
" A bukan kah pelat no. itu.... pelat no. bis yang di tumpangi Ratna?" tanya Neni.
" Yang benar yang." tanya Jae.
" Iya kayaknya A.? jawab Neni.
" Coba Jae kamu tlp no. nya Ratna." Suruh ibunya Jae.
Jae pun langsung tlp ratna
" Halo."
" Iya halo, maaf yang punya no. ini orang nya sedang ada di rumah sakit telaga, apa Anda keluarganya.”
" Iya kami keluarganya, kami segera ke sana." Jae langsung tutup tlp nya.
Ternyata benar, yang kecelakaan mobil yang di naiki Ratna, Jae dan keluarga langsung pergi ke Rumah sakit.
Di tengah perjalanan ibunya Jae watir kalau Neni marah.
"Nen kamu jangan marah ya nak." pinta ibunya Jae.
" Marah kenapa bu?.” tanya Neni.
" Ibu takut kamu marah gara gara Ratna." jelas ibunya Jae.
" Ibu ini apa sih, Neni gak bakal marah Bu." jawab Neni.
" Syukurlah nak, kalau kamu gak marah." kata ibunya jae.
" Insya ALLA Neni gak bakal marah Bu." Jelas Neni.
" Kamu memang menantu ibu yang paling baik." kata ibunya Jae.
Mereka sudah sampai rumah sakit, sesampainya disana Jae dan keluarga langsung ke ruangan UGD.
" Itu A Ratna di sebelah sana," kata Neni sambil menunjuk ke arah Ratna.
" Yuk kita langsung ke sana." ajak Jae.
Ratna tidak sadarkan diri karena dia kehabisan banyak darah, kata dokter kecil kemungkinan Ratna bisa selamat.
Jae bingung apa yang harus dia lakukan, dia bingung karena kalau dia terlalu peduli ke Ratna takutnya Neni cemburu,tapi untung nya dokter Yang memeriksa Ratna adalah dokter Nano, dokter yang juga stay di Puskesmas Pelem, jadi Jae bisa meminta solusi ke dokter Nano.
Karena sama sama lelaki dokter Nano tau apa yang ada di pikiran Jae.
" Jae, nanti kalau pendarahan Ratna sudah berhenti, nanti kita rawat di puskesmas saja." kata dokter Nano.
" Ok dok, Makasih ya." kata Jae.
" Iya Jae, tapi dengan keadaan Ratna seperti ini , kita harus banyak berdoa." Jelas dokter Nano.
Karena terlalu banyak pendarahan Ratna kekurangan darah, golongan darah Ratna B, sedangkan golongan darah B sedang kosong di PMI, dokter Nano menganjurkan Jae untuk mencari pendonor.
" Darah aku B dok, apa aku bisa donor." tawar Neni.
" Apa apa an kamu ini Nen." kata Jae.
__ADS_1
" Gak apa apa A, aku ikhlas koq." jelas Neni.
Kemudian Neni langsung mendonorkan darah nya
< skip >
Setelah tiga hari tidak sadarkan diri, malamnya Ratna sadar , ketika Ratna sadar dia melihat Neni tertidur di kursi.
" Beruntung kamu Jae punya istri sebaik Neni." Ratna bicara dalam hati.
Ratna memanggil Neni, tapi mungkin karena Neni terlalu mengantuk jadi Neni tidak bangun.
Azan subuh membangunkan Neni, Neni kaget melihat ratna sudah sadar.
" Rat kamu sudah bangun." tanya Neni.
" Iya Nen, Makasih ya nen sudah nungguin Gue." kata Ratna.
" Iya Rat, santai saja, aku panggil dokter dulu ya," kata Neni.
Neni langsung panggil dokter untuk memeriksa Ratna.
Kata dokter Nano Ratna sudah bisa dirawat di ruang biasa, Karena di Rumah sakit telaga jaraknya terlalu jauh dari desa nya Jae, dokter nano menyarankan agar Ratna dirawat di Puskesmas Pelem saja.
Akhirnya Ratna dibawa ke Puskesmas Pelem, sesampainya disana keluarga Jae silih berganti menjaga Ratna.
Keadaan Ratna sudah membaik, namun hasil pemeriksaan dokter ada penyakit bawaan Ratna yang perlu dikawatirkan, Ratna mempunyai penyakit diabetes.
Ratna memang mempunyai keturunan diabetes, bapak nya ratna meninggal karena diabet.
ketika itu keluarga Jae sedang kumpul, di situ ada bapak nya Jae, ibu nya Jae, Jae dan Neni, Jae mengusulkan untuk mengantarkan Ratna pulang ke desa nya, bapaknya Jae juga setuju, tapi Neni tidak setuju begitu juga ibunya Jae.
" Ia lebih baik kita antarkan saja, takut nanti terjadi sesuatu sama Ratna kita yang disalah kan." kata bapaknya Jae.
" Kalo menurut aku lebih baik kita rawat Ratna dulu sampai Ratna mendingan, nanti baru kita antar pulang," usul Neni.
" Ibu setuju dengan Neni." kata Ibunya Jae.
Sampai beberapa jam mereka belum menemukan kata sepakat, saat mereka sibuk mencari kesepakatan hp Jae bunyi, ternyata tlp dari dokter Nano.
" Halo Jae, lagi sibuk tidak?" kata dokter Nano.
" Enggak dok, Gimana?" Jawab Jae.
" Saya mau bicara tentang kesehatan Ratna, kalau bisa sementara ini tolong hibur Ratna, biar dia tidak stres dengan penyakitnya." kata dokter Nano.
" Oh iya dok, insya ALLAH kami akan menghibur nya." jawab Jae.
" Yaudah saya cuma mau menyampaikan itu saja Jae." kata dokter Nano.
" Ia terima kasih dok." jawab Jae.
" Sama sama Jae." saut dokter Nano.
Mendengar saran dari dokter akhirnya Jae sekeluarga sepakat untuk merawat ratna sampai Ratna membaik.
Setiap hari Ratna selalu bertemu Jae, tapi Ratna menyalah artikan kebaikan Jae, Ratna berpikir kalau Jae masih sayang ke dia.
__ADS_1
" Rat makan dulu, nih Gue bawakan bubur." kata Jae.
" Makasih Jae, boleh suapin gak Jae, tangan Gue lemes nih." pinta Ratna.
Ketika Jae sedang menyuapi ratna makan ternyata di luar Neni melihatnya, tapi saat itu Neni hanya diam saja dan pura pura tidak tahu.
Semakin hari Ratna semakin berulah, kali ini dia bukan hanya minta disuapin tapi dia minta di gendong ke kamar mandi, dan Jae tidak bisa menolak, lagi lagi di luar sana Neni melihatnya , anehnya Neni hanya diam saja.
Jae merasa risi dengan kelakuan Ratna, Jae kembali ber diskusi dengan keluarganya, kali ini tanpa bapaknya.
" Bu bagai mana kalau kita antar saja Ratna pulang," usul Jae.
" Kita kan kemarin sudah sepakat A, tunggu sampai ratna membaik baru di antar pulang." jawab Neni.
" Iya benar kata Neni Jae." kata ibunya Jae.
Padahal Neni tahu kalau Ratna sebenarnya sudah kelewat batas, tapi Neni malah melarang Ratna di antar pulang, Jae akhirnya menuruti saran istrinya itu.
Ketika sedang berduaan Jae dan Neni membicarakan Ratna.
" Kenapa kamu selalu melarang Aa mengantar pulang Ratna?"
" Tidak apa apa A, kasihan kan kalau dalam keadaan sakit kita antar Ratna pulang." jawab Neni.
" Apa kamu tidak cemburu Nen?" Tanya Jae.
" Kenapa harus cemburu A, Neni sudah menerima ijab kabul dari Aa, Jadi Neni harus percaya ke Aa, kalau pun Aa mencintai wanita lain selain Neni itu hak Aa, tinggal nanti Aa harus berani menerima resikonya." terang Neni.
Mendengar ucapan Neni, Jae merasa sangat berdosa.
keesokan hari nya Jae tidak menjenguk Ratna, Jae menyuruh Mang Kadma dan Mang Kadmi untuk menjaga Ratna sementara waktu.
" Neng Ratna sudah sarapan?" tanya mang Kadma.
" Sudah mang, mamang sendiri sudah sarapan ?" saut Ratna.
" Mamang mah jarang sarapan neng, kopi hitam saja sudah cukup," jawab Mang Kadma.
" Ma, lu ya tak cari in ke mana mana tahu nya disini, awas neng, Kadma suka gigit." kata Kadmi.
" Et dah lu Mi kalo ngomong suka benaran." kata Kadmi.
" Neng tahu enggak apa persamaannya Neng sama kulkas." rayu Kadma.
" Sama sama besar ya mang," Jawab Ratna.
" Bukan," Ungkap Mang Kadma.
" Terus apa mang?" tanya Ratna.
" Persamaannya Neng sama Kulkas Sama-sama bikin mamang sejuk, hahahahaha....." Jawab mang Kadma.
" Bisa aja mang Kadma, kalo mang Kadmi punya gombalan gak?." ujar Ratna.
" Punya dong, Coba neng lihat matahari terbenam, dia begitu indah. Namun keindahannya tidak dapat menandingi keindahan neng." kata Mang Kadma.
" Hebat mang hebat." kata Ratna.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik bercanda, Jae dan Neni datang.....