
Suasana malam itu masih tergambar jelas dalam ingatan Dirga. Saat dirinya merasa terbebani, mengambil langkah demi langkah sambil membawa rara dengan kakinya yang terluka. Luka-luka menghiasi kaki mungil Rara, mengguratkan kesakitan yang menghantamnya.
Meski letih begitu jelas diwujudkan dalam raut wajah Dirga, namun perasaan lega dan tenang memenuhi jiwanya. Baginya, ia merasa menjadi seseorang yang berarti bagi Rara, sosok yang mampu menolongnya saat kesusahan melanda.
“Apakah masih sakit rara?”
Di balik tirai waktu, sebelum tragedi itu terjadi, ada pertengkaran kecil yang meregangkan jarak di antara keduanya. Rara merasa jengkel dengan kehadiran Dirga, namun di dalam hatinya, terdapat ketakjuban atas nasibnya yang beruntung memiliki Dirga di sisi yang gelap dan ganas ditengah dunia mimpi ini.
“Dirga, bagaimana kamu bisa menemukanku?”
“Tau permainan panas dingin? Menemukanmu itu semudah memainkan permainan itu.”
“Bagaimana maksudnya.”
“Dalam permainan panas dingin, kita dapat mengetahui target dengan kata panas ataupun dingin, semakin panas maka semakin dekat, sedangkan bila semakin jauh maka akan semakin dingin rasanya.”
“Lalu bagaimana kau menemukanku dengan melakukan itu?”
“Layaknya permainan panas dingin, aku bisa merasakannya Ketika kau jauh dan Ketika kau dekat, aura yang kau pancarkan seakan memanggilku, kau pasti merasa ketakutan bukan?”
“Lalu bagaimana sekarang rasanya?”
“Memang agak berat tetapi, aku merasa tenang, aku merasa Bahagia bisa berada di dekatmu.”
“Apa-apaan itu, aneh… hahaha.”
Dua anak itu kemudian Kembali tertawa, bercanda seperti yang seharusnya, meskipun terdapat pertengkaran kecil yang meregangkan mereka, pada akhirnya mereka akan menjadi semakin dekat di sisi satu sama lain.
“Rara… saat kau merasa ketakutan, disaat kau pikir tiada lagi seorangpun di sisimu, disaat kau merasa sendirian, aku akan segera menemukanmu… selalu…”
Bab 2.2 : Hari indah yang lalu
Dirga tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, sosok yang sudah sangat lama tak terlihat oleh kedua matanya, hari-hari indah yang lalu itu terasa seperti sebatas sebuah imajinasi namun pada detik ini semua pertanyaan itu akhirnya terjawab.
Meski tahun demi tahun terus berlalu akan tetapi instingnya tidak merasa salah, meskipun paras nya sudah sedikit berubah akan tetapi perasaan dan aura yang di pancarkan dari sosok dirinya takkan pernah berubah.
“Kau kah Asmaraloka Kirana…”
Dalam sekejap kebingungan dan rasa takut yang terus menghantui rara menghilang, sebuah perasaan yang sudah lama terlupakan, sosok yang selama ini musnah dari ingatannya memunculkan aura yang sama dengan anak laki-laki yang berada di hadapannya.
Hari-Hari indah yang lalu itu langsung terputar kembali di dalam ingatan rara, sosok abu-abu di dalam ingatannya itu kini berada di hadapannya, sosok terakhir yang bisa ia percayakan.
“Kau kah Dirgantara Aksa Diwarna…”
Dirga berlari menuju rara dengan tergesa-gesa hingga kaki nya tersandung dan terjatuh, di saat ia mencoba untuk bangkit rara segera memeluknya erat, terdengar tangisan rara yang sangat keras melepaskan semua letih dan rasa takutnya.
__ADS_1
"Dirga !! Kemana kau selama ini, aku takut !! Aku kesepian !! Hanya kamu, tinggal kami, mengapa kau pergi !! Mengapa kau lama sekali !!"
Dirga mencoba menahan tangisnya, ia memeluk rara dengan erat dan mengelus pelan rambut panjang nya yang halus, tak tergambar perasaan lega dan bahagia yang berada di hati Dirga saat ia merasakan tangisan rara dalam pelukannya.
“Maafkan aku… Maafkan aku… Maafkan aku… sekarang aku disini… kau tak perlu khawatir lagi rara.”
“Jangan pergi lagi!! Aku mohon…”
“Aku tidak akan pergi lagi… aku berjanji tidak akan melepaskan mu lagi.”
Keduanya menangis dengan keras, saling menyayangi satu sama lain, saling mencintai satu sama lain, di iringi hembusan angin malam dan juga suasana malam yang dingin keduanya mencurahkan segalanya.
Segala rindu yang selama ini di pendam akhirnya terlepaskan, semua rasa penasaran dan perasaan abu-abu yang terus menghantui pikiran mereka, juga semua rasa takut dan perasaan khawatir yang terus mengusik hati mereka.
Setelah keduanya melepas rindu seiring waktu berlalu, dirga lihat Kembali wajah rara yang murang itu, ia usap air mata yang masih menetes di matanya lalu mencium kening rara dan Kembali memeluknya dengan erat.
“Aku sudah di sini, apapun yang terjadi saat kau di sana, sekarang aku sudah disini sekarang untukmu.” Bisik dirga di telinga rara
“Kemana kamu pergi selama ini, aku sangat ketakutan, aku kehilangan pikiranku, tidak ada yang bisa ku lakukan sendiri.”
“Maafkan aku, aku terlalu lengah, andai saja aku lebih giat, andai saja aku lebih mampu, aku bisa menemukanmu dengan lebih cepat.”
Rara kemudian menatap wajah dirga dan tersenyum.
“Kamu tidak banyak berubah sejak hari itu, dan lagi kita di pertemukan di tempat ini.”
Dirga kembali memeluk rara dengan erat, di elus nya dengan pelan rambut rara sembari kembali merasakan kehangatan satu sama lain.
Seiring waktu terus berlalu di dunia mimpi, keduanya terus bercerita tentang hari-hari yang mereka lalui di tempat ini, 150 malam yang mereka habiskan bersama semuanya terkenang di satu tempat ini.
Di sepanjang perjalanan mereka menjelajahi dunia mimpi, menuruni bukit, mengelilingi danau, dan melewati sungai-sungai, semakin terlihat jejak-jejak yang ditinggalkan keduanya.
Terbayang oleh keduanya melihat sosok masing-masing bermain di antara tempat-tempat yang di kenang itu, terbayang oleh mereka hal-hal yang biasanya dilakukan bersama.
Keduanya berhenti mengambil rehat sejenak di tempat yang sama bertahun-tahun lalu, sebuah tempat dimana danau memantulkan indahnya Cahaya ribuan bintang dan bulan.
Begitu Dirga kembali menyadari rara yang berada di samping nya, ia tak henti merasakan kedamaian yang sudah lama ia tunggu. Sebuah rasa yang hanya ada Ketika keduanya bersama.
“Rara, banyak sekali hal yang terjadi sejak terakhir kita bertemu… Aku ingin menceritakan semuanya padamu.”
“Memangnya kenapa tidak?”
“Kalau begitu singkat nya saja ya, paman akhirnya berhenti mengunjungi kami, seiring waktu aku dan poppo bisa tumbuh dengan baik-“
“Poppo? Kau masih bersama dengan nya selama ini?”
__ADS_1
“Ya tentu saja, dia sudah sangat membantuku selama ini, aku berhutang banyak padanya… lalu tentang ayahku… aku menerima kabar darinya.”
“Kau menerima kabar darinya? Apa jangan-jangan dia sudah pulang? Dia sekarang sudah di rumah?” Terus tanya rara dengan matanya yang berbinar-binar.
“Dia telah tiada… yahh aku tidak begitu keberatan tentang itu, karena sekarang aku dan ibu sudah tau, bahwa selama dia jauh di sana ia masih terus memikirkan kami…”
Rara melihat Dirga dengan mata nya yang bersinar. Aura yang di pancarkan dirga dan juga perasaan yang di alami rara Ketika bertemu dengannya serasa sangat jauh berbeda ketika ia bersama dengan orang lain, ia kemudian bersandar di bahu dirga menikmati kenyamanan.
“Sepertinya semuanya berjalan lancar ya di sana, aku lega mendengar nya.”
“Syukurlah semuanya berjalan dengan baik, tentu semuanya berkat orang-orang di sekitarku, termasuk dirimu Rara, kaulah yang memulai semuanya.”
Dirga merangkul Rara di bahunya dan seketika muncul pertanyaan di benak nya.
“Bagaimana denganmu rara? Kenapa kau tidak menceritakan apa-apa yang terjadi di sana? Biasanya kau selalu menceritakan hari-hari mu di kakuro.” Tanya dirga penuh penasaran
“Cerita ku? Memang banyak hal yang terjadi, semuanya berpaling padaku, meninggalkanku.”
“Kenapa?? Apakah terjadi sesuatu? Ada apa dengan pasukan bentala? Apakah kalian berpisah karena mengejar mimpi masing-masing?"
“Mereka pergi… untuk selamanya...”
“Rara apa yang…-”
Saat Dirga hendak menggenggam tangan rara, pada saat itu pula ia sadar bahwa tangan rara mulai bersinar dan perlahan sirna. Sebuah kejadian yang sama bertahun-tahun lalu saat mereka akan berpisah dalam waktu yang lama.
Keduanya meratapi satu sama lain dengan perasaan takut, tangan Dirga kembali bergetar dengan melambungnya rasa takut. Rara sendiri tak dapat berkata-kata, begitu dirinya baru menemui sosok yang selama ini ia cari, kini akan kembali hilang dari pandangan nya.
“Rara… ini… apakah dengan seperti ini saja…”
“Tidak… ini masih belum cukup… aku tidak mau pergi.”
Dirga memeluk Rara dengan erat dan seketika badan nya ikut bersinar. Cahaya yang di pancarkan keduanya seakan menyatu menjadi sebuah inti yang terus bersinar terang.
“Rara… bertahanlah !! aku tidak akan melepaskan mu !!”
Lalu seperti sebuah kedipan mata, dirga menyadari dirinya sudah berada di apartemen. Alarm nya berbunyi keras dan Ketika ia mengambil handphone nya menunjukkan pukul 09.00 di pagi hari.
“Kelas pertama hari ini siang hari ya…”
Dirga menatap langit-langit apartemen sambil mengusap kepala nya yang kesakitan, mimpi di malam itu masih terputar di dalam ingatannya dan begitu ia memikirkannya ia mulai menangis.
Akan tetapi saat Dirga hendak bergerak ia merasakan sesuatu yang berat sedang menimpanya, saat ia buka selimut yang menutupi badan-nya dirinya tak percaya dengan apa yang di lihatnya
“Ra… Rara !!?”
__ADS_1
Next : Hari indah sekarang