After 150

After 150
Sosok yang jauh


__ADS_3

Sebuah ingatan yang pudar, namun terasa seperti sesuatu yang sangat berharga, seringkali pandangan yang abu-abu itu muncul dalam pikiranku di setiap saat aku memikirkan nya.


Kencang nya terpaan angin dan rintik hujan yang kasar mengganggu pendengaran ku kala itu, kulihat dirinya berbalik tersenyum padaku lalu memberikan lambaian selamat tinggal nya, bibir nya yang bergerak perlahan dan wajah nya yang mencoba untuk bertahan seakan mencoba untuk mengatakan sesuatu… Namun aku tak kunjung dapat mengingat kata-kata nya.


“LUCIA!! CEPAT BUKA PINTUNYA!!” Teriak seorang pria dengan keras mencoba untuk mendobrak masuk.


“Dirga… kamu sembunyi dulu di sini ya… jangan bergerak, jangan bersuara, pokok nya jangan lakukan apapun mengerti…?? Ibu akan segera Kembali.” Setelah memberikan kecupan di kening ibu kemudian pergi dan mengunci ku di dalam lemari.


Pintu pun terbuka dan pria itu masuk, aku melihat dari ventilasi udara lemari ia selalu memperlakukan ibu seperti ini, hampir di setiap minggu paman datang dengan keadaan mabuk atau dalam keadaan babak belur memintai ibu uang, lalu bila ibu tidak memberinya ia melakukan itu.


“Lucia… sudah kubilang nanti akan kuganti, lagipula apa sulit nya tinggal menyerahkan seonggok kertas hahh?? Dasar janda.”


“Beraninya kau berkata begitu pada istri saudaramu..!! pergi saja dari sini!! Pergi sana!!”


“Sudah kubilang aku takkan pergi tanpa membawa apapun..!!”


Ia kemudian mengambil sabuk dari celana nya lalu menggunakannya untuk memukuli ibu, ia terus melakukannya hingga ibu bersedia memberikannya uang lalu ia pergi begitu saja, sungguh sebuah pemandangan yang tidak seharusnya kulihat.


Nama ku Dirgantara Aksa Diwarna, kehidupan ku tidak lain hanyalah sekedar anak laki-laki biasa yang hidup di tengah kondisi keluarga yang cukup krusial, kakek ku yang seorang veteran perang menghabiskan hidup nya dengan renungan dan penyesalan yang tak kunjung pudar, kondisi nya yang menyedihkan itu membuat anak-anak nya tumbuh menjadi kriminal dan orang-orang bermasalah… semua kecuali Ayahku…


Aku tak begitu mengenal sosok dirinya serasa ia tak pernah mengambil bagian di dalam hidup ku, yang ku tahu tentang sosok Ayah ialah seseorang yang berdiri tegak sembari memeluk erat ibu yang terpampang di bingkai foto ruang tengah rumah.


Aku kadang berpikir, Apa yang di lakukannya?, Kenapa dia meninggalkan kami?, Apakah ada sesuatu yang membuatnya tak dapat berkumpul Kembali dengan kami? Kemana ia pergi selama ini..?? Begitu terus pikirku di setiap saat menunggunya meratapi pintu gerbang dari jendela rumah.


Hingga di suatu hari seorang tukang pos datang membawakan sebuah surat, saat kuberikan surat itu pada ibu sepulang kerja wajah nya yang letih itu sekejap menghilang.


“Dirga… Ini surat dari ayah mu!!” Sahut ibu dengan penuh semangat.


Aku duduk di pangkuan ibu dan menunggunya untuk membacakan surat dari Ayah yang selalu meninggalkan rasa penasaran.


"Hai Dirga... Bagaimana kabarnya...?"


"Sekarang kamu sudah berusia tujuh tahun ya?? Banyak waktu berlalu dan kini putraku sudah tumbuh dengan besar dan baik, Di dalam pesan ini Ayah ingin meminta maaf karena ketidak hadiran ayah di dalam momen momen penting dalam hidupmu, Oleh karena itu hingga suatu hari di saat ayah akan pulang, Kamu akan menerima surat seperti ini di setiap tahunnya."


"Sampai saat itu tiba Carilah teman untuk mengisi waktu luangmu atau kau akan merasa kesepian, Jagalah ibumu beserta nama baiknya jangan sampai orang orang merendahkan ibumu, dan yang terakhir tumbuhlah menjadi anak yang kuat dan bijak."


Surat itu memberikan secercah harapan bagiku, Muncul keinginan di dalam diri untuk tumbuh besar sesuai keinginannya dan memenuhi ekspektasinya sehingga dapat mengukir senyum di wajahnya, jantung ku berdebar kencang, aku tak dapat menahan senyuman di wajah dan segera berlari keluar rumah dengan semangat yang tak tertahankan.


“Dirga!!? Mau kemana??”


“Ke tempat Ayah!! Suatu hari nanti!!” Teriak ku sembari berlari mengelilingi blok


Di bawah langit oranye aku berlari mengelilingi blok rumah berteriak sekencang-kencang nya melepas riang yang seketika meledak di dalam diriku dari sepucuk surat, hanya sepucuk surat akan tetapi membakar semangat di dalam hati.


“Aku akan menjadi orang yang hebat!! Aku akan menemukanmu!! Aku akan membawamu kembali!! Tak ada seorang pun yang bisa menghentikan ku sekarang!!”

__ADS_1


pertama kali nya di dalam hidup aku merasa sesemangat ini setelah sebelumnya menjalani keseharian di kelilingi orang-orang yang biadab, aku tak henti berteriak sekencang-kencang nya hingga sebuah bola terbang dengan kecepatan tinggi mengenai kepala ku dengan keras.


Anak-Anak yang sedang bermain di sekitar sana langsung bergerak mengerumuni ku dengan panik, akan tetapi pandangan mereka langsung berubah begitu mengenali wajah ku yang menimpa bola.


“Tunggu dulu… kau anak yang sering menyendiri itu bukan?? Apa yang kau lakukan di sini??” Tanya seorang anak yang hendak mengambil bola


“Mari bermain!!” Teriak ku dengan penuh semangat.


“Tidak…” Jawab salah satu dari mereka dengan spontan


Kenapa… pikir ku, bagaimana ia langsung menjawab spontan seperti itu, perkataan itu seakan-akan memukulku dengan sangat keras.


“Ibu menyuruhku untuk menjauhi mu dan keluarga mu… pasti ada sesuatu yang terjadi bukan di antara kalian semua??” Sahut salah satu anak


“Yaa ibuku bilang rumah mu sering di datangi oleh seseorang yang mengamuk meminta uang… Apakah itu ayahmu?”


Bukan, itu paman ku… jangan sebut dia lagi… jangan samakan dia dengan ayahku…


“Wah kau serius?? Pasti sangat menakutkan memiliki orang tua seperti itu, aku juga dengar bahwa uang yang di dapatkan itu hasil dari pekerjaan kotor.”


Ibu bekerja keras untuk uang itu… ia layak mendapatkan uang itu dan mampu menghidupi kami.


“Benar!! Ibuku juga bilang bahwa ayah nya sering terlihat mabuk di sekitaran blok perumahan.”


“Seorang kriminal?? Wah kau serius?? Pasti sangat menakutkan memiliki orang tua seperti itu.”


“Apa yang akan kau lakukan tentang itu...? Itulah kenyataan nya.”


Mereka terus melakukannya tanpa henti, mereka menjelek-jelekkan dan merendahkan nama nya di depanku, lalu tanpa tahu diri mereka juga mengolok-olok ibuku yang tidak bersalah, apakah selalu seperti ini orang-orang di sekitarku?? Apakah seburuk itu pemikiran yang mereka miliki?


“Menjauh dari kami, jangan dekat-dekat.”


Mereka kemudian pergi meninggalkanku namun mulut kotor nya tak kunjung berhenti.


“Kalau aku menjadi dirinya aku akan benar-benar pergi dari kehidupan itu…”


“Tinggal di antara orang-orang busuk seperti itu, sungguh memuakkan.”


“Ayah seorang kriminal, Ibu melakukan pekerjaan kotor, betapa menyedihkannya…”


Tubuhku bergerak dengan sendirinya, sebuah pukulan yang kuat melayang ke salah satu anak di dalam kerumunan itu, Tubuhku gemetar, bulu kudukku merinding di penuhi amarah dan Hasrat bertarung.


“Tutup mulut busukmu itu…” sahutku dengan nada tinggi


Kata-Kata dalam surat ayah terlintas dengan cepat di pikiranku, hatiku terasa lebih tenang dan lega setelah melancarkan satu pukulan keras dan membuat orang-orang berhenti merusak nama baik mereka berdua.

__ADS_1


Yang berbadan paling besar spontan langsung memukulku dengan keras, Pukulan itu mengenai wajahku tepat seperti di saat ia menendang bola ke kepalaku, Serangan brutal itu langsung menjatuhkan ku dan mereka semua tertawa melihatku dengan badan tinggi yang kurus terlihat tak berdaya.


Akan tetapi aku tetap berdiri dan balik memukul salah satu dari mereka, Pukulan yang kukerahkan sekuat tenaga hanya sedikit melukainya dan tepat setelahnya aku kembali menerima pukulan keras.


"Hanya segini saja kemampuanmu? Dasar bocah aneh, Buktikan padaku apa yang kau bisa!!"


Selama diriku masih kuat berdiri, maka aku akan terus berdiri karena aku percaya padanya... Aku tahu bahwa ayah juga melakukan yang terbaik untuk kami di sana, Oleh karena itu ia mengandalkanku dan aku akan terus mempercayainya.


"Aku percaya!! Maju sini!!" Sahutku sambil berteriak dengan keras.


Hingga akhirnya hari sudah semakin gelap, Tidak ada lagi tawa yang terdengar dari telinga para penonton, yang awalnya mereka anggap lucu kini terlihat seperti sesuatu yang kasar dan menyakitkan, aku sendiri tetap berdiri apapun yang terjadi, aku dapat merasakannya seluruh luka di sekujur tubuh yang ingin membuatku menangis dan menjerit.


Mereka yang memukuli ku pun sudah berkurang hingga akhirnya hanya ada aku dan satu anak yang memulai keributan ini, Ia beberapa kali mencoba untuk pergi dan melepaskanku yang terus menempel padanya, Namun aku sudah bertekad untuk tidak pernah melepasnya hingga ia mengaku.


"Kau ini apa!!? Zombie kah?? Dengan tubuh seperti itu kau mampu bertahan, apa yang telah mereka lakukan padamu??"


"Tarik Kembali… semuanya…" Sahutku yang sudah hampir kehilangan kesadaran.


"Baiklah!! Aku minta maaf!! Sekarang biarkan aku pulang!!" Sebut anak itu dengan ketakutan


Akhirnya aku melepas anak itu dan merasa bahwa diriku telah menang, meskipun badan ku luka-luka, pandangan ku mulai pudar, dan pikiranku pusing, aku berdiri tegak di tengah lapangan permainan itu dan berteriak


"AKU MENANG!!"


Saat aku kembali kerumah ibu yang sedang memasak melihatku dengan luka di mana-mana, seketika ia yang sedang memotong bahan makanan di meja dapur langsung terjatuh dan menangis karena melihat banyak luka di sekujur tubuh putra nya


"Ibu... Aku menang... " Sebutku dengan bangga.


Tangisan ibu terdengar lebih kencang dan ia segera memelukku dengan erat selagi berbisik.


"Kau adalah anak yang hebat... Aku sangat bangga mempunyai anak yang sungguh berani sepertimu.."


Lukaku segera di obati oleh ibu kemudian, dan setelah makan malam aku segera berbaring di kasur, saat mencoba untuk tidur aku bisa mendengar suara ibu yang sedang menangis di balik tembok.


"Maafkan aku... Maafkan kami... Dirga" Sebutnya sambil tersedu sedu.


Aku mulai ragu saat itu, kenapa ibu bukannya merasa bahagia?? Justru ia menangis di belakangku, setelah beberapa saat berpikir aku tanpa sadar terjatuh ke dunia mimpi.


Aku masih bisa melihat perban yang banyak di badanku, namun tak ada sedikit pun rasa sakit, aku melihat sekeliling dan menyadari diriku sedang bersandar di sebuah pohon tepat di tempat yang tak ku kenali, saat aku mencoba untuk berdiri tiba tiba muncul seorang gadis dari antah berantah.


"Hai Aku Rara!! Senang bertemu denganmu!!"


Aku terkejut melihatnya yang muncul tiba tiba itu setelah ku lihat dirinya dengan jelas, anak perempuan ini terlihat seumuran denganku dan aku tak pernah melihatnya di manapun, Ia kemudian berdiri di hadapanku dan kemudian kembali bertanya.


"Bagaimana Dengan mu?? Siapa namamu??"

__ADS_1


- continue


(P. S. Kalau ada kesalahan penulisan atau kritik dan saran jangan ragu-ragu di sampaikan ke kolom komentar ya, Setiap komentar kalian sangat berharga bagi author 😌)


__ADS_2