After 150

After 150
Gertakan


__ADS_3

Terlihat bagai langit yang retak, retakkan itu terus turun dari langit menuju bumi lalu menghasilkan sebuah gertakan, itulah yang di saksikan para peneliti di zona masa.


Pasca perang masa, terdapat beberapa area yang di klaim sebagai zona masa, area itu di tandai oleh pemerintah sebagai tanah yang di atas nya tidak boleh ada satu orang pun atau bangunan apapun yang berdiri di atasnya.


Pemerintah mengklaim bahwa area itu menghasilkan semacam gas beracun dan juga rentan terkena bencana seperti gempa, meskipun sudah bertahun-tahun lalu berlalu sejak perang masa berakhir, masalah zona masa tak kunjung di selesaikan.


Belakangan hari ini orang-orang mulai bertanya tentang zona masa dan juga misteri perang masa, hal ini di karenakan retakkan yang di saksikan di langit zona masa yang kemudian menghasilkan gempa ke daerah sekitarnya.


Di sisi lain, peternakan dan pertanian yang terletak di sekitar zona masa sering terkena musibah berupa hewan ternak yang mati dan gagal panen, belum lagi gempa yang terus menimpa daerah-daerah tersebut.


Keadaan ini mengakibatkan krisis sumber daya dan juga entah bagaimana krisis sejarah, konspirasi sejarah terus bermunculan karena perang masa memiliki akhir yang terlalu klise bagi orang-orang sedangkan dampak yang di akibatkan nya justru tidak sesuai.


Negara-Negara kontinen barat kini di timpa masalah besar.


Bab 2.5 : Gertakan


Karena jam kuliah di tiadakan, dirga langsung saja bergerak pulang ke apartemen, karena waktunya senggang ia memilih jalan yang lebih tenang jauh dari keramaian pejalan kaki di jalur utama.


Di dalam perjalanan nya, dirga melewati taman bermain kecil anak-anak dan Kembali melihat payung nya sedang di pegang oleh seorang anak perempuan yang sedang duduk di ayunan mengenakan seragam sma di sekitar.


“Payung itu… payungku bukan??” Tanya dirga menghampiri anak perempuan itu


“Ahh bukan, aku sedang menunggu… seorang… om-om?” Saat perempuan itu melihat jaket dirga yang sama dengan sosok yang di tunggu nya, seketika ia langsung terkejut.


“Mungkin yang kau maksud om-om itu… aku, kau yang sedang duduk disini saat hujan beberapa waktu lalu bukan.” Tanya dirga.


“Ehh… Ehh… EHH!!?” Teriak anak perempuan itu


Dengan cepat anak perempuan itu segera meminta maaf ke dirga karena salah menganggapnya sebagai seorang om-om.


“Maafkan aku kak !! aku tidak tau apa yang ku lihat waktu itu !!”


“Tidak apa-apa lagipula aku juga menutup wajah dengan jaket waktu itu (Akhirnya dipanggil kak)”


“Aku merasa sangat tidak enakan, padahal kakak juga baru membantuku kemarin…” Ujar anak perempuan itu dengan murung


“Yahh tidak apa-apa Namanya juga kurang tau, lagipula bagaimana sekarang? Sudah baikan?”


“Sudah baikan..? Ahh kemarin itu aku hanya ingin waktu sendiri saja, tidak ada masalah apa-apa.”


Dari melihatnya saja dirga sudah tau kebohongan di balik anak perempuan itu, yang di saksikan dirga di saat hujan itu sudah tidak salah lagi ada suatu masalah yang terjadi padanya.

__ADS_1


Dirga kemudian mengambil payung nya dari anak perempuan itu lalu duduk di kursi ayunan di sebelahnya.


“Saat di usiamu, aku masih dipenuhi rasa bingung dan bimbang dan sekarang aku sudah berhasil mengatasinya, namun tetap saja masalah akan datang terus menerus, bagaimana denganmu?” Tanya dirga pada anak perempuan di samping nya.


“Bagaimana denganku?”


“Menangis itu salah satu cara terbaik untuk melepas rasa Lelah, lalu apa yang membuatmu seperti itu?”


“Aku… tidak mengerti pikiran orang-orang…”


Nama anak perempuan itu adalah Aileen, seorang siswi sekolah menengah atas yang tengah menikmati masa Golden Age dengan paras nya sungguh indah, meskipun begitu, darinya dirga dapat melihat penampilan bukanlah segalanya.


Beberapa hari lalu dirga melihatnya sedang duduk sendirian di tengah hujan, dari raut wajahnya terlihat tiada ekspresi lain yang dapat menjelaskan perasaan nya di hari itu selain kesedihan, tiada kata yang dapat menjelaskan isi pikirannya selain tersesat.


Di siang menjelang sore aileen menceritakan semuanya pada dirga dan aileen tak sedikitpun mengangkat kepalanya saat bercerita, ia terus merunduk dengan raut wajah nya yang terlihat murung.


Aileen berpikir bahwa kecantikannya itu merupakan sebuah kutukan yang di berikan padanya, dengan paras yang cantik dan pekerjaan sampingan nya sebagai bintang SMA dirinya justru di jauhi oleh siswi lain di sekolahnya.


Di tengah keramaian ibukota ini dirinya hanya sendiri, tiada satupun orang yang bisa menemaninya dan menerima dirinya apa adanya.


Keseharian yang di hadapinya selalu menahan cacian para siswi di sekolahnya, karena selalu menarik perhatian para lelaki dan juga tuntutan oleh orang-orang agar menjadi sosok yang sempurna.


“Lalu kenapa? Tidakkah kau punya seseorang? Sosok yang dapat menjadi rumahmu?”


“Aku sendirian, aku tidak punya keluarga disini, sedangkan di sekolah para siswi membenciku dan para siswa tidak menganggap ku sebagai manusia biasa, saat mereka melihatku yang ada di pikiran nya adalah sosok bintang SMA yang tampil sempurna layaknya malaikat.”


“Itu tidak benar, karena dari awal manusia itu di ciptakan berpasang-pasangan.”


“Itu hanyalah ungkapan dari buku tua, dunia terus berubah.”


“Aku mengenal seseorang yang sekiranya sama seperti dirimu, percayalah kau hanya belum menemui orang itu, atau mungkin kau sudah lama mengenalnya tetapi kau hanya tidak menyadarinya.”


Begitu dirga menyebutkan itu, kembali teringat di dalam pikirannya rara, hanya rara sendiri di antara kekerasan dunia, sudah tiada lagi tempat baginya untuk pulang kecuali satu dirga sendiri.


Lalu seketika, di tengah sore yang sunyi dan tenang itu bumi berguncang, handphone dirga dan aileen berdering memberikan peringatan gempa dengan kemungkinan berkekuatan skala ritcher 4.


Seketika dalam pikiran dirga terpancar rara yang sedang sendirian di kamar apartemennya, lalu dengan cepat dirga segera berlari meninggalkan aileen dan mengejar rara.


“Mau kemana!?”


“Kita sudahi dulu !! segeralah mencari tempat aman !!”

__ADS_1


Butuh waktu sekitar 1 sampai 2 menit bagi dirga untuk sampai ke apartemen dengan berlari, di sepanjang jalan nya gempa tak kunjung berhenti dan dirga terus terjatuh, namun ia segera berdiri dengan rara yang terus dipikirannya.


Di sepanjang perjalanan itu terlihat orang-orang dengan panik bergerak keluar dari bangunan-bangunan mencari tempat yang aman, di depan apartemen orang-orang berbaris di titik kumpul dengan perasaan cemas.


Tanpa pikir panjang dirga langsung menuju pintu masuk lobi, saat lengan nya hampir menggapai gagang pintu tiba-tiba seseorang menarik lengan nya dan mencoba membawa dirga Kembali ke keramaian.


“Lepaskan aku !! masih ada orang di dalam !!” Teriak dirga mencoba melepaskan diri.


“Dirga !! Aku disini !!” Teriak orang tersebut.


Saat dirga berbalik ia melihat bahwa orang yang mencoba untuk mencegahnya masuk adalah rara, rasa takut tergambar jelas dari wajah rara dan dengan segera dirga memeluknya dengan erat.


“Syukurlah!! Kupikir terjadi sesuatu padamu…”


Dengan seketika gempa berhenti, orang-orang di sekitar titik kumpul menjadi lebih tenang dan segera berlari masuk kedalam, di antara keramaian itu dirga tak melepas rara yang berada di pelukannya.


Setelah orang-orang masuk, keduanya dirga dan rara berpegangan tangan berjalan perlahan memasuki lobi terus hingga sampai di depan pintu apartemen, dirga membuka pintu dan kondisi ruangan sudah berantakan.


Keduanya hanya bisa tersenyum melihat satu sama lain dan melangkah masuk kedalam ruangan yang terlihat seperti kapal karam, di sore menjelang malam dirga merapikan posisi barang-barang dan rara membersihkan ruangan.


Tak perlu lama, waktu menunjukkan pukul 8 malam dan keduanya terduduk lemas di sofa ruang tengah setelah merapikan ruang apartemen, meski keduanya kelelahan namun di dalamnya dirga dan rara menikmati momen-momen itu.


Tragedi terjadi di antara keduanya, namun di saat keduanya menyadari masih memiliki satu sama lain, dengan cepat perasaan lega itu akan memperkuat hubungan di antaranya.


Pukul 9 malam, setelah keduanya selesai makan malam dan membersihkan piring dirga selalu menggenggam tangan rara hingga ia jatuh tertidur, menurut rara tiada rasa yang lebih damai selain merasakan kehangatan dirga.


Setelah rara tertidur pulas, dirga Kembali duduk di sofa ruang tengah dan dirinya tersenyum, rasa kecewa dan penyesalan takkan menghasilkan apa-apa, semuanya pasti akan berlalu dan dirga hanya perlu terus menjalani kehidupannya bersama rara.


Karena hanya dengan menjadi rumah satu sama lain, sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan segala ketakutan dan kecemasan.


Di pagi harinya, dirga dibangunkan oleh suara ketukan yang keras dan cepat, di dalam pikirannya yang menunggu di depan pintu hanya poppo seperti biasa, oleh karena itu dengan santai ia berjalan menuju pintu.


Namun saat ia membuka kunci dengan cepat sosok yang menunggu diluar menendang pintu dan mendorong dirga hingga terjatuh, dengan kepala yang pusing dan pikiran yang baru bangun dari tidur seketika driga dikejutkan oleh sosok yang bertamu.


“DIRGA !! APA KABAR LEMBEK!?” Teriak sosok itu dengan poppo di belakang nya.


“Kak… Fera !!?”


- Continue


Next : Fera

__ADS_1


__ADS_2