AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
MISSING THE MEMORY


__ADS_3


Raga pergi ke rumah saat dimana ia tinggal dulu bersama keluarganya. Setelah lama tak pulang, kini ia begitu merindukan Bandung termasuk rumah yang ia diami di masa kecilnya.


"Kenapa Ibu gak jual rumah ini? Rumah ini keliatannya masih baik-baik aja." Raga bergumam dengan terus melangkah menuju depan pintu rumah masa lalunya.


Diketuk pintu rumah oleh Raga, keluar seseorang yang membuat Raga terkejut. Ia bahkan baru tahu kalau rumah itu sebenarnya tidak kosong. Raga terlihat sungguh kebingungan.


"Ada apa ya?" tanya wanita paruh baya di depannya. Ia menatap Raga bingung.


"Ibu siapa?"


Mata ibu itu memicing menatap fokus Raga dari ujung kaki hingga kepalanya. Kemudian, matanya tefokus pada telinga Raga.


"Nak Raga!" Ucapan Ibu tua itu membuat Raga semakin bingung.


"Kamu nak Raga bukan?"


Raga diajak masuk oleh Ibu paruh baya itu. Ia hanya mengikuti untuk bisa mendapatkan informasi kenapa orang itu bisa mengenalnya dengan begitu akrab. Mata Raga memencar menatap seluruh isi rumah itu. Ia duduk dengan begitu tegang. Raut wajah bingung masih mendiami wajahnya. Ibu itu datang dengan membawa segelas air untuk Raga. Ia lantas terduduk di depan Raga.


"Kenalkan, saya bu Mirna. Saya teman lama Ibu kamu, dulu waktu Ibu kamu memutuskan untuk menetap di Belanda, beliau sempat berpesan pada Ibu untuk menetap di rumah ini. Ibu memang gak punya rumah saat itu, Ibu cuma ngontrak di mana-mana. Tapi Ibu kamu udah baik, mau menyewakan rumah ini tanpa imbalan apapun pada Ibu, tolong sampaikan terima kasih Ibu sama Ibu kamu nak. Apa dia juga ada di sini?"


"Kenapa Ibu gak pernah cerita sama saya, terus kenapa Bu Mirna bisa kenal saya?"


"Dulu, Ibu kamu banyak cerita tentang kamu. Ibu kenal karena melihat foto kamu memakai sebelah anting di telinga kiri kamu. Ibu kamu bilang, 'jika suatu saat anak saya ke rumah ini, dia itu adalah Raga. Dia punya sebelah anting di telinga kirinya, aku sengaja memakaikannya supaya dia mudah dikenal orang' kurang lebih Ibu kamu bicara seperti itu. Eh iya, silahkan diminum nak," ucap Bu Mirna.


"Bu, apa saya boleh melihat-lihat rumah ini lagi? Saya kangen sama rumah ini." Terlihat ekspresi sendu pada wajah tampannya.


"Oh silahkan nak, Ibu gak pernah mengubah apapun dari rumah ini. Hanya ada perubahan pada cat dindingnya."


Raga melihat ruang kamarnya yang dahulu pernah ia tempati.


"Bu Mirna bener-bener jaga rumah ini, kamar gue gak ada sedikit pun perubahan," gumamnya.

__ADS_1


Raga melirik beberapa hiasan dinding, terlihat sebuah lukisan pemandangan bertema lautan dan tiba-tiba saja dirinya sedikit menitihkan air mata.


"Maaf Bu, terima kasih sudah mengizinkan saya melihat rumah ini. Saya ada urusan mendadak, saya permisi dulu." Raga terburu-buru pergi membuat Bu Mirna kebingungan.


Di rumahnya, Raga sempat menanyakan perihal rumah itu pada Bu Nera. Bu Nera menjelaskan semuanya. Raga sekarang mengerti, Ibunya tidak pernah ingin rumah itu menjadi kosong dan tidak ingin juga merasakan masa pahit yang kedua kalinya di rumah itu. Raga memegangi kedua tangan sang ibu.


"Raga ngerti bu, ibu bermaksud baik. Bu Mirna nanyain ibu tadi," ucap Raga.


"Ibu akan segera temui bu Mirna nak. Sudah sejak lama ketika ibu terakhir bicara padanya setelah ia mau menempati rumah kita. Ibu berharap, bu Mirna bisa menjadi baik rumah itu, ibu ikhlas kok."


Raga kembali ke kampus, dengan ketampanan yang dimilikinya dia mampu menarik perhatian seorang photographer.


"Hey!"


"Anda manggil saya?"


"Iya kamu."


Photographer itu menatap Raga dari ujung kaki hingga kepalanya.


"Kenalin saya Sukma Aji Aditia, panggil aja Adi. Photographer ternama, punya label ternama, juga famous di mana-mana," ucap Adi seraya mengambil paksa tangan Raga untuk berjabat tangan dengannya.


"Saya Raga mahasiswa di sini, ada perlu apa sampai anda melirik saya seperti itu ya?"


"Mau gak kerja sama saya? Ini kartu nama saya. Saya sengaja ke sini cuma buat cari orang yang banyak bakat. Kalau minat silahkan datang ke alamat yang ada di sana, see you."


"Apa-apaan ini orang bikin parno aja," gumam Raga.


"Bentar, AdiStudio? Mencari model berbakat untuk beberapa majalah remaja, majalah kampus, model brand ternama dan lainnya. Oke juga sih." Raga melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Jam kuliah pertama selesai, mata Raga menangkap sosok Kian yang sedang santai berjalan.


"Kian!"

__ADS_1


"Eh Raga, lo gak sama Diko?"


"Lo gak sama Nellsa?"


"Dia lagi ikut seminar."


"Oh iya boleh kita bicara sebentar?" Raga membuat Kian bingung.


Mereka mulai berbincang hangat di kantin kampus.


"Ada apa?"


"Kalau gue boleh tau, Dio itu orangnya kayak gimana waktu SMA?" Pertanyaan Raga membuat Kian kaget. Mata Kian memencar bingung menatap Raga.


"Ke ... kenapa lo tanya itu?"


"Nggak, gue cuma mau tau aja. Apa iya dia semirip itu sama gue?" tanya Raga canggung.


"Nggak kok. Cuma wajah kalian aja yang mirip, itu pun hanya beberapa. Waktu SMA emang Dio jadi pangeran sekolah dulu, dia perfect banget, sampe semua cewek juga suka sama dia, kecuali gue. Dia itu orangnya aneh. Cool boy tapi gak suka genit ke cewek-cewek lain. Bahkan sekalinya cewek itu nembak di depannya, dia gak pernah respon dan pergi gitu aja. Entah kenapa Nellsa suka sama cowok macam dia yang menurut gue malah misterius."


"Tapi kalian semua berteman baik sama dia."


"Itu salah. Gue emang kenal Dio tapi gak pernah akrab karena dia kakak kelas gue juga sih. Temannya itu sebenarnya di sini, cuma Erick sama Diko. Kenapa bisa gue sama Nellsa akrab sama dia ya karena kita satu kampus dan lama-lama kelamaan ngobrolin masa lalu jadi saling akrab."


"Btw, kenapa lo gak suka Dio?" tanya Raga tersenyum.


"Karena Nellsa suka sama dia. Mana mungkin gue khianatin sahabat sendiri, tapi walaupun itu gue tetap gak suka. Dio bukan selera gue, selera gue itu badboy tampan." Kian tersenyum sipu.


"Terus, apa lo punya foto Dio?"


"Foto? Aduh kalau foto gue gak punya, coba lo tanya sama Erick. Dia sahabat yang paling deket sama Dio, dia juga sering jadi tukang fotonya Dio, terus dipajang di mading kelas gitu. Sumpah Erick tuh udah kayak babu, saudara, plus bodyguardnya Dio. Dia selalu ikutin ke manapun Dio pergi. Sampe cewek-cewek tuh risih."


"Erick?"

__ADS_1


"Emm iya Erick, dia ada di Fakultas Tehnik. Kalau lo mau, temuin aja dia di gedung tehnik. Gue ada urusan, pergi dulu ya bye."


Don't forget to Like, Coment, share and rate. Thx


__ADS_2