After 150

After 150
Hari indah sekarang


__ADS_3

Kalau kupikir lagi, bertahun-tahun lalu saat rara tiba-tiba menghilang apakah dia yang pergi meninggalkanku, ataukah aku sendiri yang pergi meninggalkannya.


Raut wajahnya saat aku pertama melihatnya setelah bertahun-tahun berpisah, aku bisa merasakannya, ia merasa sangat ketakutan, namun saat dia melihatku aku juga bisa merasakannya, bagaimana hatinya yang gelap tiba-tiba kembali bersinar terang.


Apa yang dia alami? Apa yang terjadi padanya selama kami berpisah? Apakah sesuatu yang mampu merubahnya menjadi seperti itu?


Sementara rara menghadapi kehidupan nya yang berjalan semakin gelap, di sisi lain aku menjalani hidup yang setiap saat semakin membaik dan justru menganggap kehadiran rara hanyalah sebuah ilusi di masa lalu ku.


Apapun itu, apapun yang ia hadapi di masa-masa tersulit nya, aku berjanji tidak akan melepasnya lagi dari genggaman ku, sekarang giliranku untuk mengukir senyum di wajahnya, akan ku ciptakan hari indah sekarang untuknya.


Bab 2.3 : Hari indah sekarang


“Ra… Rara!!?” Kejut dirga yang membuka selimut nya dan menyadari rara yang sedang tertidur.


Melihat tidur rara yang lelap itu, dirga segera menutup mulutnya dan menahan segala kebingungan yang terjadi di pikirannya, ia lihat rara dengan paras anggunnya masih tertidur lelap dalam rangkulannya.


Dirga beranjak perlahan keluar dari kasur hingga seketika ia mendengar ketukan pintu, ketukan pintu itu disertai dengan sahutan keras yang memanggil dirinya


“Dirga !! mumpung hari ini masuk siang cari sarapan dulu asik juga kayak nya, sekalian keliling kota.” Sahut poppo dengan keras


Dirga yang mendengar teriakan itu dengan panik segera melihat rara dan ternyata ia masih tertidur lelap, dengan cepat dirga bergerak menuju pintu apartemen dan menyapa poppo yang menunggu di depan.


“Aku sarapan disini saja pagi ini.” Jawab dirga


“Hah yang benar? Jangan bilang kau ingin berkreasi lagi? Dengan manipulasi resep-resep di internet itu?” Tanya poppo menahan pintu apartemen dirga.


Dirga mempunyai hobi memasak dan mencoba resep-resep yang sering muncul di internet, meskipun di balik bayang-bayang kemampuan memasaknya sangat buruk, Ia terus berusaha meski mau seberapa banyak


usaha nya dalam memasak keahliannya tak kunjung meningkat.


“Gagal itu berkah.” Jawab dirga yang kemudian langsung menutup pintu.


“Kalau begitu, mungkin aku bisa membantumu.” Ujar poppo menahan pintu apartemen.


Di lain sisi, poppo justru sangat ahli dalam memasak dan mengkombinasikan bumbu-bumbu dapur. Di balik masa lalunya yang hobi makan dan berbadan gemuk, poppo cenderung lebih sering memasak untuk dirinya sendiri dari kecil.


“Kalau begitu… permisi aku ijin masuk…” Ujar poppo yang mendorong pintu apartemen dan langsung masuk ke ruang tengah.


“Woii, siapa bilang boleh masuk.”


“Lah kenapa? Kok maksa kali gak boleh masuk, lagipula aku cuma ingin membantumu apa ada masalah dengan itu?”


“Kamar itu privasi seseorang, dan kalau tidak diberi izin masuk ya tidak boleh.”


“Hehh memang nya apa yang kau maksud privasi hah?”


Mereka berdua ribut di ruang tengah selama beberapa saat mempertengkarkan hal kecil, sementara itu rara mulai terbangun dan bangkit dari kasur.


Saat dirga dan poppo masih sibuk bertengkar di ruang tengah, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan rara melangkah keluar.

__ADS_1


“Dirga… dimana ini?” Tanya rara sambil mengusap-usap matanya.


“(Ketahuan sudah) Sudah bangun rara? Masih mengantuk ya?” Tanya dirga dengan panik.


Saat dirga menoleh ke poppo, ia hanya diam tak berkata-kata, terlihat gemerlap di matanya seakan sedang terkagum melihat sebuah keindahan.


Poppo kemudian bergerak dan berlutut di hadapan rara, ia mengangkat kepalanya menyaksikan keanggunan rara dengan penuh rasa kagum.


“Jika keajaiban dunia ada 7 mengapa dirimu bukanlah salah satu di antaranya? Karena keindahan mu adalah anugrah terbesar yang pernah singgah di dunia.” Ujar poppo (Poetic rizz)


“Iya… semua orang juga sering bilang begitu, senang mendengarnya setiap saat.” Jawab rara dengan senyum nya yang di buat-buat.


Dalam sekejap rasa percaya diri poppo langsung melonjak turun sementara dirga mencoba menahan tawa nya di belakang, mendengar tawa dirga itu poppo berbalik dan menatap dirga dengan penuh amarah.


“Apa yang kau tertawakan?” Tanya poppo di hadapan dirga


“Ehh tertawa? Tidak kok? Hanya saja kau kelihatan sangat jantan tadi.”


“Ohh… benarkah? Mari kita lihat siapa yang tertawa kalau-”


Tiba-Tiba suara perut terdengar memotong perkataan poppo.


“Ahh maaf, itu aku.” Sahut dirga


“Oh ya!! aku ingat selalu menunggu waktu ini !!” Sebut rara yang kemudian bergerak menuju dapur lalu melihat sekeliling dengan kebingungan.


“Kenapa rara? Ada masalah apa?” Dirga kemudian berdiri dan segera membantu rara di dapur.


“Mau masak sekarang? Disini?”


“Yaa kapan lagi, ingat kan aku dulu sering cerita ingin membuatkan sesuatu?”


“Benarkah? kalau masalah peralatan masak aku masih paham, jadi biar aku bantu.”


Saat dirga dan rara sedang sibuk di dapur, poppo duduk di sofa ruang tengah dengan banyak pertanyaan yang masih berada di dalam pikirannya.


“Omong-Omong dirga, kau tidak akan berpikir bahwa aku akan bertanya tentang gadis ini bukan?” Tanya poppo.


Mendengar kata-kata poppo itu dirga kembali panik, ia seketika melupakan keberadaan poppo di antara dirinya dan rara sekarang di apartemen.


“Yahh… bagaimana bilangnya ya.” Jawab dirga sambil menggaruk kepalanya di dapur.


Poppo kemudian melihat rara dengan teliti, setahunya dirga tidak akan asal mendekati seorang gadis lalu membawanya pulang, di tambah lagi Ketika di hadapkan dengan seorang perempuan dirga yang biasanya tegas langsung berubah menjadi kikuk.


Semakin poppo ingat lagi nama “Rara” Seakan-akan sering ia dengar bertahun-tahun lalu, saat poppo sampai mengingatnya ia melihat rara dan memanggilnya.


“Jangan-Jangan kau… asmaraloka apalah?” tanya poppo ke rara.


“Asmaraloka Kirana !! Senang sekali mendengar nama itu.” Jawab rara.

__ADS_1


Mendengar jawaban rara itu, poppo semakin kebingungan, sosok perempuan yang selalu berada di pikiran dirga, perempuan yang di kira poppo hanyalah ilusi dirga semata ternyata adalah perempuan sungguhan, dan kini perempuan itu sedang berdiri di dapur membantu dirga memasak.


“Dirga !? apakah benar?” Tanya poppo sambil menatap dirga dengan penuh penasaran.


“Ya benar… gadis 1000 Km.” jawab dirga sambil memalingkan wajahnya.


Mendengar jawaban dirga itu poppo tertawa dengan sangat keras, tak ia sangka usaha dirga yang selama ini ia pikir sia-sia bisa membuahkan hasil seperti sekarang.


“Rara !! senang bertemu denganmu, aku poppo pasti kau sering mendengar tentang ku dari dirga kan?”


“Poppo? Benarkah? Setau ku kau sedikit berbeda dari yang di ceritakan dirga.” Tanya rara yang kebingungan


“Yahh… itu sudah sangat lama sekali, banyak hal yang telah terjadi dan beginilah sekarang.” Jawab poppo


“Ohh aku mengerti, terima kasih telah membantu dirga selama ini.” Sahut rara sambil merundukkan kepala nya.


“Ehh?? Ahh tidak usah begitu, tidak cocok Wanita sepertimu merunduk begitu, lagipula selama ini dirga juga membantuku.” Jawab poppo tersipu.


Poppo hanya duduk di sofa ruang tengah selama beberapa menit melihat dirga dan rara di dapur, di dalam pikirannya ia tahu bahwa dirga memang tidak bisa memasak dengan baik namun cukup tahu dengan peralatan-peralatan dapur.


Berbanding terbalik dengan rara yang kelihatannya cukup mahir dalam memasak tapi sepertinya tidak begitu mengerti dengan peralatan masak di dapur dirga, bila keduanya di kombinasikan terbayang berbagai macam makanan di pikiran poppo.


Saat makanan di hidangkan poppo tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sesederhana seperti nasi goreng biasa akan tetapi memancarkan kilauan dan aroma emas menggoda.


“Yang penting itu adalah rasanya bukan penampilan nya.” Poppo mengambil sesendok masakan buatan dirga dan rara dan jiwanya seakan terbang ke langit.


“Aku tidak begitu tau tentang masakan dan peralatannya disini, jadi kira-kira hanya segini yang bisa ku buat…” Ujar rara


“HANYA SEGINI !!? Jangan tega-teganya berkata begitu pada mahakarya seperti ini !!” Tegas poppo yang lanjut makan dengan lahap.


Saat semuanya sedang makan, tiba-tiba handphone poppo berbunyi dan ia segera mengecek pesan yang terkirim, di dalam pesan itu terbaca bahwa jam perkuliahan siang untuk sementara di tunda karena dosen ada kepentingan mendesak.


“Kebetulan macam apa ini, satu-satunya dosen yang mengajar hari ini tidak dapat hadir bukankah itu artinya kita kosong hari ini.” Sahut poppo sambil mengusik dirga.


“Yahh baguslah kalau begitu, lagipula mengingat kondisi sekarang sepertinya ada banyak hal yang harus di selidiki, banyak juga yang harus di lakukan.” Jawab dirga


“Yaa, banyak yang harus di lakukan, apalagi karena rara harus di sini selama beberapa waktu bukan?” lanjut poppo


Mendengar perkataan poppo itu, dirga kembali memikirkan masalah rara, tentang bagaimana ia bisa berada di sini, dan berapa lama dirinya akan disini.


“Yaah kalian selesaikan masalah kalian itu, aku ada urusan mendadak jadi semoga beruntung.” Ujar poppo yang berdiri dan pergi keluar apartemen dengan sendirinya setelah makan.


“Memang nya apa masalah yang di maksud poppo?” Tanya rara


“Yaah banyak, misalnya mencarikan tempat untuk mu singgah lalu-”


Tiba-Tiba poppo mendobrak pintu apartemen dan berlari ke ruang tengah dengan raut wajah nya terkejut.


“KAU AKAN MENINGGALKANNYA DI SEBUAH PENGINAPAN?”

__ADS_1


- *Continu**e*


Next : Hari indah sekarang (2)


__ADS_2