
Aku perlahan mulai terbangun dan merasakan diriku sedang di bawa oleh sesuatu atau seseorang dengan tubuh yang dingin layaknya besi, Pendengaran ku mulai kembali dan aku mendengar suara sorakan dan keributan dari banyak orang.
Saat aku membuka matu diriku menyadari bahwa tubuh kecilku sedang di bawa oleh seorang ksatria berzirah perak di atas kudanya, Kami berjalan perlahan melewati kerumunan orang orang yang berbahagia dan bersorak dengan keras.
"Putri Kirana!!"
"Akhirnya kami terselamatkan!!"
"Puji tuhan telah menyelamatkan putri Kirana"
Saat mereka menyebut nama 'Kirana' aku berpikir bahwa sorakan itu di tujukan padaku yang di bawa seorang ksatria dan di kawal oleh pasukan kerajaan dari depan dan belakang, Sang putri kirana...
Mereka menyambut kami dengan meriah lalu menggiring kami hingga ke gerbang masuk istana, di dalam area istana aku dan para pengawal di sambut oleh para tamu istana dan juga para penjaga yang berbaris dengan gagah memberikan hormat pada kami.
Lalu saat memasuki istana, aku di turunkan dari kuda kemudian di bawa oleh sang komandan pasukan menuju sosok raja yang sedang duduk di takhtanya, begitu aku mendekat sang raja bergerak dari takhtanga kemudian memelukku dengan begitu eratnya selagi berbisik dengan halus.
"Akhirnya kau pulang juga Ghalia..."
"Ghalia??" Sekejap aku berpikir bahwa dari awal semua orang menyambut sosok yang salah dan merasa akan segera di timpa masalah besar.
"Benar Ghalia... Ghalia Purva Kirana sang putri kerajaan purva..."
"Putri kerajaan?? Ghalia?? Aku tidak mengerti..." Gumam ku dengan kebingungan
Raja kemudian kembali duduk di takhtanya, sementara itu penasihat raja maju ke pusat ruang takhta yang dengan sigap nya kemudian berdiri tepat di hadapanku.
"10 Tahun Lalu!! Sang malaikat telah menurunkan salah satu hartanya yang bersinar terang, malaikat itu menurunkan sosok yang mulia putri kirana yang kelak di takdirkan akan menjadi penyelamat negri dengan memenuhi tugasnya!!"
Sontak para penonton bersorak ria di sekeliling ruang takhta
"Akan tetapi, Beberapa hari setelahnya sekelompok iblis kotor dari dunia bawah menyelinap ke dalam istana dan mencuri harta terindah dari surga yang di titipkan di tempat ini... Selama waktu itu kita telah melakukan yang terbaik untuk merebut kembali harta berhaga itu dan akhirnya pada hari ini... Sang harta surga Ghalia Purva Kirana telah kembali!!"
Pidato sang penasehat itu terdengar hingga keluar istana, dengan begitu para penduduk kembali bersorak dengan kuat hingga suara mereka menembus istana purva yang kokoh, Sementara itu diriku hanya bisa diam dengan ribuan pertanyaan di balik benakku.
Lama kelamaan entah kenapa aku mulai takut dan merasa tidak nyaman sehingga aku memanggil sang penasihat lalu bilang padanya.
"Aku ingin pulang..." Bisikku di telinga sang penasihat.
__ADS_1
"Apa maksudmu tuan putri..?? Kau sudah berada di rumah sekarang..."
Pikiranku semakin pusing dan aku merasa semakin ketakutan, awalnya aku merasa bahagia di sambut oleh banyak orang dengan kebahagiaan tanpa tahu apa-apa, namun setelah mengetahui beberapa omong kosong membuatku semakin takut.
"AKU INGIN PULANG KE KAKURO!! DENGAN BIBI!! DAN TEMAN TEMAN LAINNYA..." Teriakku dengan keras sambil menangis.
Mendengar teriakan itu semua orang terkejut dan sontak semuanya berubah menjadi sunyi hanya dalam sekejap.
"Putri Ghalia... Apa maksudmu...??" Tanya sang penasihat raja sekali lagi dengan kebingungan
"AKU BUKAN GHALIA!! AKU RARA!! ASMARALOKA KIRANA!!" Sekali lagi teriakku sambil menangis.
Dengan cepat tampang di wajah penasihat raja berubah, Setelah merunduk mendengar rengekkanku itu ia berdiri tegak dan menarik nafas panjang.
"LIHATLAH!! PERBUATAN IBLIS BIADAB PADA PUTRI KITA!! DENGAN KEJAMNYA MEREKA MENCUCI OTAK DAN MEMANFAATKAN PUTRI DENGAN KEJI!!" Teriak sang penasihat raja
Penonton menunjukkan reaksi mereka, aku dapat melihat dari tampang wajah mereka bahwa beberapa wajah itu menunjukkan perasaan jijik, Kasihan, Amarah, Dan sifat sifat negatif lainnya dari sosok manusia.
"Akan tetapi... Untungnya pasukan kerajaan yang di pimpin oleh Jendral Gaust telah menghabisi para iblis biadab itu hingga akhir tetes darah mereka!! Dan mulai hari ini... KITA AKAN MEMBERSIHKAN PUTRI KITA!!" Sekali lagi teriak sang penasihat raja
Dari kesunyian yang tenang langsung kembali menjadi sorakan dan teriakan yang membuatku semakin merasa ketakutan, setiap kata yang di sampaikan penasihat dan keributan orang-orang di sekitar membuatku merinding dan ketakutan.
Akan tetapi siapa sangka... Bahwa mimpi buruk ini akan terus berjalan dan seiring waktu terus memburuk, Di setiap malam aku berharap untuk bangun dari mimpi buruk ini namun aku selalu terbangun di kasur yang terlalu empuk dan ruangan yang megah.
Sejak memulai kehidupan di istana kerajaan ini, aku yang awalnya seorang anak perempuan dengan jiwa yang bebas mulai di didik menjadi seorang wanita elegan selayaknya seperti seorang putri kerajaan.
Dengan bimbingan yang keras oleh intruktur setiap usaha yang ku kerahkan berakhir gagal, hari demi hari aku terus dilatih namun tak kunjung mendapat hasil yang memuaskan.
Ibu suri yang menjadi instruktur terlihat gelisah setiap kali dirinya mencoba untuk menjadikan ku sosok yang sempurna, rasa gelisah nya itu perlahan menjadi amarah karena aku yang terus gagal, semakin banyak aku melakukan kesalahan maka semakin keras pukulan yang ia berikan padaku semakin kasar dan berlebihan pula cacian yang ia limpahkan padaku.
Di antara semua orang yang berada di istana purva hanya satu yang dapat ku percaya, hanya satu orang yang dapat membuatku merasa lebih tenang, Alexander Purva Regulus sosok yang seharusnya menjadi adik kandung ku.
Di setiap saat perjalanan menuju ruangan ibu suri, aku selalu melihatnya berlatih dengan sangat gigih, luka di sekujur tubuhnya yang disertai dengan ketangguhan itu selalu mengingatkanku pada seseorang.
Di setiap malam hanya dia yang mau mendengarkan dan mempercayai cerita-cerita ku, dibandingkan setiap orang di kerajaan ini hanya dirinya yang tidak menganggap kakuro sebagai tempat yang terkutuk.
“Alex, apa yang membuatmu percaya dengan cerita-cerita itu?”
__ADS_1
“Soalnya itu memanglah sebuah kebenaran bukan?”
“Setiap orang di kerajaan percaya bahwa kakuro adalah tempat yang terkutuk, lalu apa yang membuatmu berpikir bahwa hal itu tidak benar?”
“Itu tidaklah sulit, setiap kali kau bercerita tentang kakuro kau tersenyum, tentang hari-hari mu disana kau tertawa, tentang momentum-momentum disana kau menangis.”
Disaat itu aku kembali belajar darinya, tentang kebenaran yang dipikirkan seseorang bisa di lihat dari raut wajah mereka, bagaimana pandangan orang-orang di negri ini terhadap kakuro, dan juga bagaimana pandangan Alex.
“Aku mempunyai mimpi, suatu hari setelah menjadi raja aku akan memperbaiki setiap kesalahan di negri ini, kesalahan-kesalahan yang telah ia buat.” Sebut Alex sambil melihat keluar jendela
“Kesalahan-Kesalahan yang raja buat?”
“Ya, lagipula sudah tugas seorang anak laki-laki bukan? Untuk memperbaiki kesalahan Ayahnya di masa lalu.” Lagi-lagi terasa seakan pernah mendengarnya.
…
Disaat secara perlahan aku mulai menerima kehidupan di istana, ia tiba-tiba Kembali muncul di hadapanku.
Pada malam itu situasi di istana sepi seperti biasanya, sinar bulan menyinari Lorong istana melalui jendela yang terbuka lebar, Di balik cahaya bulan itu suatu bayangan bergerak dengan cepat dan sunyi.
Hingga akhirnya sosok itu mendobrak masuk ke kamarku, dengan kerudung hitam dan dua bilah pedang kembar di punggung nya sosok itu berjalan perlahan mendekati, aku tak bisa berkata-kata hanya bisa berjalan mundur selagi sekujur tubuh ku gemetar hingga aku menyentuh pojok ruangan aku berhenti begitu pula dirinya.
“Apakah benar..? Kau kah itu…?”
Seketika mendengar suara nya rasa takut di dalam benakku pergi menghilang, mendengar suara nya itu memberi ku perasaan tenang yang selama ini selalu kucari-cari.
“Kau… Apakah itu benar-benar dirimu… Rara… Asmaraloka Kirana kami…” Sahut nya dengan lembut, seketika badannya melemah dan dirinya terjatuh tak berdaya di depan ku.
Dengan rasa penasaran aku mendekatinya lalu perlahan membuka kerudung yang menutup wajahnya, begitu aku melihat wajah nya aku langsung tau dan seketika setiap kenangan yang kulalui Bersama nya terpancar di dalam pikiran ku.
Tubuh ku Kembali gemetar namun bukan karena perasaan terancam, karena perasaan Bahagia dan lega yang tak terhitung, jantung ku berdegup kencang mematikan panca indra di sekujur tubuh ku, sangking bahagia dan lega nya aku kembali tak dapat berbuat di hadapan nya.
Sontak sosok itu langsung saja memelukku dengan erat sambil menangis sekeras-keras nya, begitu merasakan pelukan erat nya aku merasa lega melepaskan kecemasan yang sudah lama ku tahan.
“Rara!! Rara!! Rara!!” Aku tak pernah melihat nya seperti ini, di sepanjang hidup aku selalu menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tenang dan baik, namun kali ini pertama kali nya aku melihat raut wajahnya di penuhi dengan emosi.
“Rara!! Rara!! Rara!!”
__ADS_1
“Karsa… Syukurlah…”