After 150

After 150
Tentang dia


__ADS_3

Bagi dirga, sosok rara dan fera keduanya adalah dua sosok yang pernah melangkah pergi darinya, namun di saat rara pergi dengan tiba-tiba dan menghilang tanpa petunjuk apapun, sosok fera pergi dengan ucapan selamat tinggal.


Keduanya memberi dirga makna yang berbeda tentang arti kata perpisahan dan bagaimana dirinya melihat sosok perempuan, hanya ada tiga perempuan yang bisa dirga tatap dengan kedua matanya, rara sang bulan, fera sang matahari, dan ibu sang cahaya hidup.


Kemunculan kembali rara dan fera selalu di nanti-nantikan oleh dirga, namun tak muncul sedikitpun prasangka bahwa keduanya akan muncul di saat yang berdekatan dan keduanya akan tinggal bersama dalam kurun waktu tertentu.


Sudah sekitar satu minggu berlalu semenjak dirga dan poppo tinggal bersama sementara rara tinggal dengan fera, di sepanjang hari itu dirga menjadi semakin jarang melihat rara tak seperti saat mereka tinggal bersama.


Bab 2.7 : Tentang Dia


Saat dirinya masih bersama rara, momen-momen yang mereka habiskan bersama merawat rumah dan menyelesaikan bagian pekerjaan masing-masing semuanya adalah waktu yang sangat berharga, sedangkan sekarang bersama poppo…


“Oii dirga, bisa operkan chips yang ada di lemari? Itu akan sangat membantu.” Ujar poppo yang sedang duduk di sofa menonton tv.


“Hahh? Kau pikir buat apa tuhan memberikanmu tangan dan kaki?”


“Tuhan memberikanku seorang teman yang bisa memban-”


Potato chips itu di lempar begitu saja oleh dirga dan kena tepat di kepala poppo, ia pun langsung membuka potato chips yang di lemparkan itu dan serbuk nya menyebar di sofa.


Setiap poppo mengambil chips, serbuk nya berjatuhan ke sofa dan karpet, semakin heboh dia maka akan semakin bermacam-macam kekacauan yang dia buat.


Begitu poppo selesai menonton, dirga mengambil sapu yang berada di dapur lalu langsung melemparkannya ke poppo yang tiduran di sofa.


“Woi !! Maksudnya apa coba !!” Sahut poppo dengan heboh.


“Ku hitung 1 sampai 10, kalau gak gerak juga ku usir.” Ujar dirga menatap poppo dengan tajam


“Hahh? Ayolah lagipula ruangan ini tidak se-berantakkan itu…”


Sementara itu yang dimaksud poppo dengan ruangan yang tidak berantakkan ialah serbuk chips dan keju dimana-mana, karpet yang terlipat-lipat, pakaian kotor yang bergelantungan di sofa, di serta dengan bantal sofa yang entah kemana-mana larinya.


“1… 2… 3… 4…” Dirga menghitung perlahan bersamaan dengan dirinya melangkah perlahan dari dapur.


“Oke Okee, santai… sebentar lagi ku bereskan.”


“5… 6… 7… 8…” Dirga semakin mendekati poppo dan terlihat kepalan tangannya yang terus mengeras.


Begitu dirga sudah semakin dekat, Poppo dengan cepat beranjak dari sofa dan membereskan kekacauan yang ia buat.


“Hahh… sejak kapan kau suka merepotkan hal seperti ini…” Keluh Poppo yang sedang merapikan ruangan.

__ADS_1


“Hmm?? Memang nya ada yang salah dengan menyukai kebersihan?”


“Ya hanya saja, kurasa sebelum ada rara di sini, ruang ini berkali-kali lipat lebih berantakkan.”


“Kalau begitu bagus, aku mengenal kebersihan dan kerapian yang di saat yang tepat.”


“Hehh… bukannya itu karena rara…??” Tanya Poppo sambil menghela nafasnya.


Mendengar Poppo yang menyebutkan rara, kembali teringat dalam pikirannya rara yang sudah kembali menjadi semakin jauh.


“Ruang ini… terasa berbeda ya tanpa rara…” Ujar dirga sambil melihat sekeliling ruang.


“Itu maksudmu meledek ku atau gimana?”


“Yaah tidak terlalu, hanya saja rasanya entah kenapa rara seakan semakin jauh.”


“Kau bilang semakin jauh, sedangkan sudah seberapa sering nya kau mengetuk pintu ruang apartemenku dan bertemu dengan nya.” Ledek poppo


Memang benar Dirga sering menghampiri apartemen Poppo yang berada di lantai atas untuk menemui rara, namun mereka hanya berbincang sebentar di pintu tentang keseharian lalu berpisah lagi.


Rasanya bagi dirga, semenjak dirinya mulai merasakan kehidupan bersama rara, semakin sesak hatinya di saat jarak yang berada di antara semakin jauh, meskipun ada waktu singkat untuk melepas rindu, akan tetapi perlahan rara terlihat berubah.


“Poppo, aku berpikir… kira-kira apa yang mereka lakukan di atas sana berdua, apa yang mereka bicarakan bersama…”


Yang masih fera pikirkan tentang rara adalah sosok yang misterius, masih sulit bagi nya untuk mempercayai keberadaan gadis 1000 Km yang dulunya hanya fiksi di dalam pikirannya kini tinggal bersama nya.


Sedangkan di pikiran rara, dirinya sedang bersama dengan sosok perempuan yang selama ini telah menemani dirga, mengawasi dirga, dan hidup bersama dirga saat dirinya menghilang.


Di dalam benak rara, banyak pertanyaan yang ingin di keluarkan dan banyak ungkapan yang ingin di ungkapan, baginya fera adalah kunci untuk membuat dirga bisa lebih Bahagia bersama dirinya.


Di suatu malam, keduanya fera dan rara duduk di sofa yang sama namun berjauhan di sisi yang berbeda.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan lampu ruang tengah telah di matikan, keduanya duduk di antara kegelapan dan keheningan malam menyaksikan lampu-lampu Gedung pencakar langit.


“Fera… dirga itu sebenarnya seperti apa orang nya?” Tanya rara secara tiba-tiba.


“Dirga itu seperti apa?? Yah kalau kau tanya ya, dia orang nya baik, cerdas, dapat dipercaya mungkin? Yah satu-satunya yang meragukan dari dirinya mungkin karena dia suka lepas kendali…”


“Lepas kendali? Bagaimana misal nya?”


“Dirga itu tidak bisa mengendalikan emosi nya dengan baik, dia mudah terpancing amarah, kesedihan, dan juga kebahagiaan.”

__ADS_1


Seketika rara ingat di suatu pagi dimana mata dirga berwarna merah di serta bengkakan dan juga luka-luka di tangan nya, setiap saat rara bertanya dirga selalu bersikeras untuk tidak menjawabnya atau mengalihkan topik.


“Tentang dirga… apakah dia sering menyakiti dirinya sendiri?” Sekali lagi tanya rara yang semakin dekat ke fera


Fera kemudian kembali berpikir di masa lalu, dimana saat kecil dirga sering bertengkar dengan anak-anak yang lebih kuat darinya karena mereka mengganggu Poppo, akan tetapi hal itu masih wajar bagi fera.


Pernah di suatu malam, Fera secara diam-diam dan tidak sengaja melihat dirga menyakiti dirinya sendiri, sebelumnya dirga dan fera sedang bertengkar dan secara tidak sengaja melukai Fera, namun di saat Fera menyaksikan kelakuan dirga yang menyesali perbuatan aneh nya, di hanya bisa diam.


“Anak itu suka terlalu memikirkan sesuatu, anak bodoh itu juga lebih suka menyakiti dirinya sendiri daripada semua yang di sekitarnya, dia juga terlalu menghargai orang lain dan terkadang tidak memperhatikan dirinya sendiri.” Cerita fera pada rara.


“Kenapa dia begitu? Kenapa dia memperlakukan dirinya sendiri seperti itu.”


“Mungkin karena masa lalunya? Karena terlalu merasakan kesepian, sekarang dia tidak ingin kehilangan orang-orang yang bisa dia percaya.”


Seketika rara terbayang masa lalu dirga, dimana di saat ia hanya sendiri dan belum mengenal rara pada saat itu, dirga juga sering bercerita dulu bahwa satu-satu nya rumah di masa lalu nya adalah sosok ibu sendiri.


Selain satu sosok ibu nya dan Ayah yang entah bagaimana kabar nya, dirga hanya sendirian menghadapi dunia, bahkan orang-orang yang hidup di sekitarnya tidak mensyukuri keberadaan dirinya.


Dalam hati rara saat itu muncul keraguan, dimana dirinya ingin lebih mencintai, akan tetapi takut dirga menyakiti dirinya sendiri, mengingat hal-hal yang terus fera ceritakan tentang caranya melindungi orang-orang terkasihnya.


“Fera… apakah tidak ada caraku tetap berada di sisinya tanpa membuatnya perlu menyakiti diri sendiri??” Tanya rara sambil menggenggam tangan fera.


“Pertanyaanmu itu…-”


“Fera… jawab aku, kau pasti selama ini tidak ingin membuat dirga menyakiti dirinya sendiri bukan?” Sekali lagi tanya rara dengan mata nya yang berbinar.


Mengetahui antusiasme rara itu, fera tersenyum halus dan kemudian mengelus pelan kepala rara.


“Kau tidak perlu khawatir, kau hanya perlu menjaga dirimu dan melakukan yang terbaik untuk nya, itu sudah jauh lebih dari cukup.”


Tentang dua insan yang sudah bertemu, akan muncul sebuah rasa yang spesial dan takkan pernah berubah di antara keduanya, dua di antara ribuan rasa yang secara Ajaib muncul itu ialah rasa takut dan juga rasa aman.


Rasa takut, takut untuk berpisah, takut untuk menyakiti, takut untuk mencurahkan, dan takut rasa-rasa yang ajaib itu berubah.


Sedangkan rasa aman dan nyaman, aman tidak ada lagi yang perlu di takutkan selama menyadari memiliki satu sama lain dan juga nyaman senyaman-nyaman nya seakan dunia hanya di ciptakan untuk berdua.


Bagi dirga dan rara, keduanya merupakan sebuah kekeliruan, tentang dirinya (rara) dirga ingin memberinya rasa aman dan damai setelah bertahun-tahun menjalani keras nya perubahan dunia yang kejam.


Sedangan tentang dirinya (dirga) rara takut kehilangan dirinya, takut untuk berpisah seakan-akan rasanya dirga sudah menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan, namun di balik semua itu bersembunyi rasa takut dirga akan menyakiti dirinya sendiri untuk rara.


- Continue

__ADS_1


Next : Cahaya mu


__ADS_2