
*Flashback sebelum timeskip*
Setiap nama memiliki arti dan makna bagi sosok yang mengembannya, seperti Asmaraloka Kirana yang berarti sinar indah yang penuh cinta kasih sangat mencerminkan sosok dirinya sebagai seorang perempuan yang bersinar di tempat asal nya, lalu bagaimana dengan sosok dirgantara aksa diwarna?
“Kau tidak pernah bertanya pada ibu mu soal itu?” Tanya rara dengan tatapan penasarannya
“Ibuku sendiri saja kurang tau apa makna dari kata-kata itu, karena yang memberiku nama itu… Ayah ku.”
Sesaat suasana di dunia mimpi menjadi sunyi
“Aku pun juga tidak tau siapa Ayah ku sesungguhnya bahkan ibu ku juga aku tidak tau, siapa mereka sebenarnya...” Sebut rara sambil melihat ke langit nan jauh.
“Memang nya yang memberi nama mu itu??”
“Itu ibuku, dan ia sungguh berharap pada bibi suatu hari aku dapat menjadi sosok yang mencerminkan nama indah itu…”
Dirgantara Aksa Diwarna terdiri dari tiga kata Dirgantara, Aksa, Adiwarna, yang berarti ruang yang ada di sekeliling dan melingkupi bumi (Dirgantara), Jauh (Aksa), dan sesuatu yang mencerminkan keindahan (Adiwarna), apa yang ia harapkan padaku dengan memberi nama itu? bagaimanakah diriku seharusnya di pandangan pikiran dan kedua matanya? apakah yang harus aku gapai?
Jawaban itu pun sedikit terjawab dari sekuncup surat yang ia kirimkan kala itu, surat yang berisi beberapa kata itu memberi ku secercah cahaya, jantungku berdebar setiap kali mendengar kata-kata yang di pancarkan surat itu, dengan surat itu aku masih bisa berpikir bahwa jauh di sana ia masih memikirkan kami disini.
Tapi itu hanyalah sebuah kebohongan…
Aku selalu menunggu nya dan surat-surat yang akan ia kirimkan di setiap tahun nya, waktu terus berlalu namun harapan ku pada dirinya tak kunjung pudar, apakah dia telah melupakan kami…?? Memberi kabar saja tidak bisa apalagi Kembali bersama kami.
Semakin aku tumbuh aku selalu melawan rasa kecewa yang menimpaku setiap tahun nya, namun hingga pada waktu nya rasa percaya itu akan luntur, harapan-harapan itu tak dapat berlangsung selamanya, semakin seseorang tumbuh dewasa ia akan di sadarkan dengan kenyataan yang berada di sekitarnya dan secara perlahan ia akan berubah.
Waktu terus berlalu dan tak terasa sudah 3 tahun Aku dan Poppo melewati masa SMA kami, di usia yang ke 17 kami lulus sekolah menengah atas dengan predikat yang sangat memuaskan, pada hari perpisahan tiba aku merasa sangat bangga saat namaku di panggil sebagai siswa terfavorit.
Dengan bangga aku melangkah maju ke atas panggung dan menerima penghargaan serta beasiswa atas segala yang telah kugapai selama menduduki bangku sekolah menengah atas, Saat aku berada di atas panggung aku melihat ke barisan kursi orang tua dan terdapat ibu yang tersenyum lebar menunjukkan wajah bangga dan bahagianya.
Tetapi saat aku melihat orang tua lain pergi berpasangan, ibuku hanya duduk seorang diri di sana... di balik perjalanan hidupku yang mulai membaik sejak 7 tahun terakhir, Masih ada masalah keluarga yang masih belum terselesaikan.
Paman yang dulunya sering berkunjung kini sudah tak terlihat lagi dirinya sejak ibu mulai berani melawan, di suatu malam melihatku jatuh pingsan setelah mencoba untuk melawan paman ibu tak hanya diam, ia mengambil pemukul yang berada di ruang tengah mencoba untuk melawan paman, walaupun perlawanan itu tak terlalu berdampak namun di saat yang tepat poppo dan Ayah nya datang membantu kami.
Sejak saat itu kehidupan kami semakin baik, di tambah lagi dengan bantuan poppo dan keluarganya ibu juga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sudah tak ada lagi yang mengganggu kami, akan tetapi kami tetap tidak bisa mengabaikan ketidakhadiran dirinya.
Setidaknya aku berharap ia datang berkunjung di hari yang istimewa ini lalu dengan bahagia berkata "Aku sungguh merasa bangga dan bahagia mempunyai anak sehebat dirimu..." cukup mengatakan kata-kata itu saja pasti akan melelehkan hati setiap anak setelah di sampaikan oleh orang tua tercintanya.
Aku berjalan perlahan menuruni panggung dan menghampiri ibu, aku memeluknya dengan erat, aku bisa merasakan tubuh ibu melemas saat ia memelukku dan aku dapat merasakan kesedihan itu secara langsung menusukku, rasanya sakit seakan aku akan menangis karena ibu berjuang seorang diri membesarkan ku.
Saat perasaanku dan ibu mulai memburuk, Tiba-Tiba Poppo datang menepuk punggung ku dari belakang selagi berkata.
"Berbahagialah sobat, Ini adalah harinya!! Hari dimana kita lulus!! bukannya selalu kau impikan??" Sahut poppo dengan gembira.
Kemudian orang tua poppo juga datang menghampiri kami, dan dengan kehadiran mereka rasa sedih yang kami pendam menghilang
__ADS_1
"Terima kasih sobat... Tak terhitung lagi berapa banyak hutang yang kumiliki terhadapmu..." (Dirga)
"Aku juga sangat berterima kasih tahu... Bila kau tak membantuku waktu itu, entah apa yang akan terjadi padaku..." (Poppo)
FANTASTIC DUO, Itulah aku dan poppo, sebuah pertemanan yang di awali dengan sebuah tawaran berkeuntungan sepihak, Dan pastinya tidak akan berakhir disini...
Sesampainya di rumah aku terus menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibu, di saat sore menjelang malam ibu biasanya duduk di teras sambil menyaksikan matahari terbenam, itulah waktu yang tepat menurutku.
Aku segera beranjak keluar dan duduk di kursi rotan di samping ibu, Kami bercerita tentang masa lalu, hal-hal indah yang telah berlalu dan momen-momen yang mengubah hidup kami, di teras rumah sore hari itu aku dan ibu tertawa, perasaan lega mengalir seiring kami mengobrol hingga tiba-tiba ibu bertanya
"Jadi... Apakah kau ingin merantau untuk melanjutkan kuliahmu...??" Tanya ibu
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu lalu terdiam sejenak memikirkan jawaban terbaik yang dapat kuberikan
"Ya... Aku akan pergi, aku akan menuntut ilmu di tempat terbaik dengan beasiswa yang ku terima."
"Kalau begitu pergilah, gapai mimpimu."
"Ibu... Kau tidak keberatan??"
"Mengapa begitu?? Selama itu adalah pilihan terbaik untuk mu, Kenapa tidak??"
"Ibu..."
"Kalau begitu... Dirga benar benar boleh pergi...?"
Sementara itu sesaat setelah mobil hitam itu parkir di depan rumah sontak ibu langsung terjatuh selagi kedua tangannya mencoba untuk menahan air mata yang bercucuran tak pernah rasanya aku melihat ibu selemah ini selama hidupku.
Pintu mobil terbuka dan keluar seorang pria dengan jaket coklat yang menutupi seluruh badannya dan topi fedora, pria itu melihatku lalu mengambil sebuah koper di kursi bagian belakang, pria itu kemudian berjalan ke arahku dan bertanya.
“Apakah kau Dirga?? Putra dari Dahl?”
“Dahl? iya aku Dirga dan aku putranya.”
“Baiklah kalau begitu, aku adalah teman baik ayahmu, jauh di sana aku selalu berada di sisinya hingga akhir hayatnya.”
“Hingga akhir hayatnya?? Apa maksudmu."
“Dirga, ayahmu telah tiada… dan sebelum ia pergi untuk selamanya ia meminta beberapa hal padaku dan salah satunya adalah… ini…”
Pria itu kemudian memberikan koper di genggamannya pada ku, saat aku menerima koper itu terasa ringan dan Ketika aku menggoyangkannya terdengar bunyi suatu benda yang berguncang di dalamnya.
“Apa ini…??”
“Tumpukkan surat, ia menulis satu di setiap tahun lalu menyimpannya kedalam sebuah kotak yang terletak di dalam koper itu, Aku yakin Dahl sangat berharap seseorang akan membaca surat itu…”
__ADS_1
Aku membuka koper yang dititipkan itu dan menemukan sebuah kotak kecil dengan setumpuk surat di dalam nya, surat itu adalah surat-surat lama tertulis di tanggal penulisannya di tuliskan 16 hingga 1 tahun yang lalu.
“Surat apa ini…??”
“Semua surat itu seharusnya dikirimkan kepada mu Dirga, akan tetapi ayahmu tidak pernah memiliki tekad untuk memberikannya.”
“Tidak mempunyai tekad?”
“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, Ayahmu itu sosok yang di penuhi misteri, akan tetapi sejak pertama kali aku bertemu dengan nya ia sudah menulis surat-surat itu, ia bilang surat-surat itu hendak di kirimkan kepada keluarga nya yang jauh lalu saat aku bertanya padanya kenapa tak kunjung di kirimkan ia hanya menjawab tidak memiliki tekad dan keberanian yang cukup.”
Di antara surat-surat itu terdapat sebuah video tape yang tersembunyi di dalamnya, aku segera mengambil video tape dan pergi mencari televisi untuk memutarnya pada saat itu juga, awalnya layar di penuhi abu-abu hingga akhirnya aku bisa melihat wajah pria tua berumur 40 an yang terasa sudah sangat lama tak ku lihat.
Apakah sudah bisa?? Apakah kamera nya
sudah menyala??
Langsung saja?? Baiklah…
“Video ini adalah persembahan terakhir nya untuk mu dirga, aku harap kau dapat menyimak nya sepenuh hati.”
Saat dirinya menarik nafas yang Panjang, aku mengingat wajah nya dengan jelas dan ternyata memang benar bahwa aku pernah menatap secara langsung wajah itu bertahun-tahun lalu.
Akan tetapi kini di sekujur wajahnya sudah terdapat banyak kerutan dan beberapa rambut uban di kepalanya, sangat jauh berbeda dari yang kuingat dan yang dipajang di foto.
"Hai Dirga, bagaimana kabarmu?? Ya benar ini Ayahmu aku bisa menebak kau mungkin melupakan wajah orang tua yang satu ini ya… Haha...."
Yahh… itu sesuatu yang bisa di maklumi… maafkan aku tidak bisa disana saat momen-momen terbaikmu, yang ku ingat tentang dirimu hanyalah sekedar seorang anak kecil yang melambai pada ku di tengah hujan deras saat aku hendak pergi…
Waktu berlalu begitu cepat, aku terus memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mengirimkan surat-surat itu, kapan waktu yang tepat untuk pulang… namun aku tak kujung melakukan satu pun dari hal itu.
Ayah ingin sekali bertemu denganmu walau sebentar, Ayah ingin segera memelukmu namun yang bisa ayah lakukan sekarang hanyalah… hanyalah…
Wajahnya yang terlihat tegar itu perlahan luntur di layar televisi, senyuman yang ia pertahankan mulai gentar di jatuhi tetesan air mata.
Layak kah aku menyebut diriku sebagai seorang Ayah…
Dirga… ketahuilah... tak peduli seberapa jauh kau di sana… aku sangat mencintaimu lebih dari yang kau pikirkan, kau boleh membenciku, karena aku bukanlah apa-apa melainkan sosok pecundang yang bahkan tidak mempunyai tekad untuk membesarkan anak nya.
Ingatlah suatu saat nanti hingga kau Bahagia… kenanglah aku di sepanjang hidupmu, agar kelak kau dapat menjadi ayah yang baik…
Kau pasti bisa melakukannya, Dirgantara Aksa Diwarna… Sebuah keindahan yang berada jauh di sepanjang bumi Langit dan lautan… aku percaya padamu…
Andaikan aku dapat mengulang waktu, aku akan selalu Kembali ke masa di mana aku terakhir bersama mu Dirga… melihatmu belajar berjalan… mendengarkan kata-kata pertamamu… dan merasakan genggaman erat mu di jari-jari ku…
hingga akhir hayatku… aku akan tetap mencintaimu…
__ADS_1
- Continue