
“Lantas kenapa… apa yang ku lakukan…”
Dirga menggenggam tangan rara yang terbaring di kasur dengan lebih erat, wajahnya yang berusaha untuk bertahan seketika langsung hancur setelah melihat rara tertidur pulas, dirga tak ingin dirinya di lihat oleh rara dalam kondisi terburuknya.
“Pegang janjiku, aku tidak akan melepaskan mu lagi… rara…”
Setelah beberapa saat, dirga berdiri dan beranjak keluar dari kamar membiarkan rara tertidur, di tengah keheningan malam ruangan itu dipenuhi kegelapan yang melukiskan kesedihan yang terpendam dalam hati Dirga.
Di saat rara bersusah payah untuk membuat dirinya tetap waras, di sisi lain dirinya hanya bersantai menikmati waktu-waktu hidupnya yang seiring waktu terus berjalan membaik, itulah yang berada di pikiran dirga saat ia membandingkan dirinya dengan sosok rara yang telah berjuang.
Duduk sendirian di sofa ruang tengah, tidak ada apapun selain kegelapan yang mengawasi, dirga melepas segalanya setelah mendengar cerita rara, rasa kecewa, sedih, amarah, bagi nya tak terbayang rasa pahit yang di alami rara.
“Aku akan membuatmu Bahagia, melindungi senyum mu yang sekarang, aku akan memberikan segalanya, itulah janjiku rara…”
Bab 2.4 : Janjiku
Pagi ini ada kelas yang menunggu dirga, dirinya tertidur di sofa sementara alarm handphone nya berdering dengan sangat keras, meskipun sinar matahari dari jendela juga menyinari wajahnya ia tak kunjung terbangun dari tidur lelap nya itu.
Sementara itu rara justru terbangun dari tidur nya karena suara alarm dirga yang terdengar hingga ke kamar, rara bangkit dari tidur nya dan saat ia keluar dari kamar dirinya melihat dirga yang sedang duduk tertidur lelap di sofa.
Rara menghampiri dirga yang terlelap lalu duduk di samping nya menyadari mata dirga yang bengkak, karena merasa khawatir, saat rara hendak membelai wajah dirga seketika ia terbangun dari tidur nya dan memegang tangan rara yang mencoba untuk membelainya.
“Ahh, rara… kamu sudah bangun ya? Maaf mungkin suara alarm mengganggumu.” Sebut dirga yang baru terbangun dan segera mengambil handphone nya.
“Aku tidak apa, apakah sesuatu terjadi padamu dirga? Kenapa matamu begitu bengkak dan merah?” Cemas rara
“Benarkah? Mungkin karena aku masih mengantuk, hahahah kemarin memang hari yang melelahkan soalnya.”
Dengan cepat dirga kemudian bangkit dari sofa dan segera Bersiap untuk pergi kuliah, sementara itu rara yang merasa cemas melihat dirga langsung saja ke dapur dan mencoba untuk membuatkan sesuatu.
Saat dirga hendak pergi, ia melihat rara yang duduk di meja makan dengan semangkuk sup hangat di meja makan.
“Terburu-buru sekali, kenapa tidak makan dulu.” Ajak rara
“Tidak usah, kelas akan segera dimulai dalam beberapa menit, kalau lebih lama lagi mungkin aku bisa telat.”
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, rara bangkir dari kursi dan mengambil mangkuk sup yang ada di meja, ia bergerak ke arah dirga dan menyuapkan sesendok sup ke mulutnya.
“Pagi ini kau sudah cukup membuatku khawatir, tidak bisakah kau duduk sebentar menikmati makananmu sebelum beraktivitas?"
“Khawatir? Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku begitu, tadi aku hanya mengantuk, tidak ada masalah apa-apa.” Jawab dirga yang langsung menelan makanan nya.
“Kalau begitu kenapa matamu masih bengkak? Lalu bagaimana juga dengan luka-luka yang ada di telapak tanganmu!?” Sebut rara sambil mengangkat tangan kanan dirga.
Rara menatap dirga tepat di mata nya, sementara dirga tidak berani melihat rara yang menatapnya dengan serius lalu mencoba mengalihkan pandangan.
“Apakah itu karena kau mendenga-”
“RARA !! Tidak ada yang perlu kau cemaskan oke? Aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir.” Tegas dirga memegang bahu rara yang dihadapannya.
Dirga kemudian menghabiskan sup miliknya dengan beberapa suapan cepat dan segera bergerak ke pintu apartemen, sebelum dirinya pergi ia melihat rara yang dengan cemas melihatinya dari ruang tengah.
“Kau hanya berpikir berlebihan, aku baik-baik saja kau tidak perlu memikirkan apapun, aku akan pulang sore hari nanti jadi kau bisa lakukan apa saja di apartemen oke? Aku pamit ya.” Sahut dirga melambaikan tangan nya dan kemudian berjalan keluar.
Di sepanjang jalan menuju kampus sesungguhnya dirga masih memikirkan masa lalu rara dan menyesali perbuatannya, hingga di tengah jalan dirga menyadari bahwa dirinya berangkat sendirian.
Pada akhirnya setelah sampai di kampus, poppo langsung mencari dirga dan habis-habisan memarahinya karena pergi sendirian tanpa menunggu.
Dari jam kuliah pertama dirga hanya diam dan terus merenung, di dalam benak nya masih tersangkut rasa kecewa dan penyesalan yang tak kunjung pudar, poppo yang menyadari tingkah laku dirga pun tak tinggal diam.
Tiada angin atau apapun, tiba-tiba entah dapat pikiran darimana poppo memukul telinga kanan dan kiri dirga di saat bersamaan dengan kedua tangannya yang kemudian langsung menyadarkan dirga.
“Woi !! Apa maksudnya itu barusan !?” Kesal dirga.
“Masih punya nyawa rupanya, kukira sudah terbang entah kemana.” Balas poppo
“Hah? Apa maksudnya itu?”
“Terus terang saja, ada sesuatu yang terjadi? Di antara kau dan rara…”
Mendengar pertanyaan poppo itu, dirga memalingkan wajahnya dan Kembali merenung.
__ADS_1
“Kalau nggak jawab ku tepuk lagi ni.” Seru poppo
“Yasudah… iya iya!!”
“Yahh dasar, kau payah kali jadi seorang pria, malam pertama jadinya sedih seperti itu.” Ledek poppo
“Maksudnya malam pertama apa hah? Mau aku aja yang mukul?”
“Kalau begitu apa yang terjadi? Aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun sangat mudah bagiku membaca tingkah lakumu.” Ujar poppo.
“Aku tidak bisa menceritakan semuanya, ini tentang masa lalu rara…”
Mendengar jawaban dirga itu, poppo seakan mencoba untuk menyembunyikan tawa nya.
“Ku pukul nih, serius.” Keras dirga yang mulai merasa jengkel
“Yahh kalau kau tidak bisa cerita mau bagaimana lagi, itu urusan kalian… saran dariku yahh, coba saja selesaikan puzzle nya, soalnya kau yang paling ahli dalam mengurus teka-teki bukan?” Ujar poppo yang kemudian berdiri dan meninggalkan dirga.
“Lah mau kemana? Sebentar lagi jam siang akan segera dimulai.” Tanya dirga
“Aku ada kesibukan lain, lagipula tebakan ku dosen nya tidak akan masuk lagi."
“Lahh kenapa begitu? Kemarin saja sudah nggak masuk masa iya hari ini nggak masuk lagi.”
“Jangan pura-pura bodoh dirga, kau tau sendiri kan kondisi yang menimpa negri kita sekarang? Terlebih lagi kita ini adalah mahasiswa jurusan sejarah.”
Ternyata yang dikatakan poppo benar saja, dosen yang seharusnya mengajar tidak hadir untuk hari ini.
Belakangan ini negri kontinen barat sedang di timpa banyak masalah disertai dengan konspirasi dimana-mana, mulai dari gempa yang terus terjadi di titik krusial perang yang dimana semakin hari semakin kuat guncangan nya, juga disertai muncul nya beberapa teori tentang pemalsuan sejarah perang masa.
Sejauh ini tentang gempa di titik krusial perang belum mencapai ibukota, akan tetapi teori tentang pemalsuan sejarah menjadi topik hangat dimana-mana terutama pada orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan konspirasi pemerintah.
- Continue
Next : Gertakan
__ADS_1