
“Dirga… pernah kah kau terbayangkan, bagaimana tempat ini akan terlihat pada saat siang hari.” Tanyaku sambil melihat ke langit yang gelap.
“Pada siang hari ya, karena sekarang musim panas kemungkinan danau yang berada di tengah itu akan memunculkan kilapan yang indah, burung nya akan sangat berisik dan juga, pastinya akan sangat panas di sini.”
“Apakah kau ingin melihatnya dirga? Keindahan tempat ini di siang hari?”
“Tentu saja, tapi kau tahu? Malam hari di musim panas tidaklah seburuk itu.”
Dirga kemudian menuruni bukit dan berjalan memasuki hutan
“Dirga mau kemana??”
“Sudah ikut saja, ada yang ingin aku pastikan.”
Suasana hutan di tempat ini sangatlah tenang, gelapnya tempat ini tak sedikitpun memberikan rasa takut, di setiap aku merasa kedinginan aku melihat dirga yang berada di depanku dan ku genggam erat tangannya yang hangat.
Begitu ku genggam tangannya ia kemudian berbalik menghadapku dan tersenyum lebar, keberadaannya memberiku rasa aman tak ada lagi yang perlu ku cemaskan selama aku bersama dirinya.
“Kita sudah hampir sampai, ayo semangatlah!!” Sahut dirga dengan penuh semangat
Tersembunyi di balik hehutanan terdapat sebuah genangan air yang luas, berbentuk seperti miniatur danau, di antara danau itu kunang-kunang berterbangan, kilauan warna kuning dan hijau mengelilingi genangan itu.
“Rara tau kah, kunang-kunang adalah makhluk yang sangat ramah dan suka menari, di tempat asalku bila seseorang berpasang-pasangan berada di anatara ribuan kunang-kunang maka mereka harus menari bersama dengan kunang-kunang itu.”
“Benarkah?? Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya, aku tidak pernah mencoba atau di ajarkan sebelumnya.”
Dirga kemudian berlutut di hadapanku dan mengulurkan tangannya.
“Aku akan membantumu, rara maukah kau menari denganku di antara ribuan kunang-kunang yang bersuka ria?”
Disaat aku bersama dirinya waktu seakan berjalan sangat lambat, aku sungguh menikmati setiap waktu ku bersama dirinya.
Aku ingin selamanya menikmati momen ini, semakin lama aku bersama dirinya semakin jatuh aku kedalam genggamannya. “Bila terus seperti ini aku tidak rela melepaskan genggaman tangannya.”
…
Hutan ini sudah semestinya bersih dari ancaman makhluk buas, akan tetapi tempat ini belum sepenuhnya bersih dengan niat jahat orang-orang asing.
Diriku di buat tidak sadar saat anak-anak lainnya sedang ribut di depan, lalu dengan cepat mereka membawa ku kabur ke kedalaman hutan yang dalam.
__ADS_1
Saat diriku mulai sadar aku melihat nyala api unggun dan ada dua orang pria dewasa yang sedang duduk berbincang di sana, aku tak bisa berbuat apa-apa karena kedua kaki dan lenganku di ikat dengan sangat erat.
Jujur, aku merasa sangat ketakutan tak terpikirkan apapun selain khayalan dimana nantinya aku dapat Kembali ke desa dan memeluk bibi dengan erat, aku hanya bisa duduk membayangkan itu sambil menangis dengan pelan berharap sebuah keajaiban akan terjadi.
Dan benar saja, tiba-tiba sesuatu seakan menepuk Pundak ku dan Ketika mendengar suara bisikan Karsa aku bisa berpikir dengan lebih tenang.
“Jangan bergerak jangan bicara, aku akan coba melepaskan ikatan ini.” Bisik Karsa di telingaku
Dengan menggunakan sebilah pisau kecil Karsa mencoba untuk memotong tali yang mengikat kaki dan kedua lengan ku, dengan pisau nya yang sangat kecil itu membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk memotong tali kuat yang mengikat.
Hingga tiba-tiba disaat sedang memotong tali, secara tidak sengaja pisau nya itu melukai lengan ku, karena terkejut aku tidak sengaja mengeluarkan sedikit suara dan membuat para pencuri itu siaga, saat salah satu dari pencuri itu berbalik ia melihat ikatan kaki ku yang lepas dan juga Karsa yang sedang mencoba untuk membuka ikatan lenganku.
“Rara lari!! Selagi masih sempat!!”
Aku dan Karsa kemudian berlari ke arah yang berlawanan agar dapat membuat para pencuri berpisah.
“Jangan pikir bisa kabur tuan putri !!”
Teriak salah satu pencuri yang sedang mengejar.
Dengan badan ku yang kecil aku hanya bisa berlari di antara semak-semak dan menghambat pergerakkan pecuri itu, meskipun melalui semak lebat dan berduri itu sangat menyakitkan aku hanya berpikir untuk
kabur.
Saat Karsa terlintas di pikiranku aku mulai merasa ragu, bila aku pergi dan berhasil selamat apakah Karsa juga akan mendapati Nasib yang sama?
“Rara !! Kemari!!.” Teriak karsa yang terdengar di antara pepohonan hutan
Aku mengikuti sumber suara itu yang membawa ku ke tumpukan semak di kejauhan, saat aku berlari ke tumpukan semak itu karsa muncul dan memukul bagian vital pencuri itu dengan sangat kuat.
“Karsa… syukurlah.” Dengan perasaan lega aku memeluk Karsa namun di saat yang bersamaan pencuri yang satunya muncul di belakang kami
“Dasar bocah sialan !!” Sahut pencuri itu sambil menarik karsa lalu melemparnya dengan keras ke pohon.
“Rara… lari… cepat…” Sebut Karsa pelan mencoba menahan rasa sakit
“Hehh kau mencoba bertingkah kuat sekarang hah…” Sebut pencuri itu sambil terus-terusan memukuli dan menendang Karsa.
Aku tak berani bergerak, dalam pikiranku aku terus berteriak meminta mereka untuk berhenti, aku kembali merasa ketakutan setelah sebelum nya berpikir bahwa semuanya telah berakhir, akan tetapi kenapa… kenapa malah menjadi seperti ini.
__ADS_1
Dan kemudian terdengarlah suara siulan halus di antara pepohonan yang tinggi
“Suara apa itu?? Apa ada seseorang disana!!? jika kau hendak melakukan hal yang aneh-aneh akan kuhabisi nyawa anak-anak ini!!” Teriak sang pencuri sambil menodongkan pisau pada Karsa lalu menarik rambutku
Suara siulan yang halus itu diikuti oleh suara dentisan benda tajam memberikan aura dingin pada orang-orang yang mendengar nya, lalu dibalik lebatnya kabut malam muncul sesosok berjubah hitam yang sedang menarik pedang bergerigi yang besar dan tajam.
Saat sosok itu membuka kerudung nya aku merasa sangat Bahagia, wajah nya yang tua dan di penuhi luka itu memadamkan rasa takut yang meluap-luap di dalam hati, akhirnya aku bisa merasa tenang.
“Putri Kirana… bisa kau pejam matamu?? Juga tutup telingamu tolong.”
Aku mengikuti perintah ketua dan pada saat itu juga tanpa sepengetahuan ku ketua beast hunter bergerak dengan sangat cepat mengangkat senjatanya lalu memotong kepala pencuri yang menangkap Kami, darah pencuri itu berucucuran mengenai wajah rekannya sementara bunyi siulan semakin kencang.
Disaat pencuri yang sebelumnya kesakitan setelah di pukuli karsa melihat ke atas, di dalam pandangannya ada sekumpulan malaikat maut yang sudah siap merenggut nyawa nya sedang bertendeng di atas pepohonan hutan, dengan cepat ia berlari ke kedalaman hutan sambil berteriak dengan kencang
…
“Apa Beast Hunter juga mengejar dia??” Tanya Dirga
“Tidak, mereka membiarkannya pergi lalu segera membantu ku dan Karsa.”
“Ya syukurlah kalau begitu, Untung nya anak-anak lain pergi ke gubuk beast hunter, lalu para beast hunter itu pun bergerak dengan sangat cepat dan sampai tepat pada waktunya.”
“Yaa benar kann?? Mereka sungguh bisa di andalkan.”
“Tapi kau tau Ra?? Memang benar bahwa yang kau ceritakan itu sangat mengerikan, namun di sisi lain itu adalah bagian dari petualangan bukan??”
“Ya, bagian dari petualangan baru.”
Sementara aku dan Dirga berbincang, tiba-tiba badanku mulai pudar terlebih dahulu dan aku mendengar suara bibi yang terus mencoba untuk membangunkanku.
“Sepertinya sudah saatnya bagiku untuk bangun.”
“Yaah malam ini berlalu dengan lebih cepat ya.”
Saat badan ku semakin pudar kami Bersama melihat fajar bangkit di antara gunung kembar, lalu saat matahari menyinari ku perlahan tubuhku menghilang dan aku melambai pada Dirga selagi aku meninggalkannya.
Setelah aku tidak lagi melihat Dirga, hanya ada hitam dan tubuhku yang kesakitan sedang di angkat lari dengan tergesa-gesa, saat aku mencoba untuk membuka mata dengan pandangan pudar aku melihat bara api, orang-orang berjatuhan, dan bibi yang sedang tergesa-gesa membawaku.
“ITU DIA DISANA!!”
__ADS_1
Aku mendengar suara anak panah dan aku terlempar cukup jauh, aku tak lagi melihat bibi yang kulihat hanyalah langit malam dihiasi bintang dan dipenuhi bintik oranye, aku mendengar suara Langkah pelan dan melihat sosok berzirah perak diantara langit dan bintik merah itu.
“Tidak apa Putri Kirana… kini kau sudah aman…”