
Sudah berapa lama waktu berlalu? Rasanya lama sekali. Tangan ku menangkis tinjunya, dan kakiku menahan gerakan serangan kakinya. Staminanya sangat kuat. Aku takkan mampu bertahan jika bukan karena kelincahan berkelit dan penataan posisiku yang terampil, dimana aku berada diluar tempat serang optimalnya.
Bukankah Ares bilang dia takkan tega menyerang ku?
Omong kosong.
Aku terlalu memaksakan diri. Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku bertarung dalam mode ekstra.
Sungguh sangat menyebalkan, mendebarkan, juga menyenangkan.
Aku menyeringai lebar, mata kami saling bertemu.
“Anjing Gila sialan..!! ha.. ha..” ucap ku lirih, hampir seperti berbisik. Nafas ku semakin tersengal.
Aku bisa melihat keringatnya, dan lelah dalam sorot matanya. Sama seperti yang kurasakan. Namun dia juga sama-sama menyeringai lebar.
Seolah kami, sangat menikmatinya..
“Ha.. ha.. Sungguh, cantik.. dan mempesona, kau tahu?”
Deg..
Gawat.. aku segera mundur dan menghindar.
Aku terkecoh dan kehilangan keseimbangan. Bagus aku bisa segera mundur.
Hah?? Aku baru sadar, apa dia berhenti menyerang sekarang?
Nafas kami saling menderu. Tapi sepertinya Ares masih memiliki stamina tersisa. Dan aku sudah di ujung tanduk. Padahal sebelumnya dia sudah melawan King dan Kings Killer. Sebenarnya, sebagus apa sih skill nya?
Haruskah aku menyerah?
“Aku menyerah..”
“Apa..?” Aku mendongak, melihat Ares tengah mengangkat kedua tangannya. Apa telingaku rusak? Bukankah aku yang harusnya menyerah?
“Aku menyerah..” ucap Ares lagi, di sela deru nafasnya.
Aku menatapnya. Jelas-jelas dia yang akan menang jika dilanjutkan. Tapi dia menyerah? Yah, itu bagus untukku dalam segala hal. Aku sudah lelah, badanku sakit, dan ini juga baik untuk reputasi ku.
Baiklah kalau begitu.
Aku mundur dan mendekati Feli. Dengan begini, masalahnya selesai bukan?
“Feli, tolong hubungi ACC dan minta mereka membantu siswa yang terluka. Tolong bawakan baju ganti darurat yang disediakan akademi dan obat memar ke ruang rapat kings killer. Intruksikan semua siswa kembali ke kelas dan menunggu kepulangan.” Ucapku memberi arahan sembari mengambil rok dan memakainya untuk mengelap keringat.
Jas khusus kings killer ku selempangkan begitu saja. Aku menatap anggota Kings Killer lainnya, termasuk anggota laki-laki yang barusan berkelahi. Mereka tidak banyak terluka.
"Maaf membuat kalian terkena imbas masalah ku. Kalian bisa membantu membereskan sisanya bukan?" tanya ku. Lagipula, mereka tetap akan mendapat perawatan ACC, atau Academy Care Center.
"Its okey." Jawab Mayor dengan santai.
"Ini kan memang konsekuensinya." Ucap Jero.
Yang lain hanya mengangguk. Mereka terlalu malas menanggapi karena sudah lelah.
“Ha.. begitu aku bilang menyerah, kamu langsung mengabaikan ku begitu saja? Kejam sekali..” ucap Ares kemudian.
Aku menatapnya.
“Ikuti aku..” jawab ku singkat. Orang-orang masih berkumpul menyaksikan kami.
“Beri jalan dan cepat bubar!!” seru ku lantang dengan sisa tenaga.
Para siswa yang masih antusias dan heboh pun minggir memberi jalan. Aku lewat sembari menengok ke belakang sebentar, memastikan Ares mengikuti ku. Kami menuju ruang Kings Killer bersama. Anak lain yang terluka dibawa ke ACC, dan anggota king maupun kings killer lain sibuk mengurus sisanya.
Ceklek.. aku menutup pintu ruang rapat, lantas merebahkan diri di sofa.
“Haah.. duduklah di mana pun, atau kau juga bisa rebahan sebentar.” Ucap ku, duduk di sofa dan bersandar, lelah.
__ADS_1
“Kamu sungguh.. amat sangat melebihi ekspektasi ku..” Ucap Ares dengan seringainya, duduk di sofa seberang. Ia melepas pakaian atasnya.
Gila.. hanya ada kita berdua saja sekarang. Dasar bajingan sialan. Dia se-pede itu melepas pakaian? Di mana attitude nya.
Ugh.. lupakan, aku tak tertarik. Abaikan.
“Kenapa kamu menyerah?” tanyaku kemudian, memecah hening.
“Banyak alasannya. Pertama, aku mengingkari janji. Tidak menahan diri dan malah semakin terobsesi untuk tahu dan mengorek jauhnya kemampuanmu..”
Terobsesi? Kemampuanku? Apakah dia seorang psikopat?
“Kedua, aku.. Lupakanlah, intinya itu saja..”
Ceklek.. Feli masuk, membawa kotak P3K, kantong plastik berisi es, dan kaos milik inventaris sekolah dan menyerahkannya pada ku.
“Terimakasih. Tolong jaga dan pantau anak-anak yang terluka..” Ucapku.
“Baiklah..” jawabnya singkat. Feli pun keluar dari ruangan.
Aku memerhatikannya sebentar, lalu kembali fokus pada anjing gila di depanku. Tanganku mulai bergerak membuka kotak P3K, mengambil obat memar, lalu berdiri, mendekati Raja Iblis.
“Kamu pasti terluka kan? Obati lah nanti di rumah. sekarang pakai es ini dulu untuk mendinginkan.”
“Kenapa kamu tak mengobatiku saja sekarang?” Raja Iblis menampakkan wajah memelas.
Ck, sempat-sempatnya dia menggombal!
“Badanmu masih penuh keringat. Baiknya kau oleskan obatnya setelah mandi. Sekarang, pakai dulu kaus ini..” aku memberikan kaus milik inventaris.
“Bagaimana denganmu? Kamu juga pasti terluka dan sangat berkeringat..”
“Tak apa.. Sejujurnya, aku malah berterimakasih. Ini akan jadi momen berkesan bagiku. Di negara ini, hanya akademi sekolah yang memperbolehkan perkelahian. Dibatasi sih, tapi mana ada sekolah yang sebrutal ini. Anehnya, banyak yang berminat sekolah di sini dari penjuru negeri.
Kau tahu kenapa? Karena ini tempat menyenangkan dengan kualitas para lulusan yang terjamin. Dan juga, ini mungkin satu-satunya sekolah yang tak peduli terhadap reputasi. Tidak ada keraguan sama sekali jika harus melakukan DO. Dan di sini, hal lumrah jika ada siswa yang tidak lulus. Ah, lupakan..!!”
Aku baru sadar telah mengoceh panjang lebar yang tak perlu. Dan lagi, Ares hanya mendengar dan memperhatikan.
“Lebih baik, siapkan diri untuk sidang dewan besok..” ucapku akhirnya, mengganti topik.
“HAH?? Si.. sidang dewan? Bukannya kamu bilang akan mempermudah..
“MSP!!" potongku.
"Bukankah itu sudah hal yang pasti?. Kasus perkelahian, pencurian, pembullian, perusakan properti, kabur, itu hanya akan ditangani King atau Kings killer. Tapi, mengganggu jam pelajaran kelas termasuk pelanggaran berat. Dapat mengurangi poin untuk naik kelas atau kelulusan. Dan kamu baru saja mengganggu jam pelajaran satu sekolah.
Tak mungkin tidak diadakan sidang dewan!! Kamu tahu ini akademi kan? Masalah kali ini sama dengan cari mati.”
“Haha.. lalu apa maksudnya penyelesaian terbaik?? Kamu juga berjanji akan membantuku. Kamu bilang begitu sebelumnya."
Ares menatapku dengan sedikit frustasi. Sepertinya dia baru menyadari akibat perbuatannya. Tapi, dia tampak cukup tenang. Jika dari kepribadiannya, sepertinya DO bukan sesuatu yang sangat ia takuti.
Aku menatapnya lekat, menghela nafas.
“Em, maksudku penyelesaian antara 'kita'.
Jika kamu menolak, kita akan menjadi musuh dan aku akan memastikan kamu mendapat hukuman seberat mungkin dalam sidang dewan. Tapi, karena kamu menerima tawaranku, kita bisa berteman. Aku berbaik hati takkan menyusahkanmu besok..” Jawabku santai.
“Haha.. licik sekali. Maksudmu kamu takkan membantu?” Ucap Ares, mengangkat satu alisnya.
Benar-benar teliti. Tidak menyusahkan memang tidak dapat diartikan bahwa aku akan membantu.
“Hm.. Setidaknya aku akan membantu agar kamu tidak di DO.
Ah. By the way, apa kamu gak terlalu tega melakukan hal seheboh ini ketika kamu masih dalam hubungan dengan 2 perempuan?”
“Ah, sialan. Bukan itu konteksnya sekarang. Lagipula, tentu saja sekarang aku sudah putus..”
“Sekarang? Benar-benar.. kamu pasti memutuskan mereka begitu saja kan?
__ADS_1
Kapan kamu putus? Barusan??
Ck.. Mana mungkin aku mau berpacaran dengan orang yang.. jelas-jelas.. hanya akan mempermainkan ku..” aku berdiri, anak-anak lain tampaknya sudah pulang. Suasana sudah sepi. Aku juga akan pulang.
“Kamu masih berpikir aku main-main setelah ada hal sebesar ini? Yah, entahlah.. Kurasa ini pertama kalinya aku melakukan sesuatu seserius ini..” ucap Ares, tersenyum kecut
Eh..
E..hem. O..omong kosong. Itu hanya omong kosong..
Haa.. aku menghela nafas. Sial, tanpa sadar aku malah bergeming spechless sekejap. Sudah-sudah. Benar-benar, dia pintar sekali membuatku dipojokkan. Aku jadi sedikit merasa bersalah.
Ceklek.. Aku meninggalkan Ares, saatnya pulang. Badanku sakit, aku lelah dan aku masih harus memikirkan sidang dewan besok. Aku berjalan di koridor menuju kelas ku, tasku di sana.
Tapi, kenapa ya, aku malah tersenyum??
Aku sudah lama tak bertarung seperti ini.. Ah, iya.. bertarung memang mengasyikkan. Pasti aku tersenyum gara-gara itu kan?
Lagi-lagi aku menghela nafas panjang.
Eh. ngomong-ngomong.. berapa kali aku sudah menghela nafas?!
...***...
(Ares POV)
Aku menikmati waktu singkat ini saat menatapnya. Menikmati obrolan menyebalkan di ruangan kings killer. Menikmati sikapnya yang tidak peduli namun entah kenapa menggemaskan.
Tapi, aku jadi merasa mungkin aku harus menyerah soal pacaran dengannya. Dia kukuh sekali.
Sayangnya, dia sungguh gadis yang tak terduga..
“Kau pasti terluka kan? Obati lah nanti di rumah. sekarang pakai es ini dulu untuk mendinginkan.” Ucapnya.
Dia memberi obat padaku. Sempat sekali memperhatikanku. Satu sekolah ini tahu aku siswa terkuat. Jadi, mereka tak terlalu peka dengan luka yang ku terima. Melihat kondisi orang yang ku hajar, wajar jika mereka sedikit abai denganku.
Lagipula aku memang tak banyak terluka. Aku tak kalah meski melawan king maupun kings killer. Juga melawannya.
“Kenapa kamu tak mengobatiku saja sekarang?” Ucapku, masih ingin menggodanya.
“Badanmu masih penuh keringat. Baiknya kamu oleskan obatnya nanti setelah mandi. Sekarang, pakai saja kaus ini..”
Apa dia tak sadar bahwa tubuhnya lebih basah kuyup oleh keringat dibanding aku?
“Bagaimana denganmu? Kau juga pasti terluka.. kau juga sangat berkeringat..”
“Tak apa.. Yah, aku malah berterimakasih. Ini akan jadi momen berkesan bagiku. Di negara ini, hanya akademi yang memperbolehkan perkelahian. Dibatasi sih, tapi.. bla bla..”
Aku menatapnya yang tampak antusias. Padahal dia orang yang dijuluki penyendiri dan kelam.
Aku jadi makin tertarik. Jangan salahkan aku. Salahmu sendiri yang menarik perhatianku.
Karena itu lah, aku sendiri tak tahu.
“Yah, entahlah.. Tapi kurasa ini pertama kalinya aku melakukan sesuatu seserius ini..”
Maksudku.. aku serius ingin bermain-main denganmu.
Pasti cukup asik bukan?
Karena itu adalah kamu.
Dan begitu lah lagi-lagi aku diabaikan, dan dia pergi begitu saja.
Saat itu, ku pikir masalahku akan selesai begitu saja. Entah dengan DO atau pindah sekolah. Dan kisah hidupku dengan gadis ini akan berakhir di sini.
Aku tak menyangka sama sekali. Ternyata, rasa penasaran dan tertarik padamu yang tak penting ini, membawaku pada lebih banyak hal menarik dan tak terduga. Hal-hal yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Dan juga, hal-hal yang mengharukan dan menyesakkan.
Hingga mungkin, aku adalah salah satu antagonis dalam kisah hidupmu.
__ADS_1
(POV end)
~To be continued