
Pagi indah mengawali hari seorang Diko. Ia terbangun dari mimpi indahnya, dan lekas masuk ke kamar mandi. Beberapa menit, wajahnya sudah terlihat menawan. Diko menaiki motor gedenya yang sudah terparkir di halaman rumah.
"Makasih ya Mang," ucapnya pada asisten rumah tangganya.
"Hati-hati Den."
Sampai di kampus, Diko lantas memasuki lift untuk pergi ke lantai 4 kelasnya. Sampai di kelas, ia lantas duduk membereskan tas miliknya. Tembok kaca di lantai 4 terlihat bening, membuatnya bisa melihat pemandangan luar. Dilihatnya seorang laki-laki tengah berjalan, dengan pakaian casual berwarna hitam polos dan celana chino berwarna coklat susu. Ya, itu Raga. Diko lantas membuka aplikasi instagram, ia mencari akun instagram milik Raga. Di scroll ke bawah beberapa postingan milik Raga.
"Mungkin dia punya orang yang gue kenal. Gue kan sempet kenal sama satpamnya Dio dulu, pak Andi kalau gak salah." Ia bergumam dengan mata terfokus pada monitor ponselnya.
Belum sampai Diko melihat seluruh postingan Raga, dosen masuk dan lantas memulai pembelajaran.
Siang muncul, memang akhir-akhir ini cuaca kota Bandung tidak menentu. Saat itu suhu daerah Bandung lumayan tinggi. Keringat mulai muncul di pelipis seorang Raga. Dirinya tengah memainkan laptop di kantin kampus. Beberapa mahasiswi memotret kegiatannya, membuat Raga heran. Hal itu justru berbanding sangat terbalik ketika ia menjalani kehidupan di Rotterdam.
"Gue mau belajar dulu." Raga merasa risih karena mereka.
"Semangat ya Raga." Beberapa rayuan, pujian juga kata semangat sudah biasa Raga dapatkan di kampus.
"Aneh-aneh aja."
Raga diam-diam stalking instagram milik Nellsa. Memang Nellsa jarang sekali aktif di media sosial termasuk instagram. Hal itu membuat Raga semakin penasaran dengannya.
"Postingannya cuma sepuluh."
Diko mulai menghampirinya.
"Siang," sapa Diko lantas duduk di depan Raga.
"Lo!" tegurnya datar.
"Ngapain lo?"
Raga lantas menutup laptopnya.
"Gue abis ngerjain tugas aja."
"Emm oh iya Raga, gue mau nanya sedikit soal privasi lo." Diko terlihat sedikit canggung.
"Oh silahkan, lo mau tanya apa?"
"Apa lo punya saudara kandung?" Pertanyaan Diko membuat Raga melebarkan mata sayunya.
"Sorry, bukan maksud gue lancang begini. Gue cuma mau kenal lebih deket aja sama lo," ucap Diko sambil meminum jus jeruk dihadapannya.
"Punya, tapi saat ini dia lagi pergi."
"Ke mana? Cowok? Cewek?"
"Dia laki-laki. Dia punya tugas yang lebih berat di sana, jadi dia gak tinggal sama kami, dia udah nyaman tinggal di sana." Ucapan Raga malah membuat Diko penasaran.
"Maksud lo, tinggal di Rotterdam juga kan? Pasti dia udah nyaman sama kerjaannya di sana, hehe."
"Hehe, lo bener." Raga tersenyum.
"Emm bodoh banget sih gue. Kenapa harus curiga sama orang asing begini," batin Diko.
__ADS_1
Raga melihat setangkai bunga mawar miliknya, sebagian kelopaknya telah berguguran.
"Yah, udah mulai gugur, akan lebih baik gue tunggu sampe layu."
Raga lantas meluncur pergi ke studio Adi, setelah bergumam pada bunganya di kamar.
"Raga, kenalin orang dari Agency mau ketemu sama lo, namanya Pak Rangga."
"Selamat siang Raga, saya dari Agency Cloud Entertainment. Saya dengar akhir-akhir ini kamu cukup populer ya, karena iklan kamu di TV."
"Itu bukan apa-apa pak, ada hal apa bapak ingin bertemu dengan saya?"
"Gini Raga, saya ingin menawarkan kamu main film, ataupun beberapa sinetron."
"Apa? Maafkan saya pak, sepertinya kalau untuk itu saya belum siap pak. Saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya sebagai model dan bintang iklan pun cukup untuk saya Pak."
"Loh kenapa? Ini kesempatan emas loh! Gini aja deh, ini kartu nama saya, jika kamu minat kamu boleh datang ke sini."
"Terima Kasih pak."
Raga memulai pemotretannya, kali ini untuk majalah remaja. Jadi model beberapa brand remaja yang terkenal saat itu.
Setelah selesai, Raga kembali ke apartemen karena hari itu kuliah libur. Raga merasa bosan terus di rumah, yang biasanya melihat Nellsa juga lainnya, dia hanya mengurung dirinya di kamar.
"Raga, kamu tumben gak keluar nak?"
"Keluar juga ke mana bu? Raga kan jadi orang baru lagi di sini, teman pun belum sepenuhnya kenal sama Raga."
"Kamu akan terbiasa lagi kok di sini Raga."
"Hallo Dan, ada apa?"
"Ga, hangout yuk bete nih gue. Gue di depan Apartemen Grand Lake, mobil gue warna navy."
Raga keluar, segera dia menghampiri Aldan. Dibuka kaca jendela mobil berwarna navy itu oleh Aldan.
"Hay bro," sapa Aldan yang sudah terlihat tampan memakai kacamata.
"Tumben lo ngajak gue begini, mau ke mana?"
Sebelah tangannya Raga sandarkan pada jendela kaca mobil Aldan.
"Udah ikut aja."
Raga menimpali Aldan yang sudah keren terlihat, ia mulai memasuki mobil. Ia memakai baju kasual berwarna putih, kacamata hitam dan celana jeans sudah melekat pas di tubuhnya.
Mata Raga memencar, sepertinya ia telah dibawa ke sebuah bioskop oleh Aldan.
"Lo ngajak gue nonton?" tanya Raga aneh sambil membuka kacamata hitamnya.
"He, gue liat ada film baru bro lo tau kan? Ayolah temenin gue nonton. Gue gak ada temen."
"Aduh, hari ini gue apes nonton ditemenin sama cowok. Kok gue jijik ya?"
"Yahelah boy, kali ini aja deh ya? Tiket gue yang bayar." Aldan memasang puppy eyes-nya depan Raga.
Tak pernah Raga pungkiri bahwa temannya yang satu ini punya keahlian hebat dalam hal merayu untuk apapun yang dia inginkan. Raga menghela napasnya, namun ia ikut juga untuk masuk. Beberapa jam, film telah selesai. Mereka keluar dari gedung bioskop. Mereka melaju kembali untuk meneruskan kesenangannya berdua. Tidak, lebih tepatnya ini kesenangan Aldan. Di dalam mobil, Aldan meracau membuat Raga hanya tertunduk datar memainkan ponselnya sejenak.
__ADS_1
"Wah filmnya keren banget boy, seru banget dah."
Raga menimpalinya dengan deheman kecil. Oksigen Aldan sungguh membosankan menurutnya. Raga melamun melihat jalan sekitar, matanya menangkap sosok wanita yang membuat pupil matanya seketika melebar.
"Dan Dan stop Dan stop." Raga terlihat heboh tiba-tiba.
"What, ada apa boy?"
"Udah cepet puter balik, toko bunga Mentari."
Aldan memutar balik stri mobilnya dan lantas parkir di depan toko Bunga Mentari. Raga turun dengan langkah tenangnya diikuti oleh Aldan yang begitu penasaran.
"Lo beli bunga? Buat apa?" Aldan memainkan kacamatanya.
Raga masuk, membuka pintu perlahan. Ditengoknya sesosok wanita yang membuatnya tersenyum tak henti.
"Iya silahkan pilih-pilih bunganya....." Nadanya melemah seketika saat ia menatap Raga.
"Raga." Nellsa kaget.
Raga hanya tersenyum datar, matanya terfokus melihat bunga mawar di depannya. Aldan ikut kebingungan.
"Eh hai? Lo bukannya mahasiswi Yuniar kan? Kita pernah ketemu. Lo kerja di sini?" Aldan menyapa, namun sepertinya dia aneh dengan pekerjaan Nellsa.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu? Nellsa bukan pekerja di sini, dia hanya relawan yang bantu-bantu di sini." Pak Maman menyambut mereka.
Perbincangan santai dimulai di dalam toko. Tiga buah kursi menjadi tempat Nellsa meminta penjelasan maksud Raga datang ke toko bunga, tanpa membeli, tanpa juga menyebut maksud ia datang.
"Ngapain lo ke sini? Mau beli bunga?"
"Nggak, bunganya udah ada di depan gue. Kenapa harus beli?"
"What? Uwekk, kenapa lo jadi pinter gombal gini?"
Aldan membuat Nellsa seketika blushing dan merasa risih.
"Kalau lo ke sini cuma omong kosong, banyak customer lain yang perlu bantuan." Nellsa mulai jengkel.
"Tau nih si Raga, fashion gue udah keren begini masa ujungnya ke sini." Aldan terus menggerutu.
"Gue cuma mau tanya, gimana caranya rawat bunga mawar?" tanya Raga datar membuat Nellsa bingung.
"Bunga mawar? Sejak kapan lo pelihara bunga mawar, lo masih gentle kan bro?"
Lagi-lagi Aldan terus menimpali perbincangan mereka.
"Buat apa lo nanya itu?"
"Gue cuma nanya, oksigen gue sia-sia kalau gue nanya berkali-kali."
"Lo cuma harus rajin siram, kasih vitamin, juga sedikit pupuk kalo emang ditanam di tanah." Nellsa menimpali jengkel. Nadanya terlihat malas.
"Oh gitu, thanks ya. Dan yo cabut yok." Raga lantas pergi tanpa basa-basi.
Nellsa kebingungan, ia selalu tidak mengerti kenapa ia harus selalu bertemu dengan makhluk asing itu. Ia selalu memberi Nellsa maksud tak jelas yang sulit Nellsa pikirkan dan itu sungguh membuang waktunya hanya untuk berpikir.
PLAGIAT DILARANG MENDEKAT
__ADS_1