
Sesuatu terasa hilang dari diriku, saat aku mencoba bangkit dari ranjang air mata ku mengalir dan tubuh ku merasa lemas, kubuka jendela Kembali mendapati perasaan deja’vu yang misterius, terpaan angin pagi, cahaya matahari yang di tutupi Gedung-Gedung pencakar langit, dan orang-orang yang sedang menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Inilah kehidupan ku sehari-hari… lantas apa itu perasaan deja’vu yang kualami ini… apakah aku melupakan sesuatu?? Melupakan… seseorang… saat aku merenung di penuhi rasa bingung alarm berbunyi dengan keras menandakan jam kuliah pertama akan segera dimulai dalam beberapa menit lantas aku dengan segera Bersiap-siap dan melupakan segala yang terjadi di pagi yang ambigu ini.
Saat aku menyusuri jalanan kulihat orang-orang menjalani hidup dengan damai, sekumpulan sahabat terlihat bercanda ria di balik kaca kafe, anak kecil mengenggam erat tangan orang tua nya di dalam perjalanan menuju sekolah, dan semua orang yang sedang berjalan di trotoar ini menjalani kehidupan mereka dengan udara perdamaian.
Udara perdamaian… saat aku sedang terburu-buru menuju stasiun aku melewati sebuah poster tua dan berhenti sejenak untuk merenungi nya, sebuah poster yang menggambar kehidupan yang damai dengan masa depan yang cerah… Udara perdamaian…
Tentang perdamaian dan konflik negri ini tidak akan pernah sedamai dan secerah ini bila tidak ada orang yang berani untuk maju dan rela gugur di medan perang… semuanya demi udara perdamaian… kata-kata itu mengingatkanku pada seorang veteran tua yang menghabiskan sisa-sisa hidupnya setelah perang hanya untuk penyesalan.
Dimasa kecil aku hanya mengingat dirinya duduk dan merenung di kursi goyang nya yang tua itu dari matahari terbit hingga matahari terbenam, ia tak banyak bergerak dari kursi itu ataupun melakukan interaksi dengan orang-orang di sekitar nya,
kakek ku Karsa sang pahlawan perang…
Di dunia ini ada beberapa orang yang menolak untuk bersyukur, mereka mengutuk diri mereka atas rasa bersalah karena dapat menjalani hidup damai, seperti para veteran perang yang telah menjalani tugasnya untuk berperang dan berakhir selamat. Kehilangan teman berharga, kehilangan anggota tubuh, serta kehilangan hasrat untuk melanjutkan hidup, begitulah yang dilalui oleh kakekku Karsa sang pahlawan.
Kakekku hidup dengan perasaan tertekan mengingat kawan-kawan seperjuangannya semasa dulu tak seberuntung dirinya yang masih hidup, meski sudah memiliki keluarga yang harus ia bahagiakan, ia menolak untuk tersenyum, ia hanya duduk dengan tatapan kosong setiap harinya sembari menatapi jalanan yang dimatanya kini merupakan jalan yang damai.
Nenekku bercerita bahwa dulu kakek dan teman-teman baik nya selalu bermimpi agar suatu hari dapat menghirup udara segara perdamaian bersama dan menjalani sisa hidup di hari tua hingga akhir dengan melihat negri nya di penuhi oleh orang-orang yang dapat tersenyum dengan lebar, hingga suatu hari… mereka di pisahkan.
__ADS_1
"Kakekmu di masukkan ke divisi pimpinan Kontinen Barat dan mengatur peleton perang dari jarak aman," Cerita Nenek
Tentu saja pada awalnya mendengar perintah itu kakek menolak untuk menerimanya, sontak nenek langsung tidak terima setelah mendengar beberapa kata yang keluar dari mulut kakek yang berbicara melalui telefon.
"Nenek memarahinya lalu menyuruhnya untuk kembali berbicara pada pimpinan." Sahut nenek dengan nada tinggi
Pada akhirnya kakek bergabung ke divisi pimpinan yaitu divisi yang bertugas untuk memerintah di ruang komando dan hanya turun di beberapa pertempuran besar. Hingga akhirnya hari itu tiba, OPERASI MERPATI PERAK itulah nama yang selalu ada di pikiran kakek hingga akhir hayatnya.
Operasi itu bertujuan untuk memantau markas kontinen timur yang dibangun secara diam-diam di area kontinen barat, kakek terus merasa gelisah melihat teman-temannya turun langsung ke lapangan sementara dia hanya mendapat tugas untuk mengawas di ruangan pusat komando.
Dirinya telah memohon berkali-kali kepada atasan agar dirinya turut serta ke lapangan bersama temannya, namun permohonan kakek selalu ditolak mentah-mentah oleh atasan dengan alasan operasi itu akan selesai dengan cepat dan lancar dengan atau tanpa kehadiran kakek di sana.
"Siapa sangka bahwa markas itu hanyalah umpan untuk memancing pasukan yang bertugas di daerah sekitar pusat komando." cerita nenek
"INI SEBUAH JEBAKAN!!" teriak pemimpin operasi di medan tempur.
Yang terdengar selanjutnya dari alat komunikasi pemimpin adalah suara tembakkan senjata mesin dan ledakan bom yang sangat keras, hingga kemudian alat komunikasi mati.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!? CEPAT SEGERA KIRIM BANTUAN" teriak kakek yang mengamuk pada waktu itu.
__ADS_1
Seluruh pasukan kontinen timur menerobos masuk dengan cepat melalui markas umpan, jalan didepan mereka bersih hanya tersisa sedikit penjaga di sepanjang jalur sejauh 20 kilometer menuju pusat komando.
Seluruh pasukan di setiap divisi di perintahkan untuk berkumpul di sekitar area markas komando, lalu di pertengahan jalan menuju pusat komando kontinen barat terjadilah pertempuran terbesar dan terakhir dari Perang Massa, PERTEMPURAN SAYAP EMAS.
Pertempuran terakhir dan terbesar Perang Massa itu berlangsung selama beberapa jam, setiap menit setiap detiknya pasukan antar dua kubu tersebut berguguran, Sementara itu Kakek dengan amarah memuncak ia berteriak kencang, berlari di tengah gempuran peluru, ia melesatkan senjatanya kearah musuh tanpa takut tertembak, baginya tiada lagi yang bisa membuatnya takut.
Pertempuran dahsyat itu dimenangkan oleh kontinen barat sekaligus mengakhiri Perang Massa yang telah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun lamanya.
Kemenangan kontinen barat di deklarasikan dan di sebarkan melalui radio di penjuru dunia, orang-orang bersorak merayakan kemenangan serta berduka atas para pahlawan yang telah gugur dengan terhormat.
Sebulan setelah pertempuran berakhir, para tentara yang ikut serta dalam pertempuran akhir semuanya dinobatkan sebagai pahlawan perang begitupula dengan mereka yang telah gugur, mereka yang berhasil selamat dapat Kembali ke tempat asal mereka dan mengetuk pintu rumah.
Namun disaat para tentara pulang dengan senyum lebar dan tangisan bahagia di rumah, Kakek kembali kerumah dengan senyuman palsu.
Dibalik senyumannya itu tersembunyi rasa sedih dan penyesalan atas kejadian di medan perang, Sesaat setelah menemui keluarganya ia segera pergi ke rumah keluarga rekan-rekannya lalu meminta maaf kepada mereka sembari menangis tersedu-sedu.
"Mungkin kau tak pernah melihat sosok sesungguhnya dari kakekmu dirga… namun seandainya kau tahu ia adalah pria yang sangat hebat pada masa jayanya." sahut nenek dengan bangga.
Setelah menceritakan kisah kakek, aku dapat melihat nenek mulai bersedih, oleh karena itu setelah menenangkannya aku segera pergi keluar kamar dan memberikan waktu bagi nenek untuk merenung sendiri.
__ADS_1
Di ruang tengah rumah nenek, aku duduk di kursi yang sudah tua sambil memperhatikan foto kakek bersama rekan rekannya di dinding, terlihat di foto itu kakek yang masih muda tersenyum dan bangga sembari merangkul rekan-rekan terbaiknya.
Kisah itu menjadi alasan jelas tentang buruk nya sosok Ayah yang kumiliki karena dirinya sendiri tidak mempunyai sosok Ayah yang ada di sisinya, yang ia miliki hanyalah seseorang yang di sepanjang hidup nya di penuhi penyesalan dan rasa bersalah, tanpa memperhatikan keluarga dan orang-orang di sekitar nya ia pergi begitu saja dari dunia ini…