After 150

After 150
Bersama lagi (2)


__ADS_3

“Kakanda, buka pintunya… tolong maafkan aku, tubuhku bergerak dengan sendirinya, aku tak bisa melakukan apa-apa…” Sahut Alex yang terus mengetuk pintu kamar rara.


Momen itu masih teringat jelas dalam pikiran rara, saat dirinya menyaksikan secara langsung bagaimana seorang predator mencabik-cabik mangsanya, saat cipratan darah mengotori wajahnya, dan bagaimana di akhir satu-satu nya orang yang bisa ia percaya di istana membunuh satu-satu nya harapan terakhir rara dari Kakuro.


Saat pedang itu menembus badan Karsa, Rara di hadapkan dengan bilah pedang yang tajam berlumuran darah. Rara melihat wajah karsa yang menderita dan seketika keluar gumpalan darah dari mulutnya.


Di saat-saat terakhirnya, Karsa tersenyum di depan Rara dengan darah yang masih menetes dari mulutnya lalu terjatuh di pangkuan Rara.


Melihat Karsa jatuh di pangkuannya, seketika pikiran Rara hancur. Semuanya bercampur aduk dan rara berteriak histeris, ia menangis, ia tertawa, emosi yang tak terkendali menguasai Rara.


Alex dengan segera menyingkirkan mayat Karsa dan memeluk Rara dengan erat. Momen itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, diapun tak sadar dengan apa yang ia lakukan, tekanan untuk melindungi kakandanya seakan-akan mendorong dirinya untuk bergerak tanpa berfikir panjang.


“Kakanda, apa yang harus kulakukan… tolong maafkan aku.”


“Pergi sana !!” Balas rara dengan teriakan


Mendengar tolakan keras dari kakanda nya Alex tak bisa berkata-kata lagi, dengan murung ia berhenti mengetuk pintu lalu pergi meninggalkan ruangan rara.


Sudah 2 minggu berlalu sejak istana di guncangkan oleh para revolusioner dan juga black cult. Di ujung-ujung peristiwa itu, alex dan Gaust berhasil menyapu habis para penyusup di istana bersama dengan pasukan khusus kerajaan.


Pemimpin dari Black Cult berhasil di taklukkan hari itu dan untungnya raja bersama dengan anggota keluarga kerajaan lainnya di pastikan selamat dari kejadian yang menggemparkan itu.


Akan tetapi, meskipun kondisi di istana sudah membaik krisis yang menimpa kerajaan belum berakhir. Semakin hari krisis yang menimpa Purva semakin buruk.


Gempa tak henti-henti mengguncang Purva yang kemudian menghancurkan banyak pedesaan dan ladang pertanian. Selain itu, kelaparan di semenanjung Purva juga terus meningkat seiring waktu.


Di tengah kekacauan ini saat rakyat terus bertanya sang raja hanya menjawab.


“Krisis ini akan segera berakhir, aku akan menjamin nya, dan hingga hari itu tiba kita harus bisa bersabar dan bertahan, yang maha kuasa pasti akan menyelamatkan kita semua !!” Sebut sang raja dalam pidatonya di hadapan ribuan orang rakyatnya.


Disaat keluarga istana mencoba yang terbaik untuk mempertahankan kondisi kerajaan, Rara hanya mengurung dirinya di kamar. Selama berhari-hari dirinya tidak keluar dari ruangan dan tiada satupun yang dapat memasuki ruangannya.


“Aku sudah tak tahan lagi… apa artinya…”


Rara menggenggam sebuah pisau di tangannya dan menatap nya dengan badan yang gemetar. Pikirannya sudah menggila, dari awal di kakuro ia tak menyangka pada akhirnya akan berada di kondisi seperti sekarang.


Tak terhitung upaya yang di lakukan Rara untuk mengakhiri hidupnya namun, pada akhirnya ia tak kunjung melakukannya. Setiap kali dirinya mencoba pada akhirnya dirinya akan terus berteriak dan melempar pisau itu menjauh.


Alex yang terkadang mendengar teriakan itu hanya bisa jatuh terdiam menyesali perbuatannya, sosok kakanda yang dulu ia miliki kini telah kehilangan pikirannya.


Di suatu hari Rara menyadari sesuatu, saat ia di bawa lari ke rubanah ia menyaksikan banyak orang di dalam kurungan. Akan tetapi, di antara orang-orang itu teradapat satu yang terlihat familiar, terasa seakan dirinya pernah melihat sosok itu di suatu tempat.


“Kakanda… aku membawakan makanan untukmu, ku letakkan saja di depan pintu seperti biasa.”


Saat Alex hendak mengambil makanan yang ia letakkan sebelumnya, piring itu terlihat seakan tidak tersentuh oleh Rara sama sekali. Dengan hati yang berat, Alex menggantikan makanan yang sudah dingin dengan yang lebih hangat lalu lekas pergi.

__ADS_1


“Kakanda harus makan agar bisa merasa lebih baik, dan juga… apakah ada perlu sesuatu?? …” Alex berhenti sesaat di depan pintu kamar kakak nya menunggu jawaban, dan tepat saat ia hendak pergi terdengar suara kakandanya.


“Alex, apakah kau tau… dimana ibu kita berada…” Sebut rara pelan dari balik pintu.


Alex berpikir dirinya selalu siap mendengarkan kakandanya dan memberinya jawaban, akan tetapi mendengar pertanyaan kakanda nya yang telah lama tak di dengar ini, Alex terdiam sejenak dan berpikir.


“Ada apa itu Alex? Kau pasti tau sesuatu kan? Aku menyaksikan seseorang yang terlihat familiar di rubanah, kau pasti tau sesuatu tentang itu bukan? Apa aku salah Alex?”


“Ya aku tau satu atau beberapa hal tentang itu kakanda, lalu apa yang kau inginkan tentang itu, apa yang ingin kau tau.”


“Kalau begitu, antarkan aku ke rubanah… sekarang…


“Rubanah? Sekarang?”


Setelah sekian lama pintu kamar sang putri akhirnya perlahan terbuka, dalam sekejap alex menyaksikan rara yang telah lama tak ia lihat lalu segera membalikan badan nya.


“Bagaimana? Apakah kau keberatan alex?”


“Kakanda, setelah sekian lama tidak keluar kamar tempat pertama yang ingin kau kunjungi adalah rubanah.”


“Ya benar, apakah ada yang salah dengan itu? hanya tempat itu yang ingin ku kunjungi sekarang.”


Alex menarik panjang nafas nya dan terpaksa ia mengabulkan permintaan kakandanya.


Alex membawa Rara menuju rubanah sesuai permintaan. Di sepanjang Lorong istana, pandangan orang teralihkan ke Rara yang sudah sangat lama tak terlihat wujudnya, Paras nya yang cantik dan anggun sama sekali tidak berubah semenjak orang-orang mulai mengkhawatirkannya.


Sesampainya di rubanah Alex dan Rara di sambut oleh penjaga dan mereka berjalan mengitari rubanah itu dengan arahan sang penjaga.


Di tempat itu Rara menyaksikan banyak tahanan dan juga tempat dimana Karsa terjatuh di pangkuannya.


Para tahanan yang di kurung di sini telah melanggar hukum tertinggi dan terberat di kerajaan, begitu mereka di kurung disini tidak akan ada lagi yang menyelamatkan mereka.


“Mereka akan terus di sini sampai akhir hayat mereka?”


Mendengar pertanyaan Rara itu sang penjaga menarik nafas panjang dan dengan berat menjawab.


“Lebih tepatnya, sebagai hukuman tulang belulang mereka pun akan tetap disini hingga menjadi debu.”


Setelah sekian saat berjalan, rara terhenti di depan sebuah sel, ia melihat tahanan yang berada di dalam sel itu dan ternyata serupa dengan tahanan yang ia curigai sebelumnya. Sosok tahanan itu terkesan familiar dalam ingatan Rara seolah siluet wujudnya pernah terlihat.


Rara menatap sang penjaga dengan wajah yang diselimuti rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca.


“Siapa yang berada di sel ini? Siapa tahanan ini?”


“Yang mulia putri… tahanan yang ada di sel ini adalah-”

__ADS_1


“Penjaga, buka sel nya… biar dia pastikan sendiri.” Jawab Alex yang menyela sang penjaga


Dengan terburu-buru sang penjaga mengecek kunci yang berada di saku nya dan segera membuka pintu sel, begitu pintu itu terbuka rara masuk dan langsung mendekati tahanan tersebut.


Saat rara membuka kerudung yang menutupi hampir seluruh wajah tahanan ia terkejut melihat wajah yang tersembunyi itu. Seketika seluruh badan nya gemetar dan pikirannya pusing. Begitu sang tahanan menyadari rara, ia mengelus pelan wajah rara dan kemudian tersenyum halus.


“Kau Gadis yang sangat cantik ya…” Sebut tahanan itu.


“A… Aku… Apakah aku mengenalmu?”


Rara langsung sadar, wajah tahanan itu terlihat sangat mirip dengan wajahnya yang setiap hari ia lihat di cermin.


“Kakanda… Wanita itu adalah…”


“Kenapa Alex, apa yang telah di lakukannya? Kenapa raja tega melakukan ini?”


“Sang ratu ditahan atas tuduhan terlibat dengan kasus pencurian sang putri bertahun-tahun lalu.” Jawab penjaga


“Pencurian putri? Apakah itu aku?” Sekali lagi tanya rara sambil melihat alex dan penjaga yang menundukkan kepala.


“Anda benar yang mulia putri, melakukan tindakan itu sama dengan menentang dewa, oleh karena itu dengan perintah pimpinan tertinggi senat agama, sang ratu diberi hukuman rubanah.”


“Alex, apakah kau dan juga raja… Ayah menerima ini? Kalian menerima ini?” Tanya Rara sambil mendorong Alex hingga terjatuh.


“Memang dunia rusak yang kita tinggali saat ini, oleh karena itu saat menjadi raja nanti aku akan merubah semuanya… aku akan memperbaiki semuanya, pegang kata-kataku kakanda…”


Rasa muak memenuhi Rara membuatnya segera pergi dari sel itu meninggalkan Alex, ia pergi sendirian dari rubanah kembali ke kamarnya lalu sekali lagi mengunci pintu.


Di dalam kamar nya Rara terbaring lemas di kasur meratapi langit-langit sambil memikirkan segala hal yang sudah terjadi, ia melihat pisau yang tergeletak di karpet dan kemudian mengambilnya.


Saat ia meratapi bilah pisau yang mengkilap itu tetesan air mata jatuh membasahi pisau, ia kemudian meletakkan pisau itu dan menangis di kasur.


Dirinya sudah benar-benar menyerah, dirinya berpikir bahwa seharusnya sudah tidak ada lagi alasan baginya, sudah bulat pilihan untuk benar-benar pergi agar dapat kembali bersama yang lainnya jauh di sana.


Tanpa sadar rara jatuh terlelap dalam tangisnya, begitu ia membuka kembali matanya yang ia lihat adalah langit malam yang dihiasi ribuan bintang dan bulan sabit yang bersinar, di hadapannya ada sebuah danau yang besar mengkilap memantulkan cahaya langit.


Terdengar suara Langkah kaki di samping dan saat dirinya menoleh rara tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebelumnya ia pikir di dunia ini tidak ada lagi seorang pun yang dapat ia percaya, sudah tidak ada lagi orang tersisa di masa lalu nya.


Akan tetapi ia salah… ia melupakan seseorang… seseorang yang sangat berharga baginya.


“Kamu kah Dirgantara Aksa Diwarna…”


“Kamu kah Asmaraloka Kirana…”


Next : Hari indah yang lalu

__ADS_1


__ADS_2