After 150

After 150
Cahaya mu (2)


__ADS_3

Malam itu di festival fantasirio terlihat sebuah retakkan di langit, retakkan itu terus bergerak hingga jatuh ke bumi yang kemudian menghasilkan guncangan hebat, pada malam itu ibukota di timpa bencana gempa yang dahsyat.


Selama bumi bergetar, orang-orang dengan panik berlari menuju titik kumpul, di antara keramaian orang-orang, poppo menarik fera berusaha bergerak secepat mungkin menuju titik kumpul.


Di sepanjang jalan menuju titik kumpul pohon-pohon berjatuhan, tanah jatuh longsor, dan tenda-tenda runtuh akibat kuat nya guncangan di malam itu.


Sesampainya di titik kumpul gempa belum berhenti, dengan perasaan cemas poppo dan fera terus mencari dirga dan rara namun tak kunjung menemukan keduanya yang terpisah.


Getaran nya berjalan selama satu menit lamanya, segera setelah gempa berhenti dengan cepat ambulan dan pemadam kebakaran bergerak ke lokasi bukit yang menjadi titik pusat gempa.


Di antara keramaian orang-orang, poppo dan fera tak henti mencari dirga dan rara, tak sedikitpun tanda dari keduanya terlihat dan semakin lama mereka berdua mencari, semakin memuncak rasa cemas yang berada di keduanya.


“DIRGA!! RARA!!” Teriak poppo yang kemudian kembali berlari masuk ke pusat perbelanjaan.


Sementara itu rara terbangun, ia membuka matanya dengan kepala pusing dan menyadari badan nya yang luka-luka, dirinya melihat sekeliling dan seketika ia langsung teringat dengan dirga.


Rara dengan cepat berdiri dengan kaki kanan nya yang terluka, ia mencoba untuk berjalan di antara tanah yang berantakkan dan pohon-pohon yang berjatuhan, kaki nya terus menusukkan rasa sakit namun di pikirannya hanya ada dirga.


“Kenapa… Kenapa jadi begini…” Gumam rara dalam pikirannya


Beberapa saat lalu sebelum gempa terjadi, dirga dan rara mencari tempat yang cocok untuk melihat kembang api yang akan segera muncul.


Setelah beberapa saat mencari, keduanya menemukan tempat yang tepat, di sebuah tebing kecil dimana langit malam terlihat jelas dari tempat itu.


Di saat keduanya hendak duduk retakkan di langit menghantam bumi dan gempa terjadi, rara hampir terjatuh dari tebing dan dengan cepat dirga menariknya membuat dirinya terjatuh dari ketinggian dan menghilang.


Bumi masih bergetar dengan hebat dan rara terjatuh ke arah yang berlawanan dengan dirga, ia terpeleset dan terjatuh turun menuruni tebing hingga mendarat di sekitar kolam kunang-kunang dengan keras.


“Dirga… aku tidak akan kehilanganmu… aku tidak punya siapapun lagi… tolong jangan tinggalkan aku begini… kau jahat.” Keluh rara yang terus mencoba untuk berjalan.


Semakin rara melangkah lebih cepat ia akan terus terjatuh dan luka di kaki nya akan semakin parah, saat dirinya terjatuh ia tidak menjerit karena yang ada di pikirannya hanya dirga seorang.


Baginya rasa sakit yang di antarkan luka tidaklah seberapa dibandingkan kehilangan dirga, karena baginya hanya dirga lah sosok terakhir yang bisa di percayai, tak ingin lagi dirinya kehilangan seseorang di sisi nya.


Seketika di malam itu rara teringat akan masa lalu, saat kaki nya terluka di dunia mimpi sebuah situasi yang serupa dengan kini, akan tetapi di waktu ada dirga di sisi nya.

__ADS_1


INFO : Kalimat yang dimiringkan adalah flashback yang terjadi di pikiran rara


“Dirga, bagaimana kamu bisa menemukanku?”


“Tau permainan panas dingin? Menemukanmu itu semudah memainkan permainan itu.”


Rara berhenti sejenak, ia menarik nafas panjang dan menenangkan hati dan pikirannya, di dalam pikirannya terbayang sosok dirga dan perasaan yang ia rasa saat bersamanya, ia mulai meraba perasaan itu dan mengikuti jalur yang di tunjukkan.


“Bagaimana maksudnya."


“Dalam permainan panas dingin, kita dapat mengetahui target dengan kata panas ataupun dingin, semakin panas maka semakin dekat, sedangkan bila semakin jauh maka akan semakin dingin rasanya.”


“Lalu bagaimana kau menemukanku dengan melakukan itu?”


“Layaknya permainan panas dingin, aku bisa merasakannya Ketika kau jauh dan Ketika kau dekat, aura yang kau pancarkan seakan memanggilku, kau pasti merasa ketakutan bukan?”


“Dirga, apakah kau merasa ketakutan? Aku akan menemukanmu… tunggu aku.”


Rara terus bergerak mengikuti suara hatinya, Langkah demi Langkah ia lalui perlahan dan dirinya yakin bahwa dirga perlahan semakin dekat.


“Lalu bagaimana sekarang rasanya?”


“Memang agak berat tetapi, aku merasa tenang, aku merasa Bahagia bisa berada di dekatmu.”


“Apa-apaan itu, aneh… hahaha.”


Setelah terus meraba dan merasakan dirga, rara kemudian berhenti dan membuka kedua matanya.


Dirinya seakan-akan tidak percaya denga napa yang di lihatnya, di hadapan nya dirga sedang terbaring di antara semak-semak dengan luka di sekujur tubuhnya.


Rara perlahan mendekati dirga dan merasakan detak jantung nya, dengan terus berdoa rara memasangkan telinga nya di dada dirga dan begitu lega hatinya mendengar detak jantung dirga.


“Rara… saat kau merasa ketakutan, disaat kau pikir tiada lagi seorangpun disisimu, disaat kau merasa sendirian, aku akan segera menemukanmu… selalu…”


Dengan perasaan lega yang menghujani nya, rara memeluk erat dirga sambil menangis dengan keras.

__ADS_1


Pandangan yang ia takutkan terus terpancar di pikirkannya sebuah kehidupan tanpa dirga, namun Ketika ia menemukan dirga seketika rasa takut itu langsung menghilang.


Saat rara menangis di pelukannya, dirga secara tiba-tiba mendapati kesadarannya kembali, ia menyadari keberadaan rara dan mengelus rambut nya dengan halus.


“Tidak apa-apa, aku disini sekarang.” Bisik dirga.


“Jangan lakukan itu lagi!!” Teriak rara dengan keras.


“Iya… maafkan aku, aku akan mencoba untuk tidak melakukannya lagi.” Balas dirga.


Suara rara yang menangis histeris terdengar sampai di telinga poppo yang sedang mencari di daerah hutan, mendengar suara itu ia segera berlari ke sumber nya dan menemukan dirga dan rara di sana.


Poppo segera menggendong dirga dan merangkul rara, mereka berdua perlahan bergerak menuju ke titik kumpul dan di sepanjang perjalanan poppo terus berteriak mencari bantuan.


Di saat sudah dekat dengan titik kumpul, orang-orang mendengar suara poppo dan langsung berlari ke sumber suara sambil membawa tandu, segerombolan orang datang untuk membantu poppo yang sedang membawa dirga dan rara.


Sambil menangis Fera berlari menghampir dirga dan rara, Fera memeluk rara erat melepaskan segera rasa takutnya dan menghampiri dirga yang kemudian di bawa masuk ke mobil ambulans.


Di dalam mobil ambulans, luka-luka di badan dirga segera di tangani, dokter berkara bila ia di temukan sedikit lebih lambat maka hidupnya akan benar-benar berakhir, mendengar kata-kata dokter itu dirga tersenyum menatapi langit-langit ambulans.


Dalam pikirannya tergambar rara yang mencoba untuk mencarinya dan menemukannya, ia teringat bahwa saat ia sedang berada di alam bawah sadar ia merasakan rara yang terus memanggilnya dan saat ia membuka mata, rara sudah menangis di pelukannya.


Luka rara segera di rawat oleh para petugas sedangkan dirga yang berada di ambulans akan segera di bawa ke rumah sakit bersama fera di samping nya, Rara dengan luka di kaki nya juga di bawa ke rumah sakit sambil di temani poppo dengan mobil yang berbeda dengan dirga.


Keesokan hari nya di pukul 10 pagi, rara berjalan di Lorong rumah sakit bersama poppo dan fera, rara membuka pintu kamar rawat inap dan menemukan dirga yang sedang duduk di kasur nya melihat keluar jendela.


Menyadari rara dan yang lainnya yang membuka pintu ruangan, dirga berbalik melihati mereka dengan senyum lebar.


“Selamat pagi, poppo… fera… rara…”


- Continue


P.S. : Yah, meskipun author bilang bakal hiatus ya tapi ide nya tiba-tiba muncul gitu, dan juga setelah di pikir-pikir chapter sebelumnya terlalu ngegantung dan akhirnya setelah pertimbangan panjang author tambahkan 1 chapter lagi sebelum lanjut hiatus.


Dan lagi-lagi author mengucapkan terima kasih banyak bagi kalian semua yang sudah mau baca dan like sampai sejauh ini !! author juga dengan senang hati menerima komentar kalian karena semua itu sangat berarti bagi author, sekali lagi terima kasih banyak udah ngikutin sampai sejauh ini !!

__ADS_1


__ADS_2