
“(Aku masih bingung entah bagaimana tiba-tiba kami bisa berada di sini) Rara jangan jauh-jauh ya.” Ujar dirga yang berjalan pelan di belakang rara
Sementara itu rara dengan matanya yang berkilauan serta perasaan kagum tak dapat mengalihkan pandangan nya dari pemandangan ibukota di siang hari, di matanya tak pernah ia saksikan sebuah bangunan yang sebesar dan setinggi itu selain istana kerajaan.
“Dirga !! Dirga !! ini persis seperti yang pernah kau ceritakan !! Banyak orang-orang disini !! Bangunan besar dimana-mana!! Dan tempat ini begitu luar biasa !!” Sahut rara yang terus mengusik dirga.
Singkat cerita, sebelum dirga dan rara pergi jalan-jalan di sekitar ibukota, dirga sempat berpikir untuk menyembunyikan rara di sebuah penginapan dan menghindarkannya dari keramaian, namun mengetahui hal itu, poppo tak tinggal diam.
*Beberapa jam lalu
“Apakah kau benar-benar akan meninggalkannya di sebuah penginapan?” Tanya poppo di hadapan dirga
“Ya, memangnya kenapa?”
“Apa yang ada di pikiranmu!? Apakah kau berpikir dia akan baik-baik saja kalau kau tinggalkan di sana?”
“Hah? Bukannya itu pilihan yang terbaik? Dengan begitu dia akan terhindari dari orang-orang dan keramaian.”
“Tidak Tidak Tidak, dia harus di sini, kau harus segera pergi dengan nya ke ibukota dan membeli beberapa kebutuhannya mengerti?”
“Bukannya justru lebih aneh kalau aku tinggal selama beberapa hari dengan rara disini??”
“Tidak !!! Percayalah padaku dan pergi sana, kau ini sebenarnya sebodoh apa dirga.” Keluh poppo yang terus memarahi dirga.
*Kembali ke sekarang
Pada akhirnya dirga mendengarkan kata-kata poppo dan sampailah pada situasi sekarang, sesampainya di plaza rara tak dapat mengalihkan pandangan nya dari toko-toko yang bersinar dengan barang-barang tampilan yang berkilauan.
“Tidak pernah ada tempat seindah ini kulihat di mataku !!” Heboh rara di samping dirga
“Kita datang kesini bukan untuk melihat-lihat, ayo bergerak.” Ujar dirga yang kemudian menggenggam tangan rara.
Begitu dirga menarik tangan rara, seketika orang-orang di sekitar memperhatikan mereka berdua, rara dengan kecantikan dan keanggunan nya memikat perhatian semua orang dan begitu rara tersipu saat ditarik dirga, orang-orang mulai membisikkan mereka.
“Laah sayang sekali dia bawa pasangan”
“Siapa mereka? Pasangan artis?”
“Kalau tidak salah aku pernah melihat mereka di salah satu acara.”
__ADS_1
Tanpa menyia-nyiakan lebih banyak waktu dirga langsung saja membawa rara ke pusat perbelanjaan utama untuk membeli kebutuhannya, tak terasa sudah beberapa jam mereka habiskan untuk berbelanja dan tak terasa jam telah menunjukkan waktu malam hari.
Dalam perjalanan pulang di jalanan plaza, rara dengan riang berjalan di depan dirga sambil memakan sebuah roti coklat sementara dirga membawa semua barang belanjaan.
“(Banyak sekali kebutuhannya, dibandingkan perempuan kebutuhan pria berkali-kali lipat lebih murah dan lebih sedikit, lagipula bagaimana dia bisa tahu banyak tentang barang perawatan padahal ia belum pernah kesini.)” Gumam dirga dalam pikiran nya.
Saat membawa barang-barang di belakang rara, dirga melihat rara sedang menggenggam semacam brosur di tangan nya, setelah dirga ingat lagi brosur itu selalu dibaca nya di sepanjang perjalanan di plaza.
“Rara, brosur apa itu yang kau pegang?” Tanya dirga pada rara di depan nya
“Hahh?? Ini?? Ohh aku menerima nya dari petugas tadi saat kita baru sampai, brosur ini sangat berguna berisikan informasi tentang barang-barang kewanitaan, begitulah kata pegawai yang memberikan brosur ini.” Jawab rara dengan senyuman di wajahnya.
“Ohh jadi itu guna brosur nya ya (Kakak-Kakak brosur sialan…)” Keluh dirga di dalam pikirannya.
Sesampainya diluar, pemandangan kota yang menyinari gelapnya malam membuat rara terdiam sejenak, dirinya terdiam menyaksikan keindahan ibukota yang bersinar terang di malam hari.
“Ada apa rara? Ada masalah?” Tanya dirga yang ikut berhenti sejenak di samping rara.
Begitu dirga lihat raut wajah rara yang di penuhi dengan kekaguman, dirinya ikut terdiam sejenak dan rasa lelahnya seketika menghilang, dirinya kembali tersadar dan bersyukur bisa kembali bersama dengan sosok yang sudah lama ia tunggu.
“Rara, mau pulang lewat taman saja? Aku yakin di sana akan lebih indah.” Ajak dirga
Jalanan taman pada malam itu tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi, suasana nya yang tenang dan dengan sejuknya udara di sekitar memberikan suasana terbaik bagi dirga dan rara.
Lampu taman yang bersinar di antara kegelapan dan juga cahaya dari Gedung kota yang terlihat dari kejauhan, bagi dirga tidak ada yang bersinar lebih terang daripada rara di malam yang gelap itu.
Melihat rara tersenyum dan tertawa bersamanya akan selalu menjadi saat-saat terbaik dalam hidupnya, setiap saat bercanda ria bersama dirinya akan menjadi momen-momen yang akan selalu ia ingat dalam hidupnya.
Setelah sekian saat mereka berjalan di taman, mereka singgah duduk di sebuah kursi yang disinari lampu tangan.
“Jadi bagaimana rara, kau suka disini?” Tanya dirga.
“Selama ada dirimu disini, semua tempat adalah tempat kesukaanku.” Jawab rara sambil melihat dirga.
“Kalau begitu, aku akan tetap di sisimu, aku sudah berjanji bukan?” Ujar dirga sambil tersenyum dan kemudian merangkul rara.
“Aku berharap saat-saat seperti ini bisa berjalan selamanya, aku tidak ingin mengenang masa-masa seperti ini, aku ingin selalu menjalani nya.” Sebut rara yang perlahan suaranya terdengar seakan sedang bersedih.
“Rara… aku tidak akan meninggalkanmu lagi, tidak lagi, jadi kau tak perlu takut.” Sebut dirga sambil memeluk rara.
__ADS_1
Di antara kegelapan malam yang di terangi lampu taman, rara kembali merasakan kehangatan dirga, di balik kebahagiannya tersembunyi rasa takut bahwa suatu saat mereka akan kembali berpisah.
Di antara semua orang, kini hanya dirga yang bisa memberinya harapan, hanya dirga yang tersisa dalam hidupnya, ingin rasanya untuk terus bersama dirga selamanya dan menghabiskan hari-hari bersama.
Kini keduanya telah bergantung satu sama lain, dirga memeluk erat rara di antara kegelapan dan kedinginan malam, keduanya sudah tak dapat lagi terpisahkan dan di dalam benak nya selalu berharap untuk selamanya bersama.
Sesampainya di apartemen, rara langsung bergerak ke dapur sementara dirga merapikan barang-barang, peralatan mandi dan sikat gigi berwarna biru dan pink, juga peralatan tidur untuk dirga di ruang tengah.
Di saat dirga merapikan barang-barang rara sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, saat dirga menyaksikan makanan yang di suguhkan di meja makan, terasa sebuah sengatan seakan menyambar dirinya.
“Rara… bagaimana kau bisa tahu?”
“Hmm?? Bukannya memang yang seperti ini favoritmu??”
Di meja makan sudah siap semangkuk ayam spesial dengan aroma rumah yang dirindukan, masakan ibu dirga yang akan selalu menjadi kesukaannya.
“Bagaimana kau bisa, semuanya serupa dan juga bisa siap dengan cepat.” Sekali lagi tanya dirga.
Rara membalasnya dengan mengangkat sebuah buku catatan usang di tangan nya, seketika dirga langsung paham melihat catatan itu sekaligus merasa takjub dengan kemampuan rara.
“Hanya dengan melihat resep kau bisa langsung mengerjakannya dengan sempurna ya, bentuk dan rasanya semuanya sama persis, pasti bibi mengajarimu dengan sangat baik.” Puji dirga.
Mendengar pujian dirga itu rara yang sedang makan seketika langsung murung dan berhenti sejenak.
“Bibi… yaa dia mengajariku dengan baik.” Jawab rara dengan pelan dan melanjutkan makan nya
“Aku penasaran apa karsa dan lainnya juga pernah merasakan masakan mu.”
Mendengar perkataan dirga itu, rara kembali berhenti sejenak, dan raut wajah nya yang murung itu langsung bersedih.
“Tidak… mereka tidak pernah merasakannya, aku di ajarkan lebih lanjut oleh para koki istana, pada saat itu mereka sudah tiada.”
Seketika langsung kembali terpikir oleh dirga tentang masa lalu rara yang sampai sekarang masih belum ia ketahui, dengan cepat dirga menggenggam tangan rara yang sedang bersedih.
“Rara… sebenarnya apa yang telah terjadi? Pada pasukan bentala, Kakuro, kau menolak menceritakan semuanya saat di dalam mimpi, apa yang terjadi padamu selama ini…”
- Continue
Next : Janjiku
__ADS_1