AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
FLASHBACK


__ADS_3


..."Kebetulan apa ini, kenapa bisa begitu mudah mendapatkan kebetulan semacam ini. Sungguh, kenapa rasanya gue senang begini, ini lebih senang dari tinggal di Rotterdam, bahkan seratus kali lebih menyenangkan dari itu."...


...- Raga....


Keesokannya, kampus sudah memulai aktifitasnya. Nellsa sedang berdiri di depan mading kampus bersama Kian, melihat informasi seputaran kampus. Nellsa menengok ke belakang, terlihat seorang pria berdiri di atas tangga mengalihkan pandangannya.


"Ka Dio?" Mata Nellsa memicing heran, melihat lelaki berperawakan orang yang tak asing dalam hatinya.


"Ki ... Kian, lo liat cowok di atas itu? Itu ka Dio." Nellsa begitu antusias kala melihat seorang pria berperawakan Dio berdiri di atas tangga.


"Sa lo apa-apaan sih, Dio gak ada di sini, dia kan udah pindah."


Nellsa berniat menghampiri pria itu untuk memastikan bahwa dugaannya kali ini adalah benar, karena ia sedang tidak berhalusinansi atau pun tidak sadar. Pria itu berjalan pergi seraya terus memainkan ponselnya, sedari tadi ia hanya berdiri tanpa sadar Nellsa memperhatikannya.


"Tunggu," panggil Nellsa. Kian menyusulnya.


Pria itu berbalik dan betapa terkejutnya mereka.


"Ka Dio." Ucapan Kian membuat Nellsa kaget.


"Ga, dari mana aja lo gue cari-cari ..." Diko tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka.


"Ka Diko, apa-apaan ini? Dia ka Dio kan?"


Kian mengerutkan dahinya, ia bertanya-tanya siapa lelaki yang baru saja ia panggil Dio bersamaan dengan Nellsa.


"Nah tuh mereka, maaf gue belum sempet bilang sama kalian kalauRaga mahasiswa pindahan dari Rotterdam."


"APA?" Nellsa kaget setelah Diko berucap.


"Gue pikir lo Dio, karena ada di Indonesia. Jadi lo Raga? Wah OMG, kebetulan apalagi ini." Kian antusias menyambut Raga.


"Gue gak nyangka kalian kuliah di sini juga." Raga hanya tersenyum ramah.

__ADS_1


Nellsa masih terkejut karena hal itu. Dirinya terlihat pucat, matanya berlari ke segala arah.


"Sa dia bener Raga, denger logatnya." Kian berusaha meyakinkan Nellsa.


Nellsa malah melarikan diri membuat semua orang bingung.


"Nellsa ..." panggil Diko. Ia mulai mengejar langkah gadis itu.


"Sa ada apa?"


Mata Nellsa mulai berkaca-kaca.


"Lo inget Dio? Sa, udah deh. Mereka beda, dia Raga. Dio entah pergi ke mana kita gak tau. Gue tau selama ini lo gak bisa lupain Dio. Tapi Sa, dulu Dio bersikap dingin sama lo, mungkin udah ada orang yang dia suka." Diko berusaha menenangkan Nellsa.


"Tapi kalau liat Raga rasanya luka banget ka," ucap Nellsa. Tangan kekar Diko mulai mengusap rambut lembut Nellsa. Ia bahkan tak canggung untuk menenangkan Nellsa.


"Sabar Sa, Dio sahabat gue. Mana mungkin gue gak ngenalin sahabat sendiri, dan yang kita liat itu adalah orang asing bernama Raga. Mereka bisa aja mirip, tapi Dio punya hati yang berbeda."


Disamping itu Raga meminta penjelasan Kian perihal pelarian Nellsa yang membuatnya begitu bingung.


"Kenapa dia?"


"Apa mereka sempat pacaran?" Raga agak sedikit canggung.


"Itu yang lebih sakit, saat Nellsa ngungkapin cintanya lewat surat ke Dio, Dio gak pernah bales. Sejak saat itu Dio gak pernah bicara sama Nellsa sedikit pun, ngelirik pun enggan, dan dia entah hilang ke mana sampe sekarang."


Raga hanya terdiam mendengarkan perkataan Kian.


Di kamarnya, Raga terus menatap sepucuk surat di tangannya. Dengan tatapan tajam dan mata berkaca-kaca, Raga terus menatap kertas itu.


Sementara Nellsa, tengah merebahkan tubuhnya dengan nyaman pada sebuah sofa empuk menghadap jendela yang terbuka. Ia melamun menatap alam bersama dengan angin yang menghempas rambut lurusnya.


"Nellsa, jangan sampai lo gak bisa bedain Raga sama Dio, mereka kedua makhluk yang berbeda, iya mereka beda," batinnya terus menerus teringat akan sosok Dio pada diri seorang Raga.


°°

__ADS_1


Siang terik, Nellsa pergi ke SMA Pertiwi tempat dimana dia pernah menimba ilmu selama tiga tahun, tiga tahun itu sungguh penuh kenangan untuk Nellsa.


Sampai di sana, Nellsa duduk di taman sekolah, sambil menatap gedung juga lingkungan sekolah. Nellsa melamun mengingat kenangan saat dia mulai bisa mencintai seseorang. Ia memejamkan matanya, membayangkan sosok Dio yang berjalan melewati koridor sekolah, sedang bercanda riang dengan Diko, Erik juga lainnya.


Senyumnya terus tersimpan di celah memori Nellsa, senyum yang membuat harinya menjadi semangat, membuat setiap harinya menyenangkan. Waktu sekolah, Nellsa sangat membenci hari minggu, karena di hari itu, hari dimana dia tidak bisa melihat Dio.


Sungguh sangat tidak mungkin kalau Nellsa melupakannya, dia cinta pertama bagi Nellsa. Di setiap celah kantin sekolah, Nellsa selalu bersembunyi untuk memperhatikannya dari jauh.


Flashback


"Heh, ngapain lo ngintip gue begitu?" Dio membuat gadis berkacamata itu kaget.


"Eunggh, maaf ka!" Gadis itu lantas pergi.


Flashback End


Dia adalah Nellsa, gadis berkacamata yang mencintai dalam diam diri seorang senior tampan di indra penglihatannya. Air mata mulai keluar dari celah mata Nellsa, mata indahnya mulai terbuka saat ada suara yang memanggil namanya.


"Ka Nellsa!" panggil seorang perempuan.


"Iya?"


"Ka Nellsa di sini? Aduh kakak pasti lagi nostalgia ya?"


"Kamu? Fera ya, yang waktu dulu pernah pinjam Novel kakak?"


"Iya ini aku Fera ka, aku seneng ketemu kakak di sini. Oh iya, maafin aku ya ka, akhir-akhir ini aku sibuk karena mau ujian, aku gak punya nomor kakak, alamat atau lainnya. Mereka juga gak pada tau. Aku mau balikin novel yang dulu pernah aku pinjam ke kakak. Ini ka, makasih, novel ini menjiwa banget. Oh iya, gimana kabar kakak sama ka Dio? Bukannya dulu kakak dijuluki 'Misterius Girl' ya kan, sama ka Dio juga temen-temennya. Ya walaupun aku belum masuk SMA saat itu haha, soalnya cerita kalian udah terkenal di SMP Pertiwi."


"Emm, makasih Fera udah mau balikin novel ini, soal Dio ... kakak udah gak pernah liat dia setelah dia lulus."


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nellsa saat mengatakan hal itu.


"Kok bisa? Emm aku pikir kakak sama ka Dio itu bisa bareng. Eh iya ka, Fera mau ke kelas dulu ya, oh iya minta nomor kakak dong."


"Tulis aja nomor kamu di sini." Nellsa tersenyum sambil menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


"Em ok, nih ka. Aku udah miscall ke nomor aku, gimana juga aku seneng ketemu kakak di sini, bye."


To be continue ... jangan lupa like and coment


__ADS_2