AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
OUR CHANCE


__ADS_3


Pagi kembali, Raga berjalan di koridor kampus. Tiba-tiba saja tiga perempuan menghadangnya untuk berjalan. Ia menyeringai aneh menatap ketiga perempuan itu. Tatapannya sungguh tajam.


"Ikut kita!"


"Apa-apaan ini? Kalian siapa?"


"Dia lagi nunggu lo di kantin."


"Siapa? Dan apa perlu dia?"


"Nanti juga lo tau. Udah, jangan banyak omong dan buang waktu." Salah satu perempuan dari mereka begitu sinis berbicara.


Raga pergi ke kantin melihat seorang wanita dari belakang sedang duduk asik di kursi yang terjejer rapih di kantin. Raga mendekat untuk memastikan maksud apa ia dibawa ke kantin oleh ketiga perempuan itu.


"Hay Ga!" Ken menyapa.


"Lo! Ngapain lo di sini? Siapa yang manggil gue?"


"Gue yang manggil lo. Silahkan duduk. Bi, tolong steaknya 2 piring," teriak Ken pada Bibi pelayan kantin.


"Ada maksud apa lo panggil gue?"


Kennia terdiam dengan senyum tipis di wajahnya. Dua porsi steak telah datang.


"Ayo dimakan!"


"Maksudnya apa ini?"


"Gue cuma mau berterima kasih sama lo, karena waktu itu lo nolong gue."


"Oh itu, bukan apa-apa. Kenapa lo harus ngelakuin ini ke gue?" Raga melirik sepiring steak dihadapannya.


"Ini salah satu bentuk ucapan terima kasih gue. Ayo dimakan."


Raga memakannya tanpa berbicara apapun. Proses makan ia selesaikan secepat mungkin. Bahkan membuat Kennia kebingungan harus bersikap apa di depannya.


"Gue selesai, makasih buat steaknya, gue cabut."


"Tunggu, lo gak minta kontak gue? Laki-laki lain iri sama lo, karena bisa diajak makan sama gue."


"Apa? Kontak? Maksud lo, nomor ponsel? Gue minta maaf. Gue baru kenal lo. Gue gak butuhin kontak lo sekarang." Raga tersenyum tipis. Mereka bahkan tak banyak saling bicara saat itu. Raga hanya melakukan apa yang Ken suruh padanya tanpa mengobrol banyak.


Mata Ken memencar canggung, ia jatuh malu karena perkataan Raga yang belum ia dengar dari beberapa lelaki yang menginginkan untuk bersamanya.


"Apa?!"

__ADS_1


Raga tersenyum pergi meninggalkan Kennia.


"Ih dasar cowok gak tau malu," teriak Ken.


"Tapi gue mulai suka," tambahnya.


Raga berpapasan dengan Nellsa. Nellsa terdiam, ingin menghindar namun itu terlambat. Nellsa memfokuskan langkahnya. Ia lihat Raga pun begitu fokus tanpa menyapa dirinya yang biasanya selalu ia lakukan. Suatu keberuntungan bagi Nellsa namun bersambung dengan keanehan.


"Tumben banget tuh orang lewatin gue." Nellsa bergumam begitu pelan.


"Siapa yang lewatin lo, gue di belakang lo." Raga membuat Nellsa menoleh cepat. Gumaman pelannya baru saja terdengar oleh Raga.


"Heuhhh ... udah gue duga," batin Nellsa. Ia menghela napasnya pasrah.


Raga menatap dahi Nellsa lama, dengan wajah seriusnya Raga mulai menatapnya begitu dalam. Nellsa menatap balik Raga, ditatap bagian Alis Raga, mata, hingga hidungnya. Nellsa tersadar dan mendorong Raga dari hadapannya.


"Dahi lo masih memar. Apa gak sakit?"


"Ngga kok." Nellsa canggung.


Raga menggenggam tangan Nellsa paksa, dan membawanya berteduh di sebuah pohon di taman kampus.


"Mau apa lo? Jangan pernah sentuh gue tanpa izin begini! Lo siapa emangnya? Lepasin!" Nellsa risih


Raga lantas membuka ranselnya mencari sebuah benda di dalamnya membuat Nellsa semakin heran.


Sebuah obat berbentuk gel ada di tangan Raga. Raga mulai mengeluarkan isinya dan mulai mengoles dahi Nellsa dengan salep peredam nyeri tersebut.


"Apa-apaan lo, aw ...." Nellsa berusaha menyangkalnya.


"Ini memar yang gak bisa dibiarin. Gak sembuh juga kalau cuma minum obat. Salep ini bisa ngilangin memar lo."


"Tapi gue gak butuh ini. Dan juga, gue gak butuh lo kasih gue beginian. Jangan memaksa buat menolong dan mencampuri urusan orang lain."


"Selesai!" Raga menatap mata Nellsa sayu. Bahkan ucapan Nellsa baru saja ia abaikan. Nellsa menatap balik mata Raga, dia malah terdiam kaku di depannya. Ucapannya tadi bahkan telah ia lupakan karena Raga menatapnya begitu dalam dan lagi mengingatkannya pada seseorang.


"Liat sesuka lo. Kalau perasaan lo masih sama kayak dulu, liat wajah gue sesuka lo. Gue rela pinjemin wajah gue buat ngilangin rasa rindu itu." Ucapan Raga membuat Nellsa canggung.


"Gak bisa, gimana pun lo itu berbeda. Persamaannya, kalian sama-sama makhluk hidup. Kalian punya hidung, telinga juga mulut. Jangan lakuin ini lagi di depan gue kalau mau berteman baik sama gue."


"Gue tau. Lagi pula gue gak mau disamain sama seseorang. Gue suka mata lo. Kalau gue natap rasanya gue pengen nutup mata haha. Gue cabut dulu ya." Raga menepuk pundak Nellsa pelan ia tersenyum lebar seraya pergi.


Nellsa tersenyum refleks mengikuti senyuman Raga. Beberapa detik ia tersadar akan senyumannya. Ia melebarkan matanya aneh.


"Ih kenapa lo senyum, ohoy Nellsa jangan lakuin ini. Kenapa gue?" batinnya melotot heran.


Sepanjang jalan Raga mulai tersenyum sendiri mengingat Nellsa.

__ADS_1


"Kenapa gue jadi aneh gini ya, setiap ngeliat dia ... entah kenapa gue seneng terus," batinnya.


Aldan yang selalu penasaran lantas menegurnya, "Woy, kenapa lo senyum senyum gitu? Cie cie cie, abis ketemuan sama cewek ya lo?"


"Mau sampe kapan lo selalu berpikiran kayak gitu sama gue?"


"Gue cuma heran sama lo. Lo masang wajah datar lo aja cewek-cewek pada suka, apalagi kalau lo senyum kayak gini."


"Lo iri sama gue?" Raga senyum tipis.


"Dih, gak banget gue. Gini-gini juga gue terkenal tampan di kampus ini. Iya kan cantik?" tanya Aldan pada salah satu mahasiswi yang lewat.


"Ih apaan si, sok kenal banget!" Ucapan Mahasiswi itu membuat Raga mengembungkan mulutnya menahan tertawa.


"Hahahahaha."


"Heh, ini cuma kebetulan. Dianya aja yang jutek."


Sebuah badai angin menerjang wilayah Bandung. Beberapa pohon ada yang berjatuhan karena sudah tak kokoh untuk tumbuh. Di sisi lain, jendela terbuka begitu lebar dan beberapa kali menubruk tembok apartemen dengan keras.


"Hujannya pasti banyak malam ini. Jendela gue bisa kebuka gini," gumam Raga seraya berusaha menutup jendelanya dengan mata memicing menghindari angin yang bertebangan bersamaan dengan air hujan tersebut.


Tringggggg


Sebuah bingkai foto terjatuh dari nakas meja kamar Raga. Ia melotot melihat sebuah bingkai foto yang kacanya sudah berhamburan pecah.


"Sial! Pecah!" Ia menatap bingkai itu dengan nahas.


"Ada apa nak? Ya ampun. Kamu gak apa-apa?" Tangan bu Nera meraih cepat tangan Raga. Ia membulak-balikkan tangan Raga dengan begitu cemas.


"Ibu, Raga gak apa-apa. Angin terlalu kencang, ini udah pecah. Raga akan ambil bingkai baru untuk ini bu."


Bu Nera menatap sendu Raga. Ia menahan lengan Raga untuk mengambil sebuah bingkai foto baru di lemarinya.


"Biar ibu yang mengganti." Bu Nera menatap Raga begitu dalam. Wajahnya pun terlihat sendu membingungkan Raga.


"Bu," lirihnya.


"Gak apa-apa. Setelah badai, pasti besok langit akan cerah," ucapnya tak jelas makna menurut Raga. Raga menghampiri dan memeluk sang ibu dari belakang. Ia menyenderkan wajahnya pada bahu sang ibu ketika tangan bu Nera menjulur ke atas mengambil sebuah bingkai.


"Maafin Raga ya bu. Raga belum bisa jadi anak baik buat ibu. Raga suka pergi tanpa izin. Raga suka mengambil keputusan tanpa bicara sama ibu."


Bu Nera berbalik, menyentuh kedua belah pipi Raga dengan lembut.


"Selamanya, kamu jadi anak terbaik ibu, Raga. Yang ibu mau di dunia ini adalah kamu bisa bahagia. Apapun situasinya nanti, pikirkan lah untuk kebahagiaan kamu lebih dulu baru orang lain."


Raga menganggukan kepalanya perlahan. Ia tersenyum hangat depan sang ibu.

__ADS_1


PLAGIAT DILARANG KERAS MENDEKAT!


__ADS_2