
Embun di pagi hari, terlihat menggenang di dedaunan hijau. Masih segar terlihat, setangkai White Rose yang terpajang di meja kamar Raga.
"Bunganya masih segar, padahal ini udah 3 hari. Harumnya juga masih ada," gumam Raga tersenyum tampan.
"Morning bu." Sapaan anak laki-laki kesayangannya membuat Bu Nera tersenyum hangat.
"Morning Raga, ayo sarapan. Oats udah Ibu siapin."
"Raga gak apa-apa kok bu kalo harus makan makanan lokal. Ibu gak harus beli terus."
"Ibu masih punya banyak stok Raga, cepet kamu makan."
"Emm bu, di mana Ibu nyimpen baju-baju lama?" tanya Raga membuat Bu Nera bingung.
"Baju lama untuk apa kamu Raga?"
"Nggak, Raga cuma tanya kok. Barangkali banyak baju yang masih bagus dan belum dipakai., Raga mau kasih ke panti asuhan di sini bu."
"Kamu belum lama di sini, tapi udah punya pikiran seperti itu?" Bu Nera tersenyum hangat.
"Ada beberapa baju yang Ibu masih simpen, kira-kira di koper hitam itu. Ibu bawa, barangkali masih bisa dipakai, atau diberikan pada orang yang membutuhkan."
Raga mulai memakai baju lengan panjang, berwarna putih polos. Ibu Nera melihat Raga dengan mata berkaca-kaca, dengan tatapan kosong menatap Raga, air mata Bu Nera mulai mengalir. Raga menghampiri dan lantas mengusap air mata di pipi Ibunda tercintanya itu. Dipeluknya dengan hangat wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia 21 tahun yang lalu.
"Udah bu. Maafin Raga, bukan maksud Raga mengingatkan Ibu tentang semuanya. Kadang ada celah rindu di hati Raga yang bener-bener gak bisa ditahan bu." Raga terlihat sendu begitu pun dengan Bu Nera hanya terdiam dengan tersenyum sayu dipelukan Raga. Kedua telapak tangan lembut Bu Nera menjamahi kedua belah pipi Raga.
"Pedulikan diri kamu nak, jangan terlalu lelah."
"Ibu tau Raga kayak gimana. Raga pasti dengerin perkataan Ibu. Ini udah gak kepakai kan bu? Raga mau kasih ke anak panti, juga panti jompo."
"Hati-hati nak."
Mobil berwarna putih sudah di depannya. Raga masuk dan mulai mengendarai mobil itu untuk pergi ke panti asuhan. Plang bernama 'Panti Asuhan dan Panti Jompo Cinta Kasih' terlihat di mata Raga. Dirinya turun dan membawa sejumlah pakaian yang sebenarnya masih layak, dan sebagian lagi adalah baju baru yang baru saja dibelinya di suatu tempat perbelanjaan.
"Permisi ...."
Keluarlah Ibu panti dari dalam.
"Iya? Ada yang bisa saya bantu?" Bu Panti terlihat bingung menatapnya.
"Pagi bu, saya ke sini mau memberikan sedikit rezeki untuk anak-anak juga lansia di sini."
"Oh silahkan masuk nak!"
"Saya Raga, tujuan saya ke sini untuk berbagi sedikit rezeki yang saya punya sama anak-anak di sini."
"Terima kasih nak Raga, anak-anak pasti seneng dengernya. Adik-adik cepet ke sini ada ka Raga mau bagi-bagi pakaian buat kalian."
Seluruh anak memberi salam pada Raga, juga menerimanya dengan baik.
"Bilang apa?" Bu Panti berseru pada semua anak yang ada di panti itu.
"Terima kasih ka Raga."
Beberapa jam kemudian, Raga hendak pulang. Namun ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti kaku. Seorang gadis manis berambut panjang sedang memberikan makanan pada seorang anak kecil.
"Kebetulan yang selalu bikin hati gue terus gemetar," batin Raga senyum seraya menatap gadis itu dari jauh.
__ADS_1
Kakinya membawa untuk melangkah ke tempat gadis itu, tepat di belakang gadis itu Raga berdiri.
"Nih buat kamu dek." Gadis itu sibuk memberikan makanan pada anak-anak panti.
"Makasih ka, kakak siapa?" Seorang anak kecil menunjuk keberadaan Raga di belakang gadis itu. Gadis itu berbalik badan.
"Raga!" Nellsa begitu terkejut.
"Jangan bilang ini kebetulan."
Mereka mulai berbincang hangat.
"Jadi lo sering ke sini bagi-bagi makanan buat mereka?"
"Iya, gue pikir bahwa apa yang gue punya sekarang, sebagiannnya adalah milik mereka." Nellsa tersenyum tipis.
"Berbagi itu indah, jangan berhenti berbagi walaupun setitik senyum di pipi." Ucapan Raga membuat Nellsa melotot.
"Ka Dio," batin Nellsa menatap Raga yang terlihat ceria menemani anak-anak sedang bermain. Raga menoleh pada Nellsa, mata Nellsa tiba-tiba kaku menatap Raga, mereka saling menatap.
"Ada apa?" Raga menaikkan kedua alisnya bingung.
"Emm ... emm kutipan buku lagi?" tanya Nellsa canggung.
"Bukan, gue cuma omong kosong." Raga senyum tipis.
"Nellsa, lo salah lagi. Mungkin ini emang kebetulan. Kutipan macam itu banyak di buku. Gue pernah denger ka Dio bilang itu waktu dia ngobrol di kantin sama Ka Diko. Ya, itu mungkin kutipan buku," batin Nellsa meyakinkan dirinya bahwa perkataan itu bukan hanya berasal dari mulut seorang Dio yang pernah ia dengar.
"Em kenapa lo pake baju putih terus?" tanya Nellsa gugup.
"Oh jadi selama ini lo merhatiin gue?" Raga tersenyum merekah di depan Nellsa.
"Gue suka aja, putih itu bersih."
Beberapa jam perbincangan kecil, Nellsa menuntaskannya terlebih dahulu.
"Gue kayaknya harus pulang sekarang deh."
"Pulang sendiri?"
"Nggak, nanti supir gue mau jemput."
"Kayaknya makan waktu deh, mending lo ikut gue aja."
"Oh gak usah, gue tunggu aja."
"Cuaca mendung, jangan anggap gue orang baru. Anggap gue kayak temen lo yang lain," sahut Raga senyum datar dengan matanya yang sedikit sayu.
Mereka akhirnya pulang bersama satu mobil, di mobil milik Raga. Nellsa terus terdiam tanpa kata, sesekali Nellsa menatap Raga juga seisi mobilnya.
"Di mana rumah lo?"
"Jl.Rose No.08, perempatan belok kanan."
Di mobil Raga, terlihat sebuah kompas yang tengah tergeletak.
"Itu kompas kesayangan gue, ke mana gue pergi pasti gue bawa." Setiap berbicara dengan Nellsa, senyuman selalu Raga keluarkan.
__ADS_1
Nellsa langsung terbayang akan sosok Dio yang memang kesamaan mereka tentang hal yang satu ini, membuat Nellsa begitu bingung. Yaitu mengoleksi sebuah kompas. Waktu SMA dulu Nellsa memang selalu melihat Dio membawa kompas di tangannya ke manapun.
"Nggak Nellsa nggak. Semuanm adalah kebetulan. Ya, kebetulan."
Hujan turun menghujani tanah Bandung. Mereka akhirnya sampai di rumah Nellsa.
"Yah hujan, gimana mau nyebrang nih?" gumam Nellsa.
"Mang Opi ... Mang Opi ..." teriak Nellsa dari jendela mobil Raga.
"Ke mana sih Mang Opi, biasanya selalu di depan gerbang. Mang Opi bawain payung ..." Mata Nellsa memicing, penglihatannya berusaha menembus kabut hujan yang semakin deras.
Raga terdiam menatap Nellsa yang tengah memanggil sosok asisten rumah tangganya itu. Dengan jaket anti airnya, Raga mulai keluar mobil menutupi kepalanya dengan jaket untuk melangkah ke sisi sebelah mobilnya menghampiri Nellsa.
"Ayo cepet turun, jaket ini anti air," ucap Raga yang sebagian badannya sudah basah terkena guyuran hujan.
Nellsa bingung dan kaget melihat Raga yang turun. Ia kemudian ikut turun dari mobil. Raga lantas menarik Nellsa meneduh dalam satu jaket dengannya dan mereka mulai menyebrang jalan menuju teras rumah.
Sampai di depan pintu rumah, Nellsa masih terkejut karena hal itu. Nellsa menatap lama Raga yang sedang mengacak rambutnya karena basah terkena hujan. Dengan tatapan tajam bingungnya, Nellsa yang rambutnya sedikit basah mulai mengusap wajahnya yang terkena cipratan air. Raga memperhatikannya dengan senyum tipis.
"Hujan itu indah, kalau lo bersin itu efeknya. Jangan lupa puter air hangat di bak mandi lo, jangan air mendidih. Gue cabut," ucap Raga senyum tipis dan pergi masuk ke dalam mobil.
Nellsa masih terdiam menatap Raga yang sudah masuk ke dalam mobil berwarna putih itu.
"Liat apa? Cepet masuk, hujannya makin deras," teriak Raga lewat jendela mobilnya.
"Aduh Non Nellsa kok basah kuyup gini?"
"Ah Mamang dari mana sih? Nellsa panggil gak nyaut-nyaut."
"Aduh maafin Mamang Non, abis dari belakang. Non pulang sama siapa?"
"Sama temen." Nellsa lantas masuk ke dalam rumah.
Di kamarnya, Nellsa kepikiran sosok Raga.
"Kenapa rasanya aneh, rasanya kayak pertama kali liat ka Dio dulu. Seneng, bahagia, apa yang gue rasa sekarang? Nellsa jangan berpikir sembarangan," gumamnya mengeluh, merutuki dirinya yang memang mungkin sudah terjebak oleh drama yang membuatnya selalu menjadi orang bodoh yang selalu kebingungan.
Dilihat beberapa kali akun instagram milik Raga. Sementara Raga, hanya terus menerus tersenyum di kamarnya.
"Raga, udah tidur? Ibu liat rambut kamu basah tadi. Kamu kehujanan?"
"Nggak kok bu." Raga tersenyum.
"Biar Ibu ambilin vitamin buat kamu, supaya kamu gak flu," ucap Bu Nera hendak keluar kamar Raga. Namun, tangan kekar Raga menahan tangan Ibundanya.
"Bu, Raga gak apa-apa kok. Raga gak sakit, Ibu jangan parnoan terus, Raga bisa jaga diri sendiri."
Bu Nera menatapnya tajam dengan mata berkaca.
"Sekarang ini, cuma kamu sama Ayah yang Ibu punya. Ibu gak mau kamu sakit Raga." Bu Nera memeluk Raga yang tengah duduk.
Raga memegang erat pinggang Ibunda tercintanya, usapan lembut di kepala membuat Raga menyebut itu adalah posisi ternyaman yang pernah ia rasakan.
NOTE :
LIKE, COMENT, SHARE AND RATE.
CONTACT ME ON
__ADS_1
GMAIL : lidia.maulida30@gmail.com
IG : @lidiaya_