
...AFTER 20 DAY...
..."Semua hal yang berbentuk perjalanan, akan selalu bersanding dengan sebuah perubahan, semakin kamu berjalan lama, semakin banyak perubahan yang kau lalui."...
..."Kau tidak pernah tau akan bertemu siapa di dunia ini."...
..."Di kehidupan sekarang dia memang milikmu, tapi di kehidupan selanjutnya dia hanya milikku."...
Suara gemuruh air hujan menjajahi sebagian bumi Eropa, tepatnya di tanah Rotterdam, Belanda.
Suara hentakan kaki dan gemercik air yang terinjak terdengar perlahan. Sepatu berwarna coklat itu telah basah terkena genangan air di dasar jalan. Gadis berambut panjang, memakai sweater musim dingin sampai lutut, tengah berteduh di salah satu toko di pertengahan Rotterdam.
Tangan indahnya mulai terasa dingin, karena dia melupakan sarung tangannya yang tertinggal di penginapan.
"Kapan hujannya berhenti, handphone gue lowbat. Mau naik taksi gak bawa payung," gumamnya seraya menengok air hujan yang semakin deras.
Di sampingnya tengah duduk seorang pria dewasa yang sedang memainkan sebuah ponsel. Pria itu sejenak melirik memperhatikannya.
"Your feet will swell, because you continue to stand," ucap pria itu dengan datar.
Gadis itu kemudian duduk di sampingnya dengan rasa canggung. Matanya melirik gugup pada laki-laki yang wajahnya tak terlihat. Kuncung jaketnya menutupi setengah wajahnya, namun yang gadis itu lihat sedari tadi adalah sepucuk hidung mancung yang ia tatap dari samping.
"Do you want to drink?" Laki-laki itu menyodorkan segelas air hangat pada gadis itu.
Dia Nellsa Seralind, gadis cantik yang tengah melakukan observasi ke Belanda. Ia Mahasiswi Universitas Yuniar, Indonesia. Yaitu salah satu Universitas terbaru paling bergengsi.
Tubuh yang sempurna, mata yang bulat, dan juga hidung yang mancung membuatnya pantas disebut cantik. Hujan belum reda. Duduk di samping pria membuat Nellsa tak nyaman. Sekilas, ia melirik buku yang tengah dibaca laki-laki itu. Hal itu memacu rasa penasarannya. Nellsa sangat menyukai buku, terutama novel bacaan yang bergenre mellow ataupun romansa para remaja.
"Dia baca novel, keliatannya sih gagah. Tapi ko bacanya tentang cinta. Hhhh puitis," batinnya seraya terkekeh tipis.
__ADS_1
"What's wrong?" Nellsa bagai mendengar petir, setelah laki-laki itu membuka suara, padahal ia tak menoleh sedikit pun padanya.
"Nope!"
Hujan mulai reda, Nellsa terbangun untuk segera keluar dari toko.
"Sorry, I think you need this." Pria itu menyodorkan sapu tangannya. Namun ia masih menyembunyikan wajahnya. Setengah wajah pria itu terlihat saat ia hendak mengenakan kembali masker mulut dan kacamata hitamnya. Nellsa terdiam heran fokus menatapnya sampai ia tak sadar bahwa hidungnya telah mengeluarkan darah.
"What?" Nellsa mulai tersadar heran.
"Kamu sepertinya sudah kedinginan, hidung kamu sampai mengeluarkan darah. Pake aja ini." Pria itu membuat Nellsa kaget, pasalnya dia berbicara bahasa Indonesia.
"Indonesia?" tanya Nellsa seraya mengambil sapu tangan itu.
Bendera merah putih terlihat di tas milik Nellsa. Ia adalah seorang pelajar, karena itu seluruh mahasiswa Yuniar akan diberi tanda kenegaraan. Laki-laki itu tertunduk, wajahnya fokus menatap tas milik Nellsa. Nellsa sendiri bingung, karena laki-laki itu memakai kacamata hitam bersamaan dengan masker mulut yang menyelimuti hampir seluruh wajahnya. Bagaimana bisa ia mengetahui tentang itu?
"Oh, saya dari Indonesia. Sapu tangan kamu kotor, apa kamu gak keberatan?"
"Duuh..." Nellsa sibuk menyumpal hidungnya.
Laki-laki itu bergegas pergi tanpa memberi aba-aba, meninggalkan Nellsa yang sibuk menahan darah keluar keluar dari hidungnya.
"Siapa nama kamu?"
"Kesempatan dan kebetulan itu selalu ada, bahkan banyak."
Mata Nellsa melotot ketika laki-laki itu membuka masker mulutnya. Tersenyum menawan mengejutkan indra penglihatan Nellsa. Nellsa mengerutkan dahinya bingung. Nellsa lantas pergi dari toko.
"Thank You, Sir!" teriak Nellsa pada pemilik toko.
__ADS_1
Sampai di penginapan, seorang gadis menghadangnya.
"Sa, lo dari mana aja sih? Pembimbing nyariin lo tadi, kita kan di sini bukan cuma liburan. Gue khawatir lo kenapa-kenapa, hujan deras soalnya," ucap Kian, dia sahabat baik yang Nellsa miliki.
"Gue ke jebak ujan tadi Ki." Nellsa terus mengusap hidungnya yang mimisan.
"Hidung lo, mimisan? Lo gak apa-apa?"
"Ada apa ini?" tanya pembimbing yang melewati pintu kamar mereka.
"Nggak kok ka!"
"Gue kalo kedinginan begini. Kayak gak tau gue aja," sahutnya datar.
"Terus lo cuma usap sama sapu tangan itu? Aduh Nellsa ... ayo cepet lo minum air anget dulu deh."
"Ini bukan sapu tangan gue." Nellsa membuat Kian penasaran.
"Lah terus? Lo dapet dari mana? Beli?"
"Gue dikasih ini sama laki-laki, dia kasih ini ke gue, gue waktu itu neduh di salah satu toko, dan ketemu orang itu. Dia juga bisa bahasa Indonesia Ki."
"Wah, gimana tampan gak?" tanya Kian antusias.
"Gue tanya namanya dia pergi. Wajahnya samar, tapi gue merasa gak asing dengan wajah itu." Matanya memicing heran.
"Misterius. Yaudah .... lo cepet mandi, terus langsung tidur, kita di sini selama 20 hari, lumayan juga yah Sa. Gue pikir cuma seminggu, Yuniar bener-bener kampus luar biasa deh. Udah 2 tahun dia terus ngirim mahasiswanya buat keluar negeri penelitian."
Nellsa di kamar terus melamun karena peristiwa di toko siang itu. Dirinya seakan memikirkan sesuatu semenjak bertemu dengan pria itu. Dibuka diary miliknya dan terlihat sebuah lembaran foto yang ia ambil di dalam lipatan buku diarynya. Ditatapnya fokus dengan mata sendu, air matanya seketika keluar.
__ADS_1
"Gak mungkin, dia gak mungkin ada di sini." Nellsa berusaha menguatkan batinnya.