir bahwa dengan sifat killer Miss Ruai, Ares akan semakin dipersulit mendapat keringanan.


“Dengan ini, saya akan membacakan dakwaan terhadap Ares.” Miss Ruai menatap Ares lekat sebelum melanjutkan kalimatnya, dengan ekspresi dingin.


“Melakukan tindak kekerasan yang merupakan pelanggaran ringan. Melawan King dan Kings Killer yang merupakan pelanggaran menengah. Mengacaukan jam belajar mengajar yang tengah berlangsung, pelanggaran tingkat menengah. Namun, mengacaukan jam belajar mengajar satu sekolah, merupakan pelanggaran tingkat tinggi. Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi.


Sesuai hukum, mengganggu *** saat kelas termasuk pelanggaran menengah. Tapi, Ares, kamu telah mengganggu *** satu sekolah. Satu sekolah! Apa kamu paham seberapa seriusnya pelanggaran itu?” Miss Ruai menatap Ares tajam, yang hanya ditanggapinya dengan diam.


“Jadi, atas pelanggaran tersebut, sidang dewan diadakan untuk menentukan putusan dari dua sanksi. Yaitu:


Pertama : Drop Out sekolah


Atau


Kedua : Pindah sekolah


Dengan dua pilihan sanksi ini, sidang dimulai!!”


Sejak detik pertama, dakwaan yang dimiliki Ares sudah terlalu berat. Bahkan dua sanksi yang menjadi opsi yang ditawarkan oleh Miss Ruai sebagai narrator dengan jelas menyatakan bahwa Ares tidak dapat dipertahankan di sekolah ini.


Miss Ruai mengalihkan pandangannya menuju Dewan Hakim. Sekarang, pendapat dari KAMSA dan KARLING akan disampaikan.


“Kepada KAMSA, Kepala Keamanan SMA Academy, dipersilahkan memberi suara.”


KAMSA, Kepala Keamanan SMA Academy, atau jika di sekolah lain mungkin disebut kesiswaan. Pada periode ini, yang menjabat adalah Mr. Madelas. Seseorang yang pernah mendapat penghargaan sebagai Guru Kehormatan.

__ADS_1


Mr. Madelas adalah salah satu pelopor paling penting dalam sistem pembelajaran SMA Academy. Orang yang mendapat kecaman public paling banyak karena sistem Academy yang memperbolehkan perkelahian. Dan orang yang dengan tegas mengeluarkan siswa atau menyatakan tidak lulus.


Pada tahun awal-awal Academy didirikan, banyak permasalahan yang terjadi. Dan Mr. Madelas tetap dengan teguh menjalankan visi Academy, hingga aksinya mulai mendapat perhatian baik dan beliau mendapat penghargaan tersebut. Karena itulah, pandangan beliau terhadap masalah ini akan sangat penting.


“Mengenai dakwaan terhadap Ares, dia tidak hanya menimbulkan masalah yang telah disebutkan. Ares juga telah meretas sistem sekolah dan berhasil membobol ke dalam data sekolah. Dengan semua masalah yang telah dia lakukan, maka saya memilih opsi pertama.” Ucap Mr. Madelas menjawab singkat.


Anak-anak kembali berbisik, fakta bahwa Ares berhasil meretas sistem sekolah adalah sesuatu yang terdengar sangat luar biasa.


"Apakah pelanggar, Ares, memiliki pembelaan diri?" tanya Miss Ruai.


Ares hanya diam, tak menjawab.


“Baiklah. Selanjutnya, kepada KARLING, Kepala Departemen Konseling, Miss Hayas, dipersilahkan memberi suara.” Ucap Miss Ruai, kembali memberi arahan.


Berbeda dengan Mr Madelas yang merupakan guru lama sejak Academy didirikan, Miss Hayas adalah guru baru. Beliau belum lama menjadi guru. Namun, aksi beliau dalam mencatat dan memperhatikan tiap siswa sangat teliti. Hingga orang terkadang salah mengira beliau guru lama. Tentu saja, wajahnya yang masih muda dan cantik membuat persepsi itu sendiri dipertanyakan.


“Mengenai dakwaan terhadap Ares, saya akan membacakan data pribadi yang saya dapatkan. Dalam hal nilai mata pelajaran, semua berada di atas kkm. Ares juga beberapa kali membawa kebanggaan sekolah mengenai kejuaraan lomba. Namun, pelanggaran yang ia buat kali ini sudah keterlaluan. Jadi, saya memilih opsi kedua, pemindahan sekolah. Mengingat prestasi dan nilainya yang perlu kita pertimbangkan untuk masa depan Ares sendiri. Sekian pendapat saya.” Miss Hayas menyelesaikan kalimatnya.


Jadi, satu suara untuk Dropout, dan satu suara untuk pindah sekolah. Keadaan seimbang dimana pendapatku sebagai Queen akan memberi penentuan besar terhadap dua opsi sanksi yang diberikan oleh Miss Ruai.


“Leader Kings Killer, Queen, dipersilahkan memberi suara.” Miss Ruai kini menatapku dingin, sangat lekat.


Aku berdiri, menepikan rambutku. Penampilan dan pakaian ku rapi, dengan jas khusus Kings Killer yang menambah kharismatik. Dan aku merasa cukup percaya diri. Aku tersenyum dan mengangguk singkat.


Aku yang berdiri di sini adalah Queen, bukan seorang penyendiri berwajah suram. Aku yang dikenal dengan nama Queen, sebuah gelar yang disematkan untuk pemimpin Kings Killer apabila dia seorang perempuan. Bahkan, aku yakin 90% anak-anak yang berada di sini tak tahu nama panggilanku.


Aku adalah Queen, Sang Leader Kings Killer.


“Dewan sidang yang terhormat, sebelumnya, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan” Ucapku, memulai rencana.


Sebagaimana janjiku pada Ares. Aku akan membantunya. Dan juga, ini akan menjadi sebuah stage penting dalam karirku sebagai Queen.

__ADS_1


Orang-orang tampak mulai ribut, membuat suasana semakin riuh. Miss Ruai mengangkat tangan, menghentikan keributan. Pada saat sidang dewan, anak-anak yang membuat kericukan tak pantas akan mendapat sanksi. Karena itulah dengan segera anak-anak mulai kembali diam.


“Dipersilahkan..” Ucap Miss Ruai kemudian.


Aku tersenyum. Bagi kalian, Miss Ruai mungkin adalah guru yang sangat killer. Namun, ada alasan tersendiri kenapa aku menunjuk guru tersebut sebagai Narator. Karena Miss Ruai adalah orang yang sangat menghargai bakat dan sangat perhatian terhadap tiap siswanya. Dia mungkin keras, namun dia adalah orang yang selalu percaya bahwa setiap siswa memiliki keunggulan dan spesial. Dia sangat memperhatikan siswanya dan membela mereka yang menurutnya harus dipertahankan.


Dan dia adalah guru yang mengajar kelas Ares selama 2 tahun terakhir. Jadi, Miss Ruai pasti mengenal dan memperhatikan Ares dengan baik.


GOR tampak lengang, semua menungguku bicara. Aku pun memasang wajah serius.


“Para Dewan Hakim sekalian, saya akan mengulang kembali kronologi masalah yang dilakukan oleh Ares. Masalah pertama, Ares telah meretas sistem sekolah dan berhasil membobol masuk, sehingga sistem sekolah terganggu. Apakah saya benar?”


“Benar.”


“Masalah kedua, Ares menggunakan sistem yang berhasil ia retas untuk mengganggu jam pelajaran satu sekolah pada setengah jam pelajaran terakhir, di mana sanksi minimal kesalahan tersebut adalah pindah sekolah. Apakah saya benar?”


“Benar.”


“Masalah ketiga, Ares membuat kekacauan besar. Melakukan tindak kekerasan, melakukan perkelahian melawan anggota King dan bahkan menyerang Kings Killer. Apakah saya benar?”


“Benar..” Miss Ruai masih menjawab pertanyaanku dengan tegas setelah ketiga dewan hakim mengangguk singkat. Aku menatap beliau, masih dengan wajah yang serius.


“Jadi, atas semua dakwaan tersebut, sesuai hukum yang berlaku dalam Akademi, dropout atau pindah sekolah adalah sanksi paling rasional yang anda tetapkan. Bukankah begitu, Miss Ruai?” aku menatap Miss Ruai lekat.


Orang-orang tampak berbisik. Para dewan juga memperhatikan dengan seksama.


“Apa kamu mempertanyakan keputusanku atas opsi sanksi yang diberikan?” Miss Ruai menatapku tajam. Seolah mengingatkan bahwa yang menjadikannya menjadikannya narrator adalah aku.


Dalam sidang dewan yang digelar, Kings Killer menjadi panitia yang bertanggung jawab atas jalannya sidang. Di mana narrator lah yang menentukan opsi sanksi. Dan tiap guru yang ditunjuk pasti mempengaruhi jalannya sidang. Dan seorang narrator ditetapkan berdasarkan pengajuan yang dibawa oleh Kings Killer.


Dan aku lah, yang menunjuk Miss Ruai, seorang guru yang dinilai sangat killer, sebagai narrator dalam sidang ini.

__ADS_1


__ADS_2