
" Sampaikan kalau aku masih cinta," kata Ratna.
" Mamang gak berani Neng." jawab mang Kadmi.
Ratna semakin buta mata, entah apa yang dia pikirkan semakin hari dia semakin berhasrat untuk merebut Jae dari Neni.
Memang Ratna pernah ada di hati nya Jae, tapi itu dulu sekarang yang ada di hatinya Jae hanya Neni, bagi Jae Neni adalah wanita sempurna dia cantik, penurut, sabar dan yang paling penting bagi Jae Neni sangat menyayangi ibu,bapak dan adiknya Jae.
Namun Ratna tidak menyerah begitu saja, dia bahkan semakin gila, suatu hari ketika dia melihat dari jendela ada Jae datang sendiri, Ratna langsung lepas pakaian dan pura pura tidur, tujuannya adalah agar Jae nafsu melihatnya tidak berpakaian.
Sedangkan Jae datang sendiri nengok Ratna karena Neni yang suruh, Neni tau kalau Jae datang dengan Neni, Ratna pasti Langsung berubah, itulah kenapa Neni tidak ikut Jae menghantar makanan masakannya.
Jae membuka pintu kamar Ratna, tapi begitu Jae lihat Ratna tidak berpakaian Jae hanya menaruh makanan di meja kemudian langsung pulang.
Rencana ratna gagal total, dia tidak percaya Jae sekarang sangat beda dengan Jae yang dulu.
.......
Suatu hari mang Kadmi sengaja berkunjung ke rumah Jae, mang Kadmi merasa kalau ini terus berlanjut, rumah tangga Jae bisa terancam.
Kebetulan saat itu Neni sedang ke rumah mertuanya, jadi mang Kadmi bisa ngomong 4 mata dengan Jae.
Mang Kadmi menasihati Jae agar Jae lebih hati hati, menurut mang Kadmi lebih baik Ratna diantar pulang ke desanya, karena kalau lama lama disini bisa bisa rumah tangga Jae berantakan.
Jae paham apa dengan apa yang diceritakan mang Kadmi, Jae meminta saran ke mang Kadmi bagai mana cara mengatasi masalah ini.
Mang Kadmi tidak mau ikut campur terlalu dalam, mang Kadmi percaya kalau Jae bisa meng hadapi semua ini, tapi kalau Ratna terlalu lama disini mang Kadmi takut Jae bisa tergoda.
Mang Kadmi menyuruh Jae untuk menemui dokter nano, untuk konsultasi.
Ke esokan hari nya Jae menemui dokter Nano, Jae cerita tentang Rumah tangganya sejak kehadiran Ratna.
Dokter Nano bingung, apa yang harus dia katakan, Jae adalah keluarganya sedangkan Ratna adalah pasien nya.
" Untuk saat ini Ratna tidak boleh terlalu banyak pikiran dulu, tunggu satu minggu lagi boleh lah kamu antar Ratna pulang." kata dokter Nano.
" Ok dok." jawab Jae.
Setelah selesai menemui dokter Nano Jae pulang mampir ke mang Kadma.
__ADS_1
" Mang sudah ngopi." Sapa Jae.
" Ini Jae lagi ngopi, Kamu mau ngopi?" kata Kadma.
" Enggak mang, tadi dirumah sudah ngopi." jawab Jae.
" Bagaimana kata dokter Nano Jae?." tanya Kadma.
" Kata dokter Nano, Ratna belum boleh banyak pikiran dulu mang." jawab Jae."
" Mamang mau cerita pengalaman mamang biar Rumah tangga kamu dan Neni tidak berantakan." kata mang Kadma.
" Coba mang cerita kan, biar saya bisa kuat." kata Jae.
" Saat akan menikah dulu mamang ingin hidup bahagia selamanya bersama pasangan mamang, awal pernikahan mamang dan istri mamang kemana- mana selalu bersama, kami banyak mempunyai kesamaan, kami saling mengerti satu sama lain, kami saling menjaga satu sama lain dan susah senang akan kami hadapi bersama.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, yang dulu kemana- mana selalu bersama sama sekarang sudah mulai saling cuek, yang dulu kami banyak mempunyai kesamaan sekarang sudah banyak mempunyai perbedaan, yang dulu saling mengerti satu sama lain, kini saling menyalahkan, yang diawal pernikahan kami akan hadapi bersama susah senang kini tinggal senangnya saja yang dihadapi bersama.
Pertengkaran demi pertengkaran selalu mewarnai keluarga Mamang, mulai dari hal kecil sampai hal besar, bahkan kami sempat berfikir untuk hidup masing- masing saja, pakaian sudah masuk koper, tidur pun sudah tidak beradu muka lagi, saat suasana sunyi Mamang teringat pesan kawan mamang " ketika kamu sedang bertengkar dengan istri kamu, lihatlah ekspresi muka istrimu saat sedang tidur."
Seketika itu dalam keadaan masih emosi Mamang mencoba memandangi wajah istri mamang yang sedang terlelap tidur, melihat wajahnya yang polos, wajah yang sangat berbeda 180° dengan wajah saat istri mamang marah, seketika itu emosi mamang benar- benar hilang, saat itu juga langsung Mamang peluk dan Mamang belai mukanya, tiba- tiba di tangan mamang ada tetesan air, ya itu air mata istri Mamang, air mata kasih sayang, air mata kesetiaan.
Istri Mamang pun demikian, dia meminta maaf kalau sebagai istri belum bisa membuat suami nyaman, selalu menuntut berlebihan.
Kami pun tertidur.
Keesokan harinya diawali dari ciuman tipis di dahi dan suara merdu istri Mamang "mas bangun sudah siang, itu kopinya sudah jadi." dunia ini serasa utuh kembali, rasa semangat untuk melanjutkan hidup kembali bergairah, keinginan untuk selalu membahagiakan istri telah kembali.
Kamu juga demikian Jae, jangan sampai kamu menyerah dengan keadaan.
Saat ada masalah seperti ini, peran kamu sebagai suami harus lebih.
Kamu harus bisa membuat istri mu nyaman, kamu harus sering minta maaf duluan saat kalian bertengkar, walaupun istri kita yang salah tetap kita harus meminta maaf duluan, karena kesalahan istri adalah tanggung jawab suami." cerita Mang Kadma
" Terima kasih mang nasehatnya, nasehat ini akan selalu ku ingat." kata Jae.
Hari sudah mulai gelap, Jae pamit ke mang Kadma untuk pulang, Jae langsung pulang tanpa menengok Ratna dulu.
Sesampainya dirumah muka Neni sedikit murung.
__ADS_1
" Baru pulang A." tanya Neni.
" Iya yang, tadi habis main ke Mang Kadma." kata Jae.
" Mang Kadma apa Ratna." kata Neni.
" Mang Kadma sayang, kamu sudah makan yang." tanya Jae.
" Belum A, Aa sudah makan belum? tuh Neni masak Nila goreng." kata Neni.
" Kenapa kamu belum Makan?" tanya Jae.
" Kan nunggu Aa pulang." jawab Neni.
" Haduh, ya sudah makan dulu yuk." ajak Jae.
" Hayu A, sebentar Neni siapin dulu. kata Neni.
Mereka langsung makan, selesai makan mereka sebentar nonton TV kemudian mereka langsung tidur.
Neni tidur duluan, Jae langsung keingat kata kata mang Kadma, " Lihatlah ekspresi muka istrimu saat sedang tidur."
Jae memandangi muka polos Neni, terlihat beban perasaan yang ia simpan, Jae merasa sangat berdosa, walau bukan sepenuh nya kesalahan Jae, Kedatangan Ratna adalah beban bagi Neni.
Pagi hari nya,
" A bangun, itu kopi nya sudah siap.” kata Neni membangunkan Jae.
Jae melihat Neni dengan penuh arti, Jae langsung memeluk Neni dan bekata maafkan Aa ya sayang.
Neni menganggukan kepala, dan langsung mencium Jae.
Jae membalas ciuman Neni, mereka pun langsung melanjutkannya.
Jae membuka seluruh pakaian Neni, neni juga membuka seluruh pakaian Jae.
Mereka melanjutkan program punya anak, ketika mereka sedang beraksi di ranjang tiba tiba.
" Nen ... Neni antar ibu kepasar yu." ibunya Jae datang mengajak Neni ke pasar.
__ADS_1
Jae dan Neni tersenyum dan saling pandang, mereka merasa pagi ini lebih indah dari pagi sebelumnya.