AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
WHO ARE YOU?


__ADS_3


...-o0o-...


..."Hati rasanya lemah, resah, gundah juga takut. Namun melihatnya, otakku mulai berpikir sekeras batu. Siapa dia? Berani menyentuhku, menolongku, membuatku terpaku di hadapannya. Iya, dia orang asing, kenapa aku harus kenal dengan orang asing? Dia datang lalu pergi, lalu datang dengan topeng barunya. Di mana kamu?" Diary Nellsa....


...-o0o-...


Nellsa terdiam, melihat langkah Raga pergi dari hadapannya. Suara langkahnya begitu terdengar di pendengaran hingga masuk ke hati kecilnya.


"Nellsa, lo kenapa? Kenapa lo jadi gila gini sih? Apa yang lo pikirin?" batinnya terheran.


Keluar dari rumah sakit, Nellsa dirangkul oleh Kian untuk pulang. Dihadapannya sudah berdiri, seorang gadis cantik berambut panjang terurai. Tatapannya sungguh tajam sampai rasanya sangat menusuk. Berdiri dengan tubuh yang indah layaknya model profesional. Alisnya terangkat sebelah dengan mencirikan wajah tak mengenakan.


"Ken, ngapain lo di sini?" Kian mulai kesal.


"Gue udah bilang dari lima tahun yang lalu, bahwa lo itu bukan tandingan gue, cupu!"


"Heh Ken, Nellsa lagi sakit itu gara-gara lo. Lo sengaja banget mukul ke arah kepalanya, main curang!"


"Heh, lo gak bisa apa-apa dan ngomong kayak gitu depan gue? Please, ngaca!" Ken terlihat sangat ketus depan mereka berdua.


"Pertandingan ditunda gara-gara lo yang lebay itu, gue tunggu lo di next match day." Ucapan terakhir Kennia sebelum ia melangkah pergi setelah membuang waktu untuk mengejek Nellsa.


Belum sempat Kennia melangkah jauh, terdengar laki-laki memanggil Nellsa dan Kian menghentikan langkah gadis yang dipanggil Ken itu.


"Biar gue yang antar Nellsa." Raga terlihat terengah setelah berlari menghampiri mereka berdua.


Kennia Ardita, lantas menoleh ke arah suara itu. Betapa terkejutnya dia, pupil matanya mulai melebar melihat sesosok laki-laki di depannya. Matanya memicing aneh ketika ia mulai menoleh pada lelaki itu.


"Ka .... Dio!" ucapnya dengan terbata-bata.


Nellsa juga Kian menatap sinis Ken yang tengah terkejut. Raga menatap Kennia bingung. Gadis asing yang dilihatnya pun menyebutnya dengan nama yang selalu berbeda. Ada apa ini sebenarnya? Pikirnya.


"Ka Dio!" Kennia berucap berkali-kali.


Nellsa menatapnya sinis. Ia membuang pandangannya setelah melihat Ken menatap Raga dengan begitu fokus.


"Ken, dia bukan Dio." Nellsa berusaha meyakinkan Ken.

__ADS_1


"Heh, dia bukan Dio. Dia cuma mirip." Kian ikut serta.


"Ngomong apa sih kalian? Ka Dio kuliah di sini? Kenapa gak ngabarin Ken?"


"Kenalin, gue Raga Alvanio. Gue pindahan dari Rotterdam. Maaf kalau bikin lo kaget, karena mereka panggil gue juga kayak gitu sebelumnya." Raga hanya tersenyum datar menyapa Ken.


"Apa? Mirip? Ini apa-apaan sih? Rotterdam?" Kennia kebingungan sendiri.


Mereka lantas pergi pulang. Raga melaju mengantar Nellsa pulang. Di dalam mobil mereka memulai perbincangan hangat.


"Cewek yang tadi itu siapa?" tanya Raga yang sedang fokus menyetir.


"Dia itu Kennia, saingan tenis Nellsa dari SMA, juga saingan cintanya," sahut Kian. Nellsa segera menggubris perkataan Kian.


"Huss, jangan sembarangan lo Ki," bisik Nellsa cemas.


"Ups, sorry."


Raga terdiam mendengar perkataan Kian.


"Saingan cinta? Kayaknya gue wajib tau tentang cewek itu," batin Raga.


"Raga, sekali lagi makasih. Lo udah banyak bantu gue." Nellsa canggung. Ia terus tertunduk.


"Emm kayaknya gue butuh imbalan."


"Apa? Imbalan?" Nellsa menyeringai aneh ketika Raga yang dikenalnya oranga baik, tapi nyatanya ia pamrih.


Kian terkekeh geli melihat drama di antara mereka berdua.


"Jam 10 besok, di kantin kampus. Gue minta lo bayarin satu porsi makanan gue."


"Cuma sepiring nasi lo gak akan keberatan kan Sa?" bisik Kian senyum.


Nellsa terdiam aneh. Matanya memencar canggung membuat Raga dan Kian hanya terkekeh tipis. Ya, sebenarnya sudah Kian baca kalau Raga memang tertarik pada sahabatnya itu. Terlebih lagi, ia memiliki wajah yang mirip dengan sang pujaan Nellsa, membuat Kian selalu terbayang semasa SMA dulu ketika Nellsa berusaha untuk mendekati Dio bagaimana pun caranya. Namun kali ini sepertinya, Nellsa lah yang sekarang menjadi incaran untuk didekati para lelaki.


"Eh iya gue ikut sama lo boleh gak? Rumah gue gak jauh dari sini, gue nebeng ya?"


"Hey, kok lo gak punya malu sih Ki?"

__ADS_1


"Raga bukan orang asing. Dia baik kok, gak mungkin culik gue."


"Yaudah, masuk aja."


Ditengah perjalanan menuju rumah Kian, Raga mengambil kesempatan ini untuk mencari buah-buah informasi. Raga menanyakan perihal sosok Kennia pada Kian. Tak merasa curiga dengan perbuatan Raga, Kian hanya menjawab apa yang ditanyakannya.


"Oh Ken, dia itu temen kita sejak SMA, dia lumayan tajir, cantik, banyak yang suka dari kami SMA. Dia primadona sekolah juga kampus saat ini, tapi kami gak pernah kenal akrab sama dia karena dia emang ngeselin. Dia pilih-pilih teman dan paling benci sama Nellsa."


"Benci? Why?"


"Karena Nellsa suka sama Dio. Dio itu salah satu gebetan Kennia dari SMA. Dia suka banget sama Dio karena ya Dio adalah most wanted sekolah kami dulu. Saat denger Nellsa suka Dio, dia pernah labrak Nellsa dulu. Bahkan mereka sering bertengkar cuma gara-gara Dio."


"Jadi, siapa yang berhasil milikin Dio?"


"Gue udah bilang kalau Dio itu cowok jual mahal. Dia seneng disukai banyak orang tapi gak ada yang pernah diterima sama dia satu pun cewek."


"Apa?"


"Iya gue serius, gue gak pernah tau Dio itu orang macem apa. Dia baik sama semua perempuan, maka dari itu Kennia ngejar-ngejar dia terus. Tapi, selama gue SMA gue gak pernah denger Dio punya pacar atau suka sama seseorang."


Sampai di penghujung jalan, pembicaraan mereka terhenti.


"Raga, makasih ya. Lo pulang hati-hati, bye."


"Jadi begitu," batin Raga lantas melajukan pergi mobilnya.


Sampai di Apartemen, Raga melemparkan tas punggungnya ke kasur. Ia membuka balkon kamarnya untuk mendatangkan setiap oksigen baik masuk ke dalam kamarnya. Raga melamun dengan terus teringat perkataan Kian di mobil saat itu. Sebuah buku Raga pegang. Ia menatap buku itu lama.


"Bagaimana bisa jantung kita terasa sinkron ketika melihat orang yang kita sukai?" gumam Raga. Ia lantas membuka bukunya. Membacanya dengan teliti dan mencari jawaban dari perasaannya.


Handle pintu terdengar terbuka. Raga lantas menutup bukunya dan nenaruhnya di atas nakas.


"Ibu .." Raga tersenyum.


"Nak, gimana kuliah kamu?" Bu Nera mengelus perlahan pundak puteranya dengan kasih sayang.


"Lancar bu. Raga banyak nemuin orang yang menyenangkan bahkan sebelumnya kami pernah bertemu di Rotterdam lalu. Mereka mahasiswa Indonesia, tau-taunya Raga pun sekarang kuliah di kampus yang sama kayak mereka bu."


"Oh ya? Bisa kebetulan begitu nak? Tapi ibu seneng banget dengernya. Akhirnya kamu bisa keluar dari kesepian kamu."

__ADS_1


Raga lantas memeluk ibundanya dengan erat. Sangat sayangnya Raga pada ibundanya, Raga selalu menyisipkan pelukannya di saat apapun ia membutuhkan.


__ADS_2