
Sebuah mimpi di antara dirgantara dan asmaraloka, 150 malam mereka lalui bersama saat bertahun-tahun lalu dimana pada malam itu di balik langit malam yang gelap tertebar ribuan bintang Antariksa.
Danau berkilap memantulkan cahaya bintang dan bulan yang selamanya purnama di negri mimpi itu, akan tetapi bagi dirga dan rara yang terus bersinar paling terang di malam-malam itu adalah diri mereka masing-masing.
Dirga melihat sosok rara bagaikan sebuah cahaya bulan yang bersinar di tengah gelapnya malam, kehadiran nya yang menghangatkan hati dan juga memberi harapan bagi dirga takkan pernah luput dari hati nya.
Sedangkan bagi rara, dirga terlihat bagaikan seorang pengembara yang tersesat, tersesat tanpa arah pergi dan arah pulang, kendati di balik itu semua rara merasakan sebuah aura yang di penuhi dengan cerita dan misteri.
Namun seiring waktu mereka sadar, setelah perpisahan yang tak diduga oleh keduanya dan juga perubahan dunia yang terus di jalankan oleh alur waktu, keduanya semakin memahami arti dari 150 hari yang lalu itu, saat langit gelap di hiasi ribuan cahaya.
Arti dari sebuah pertemuan, perpisahan, dan juga waktu-waktu yang mereka habiskan bersama, setiap momen menjadi berharga saat bersama satu sama lain.
“Di antara ribuan cahaya itu, dirimu lah yang bersinar paling terang.”
Bab 2.8 : Cahaya mu
Tak terasa sudah hanpir satu bulan berlalu sejak dirga di kejutkan dengan kehadiran rara, di awali dengan memahami arti dari hidup se atap bersama, hingga kini dengan kehadiran fera keduanya di pisahkan.
Bagi dirga, semenjak dirinya di pisahkan oleh fera, setiap pertemuan yang mereka lalui terasa semakin singkat, perlahan rara tidak lagi memancarkan cahaya di mata nya, sebuah cahaya yang selalu ku tunggu dan menyimpan sebuah rasa.
Rasanya, seakan sebuah jarang tercipta di antara dirga dan rara, rasanya bagi dirga, seiring waktu berlalu maka jarak yang tercipta di antara mereka akan menjadi semakin panjang dan setiap Langkah yang di lalui akan terasa semakin berat.
“Karena apa kau menjauhiku…” Gumam dirga sambil melihat langit biru yang terang dari teras kecil apartemen.
“Hahh? Apa? Aku tidak dengar apa yang kau katakan.” Jawab poppo yang baru keluar dari kamar mandi dengan sikat gigi yang masih berada di mulutnya.
“Hei poppo, menurutmu bagaimana caranya agar aku bisa dekat lagi dengan rara?”
“Bagaimana? Mungkin dengan jalan bersama keluar? Atau apalah.”
“Bagaimana cara mengajak nya? Mau pergi kemana?”
“Lah? Bukannya malam ini waktu yang tepat?”
“Ada apa dengan malam ini?”
“Aku belum bilang ya? Fera mengajak kita ke festival fantasirio.”
“Fantasirio… hari ini adalah malam nya!?”
Fantasirio, ada sebuah legenda dari agama yang paling di percayai di negara-negara kontinen barat, sang dewi fantasirio, menurut legenda masyarakat dan catatan agama, dewi fantasirio adalah sosok yang mengakhiri panjang nya perang masa.
Dengan ke agungan nya sebagai seorang dewi, beliau memiliki kehendak untuk mengakhiri perang yang sudah bertahun-tahun berjalan lamanya, lalu dengan kehendaknya setelah perang berakhir dirinya memerintahkan orang-orang untuk berpesta merayakan perdamaian.
“Kalau di pikir-pikir nama fantasirio itu bukannya lebih cocok untuk laki-laki?” Gumam dirga.
“Terserah dia, lagipula juga seorang dewi, bisa berbuat semuanya.”
Dari pagi hari itu menjelang malam tiba, dirga tak bisa memikirkan apapun selain jalan di festival malam yang akan tiba, tubuh nya merinding saat mendengar berita festival yang muncul di tv dan juga di tuliskan di koran.
Festival fantasirio dikenal sangat sakral di ibukota, sebuah Festival Raya!! Yang di nantikan semua orang, sungguh di nantikan semua orang terutama dirga yang terus memikirkannya.
Saat hari menjadi semakin gelap, lampu kota di matikan dan lentera yang di gantung di antara lampu-lampu kota di nyalakan.
__ADS_1
Cahaya berwarna, kuning, biru, ungu, dan putih, menghiasi jalanan kota yang dipenuhi lentera dan di penuhi oleh orang-orang yang bersuka cita, semua nya berjalan bersama menuju bukit puncak.
Di pusat ibukota, terdapat sebuah bukit raksasa dengan dataran yang sangat luas yang menjadi tujuan semua orang saat malam festival fantasirio, di puncak bukit itu terdapat sebuah kuil raksasa yang di Yakini di dalamnya bersemayam sang dewi Fantasirio.
Saat melihat keramaian di sepanjang jalan kota dari teras apartemen, perasaan gugup dirga semakin memuncak tak tertahankan.
“Dirga!! Ayo jemput yang lain di atas.” Seru poppo menunggu di depan pintu apartemen.
Dirga mengikuti poppo dan segera mengunci pintu apartemen, saat melangkah menaiki tangga dirga merasa semakin gugup, Sesampainya di depan pintu ruang apartemen poppo dirga menarik nafas yang panjang mempersiapkan dirinya.
“Kau siap? Aku akan mengetuk pintunya.” Tanya poppo.
“Ya lakukan saja.”
Poppo mengetuk pintu tiga kali dan mereka berdua di sambut oleh Fera, terlihat bahwa fera sudah berdandan dan mengenakan pakaian fantasirio nya.
Di malam festival fantasirio, ada sebuah adat dimana setiap perempuan yang mengikuti festival harus beradat dan berpakaian layaknya sang dewi fantasirio, dalam ajaran nya setiap perempuan yang ada merupakan inkarnasi darinya.
“Rara kamu sudah siap?” Tanya Fera
Fera kemudian kembali masuk kedalam untuk melihat rara, lalu setelah beberapa saat kemudian fera kembali bergerak ke pintu apartemen membawa rara.
Saat dirga menyaksikan rara dengan pakaian dewi, dirinya tak dapat berkata-kata, tak pernah disaksikannya rara seindah ini di sepanjang hidupnya, benar-benar layaknya sebuah harta surga yang di turukan ke bumi.
“Jadi… bagaimana menurutmu?” Tanya rara pada dirga yang di depan nya.
“Itu terlihat sangat cocok denganmu… sempurna.” Jawab dirga.
Tanpa sadar mereka berdua diam di depan pintu apartemen itu dan saling memalingkan pandangan, entah kenapa semanjak tidak lagi se atap situasi di antara keduanya malam menjadi semkin canggung.
“Ayo kita bergerak?” Tanya dirga.
“Ya, mereka sudah menunggu disana.” Jawab rara.
Mereka berdua berjalan bersampingan dengan jarak kecil di antara keduanya, perasaan gugup dan canggung terus mengikuti di sepanjang Langkah mereka bersampingan terus membuat mereka untuk menolak berinteraksi.
Di sepanjang jalan menuju bukit situasi tak kian berubah, meskipun di depan mereka fera dan poppo terus sibuk berbincang, akan tetapi situasi yang berada di belakang tak mengeluarkan suara apapun.
Di tengah keramaian dan juga terang nya cahaya lentara, mereka terus menolak untuk bicara dan saling memalingkan pandangan, kondisi pada malam itu sangatlah ramai, semua orang berjalan bersama hingga ke area bukit.
Sesampainya di area bukit, orang-orang bergantian mengunjungi kuil dan menikmati malam festival di pusat acara, di kaki bukit orang-orang berkumpul layak nya di pasar malam.
Lentela tergantung dimana-mana di area pusat di kaki bukit, orang-orang membuka stand makanan dan juga permainan-permainan kecil sebagai hiburan menjelang puncak acara, karena tepat pada pukul 9 malam kembang api akan di tembakkan langit dan menandai akhir dari festival fantasirio.
Sesampainya di pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung itu, hanya butuh sekejap bagi Fera untuk menghilang dari jangkauan poppo, dengan perasaan gelisah pun poppo terpaksa meninggalkan dirga dan rara sendiri untuk mencari fera.
Di antara keramaian di sekitar mereka, dirga dan rara hanya diam berdua tak melakukan apa-apa, banhkan dari apartemen hingga sekarang keduanya masih menolak untuk mulai berbicara satu sama lain.
Dalam hatinya dirga tak ingin malam festival terus berjalan seperti sekarang, dengan mengumpulkan tekad ia memberanikan dirinya untuk berusaha merubah suasana, dirga perlahan meraih tangan rara mencoba untuk menggenggam nya.
Rara menerima genggaman itu, begitu dirga sadar ia akhirnya mencoba untuk menatap rara dan pada saat itu rara sudah melihatnya sambil tersenyum, perasaan lega menjatuhi dirga pada malam itu dan mereka berjalan berdua.
“Apakah ada sesuatu belakangan ini?” Tanya dirga.
__ADS_1
“Sesuatu? Seperti apa?” Balas rara
“Ya bagaimana rasanya tinggal bersama fera? Apa saja yang terjadi selama kalian tinggal seatap?”
“Selain bercerita tentang masa lalu kalian, yah tidak begitu banyak.” Balas rara dengan tawa kecil.
“Yang benar!? Apa saja yang dia ceritakan?”
“Dia bilang kau pernah menangis saat di tinggal sendirian di taman bermain, benarkah itu?”
“Yahhh itu… terkadang aku memang takut kesepian.” Balas dirga dengan raut wajah malu nya.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di pusat perbelanjaan, keduanya mencari tempat yang sedikit lebih tenang dari keramaian, di antara jalanan yang siapa ada sebuah kursi kosong dan keduanya duduk di sana.
Rara kemudian melihat ke langit, suasana langit malam di ibukota berbeda jauh dengan di dunia mimpi, dimana saat mereka hanya berdua di dunia mimpi ribuan bintang angkasa menghiasi gelapnya malam.
Di ibukota, kegelapan malam di sinari oleh lampu-lampu kota dan kesunyiannya di tutupi oleh kesibukan kota di malam hari.
“Selama aku disini, langit hanya hitam, tidak seperti di dunia mimpi.” Ujar rara sambil melihat ke langit.
“Apakah kau merindukannya? Negri mimpi itu?” Tanya dirga.
“Aku sangat merindukannya, sama seperti momen ini, akan tetapi aku lebih takut terus merindukan momen-momen seperti ini.”
“Maksudnya?”
“Daripadi terus memikirkan dan merindukan momen-momen yang lalu, aku lebih ingin terus menciptakan momen-momen baru bersama dirimu, terus hingga nanti.”
Dirga kemudian berdiri dari kursi, mengulurkan tangannya pada rara.
“Ayo, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu.” Ujar dirga.
Rara menerima genggaman tangan dirga dan mereka berjalan menuju jalan setapak kecil di antara rerumputan, mereka terus berjalan menulusuri jalan itu yang semakin dalam memasuki hutan
Setelah beberapa saat berjalan di dalam hutan, mereka sampai di sebuah kolam besar, kolam dengan bayak Teratai dan juga ratusan kunang-kunang yang terbang menari di atasnya.
Saat rara sedang terpesona dengan keindahan ratusan kunang-kunang yang bercahaya, dirga berlutut di hadapannya dan kembali mengulurkan tangan nya.
“Rara maukah kau menari denganku di antara ribuan kunang-kunang yang bersuka ria?” Sebut dirga.
Rara menerima uluran tangan dirga dan seketika, di dalam pikiran keduanya terputar kembali memori bertahun-tahun lalu saat mereka menari bersama di antara kunang-kunang dalam negri mimpi.
Kini waktu telah berlalu diantara keduanya, dan kini keduanya sudah tidak lagi di dunia mimpi, akan tetapi rasa yang ada di dalam keduanya tak berubah sedikitpun.
Sebuah perasaan yang hanya muncul saat bersama satu sama lain, perasaan cinta dan kebahagiaan mengalir di antara keduanya bagaikan aliran sungai yang deras.
Keduanya menari dengan saksama dan seirama, dirga kagum melihat rara yang bisa terus mengikutinya dan rara terus menikmati momen mereka bersama.
Hingga akhirnya tarian mencapai akhirnya, dirga menggenggam rara dan keduanya saling bertatapan dengan wajah yang juga berdekatan, dirga bergerak dengan sendirinya seakan ada sesuatu yang mendorong nya begitu pula dengan rara.
Namun di saat bibir mereka akan bersentuhan muncul sebuah retakkan di langit, retakkan it uterus turun dari langit hingga menimpa bumi menciptakan sebuah getaran yang dahsyat.
- Continue
__ADS_1
Next : Genggam tanganku