
Indah nya pemandangan malam itu tak dapat dituliskan oleh sepatah-dua patah kata kamus besar, sepasang anak kecil sedang berjalan di bawah indahnya langit malam yang di hiasi bintik-bintik bintang Antariksa menikmati waktu-waktu terbaik mereka bersama.
Hanya sepasang anak kecil, aku dan seorang anak perempuan yang di pertemukan di tengah negri mimpi yang sejuk ini.
Padahal kaki-nya dilapisi luka yang cukup berat namun ia tak berhenti menertawakan perilaku cerobohnya, disisi lain aku terpaksa menjadi orang yang membawa nya ke sebuah tempat di mana kami di pertemukan pertama kali, akan tetapi… aku benar-benar menikmati momen ini.
Punggung ku terasa sakit membawa tubuh nya yang kecil dan tak berdaya, tawa kecil nya yang terdengar seakan mempermainkan ku, kaki kiri nya yang kasar terluka, dan kaki kanan yang lembut, serta caranya yang membuatku tak berhenti tersenyum.
Entah bagaimana aku bisa di pertemukan dengan nya, kapan terakhir kali aku merasa sebahagia ini, hanya saat bersama dengan dirinya aku bisa merasa seperti ini…
“Aku akan mencari sejauh 1000 KM dan Seterus nya agar bisa Kembali bersama mu.”
Hidup seringkali di penuhi dengan kejutan, hal inilah yang membuat kehidupan di setiap manusia terlihat menarik.
Dalam suatu jalur terdapat berbagai cerita yang berbeda dan setiap langkah dapat mengubah masa yang akan datang kelak, disisi lain bila sebuah Langkah telah di ambil maka takkan ada lagi kesempatan untuk mengubahnya. Itulah seni yang dimiliki hidup, takkan tau apa yang akan datang selalu dipenuhi dengan misteri.
"Hai, Aku Rara!! Senang bertemu denganmu!!"
Aku pertama kali bertemu dengan nya di dalam dunia mimpi, pada malam itu badan ku di penuhi luka dan aku tak dapat banyak bergerak, tak ku sesali satu pun perbuatan ku sebelumnya, begitu aku memejamkan mata dan melepas semua letih aku sudah berada di sini.
"Siapa Namamu? Apa yang terjadi padamu??"
Menghadapinya yang tak berhenti bertanya dan tingkah laku nya yang menjengkelkan itu aku hanya diam dan membuang muka, namun rasa penasaran nya yang tinggi dan antusias nya yang tak kunjung pudar itu semakin membuat ku kesal.
lalu kemudian secara mendadak perempuan gila itu melempar batu ke kepalaku.
“HEIII ITU SAKIT !!” Teriak ku dengan keras sambil mengusap-usap kepala
“Kau bicara!!” Sahut nya dengan keras
“Hahh?? Tentu saja aku bicara, lagipula apa maksudmu melakukan itu??”
“Tidak ada alasan khusus, aku hanya penasaran apakah kau akan bereaksi bila aku melakukan itu.” Balas nya dengan tampang tidak bersalah.
“Ohh benarkah?? Aku juga penasaran bagaimana reaksimu jika aku-”
“Nama ku rara, Asmaraloka Kirana… aku minta maaf atas tingkah ku sebelumnya, bolehkah aku juga mengenalmu??” Tanya nya menyela perkataan ku sambil mengulurkan tangan.
Pada saat itu angin kencang berhembus menerpa kami dan dengan sekejap hati ku menjadi lebih tenang, aku menarik nafas panjang dan malam itu memulai semuanya, waktu ku bersama sosok Asmaraloka Kirana di dunia mimpi.
"Namaku Dirga... Dirgantara Aksa Diwarna... Senang bisa bertemu denganmu Rara..." Sebut ku dengan sangat pelan.
"Nama yang sangat indah!! Apa arti dari setiap kata yang terukir di namamu itu?? Siapa yang memberikan nama itu?? Apakah aku harus memanggilmu Dirga saja atau Dirgantara." Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Dengan sekejap ia menjadi semakin gempar, antusiasme yang sangat tinggi membuatnya terus mempertanyakan segala hal yang muncul di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Hey!! Kau belum menjawab pertanyaan ku... Lagipula Kenapa kau sangat pendiam?? setahuku Anak laki-laki itu sangat aktif."
"Kalau begitu aku tak seperti anak laki laki lainnya."
"Maksudmu kau berbeda? Apakah kau juga perempuan sepertiku!?"
"Tentu saja tidak!! Di lihat sendiri seharusnya sudah jelas bukan?"
"Lalu apa maksudmu? Jangan jangan... Kamu bukan manusia!!? Tapi kalau ku lihat..."
"Apakah itu sesuatu yang harus di pertanyakan juga?"
Saat itu aku sadar bahwa dari tadi aku memulai sebuah pembicaraan normal dengan seorang anak seumuran ku, hanya sebuah percakapan biasa tiada kata-kata kasar yang menusuk hanya sekedar obrolan biasa, lalu kenapa... apakah hidupku selama ini se menyedihkan itu? Hanya dengan ibu dan dengan… dia aku merasa seperti ini
"Apakah kita teman??"
"Teman?? Tentu saja kau temanku??"
Momen itu memulai semuanya, semua perubahan yang terjadi dan semua prestasi dalam hidup yang kugapai bisa menjadi nyata semenjak aku bertemu dengannya.
ingin rasanya bertemu secara langsung tapi tak tahu dimana dan bagaimana, dirinya seringkali memberitahuku ciri ciri dari tempat yang ia tinggali, aku terus mencatat nya dalam sebuah buku yang ku simpan dengan harapan bila suatu saat aku dapat mencoba untuk mencarinya dan menemukannya.
Kira kira seberapa jauh posisi ku dan rara sekarang, aku membayangkan sesuatu yang panjang seperti stadion bola, atau yang jauh lebih panjang lagi seperti sebuah jalan tol yang menjalar panjang dari kotaku menuju ibukota kontinen.
"Seberapa jauh Tanyamu?? Mungkin 1000 KM." Jawab poppo setelah aku menanyakan pendapatnya
"Yahh karena satu kilometer berarti 1000 M, Lalu bagaimana dengan 1000 KM?? Akan sangat jauh bukan??"
Aku sedikit bingung pada awalnya, Namun aku mengingat kata bu guru bahwa 1 KM itu layaknya jarak antara sekolah dengan balai kota yang cukup jauh bagiku, Lalu aku membayangkan bagaimana dengan 1000 KM seperti kata poppo?? pasti akan sangat sangat jauh.
"Kau ada benarnya juga... Berarti suatu hari nanti aku akan mencarinya sejauh 1000 KILOMETER dari sini!!" Sahutku dengan bersemangat.
Poppo, aku memanggilnya Poppo karena itu memang nama panggilan yang terasa cocok untuk nya, Seorang anak laki laki pendek dengan perut yang buncit serta wajah yang terlihat konyol, saat pertama kali bertemu dengannya, Poppo terlihat sedang di rundung oleh sekumpulan anak yang bermain di lingkungan sekitar rumah.
Mereka tak begitu mengenalku, jadi saat aku mendekati mereka yang sedang merundung Poppo, mereka melihat seorang anak laki laki berbadan tinggi dan berwajah suram mendekati mereka, denga begitu para perundung itu spontan langsung berlari sambil ketakutan, Sedangkan Poppo terdiam kaku melihatku.
"Kau tak apa??" Tanyaku pada Poppo
"T... Terima kasih hantu... Aku akan segera pergi sekarang" Jawab Poppo dengan wajahnya yang sangat ketakutan itu
"Mulai sekarang kau akan menjadi temanku, agar mereka tidak akan mengganggumu lagi, aku jamin itu.” Tawarku sambil mengulurkan tangan
Hal itu terjadi setelah beberapa malam ku lalui bersama Rara di dalam mimpi, Sebuah pertemanan dua orang pria yang di dasarkan oleh sebuah penawaran dengan keuntungan sepihak, Poppo berpikir sejenak dan kemudian ia menerima jabatan tanganku, lalu sejak saat itu aku mulai berteman baik dengan Poppo.
Saat pertama kali berteman dengannya, aku langsung menceritakannya pada Rara di mimpi malam selanjutnya, mendengar ceritaku itu Rara ikut merasa senang, Karena pada dasarnya poppo adalah teman kedua yang kutemui setelah rara.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu... Tetapi kau harus menepati janjimu padanya..."
Aku menepati janjiku pada Poppo hingga bertahun-tahun lama nya, bahkan setelah berpisah dengan rara, Poppo masih berdiri di sampingku dan kami saling membantu satu sama lain, rara… ia menghilang secara misterius dari mimpiku.
Di malam terakhir aku bersamanya dirinya seakan musnah menjadi bagian-bagian kecil, pada awal nya aku mengira bahwa ia menghilang seperti biasa dan kami akan kembali bertemu di malam berikutnya, namun dirinya tak lagi muncul, tak lagi ku temui dunia mimpi yang indah itu.
Sudah banyak waktu ku habiskan untuk mencari cara agar dapat bertemu kembali dengan nya, tak terbayang berapa banyak buku yang telah ku baca dan berapa banyak peta yang telah ku jelajahi, namun sampai sekarang tak satupun petunjuk di arahkan padaku.
Hanya aku dan poppo menghadapi keseharian dunia ini, siapa sangka kalau ternyata Poppo adalah sosok yang jenius dan anak dari seorang yang kaya raya, kami selalu berada di sekolah yang sama mulai dari bangku sekolah dasar hingga ke sekolah menengah atas, di setiap tahunnya pada hari penerimaan rapor, Poppo terus mendapat nilai tertinggi satu angkatan sedangkan aku mendapat posisi menengah di satu angkatan.
Tetapi, seiring waktu Bersama poppo aku dapat meningkatkan nilai sekolahku, menambah porsi jajan, dan memperkuat fisikku, pada akhirnya yang aku kira pertemanan kami hanya sebatas penawaran dengan keuntungan sepihak, kini aku menyadari bahwa selama ini Poppo telah jauh lebih membantuku daripada aku membantu dirinya.
Saat kami sudah berusia 16 tahun, Kami berdua memasuki bangku kelas 12 sekolah menengah atas terfavorit di kota kami, Poppo yang dulu kukenal sebagai anak laki laki yang pendek nan buncit, kini telah menjadi seorang pria tampan berbadan tinggi dengan tubuh yang kekar.
'FANTASTIC DUO' Itulah yang anak-anak sekolah sebut saat aku dan Poppo berjalan melintasi lorong sekolah, Poppo anak laki-laki yang paling di kenal satu sekolah karena kejeniusan dan ketampanannya lalu aku, Dirga sang ketua osis yang tegas dan tangguh, duo sobat lelaki yang menjadi kebanggan sekolah terbaik di kota.
Rasaku tak cocok lagi memanggilnya dengan sebutan Poppo, namun ia bilang tetap ingin di panggil begitu karena dengan nama Poppo ia dapat melihat kembali perjuangan keras yang telah di laluinya hingga di tahap ini.
Poppo kini juga di kenal sebagai pria dengan banyak gadis, hingga di kelas tiga sma dan kami berdua hendak berusia 17 tahun, ia masih suka jalan dengan beberapa gadis di sekolah tak peduli itu se angkatan, adik kelas, ataupun kakak tingkat yang berusia lebih tua dari kami.
setiap kali aku mencoba untuk membujuknya agar berhenti, ia terus memberikan jawaban yang sama padaku...
"Mereka seharusnya sudah tahu bahwa aku telah mengencani banyak wanita, lantas untuk apa mereka mau mengencani ku??" Sebut Poppo dengan bangganya
"Lalu maksudnya?? aku masih kurang mengerti..." Jawabku bingung
"Aku melakukan hal ini demi kebaikan mereka sendiri, Dengan hal yang ku lakukan itu aku yakin pasti selanjutnya mereka akan memilih pria yang memang baik untuk mereka, bukan pria menawan yang bangsat sepertiku..."
Aku merasa kagum sekaligus bingung dengan jawaban Poppo itu, karena di satu sisi ia memang terlihat melakukan suatu hal yang dapat di bilang... bijak?? namun di satu sisi ia terlihat seperti memperburuk pandangan orang lain terhadapnya terutama di kalangan para gadis, sungguh intuisi yang sulit di mengerti...
"Lalu bagaimana denganmu Dirga?? Kau juga terkenal di sekolah dan banyak gadis cantik yang memintamu untuk berkencan, bahkan beberapa dari mereka berasal dari sekolah lain... Mengapa kau menolak cinta mereka semua??" tanya Poppo sambil menatapku serius.
"Entahlah, aku hanya merasa bahwa mereka bukanlah orang yang tepat, aku merasa adalah benar untuk menolak mereka, daripada menerima tetapi tidak benar benar mencintai mereka."
"Hmm... Apakah karena si gadis 1000 KILOMETER??"
Gadis 1000 KILOMETER, Itulah nama julukan yang Poppo berikan pada Rara karena saat kami masih kecil 1000 Kilometer adalah jarak terjauh yang dapat kami bayangkan.
"Gadis 1000 KILOMETER... Sejauh ini aku belum mendapat hasil yang bagus..."
"Sayang sekali ya... padahal selama ini kau sudah berusaha sangat keras untuk mencarinya." balas poppo sambil menepuk pundak ku
Di saat aku mencari tahu keberadaannya, aku selalu berpikir... Apakah jauh di sana ia juga memikirkan ku?? Apakah ia juga mencari ku?? Apakah ia sosok yang nyata...?? Jawabannya tak tentu tapi insting berkata untuk terus mencarinya tak peduli apapun yang akan terjadi bila kami benar benar bertemu suatu hari nanti.
- continue
__ADS_1
(P. S. Author ingin berterima kasih banyak pada para pembaca yang sudah baca sampai sejauh ini, sekali lagi bila ada kritik dan saran jangan ragu-ragu di sampaikan di kolom komentar karena ya setiap komentar kalian sangat berharga bagi author 😌)