After 150

After 150
Bersama lagi


__ADS_3

Dirga dan Rara kembali bertemu dalam dunia mimpi setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, bagai sinar yang terhempas oleh awan kelam, kondisi Rara yang sekarang membuatnya terjerat dalam keraguan yang membingungkan.


Dia tidak lagi dapat mempercayai seorangpun kecuali Dirga, sosok yang menjadi satu-satunya penopang di tengah kekacauan batinnya.


Ketika Dirga menyadari keberadaannya dalam dunia mimpi, keheranan menghampirinya seketika.


Tapi yang lebih mengejutkan adalah saat Dirga melihat Rara, dia terpesona oleh perubahan yang melanda gadis itu.


Rara telah tumbuh menjadi sosok dewasa yang memancarkan aura kekuatan dan ketegasan.


Keduanya saling berpandangan, wajah penuh keraguan dan ketidakpercayaan.


Rasa ragu membelit pikiran mereka, mengancam untuk meruntuhkan momen yang mereka miliki.


Namun, di tengah keragu-raguan, naluri yang terpendam tumbuh dan mereka akhirnya sadar, memahami bahwa di balik bayangan-bayangan masa lalu, mereka telah kembali bertemu satu sama lain, menyatukan potongan-potongan ingatan yang tercecer dalam pikiran mereka.


“Kau kah Dirgantara Aksa Diwarna?”


“Kau kah Asmaraloka Kirana?”


Bab 2.1 : Bersama lagi


Pagi itu alarm yang membunyikan suara white noise yang bergetar sangat kencang segera membangunkan Dirga yang terlelap, sekejap saat ia bangun dan melihat waktu dirinya langsung panik dan segera bergegas karena dalam 5 menit jam kuliah pertama akan segara dimulai.


“Dirga!! Bangun!! Kita sudah hampir terlambat ini !!”


“Ya!! Tunggu sedikit lagi !!”


Dengan terburu-buru dirga segera memasukkan segala yang berada di meja belajar kedalam tas, tanpa perlu mandi hanya dengan sekali bilasan muka dirga kemudian mengambil jaket untuk menutupi kaos tidur nya.


Ia bergerak dengan langkah yang terburu-buru menuju pintu keluar, menyorong sepatu dengan ceroboh yang kemudian membuatnya terjatuh di depan pintu.


Di saat yang bersamaan, poppo hendak menyalakan rokok nya sambil menikmati panorama kota di pagi hari. Namun saat mancis baru di nyalakan dirga mendobrak pintu kamar dan segera menarik Poppo.


“Kau pikir sudah jam berapa ini!? Masih sempat juga untuk bersantai.” Keluh dirga sambil menuruni tangga


“Yahh kau pun sendiri jam segini baru Bersiap.” Jawab Poppo


Hari pertama kegiatan belajar-mengajar dirga dan poppo di ibukota, tepatnya di salah satu universitas terbaik kini Universitas Sayap Emas.


Keduanya berjalan melewati keramaian ibukota di pagi hari, trotoar di jam 8 yang dipenuhi orang-orang yang terburu-buru serta jalanan kota yang mulai macet terus menambah kegelisahan dalam hati Dirga.


“Sial, sudah telat 10 menit.” Dirga yang tergesa-gesa berhenti di depan pintu kelas memperbaiki nafas nya.


“Cuma 10 menit, lagipula waktu ospek kemarin keterlambatan maksimal rata-rata dosen itu 30 menit jadi seharusnya belum menjadi masalah besar…” Sebut Poppo yang dengan santai membuka pintu kelas.


Namun poppo masuk di saat yang tidak tepat, suara pintu terbuka yang keras menghentikan dosen yang sedang berbicara dengan para mahasiswa, sontak suasana menjadi sunyi dan sang dosen menatap poppo dengan sinis.


“Aku tidak menerima bocah sma yang tidak disiplin di kelasku, mengerti?” Sahut sang dosen menatap poppo.

__ADS_1


Poppo tak dapat berkata-kata, lantas Dirga dengan cepat melewati poppo lalu menundukkan kepalanya di depan sang dosen.


“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, sebagai seorang mahasiswa baru saya merasa sangat malu dengan kecerobohan saya di hari pertama, jadi mohon berikan kami kesempatan kedua dan izinkan kami belajar di kelas anda pak !!” Sahut Dirga dengan keras sambil menundukkan kepalanya di hadapan sang dosen


Semua pandangan tertuju pada Dirga, semua yang berada di ruangan berkapasitas 40 orang itu terkejut melihat keberanian seorang mahasiswa baru yang berani berbicara dengan keras di hadapan seorang dosen.


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut dirga, sang dosen pun tertawa yang semakin menambah kebingungan orang-orang di dalam ruangan.


“Siapa namamu?”


“Dirga, Dirgantara Aksa Diwarna.”


“Aku suka dengan rasa percaya dirimu itu, akan kuingat kau. Sekarang carilah bangku yang kosong.”


Mendengar jawaban itu, kegelisahan yang berlebih seketika terlepas dari benak dirga. Sambil mengeluarkan nafas lega, dirga berterima kasih dan bergerak sesuai perintah yang diberikan sang dosen.


Sang dosen kemudian berbalik dari Dirga dan kembali melihat Poppo yang masih menunggu di pintu kelas, raut wajah dosen yang sebelumnya kelihatan terhibur seketika berubah setelah melihat poppo.


“Lalu kau? Siapa namamu?”


“Adhan pak, Rafif Ramadhan.”


“Kau juga duduklah dan jangan di ulangi lagi, ingat kau berhutang pada temanmu itu.”


“Baik pak !! Saya sangat menghargainya !!”


Poppo menerima perintah dosen dan segera mencari tempat duduk, kursi di samping dirga kosong dan begitu Poppo hendak duduk Dirga seakan-akan memalingkan pandangan nya pura-pura tidak melihat Poppo.


“Heh… terserahlah.”


Jam dalam ruangan terus berdetik dan ketika genap 90 menit berlalu, sang dosen akhirnya berjalan keluar ruangan. Seketika setelah jam kuliah berakhir, orang-orang di dalam ruangan langsung mengerumuni Dirga dengan ribuan pertanyaan di pikiran mereka


“Padahal itu Professor Rayo!! Peneliti jenius yang menciptakan dua teori terkenal pasca konflik perang massa dan juga dikenal sebagai pembasmi para jenius di kampus ini !!”


“Darimana kau dapat keberanian seperti itu? Siapa yang mengajarimu?”


“Dari mana asalmu? Maukah makan siang bersama?”


Dikerumuni banyak orang yang terus bertanya Dirga kesulitan mencari cara untuk pergi, lalu di tengah-tengah masalah itu poppo berdiri dari bangkunya di penuhi rasa percaya diri yang meluap-luap.


“Semuanya… sebagai orang yang sudah lama mengenal dirga aku akan mengatakan, tingkah kalian yang seperti itu malah akan menjauhkan diri kalian sendiri dari Dirga… jadi bagi kalian yang gadis lebih bersamaku saja yang lebih mengerti Wanita.” Dengan sekejap semua orang menatap poppo dengan perasaan jijik lalu pergi menjauh.


Rasa percaya diri Poppo itu mendadak hilang begitu orang-orang pergi hanya meninggalkan dirinya berdua dengan Dirga, pada saat itu dirinya merasa sudah memiliki alasan yang layak untuk pindah kampus.


“Rasa percaya diri yang bagus ya… lain kali jangan dicoba lagi, oke?”


“Ya, tetapi lihat !! Sekarang kita sudah impas kan ?? Kalau aku tidak melakukan apapun kau tetap akan berada di tengah keributan seperti tadi.”


“Ya, terserah kau saja.”

__ADS_1


Tiba saatnya untuk pulang, Dirga berjalan kaki sendirian menuju apartemen dikarenakan poppo akan menemui seseorang, mumpung sendiri sambil di temani aplikasi maps Dirga memilih untuk mengelilingi kota untuk beradaptasi.


Suasana di ibukota terasa sungguh jauh berbeda, ibukota tempat ayah Dirga dulunya berada. Tentang ayahnya, beberapa hari lalu Dirga sempat bertemu dengan Paul yang merupakan teman baik sang ayah.


Sambil duduk santai di kafe yang terletak tak jauh dari apartemen, Paul menceritakan beberapa hal tentang sosok ayah Dirga yaitu Peter Dahl yang dimana keduanya sudah berteman baik sejak kuliah.


Paul juga sempat mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir ini, Dahl sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang sangat penting di ibukota.


Namun, Paul masih belum bisa mengatakan apakah sesuatu itu yang dikerjakan Dahl sehingga dirinya tidak bisa pulang.


Dengan cerita yang menggantung itu meninggalkan rasa penasaran di benak Dirga yang membuatnya terus memikirkan sosok sang ayah. Akan tetapi, dengan rasa itu kembali teringat tujuan dirinya untuk mengambil langkah Pendidikan yang sama dengan sang ayah, yaitu pendidikan sejarah.


Saat Dirga berjalan perlahan menikmati Lorong yang sunyi, tetesan air perlahan turun dari langit. Dengan segera Dirga mengeluarkan payungnya lalu bergerak lebih cepat ke apartemen. Namun, di tengah perjalanannya ia terhenti melihat seseorang yang sedang duduk sendirian di taman bermain kecil.


Terlihat raut wajahnya yang murung seakan sedang menangis, dirga perhatikan lagi bahwa air yang mengalir di wajahnya itu bukanlah hanya tetesan air hujan melainkan juga tetesan air mata nya.


Seorang perempuan kelihatan mengenakan seragam sma yang berada di sekitar, padahal memiliki paras yang cantik dan Anggun namun sedang duduk bersedih di tengah hujan yang semakin lama semakin deras arusnya.


Dirga langsung saja menghampiri perempuan itu lalu langsung memberikan payung nya. Anak perempuan yang merunduk itu menyadari Dirga yang mendekat, dengan segera ia mengusap-usap wajahnya kemudian mengangkat kepalanya.


"Ada urusan apa!!?"


Anak perempuan itu langsung saja membentak dirga yang menghampirinya. Ia melihat Dirga mencoba seakan sedang terlihat marah, namun raut wajahnya menjelaskan dengan mudah kesedihan dan kebingungan yang ia lalui.


“Apa yang anak SMA sepertimu lakukan di saat seperti ini?”


“Bukan urusanmu !! Predator remaja…”


Sindiran itu bagaikan tembakan telak ke Dirga layaknya anak panah yang di tembakkan menggunakan crossbow.


Tak sanggup berkata-kata lagi, Dirga hanya memberikan payungnya pada anak perempuan itu dan segera lekas pergi.


Di tengah larinya itu ia menutup kepalanya dengan kerudung jaket menahan rasa malu dalam pikirannya. Begitu sampai di depan pintu apartemen, ia segera melempar segala pakaian basah yang ia kenakan dan terbaring lemas di atas kasur empuk nya.


Suara hujan yang terdengar halus yang disertai dengan suasana kamar yang dingin menciptakan suasana yang sempurna untuk tidur.


Tak lama setelah Dirga melemaskan seluruh badan nya, perlahan mata nya menolak untuk tetap terbuka dan tanpa sadar dirinya sudah tenggelam di dunia mimpi.


Mata Dirga kembali terbuka begitu merasakan kondisi sekitarnya yang seketika berubah. Halusnya tempat tidur yang seketika menjadi sebuah wujud yang kasar membangunkan dirinya, yang terlihat dimata Dirga saat melihat keatas tidak lagi langit-langit apartemen melainkan langit yang penuh bintang.


Dengan rasa penasaran dan bingung Dirga mengangkat kepalnya dan betapa dirinya langsung dikejutkan dengan apa yang berada di pandangan nya. Sebuah pemandangan yang memberikan perasaan nostalgia yang sangat kuat, tubuh Dirga yang sebelumnya lemas tiba-tiba merasa seakan mendapatkan sambaran kecil.


Dirga berjalan perlahan di antara rerumputan itu dan saat ia menoleh ia menemukan seseorang, seorang perempuan yang duduk di atas rumput menutup wajahnya, terdengar suara tangisan dari sosok nya dan suara itu Kembali memberikan perasaan nostalgia padanya.


Langkah demi Langkah Dirga mendekati perempuan yang menangis itu, seluruh badan nya bergetar dan jantung yang tak kunjung berhenti berdegup dengan dahsyatnya.


Setelah semakin dekat perempuan itu menyadari keberadaan Dirga dan keduanya saling bertatapan. Setelah menyaksikan raut sedih perempuan itu, bibir dirga gemetar dan seluruh badan nya berhenti seketika ditimpa perasaan misterius dan ribuan emosi yang menyerbu sekaligus.


“Kau kah… Asmaraloka Kirana…”

__ADS_1


“Kau kah… Dirgantara Aksa Diwarna…”


- Continue


__ADS_2