
"Kemarin. Aku yakin sampai kemarin anda masih menjalin status pacaran dengan seorang gadis. Anak kelas 2 itu kan? Dan tadi pagi.. aku yakin anda juga sedang melakukan pendekatan lain dan memberi kecupan manis pada gadis lain di ujung tempat parkir.. Kalau tidak salah, anak baru?" aku melebarkan senyum.
Aku yakin melihat senyuman Raja Iblis memudar dari wajah sialan itu. Itu info yang tak sengaja aku tahu sih.
Lalu, smirk.. Giliran Ares yang menyeringai
Deg!!
Dia.. menyeringai?
La.. LAMPU MERAH!!
Aku bisa merasakannya, bahaya!!
"Kalau begitu, jadilah yang ketiga.." ucapnya dengan senyuman melebar.
Gila!!
Bajingan!!
Aku kembali memperbaiki senyumku, berusaha memberi senyum setulus-tulusnya.
"Aku menolak, terimakasih banyak.." Aku akan dalam masalah kalau mencoba melawan lagi.
Bodoh..
Raja iblis berdiri. Tangannya kini beralih menyentuh daguku dan mengangkatnya. Senyuman menawannya hilang dalam sekejap, berganti dengan wajah dingin.
Aura yang mencekam sekaligus menakutkan.
"Yah.. kalau begitu, tunggu hadiah dariku, sayang.." ucapnya dingin..
Ugh.. aku merasa seperti ditikam es dari kutub utara.
Aku merinding tanpa alasan, hikss..
Ia menarik tangan itu dan mengantonginya dengan elegan, lalu berjalan keluar dari kelasku setelah meninggalkan ketegangan di seisi ruangan.
Sialan.. maksud dari kata 'hadiah' itu, pasti adalah 'bencana'.
Tidak, jika raja iblis yang memberikannya, hadiah itu bukan sekedar bencana..
Tepatnya, kiamat dari dunia damai ku pasti akan segera tiba.
Ah.. sial!!
Aku membuka ponselku, mencoba melihat forum yang notifikasinya mendadak ramai. Yah, berita ini akan menyebar cepat.
Haa.. Aku menghembuskan nafas frustasi.
Bagaimana bisa, bahkan tiap kalimat yang diucapkan Raja Iblis barusan termuat dalam obrolan, tepatnya dalam diskusi gosip. Anak kelasku dengan sangat teliti menyebarkan tiap detailnya.
Dasar penghianat kalian semua!!
'Idola akademi x the new leader kings killer.'
'Kombinasi yang luar biasa memang..'
__ADS_1
'Apa yang oppa lakukan disanaa **'
'Apakah posisi Queen terancam??
Aku membaca sekilas obrolan di forum itu. Bel dimulainya pelajaran membuatku mengalihkan kesibukan. Hingga saat istirahat dimulai, ponselku berdering oleh sebuah panggilan.
"Yo, Queen. ini aku, bagian perncanaan. Binner."
"Binner?? Apa kau di ruang rapat? Bagaimana di sana?" Tanyaku. Aku memang menyuruh para anggota berkumpul karena kami masih belum saling mengenal.
"Yah, rapat sudah siap. Anggota sudah dihubungi semua. Lima member kings killer dan empat member penopang kings killer, sudah ditempat."
"Aku segera datang." Aku mengakhiri panggilan.
Mari lupakan dulu soal raja iblis. Aku harus bertemu anggota lain. Ah, semoga aku tak bertemu dengan Ares. Aku menyusuri koridor.
Bagaimanapun, ruang rapat tepat di samping kelas last.
Semoga aku tak berjumpa lagi dengan si anjing gila bajingan itu..
Aku sampai di ruang rapat, membuka pintu kaca itu menuju ruangan kecil pribadi kings killer. Ruangan bercat putih bergaya klasik dan santai. Beberapa lukisan abstrak berjejer rapi.
Klek..
“Wow.. leader kita? Jadi ini yang tengah menarik perhatian publik karena kunjungan Ares?” Seorang wanita manis dengan rambut pendek menyambut kedatanganku. Aku tersenyum ramah.
Semua orang tak beraturan, duduk di sofa dan di lantai, atau berdiri.
“Salam kenal, bos. Aku Sekertaris, panggil Feli.” Sambungnya, ia memberi piece dengan dua jari. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“Bagian Perencanaan, Binner.” Laki-laki berkacamata, berkulit putih, menatapku dengan senyumnya. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“Bendahara, Jero.” Laki-laki berwajah malas. Dengan poni sedikit menutupi matanya. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“Bagian 4 penopang, Jefri.” Lelaki yang biasa, lumayan, dengan wajah ramah. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“4 penopang, Selena.” Wanita cantik, tampak seperti playgirls dengan banyak mantan, friendly dan sedikit barbar, tapi bisa tenang dalam misi. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
“4 penopang, Hesa.” Wanita yang tampak pintar dan ceria, berkacamata. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum. Sekarang terakhir..
“4 penopang, Teguh.” Hem.. tampak cukup berkharisma, tegas, lugas, dan pendiam. Aku mengangguk padanya sembari tersenyum.
Ah.. sudah giliran ku, aku belum memperkenalkan diri..
“Aku leader masa percobaan, ketua kings killer. Panggil aku Queen.” Ucapku. Semua orang tampak menikmati duduk bebasnya. Aku juga segera mengambil tempat duduk.
“Yah.. silahkan buka cemilannya dan mari mulai rapat.” Sambungku. Mayor tanpa sungkan membuka cemilan. Sedang yang lain masih kaku karena belum saling mengenal. Akupun segera memulai briefing
“Surat hukuman pertama sudah ku buat, untuk kali ini saja karena mendesak.
Selanjutnya, Feli dapat menghubungiku untuk konfirmasi masalah surat hukuman lain yang akan datang. Terimakasih juga untuk setiap pembaharuan dokumen tahun ajaran baru. Aku yakin kau sudah mulai merekap datanya." Aku menatap Feli, yang dibalas anggukan singkat.
"Untuk Jero, kau bisa usulkan pengelolaan dana denganku. Kau boleh membuat catatan sendiri atau meminta bantuan Hesa. Dalam hal yang sulit, kau bisa meminta saran Feli. Informasikan hasilnya padaku. Jika mendesak dan aku tak ada, kau boleh ambil bagian bertindak tapi tetap harus mengirim informasi teks padaku."
"Binner, tugasmu penting. Pastikan kau terus terhubung dengan Feli atau membuat jaringan sendiri. Penyelesaian masalah, ataupun perencanaan kegiatan, evaluasi bersama anggota lain, pastikan kau buat juga jadwal resmi untukku. "
"Untuk 4 penopang, bantu dan pantau secara umum dan keseluruhan."
__ADS_1
"Lalu, untuk Mayor, sementara perhatikan aku dan ikuti dulu. Kita tak bisa bekerjasama jika tak saling mengenal. Kalian ingatlah, aku dan mayor saling melengkapi."
"Dan yang paling penting diantara kita, komunikasi. Komunikasi adalah segalanya.” Aku tersenyum.
“Sekian untukku. Aku percaya pada kalian.” Ucapku dan menutup briefing.
“Itu saja, kau bilang omong kosong panjang lebar lalu seolah sama sekali tak butuh suara kami?” tanya Jefri, melayangkan protes pertama.
"Ayolah, kalian semua jelas orang terpilih. Aku percaya bahwa kalian mampu. Lalu, aku bukannya mengabaikan pendapat kalian. Itu tadi adalah keputusan ku, karena aku ketua disini. Tapi kalian juga bisa bersuara kapanpun. Bertanya kapanpun. Berpendapat kapanpun. Kalian bisa melarang ku. Atau menggugat ku agar ketua kings killer diganti. Kalian juga bisa keluar dari Kings Killer kapanpun selagi aku yang jadi ketuanya.”
“Bisa kau beritahu kartu truf dan kartu as mu, Queen??” tanya Binner. Apa sang perencana berniat menganalisis data ku untuk perencanaan? Maksudku, itu pertanyaan bagus.
“Kartu truf.. hem.. Tak ada yang spesial. Aku hanya cukup pandai beladiri dan menilai situasi. Sisanya, aku hanya perlu improvisasi.”
“Itu memang tampak tak cukup spesial, tapi aku tahu orang terpilih pasti tidak boleh diremehkan.” Ucap Feli, dengan nada bicara yang santai.
Aku tersenyum.
“Yah, jika ada yang kurang, maka itu adalah kartu JOKER. Dalam kata lain, sesuatu yang memastikan dan menjamin kemenangan.” Kataku.
“Baiklah, apa masih ada lagi? Queen, aku ingin out sekarang.” Mayor sudah beranjak berdiri.
Yang lain pun ikut mulai berkemas.
“Ah, bagaimana denga Ares?” celetuk Mayor, membuat semua orang menatapku. Mayor duduk kembali. Aku tersenyum, sebenarnya agak sebal ditanya hal ini.
“Yang pasti, aku harus bersiap atas situasi paling terburuk yang tak terbayangkan. Ah, aku lupa, mintalah surat izin pada sekertaris kapanpun kalian butuh. Sekarang, Bubar..” aku sudah berdiri dan hendak pergi. Mayor menyusul dan jalan di sampingku.
Ceklek.. kami keluar dan berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Kelas mayor disebelah kelasku, jadi kami jalan bersama.
“Surat izin.. kewenangan kings killer tidak mengikuti pelajaran atau keluar sekolah kapanpun. Yah, cukup aneh kau membebaskannya.” Mayor membuka topik obrolan.
Meski tidak mengikuti jam pelajaran adalah hal yang diperbolehkan, siswa tetao wajib berada di dalam sekolah. Dan keluar di jam itu memerlukan surat izin. Namun aku membebaskan mereka membuat surat izin kapanpun.
“Benar. Aku akan melihat dulu performa kalian sambil kita saling mengenal. Jika masa percobaanku lulus, aku akan urus masalah kalian setelah evaluasi caturwulan.
Aku yakin pada diriku aku bisa keluar kelas kapanpun tanpa khawatir nilai ujian. Tapi entahlah kalian bagaimana. Jika nilai kalian mengerikan, aku akan membuat surat putusanku sendiri untuk mengatur anggota kings killer.
Ngomong-ngomong.. Yah., sejujurnya, aku cukup kaget Ares tak masuk kings killer sama sekali, dengan segala aura mematikan yang dimilikinya itu..” aku mengganti bahasan. Dalam hati aku sangat bersyukur tidak bertemu Ares lagi meski aku berseliweran di depan kelasnya.
“Aku juga sih. Tapi.. Kupikir, dia memang anjing gila.. Bagaimana jika dia membuat kekacauan dan tidak ada yang bisa menjinakkannya. Sekarang saja, Raja iblis itu pasti akan melakukan sesuatu, secepatnya. Maksudku, karena kamu sudah buat masalah dan menyinggungnya. Padahal guru juga berhati-hati..” jawab Mayor.
“Ugh.. bagaimana bisa itu jadi salahku padahal aku tak melakukan kesalahan?! Aku juga bukannya berniat menyinggungnya. Ah, aku masuk duluan ya, bye..” aku pamit karena memang sudah sampai kelasku. Akupun masuk ke dalam kelas.
Dan pelajaran kembali dimulai tak lama setelah itu.
Semua baik-baik saja sepanjang sisa hari ini.
Masuk jam pelajaran terakhir sekarang, inipun sudah berlalu dan tersisa sekitar 30 menit sebelum bel pulang. Haa.. syukurlah.. Aku bahkan sengaja tak keluar kelas karena malas dan was-was akan bertemu Ares. Begitu pulang nanti aku akan memikirkan strategi perang melawan si anjing gi..
...Teng teng teng teng teng teng teng…...
Ehh??
Situasi apa ini?
Apa itu bel peringatan?
__ADS_1
Apa ada genderang perang? Sekarang??