After 150

After 150
Jurnal


__ADS_3

Pada malam itu, sebuah retakkan terlihat di langit dan terus turun hingga ke bumi menghasilkan sebuah guncangan yang dahsyat. Di malam itu orang-orang seharusnya bersuka ria menyambut festival, akan tetapi bumi menunjukkan murka nya dan menghapus segala senyum dan tawa.


Sudah 2 minggu berlalu sejak gempa yang dahsyat menimpa festival fantasirio dan aku, rara, poppo, dan fera adalah segelintir orang beruntung yang bisa selamat dari gempa dahsyat tersebut dengan hidup dan tanpa luka yang permanen.


Sejak gempa yang amat dahsyat itu, orang-orang berkumpul mengutarakan suaranya kepada pemerintah, konspirasi terus terdengar di telinga orang-orang dan cocoklogi terus tercipta di antara krisis sejarah dan sumber daya yang secara tak henti berjalan di negri ini.


Jalanan kota yang dulunya damai dimana di bawah teriknya matahari pagi orang-orang hanya mementingkan urusan mereka masing-masing, kini di penuhi oleh orang-orang yang terus memintai kebenaran yang rancu. Begitu aku melihat kebawah dari jendela apartemen aku berpikir…


“Apakah segala tentang udara perdamaian itu… hanyalah kebohongan?”


Bab 2.9 : Jurnal


“Dirga… Dirga… bangun…”


Suara itu terdengar halus di teringa dirga, dirinya yang baru kembali mendapati kesadarannya mencoba membuka mata nya yang erat dan juga membangunkan otot tubuhnya yang masih tertidur.


“Dirga… Dirga… nanti kamu terlambat…”


Suara itu terus mengganggu pikirannya, seandainya suara itu tidak memanggilnya terus menerus maka dengan cepat dirinya akan segera kembali tertidur dan menyadari dirinya di dunia mimpi.


“Hmph… aku bilang cepat bangun !!”


Suara itu perlahan semakin keras dan tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya memberikan sinyal kepada suluruh anggota tubuh untuk segera bangun dan beraktivitas.


Saat dirga membuka matanya perlahan sambil mengusap-usap kepala nya yang kesakitan, ia melihat rara yang sedang duduk di sampingnya memegang sebuah sendok sup.


“Ra… rara? Ada apa?” Tanya dirga dengan lirik suaranya yang mengantuk.


“Ada apa? Bukannya hari ini masuk pagi? Cepatlah segera bersiap !!”


Dirga yang masih pusing mencoba meraih handphone nya di meja lalu melihat waktu dengan mata yang memeram, begitu ia sadar dengan waktu dengan cepat dirinya bergegas mengambil pakaian di kamar dan membawanya ke kamar mandi.


“Aku hampir telat !!”

__ADS_1


Dirga mengancing pakaiannya dikamar dengan terburu-buru dan segera berlari dari pintu kamar mencoba untuk menggapai pintu keluar apartemen. Namun saat ia hampir keluar kerah baju nya di tarik oleh rara yang menghentikannya di depan pintu.


“Bagaimana? Tidak enak kan rasanya buru-buru? Makanya lain kali bangun lebih cepat biar lebih santai.”


Rara kemudian memberikan kotak bekal yang telah ia persiapkan saat dirga sedang sibuk mempersiapkan diri, dirga segera memasukkan bekal itu kedalam tas nya dan ia segera membuka pintu keluar apartemen.


Saat ia membuka pintu, poppo sudah berada diluar menunggunya, keduanya pun dengan segera bergerak mengejar jam pelajaran pertama.


Di pagi hari itu suasananya matahari bersinar terang di balik awan gelap, di sepanjang jalan terdapat banyak genangan air kecil memberikan jejak hujan yang telah pergi beberapa jam sebelumnya.


Angin dingin di saat setelah hujan itu masih terasa juga dengan segar nya udara pagi di jalanan yang tidak begitu ramai, sebuah suasana sempurna yang hanya bisa terjadi di beberapa saat tertentu di ibukota.


Jalanan kota kini tidak seramai hari-hari biasanya karena gempa di malam festival fantasirio menghancurkan beberapa bangunan ibukota, banyak nya properti perusahaan yang hancur menurunkan produktivitas ibukota yang seharusnya setiap pagi adalah pagi yang sibuk.


Singkat cerita karena gempa juga terjadi di kota tempat perusahaan fera berada, maka seminggu setelah malam fantasirio dirinya pergi meninggalkan Dirga, Poppo, dan Rara. Dirinya harus kembali mengurus usaha nya yang di timpa beberapa masalah.


“Kelas nya di batalkan lagi!?” Sebut Dirga dengan kaget membuka handphone nya.


Saat Dirga sedang sibuk mencari informasi dengan handphone nya, Poppo yang sudah menebak dari awal duduk di kursi sambil membuka sekaleng kopi.


“Kalau di pikir-pikir, sekarang sudah mau masuk 1 bulan dan kita bahkan belum ada 10 kali menjalani proses belajar langsung dengan dosen.”


Saat dirga masih sibuk mencari informasi tentang dosen-dosen yang mengajarinya, tiba-tiba handphone nya berdering menunjukkan seseorang dengan kontak yang tidak tersimpan menelponnya.


Dengan perasaan canggung dirga mengangkat panggilan telpon itu, ia memasangkan handphone nya di telinga dan terkejut dengan suara yang terdengar dari handphone itu.


“Kalau tidak salah ini Dirga ya? Bisa kita mengobrol sebentar berdua saja? Ini tentang ayahmu... Kau pasti ingin mendengarnya.” Yang berada di panggilan itu adalah Paul, teman baik ayah Dirga.


Mendengar permintaan dari paul itu Dirga berpisah dengan Poppo di jalan dengan alasan ada urusan penting mendadak, Ia bergerak menuju tempat temu nya dengan Paul di sebuah kafe klasik terletak di dekat apartemen.


Saat sampai di depan pintu kafe itu Dirga sedikit terkejut, karena meskipun dua minggu lalu terjadi gempa yang cukup dahsyat, akan tetapi kafe yang berada di hadapannya tidak menerima kerusakan besar dan masih berdiri tegak.


Terlihat jelas dari beberapa retakkan di dinding kafe yang belum di perbaiki bahwa sebelumnya bangunan ini bertahan dari sebuah bencana, beberapa lantai nya pun masih sedikit rusak namun tak memberikan dampak besar bagi kafe.

__ADS_1


Dirga membuka pintu kafe dan ia dapat melihat paul yang sedang duduk sendiri melambaikan tangannya, Dirga memesan the hangat terlebih dahulu di kafe baru kemudian duduk di meja Paul.


“Hmphh kelihatannya kau termasuk kedalam segelintir orang beruntung ya Dirga?”


“Yah begitulah, ibu pun juga merasa sangat lega mengetahui kondisiku.”


“Syukurlah kalau begitu…”


Paul berhenti sejenak melihati Dirga, yang terlihat oleh Paul sekarang di hadapannya bukanlah Dirga, melainkan sosok Dahl teman lamanya yang sudah lama pergi. Menyaksikan siluet itu, Paul hanya bisa senyum dan tertawa kecil.


“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Dirga yang kebingungan.


“Tak apa, meskpiun tidak selama itu pertemuan terakhir kita, akan tetapi raasanya kau sudah semakin mirip saja dengan Dahl” Sebut Paul sambil mengirup secangkir kopi nya.


“Benarkah? Hahah… terima kasih…”


Begitu teh nya sampai, Dirga dengan segera membuka tas nya dan mengambil kotak bekal buatan rara.


“Apakah kamu keberatan?” Tanya dirga pada paul.


“Ah… tidak, aku hanya tak menyangka bahwa putra Dah; bisa memasak.”


“Memasak? Oh iya… hahahaha, begitulah.” Balas dirga dengan senyum palsu nya yang menyembunyikan rasa panik.


Dirga membuka kotak bekal nya dan mulai makan dengan perlahan, di saat yang bersamaan Paul membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah buku.


Saat Dirga melihat buku yang berada di genggaman paul, dirinya langsung tau, bulunya gemetar seakan-akan visi yang ia tangkap dari buku itu memberikan sebuah sengatan kecil pada tubuhnya.


“Buku itu… apakah itu jurnal milik ayahku?” Tanya Dirga yang menghentikan suapan nya.


“Hebat kau langsung menyadarinya Dirga, omong-omong aku memanggilmu ke sini juga ingin memberikan beberapa pertanyaan, dan yang pertama… bisakah kau ceritakan padaku kakek mu Karsa sang pahlawan perang dan juga cerita perang massa?”


“Bukannya sebelumnya kau bilang ingin membicarakan sesuatu tentang Ayahku?”

__ADS_1


“Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau aku bilang segala sesuatu yang akan kita bahas disini berhubungan dengan Dahl…??”


Next : Rekonstruksi


__ADS_2