After 150

After 150
Dunia Berputar


__ADS_3

“Sudah semua? Pakaianmu sudah lengkap bukan? Baju kuliah, Pakain dalam, Baju santai, baju-”


“Sudah bu, semua barang bawaan telah di kemas.” Jawabku sambil membawa beberapa barang keluar.


“Kau tidak mau bawa bekal di jalan? Apakah kau yakin semuanya sudah lengkap? Coba cek kamarmu sekali lagi” Sekali lagi tanya ibu dengan tergesa-gesa dan panik.


“Iyaa bu, seharusnya sudah tidak ada la-” Seketika aku berhenti menyaksikan kamar yang kosong


Aku berdiam sejenak, kamar telah di rapikan, barang-barang yang akan di bawa sudah di letakkan di mobil poppo, barang-barang yang tinggal akan tetap disini menyimpan memori di hari-hari yang lalu.


“Dirga!! Dirga!! Bukankah sebaiknya kau mengajak poppo makan disini terlebih dahulu?” Sahut ibu yang berjalan dengan tergesa-gesa di ruang tengah lalu melihat ku yang hanya diam meratapi kamar.


Aku mengambil waktu ku sejenak untuk menikmati ruangan ini untuk terakhir kali nya sebelum menghadapi kehidupan yang baru, begitu aku meraba meja dan kursi yang usang aku dapat melihat diriku sedang duduk tertidur di sana, aku bisa membayangkan ibu yang memasuki kamar menyelimuti ku lalu memeluk ku dengan erat.


“Kau bisa melihatnya… tidak terasa kita sudah berhasil melalui semua itu… kau anak yang hebat bisa melalui semuanya.” Bisik ibu


“BIBI CELIA !! Tidak apakah aku mencicipi sedikit masakanmu??” Teriak poppo dari dapur.


“Tunggu bibi poppo!! Nikmatilah waktumu dirga.” Ibu menepuk bahuku lalu segera membantu poppo di dapur.


“Yahh tanpa kau juga poppo, aku tidak tahu akan menjadi seperti apa… dan juga… rara.”


Aku tak pernah melupakannya, Asmaraloka Kirana saat kutarik laci meja belajar aku menemukan sebuah buku berisikan malam-malam yang kulalui Bersama dirinya, telah banyak upaya yang ku lakukan untuk menemukan dirinya namun tak kunjung memberikan jawaban yang ku harapkan, fenomena Asmaraloka Kirana tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan, asal-usul nya yang misterius dan dirinya yang terus berada di pikiranku


150 malam yang berakhir secara mendadak itu juga memberikan tanda tanya di pikiranku, di malam terakhir itu ia menghilang tidak seperti malam-malam sebelumnya, dirinya disinari oleh cahaya bulan dan perlahan ia menghilang di antara cahaya itu.


Di malam terakhir itu aku berpikir masih dapat menemui dirinya di malam selanjutnya, akan tetapi tak di sangka di malam selanjutnya aku tak mengalami mimpi apapun, saat aku tertidur di malam hari tiba-tiba aku sudah berada di pagi hari selanjutnya, andai saja aku tahu itu momen terakhir kami maka aku akan mencoba untuk memberinya salam perpisahan yang baik.

__ADS_1


Fenomena Asmaraloka Kirana, hingga sekarang aku tidak bisa menjelaskan dirinya apakah ia benar-benar seorang anak perempuan sungguhan atau hanya sebuah ilusi yang di ciptakan oleh mimpiku, tidak segala sesuatu yang muncul di mimpi merupakan sesuatu yang nyata, bisa saja itu hanyalah sebuah ilusi yang di ciptakan oleh pikiran manusia.


Pada dasarnya merupakan sesuatu yang dapat dimaklumi bahwa Sosok Asmaraloka Kirana hanyalah sekedar ilusi yang di ciptakan oleh pikiran seorang anak kecil yang kesepian sepertiku, akan tetapi dirinya terasa sangat nyata.


Mungkin terdengar agak tidak masuk akal akan tetapi aku bisa merasakannya, ia adalah seorang anak perempuan yang nyata, cara nya yang dengan antusias ingin berkenalan dengan ku dan menceritakan hari-hari nya, lalu bagaimana ia merespons semua ceritaku, semua tentang dirinya terasa sangat nyata bagiku.


“Aku tetap akan mencarimu… aku percaya padamu…”


“Siapa itu? Lagi-Lagi gadis 1000 KM?” Tanya poppo yang sedang membawa semangkuk sup buatan ibu


Kertas itu di gambar oleh ku bertahun-tahun lalu, di suatu malam rara memintaku untuk melukis dirinya dengan pakaian barunya dan Ketika bangun di pagi harinya aku kembali membuat lukisan itu, hingga sekarang aku menyimpan lukisan itu di buku malam-malam ku Bersama dirinya.


“Yaah begitulah singkatnya.” Jawabku


“Kalau di pikir-pikir tingkah mu itu keliatan seperti orang aneh.”


“Menurutku tidak juga, tingkah aneh mu itu pastinya akan tertupi oleh nilai-nilai positifmu yang sebegitu banyak nya.”


“Baguslah kalau begitu, juga bagaimana menurutmu dengan sup nya? Apakah sebaiknya kita mebawanya untuk perjalanan nanti??”


“Ya!! Itu ide yang luar biasa!! Aku akan segara bicara ke bibi lucia!!” Dan dengan begitu poppo bergegas kembali ke dapur menemui ibu.


Sementara itu aku terhenti di ruang tengah, koper yang di penuhi surat masih berada di samping televisi dan video tape masih tersimpan di dalam pemutar, kulihat fotonya yang terpampang di ruang tengah.


“Tentu saja… ini semua tidak akan terjadi tanpamu, meskipun tanpa kehadiranmu di beberapa momen menting dalam hidup kami, akan tetapi kau sudah sangat mempengaruhi kehidupan kami… Ayah…”


Aku berjalan mendekati foto nya yang terpampang di ruang tengah dan mengelus pelan wajah nya, saat kulihat pintu rumah yang terbuka keluar aku dapat kembali melihat diriku yang berdiri di sana melambaikan tangan padanya di tengah malam dan hujan.

__ADS_1


Dirinya yang hendak memasuki mobil klasik nya itu, akan tetapi ia kemudian berbalik dan membalas lambaian tangan ku, aku mendengar nya, aku sudah kembali mengingatnya, pada malam itu suara rintik hujan yang menabrak atap memanglah sangat keras, akan tetapi pendengaran ku hanya terfokus pada suara dirinya.


“Meski terpisah sejauh 1000 Kilometer, aku akan tetap mencintaimu.”


Seketika dunia seakan berhenti bergerak sesaat, rintikan hujan berhenti dan seluruh indraku terfokus untuk mendengar kata-kata nya dan menangkap tampang dirinya pada malam itu, ia tersenyum tipis dengan bibir nya yang bergetar mencoba untuk menahan kesedihan.


Andai aku bisa duduk bersamanya selama 1 jam… 1 menit saja cukup entah apa saja yang akan ku keluarkan dari mulutku apakah itu ungkapan kesedihan?, kebahagiaan?, atau mungkin kekecewaan?, akan tetapi satu yang pasti aku akan menyampaikan bahwa aku juga mencintainya.


“Ayo dirga !! kalau kita menunggu lebih lama lagi entah kapan kita akan sampai disana !!” Sahut poppo dengan keras di mobil 4x4 milik nya


“Aku pergi dulu ya bu…” lalu dengan pelan mencium tangan ibu


Ibu kemudian memegang kedua bahuku dan ia menatap putranya untuk terakhir kalinya sebelum pergi dalam waktu yang lama.


“Tidak kau ataupun Ayahmu, suatu hari kalian akan meninggalkan tempat ini… akan tetapi kau akan pulang kan??”


“Aku pasti akan pulang bu… aku akan menjadi sosok yang lebih baik darinya, lagipula memang itu bukan tugas dari seorang anak laki-laki terhadap Ayahnya.”


“Kau memang cerdik ya.” Sahut ibu dengan geram sambil mencubit wajah ku.


Aku melangkah memasuki mobil poppo dan kembali menyaksikan ibu dan rumah, rumah tempat semuanya terjadi, semuanya dari awal hingga jauh ke sekarang, waktu berputar dengan sangat cepat.


Mobil poppo mulai bergerak dan ibu melambaikan tangannya selagi kami bergerak menjauh, aku pun terus melambai pada ibu hingga akhirnya ia menghilang di kejauhan.


Berakhir sudah… saatnya untuk membuka lembaran baru, dunia akan terus berputar dan semua peristiwa yang berlalu takkan terulangi, namun peristiwa yang berlalu itu akan menjadi pelajaran untuk masa depan.


Berakhir sudah kisahku disini, awal mulaku sebagai Dirgantara Aksa Diwarna.

__ADS_1


__ADS_2