
Di taksi, Nellsa selalu terngiang dengan perkataan Raga. Ia bahkan tak pernah bisa mengindari pandangan Raga ketika Raga menatap matanya. Sungguh, hanya karena kemiripan wajahnya dengan Dio malah membuat Nellsa tidak tenang. Ia serasa ingin bertanya langsung namun tak ada keberanian dalam dirinya. Menyebut seseorang mirip dengan orang lain, menurutnya hal yang sungguh tidak sopan. Tapi semua itu malah menggangu pikirannya.
"Kenapa lagi Sa? Pasti Dio kan? Haduh, gue udah bilang berapa kali sama lo. Mereka itu beda, wajah boleh lah mirip, tapi mereka gak sama, dari awal juga lo diem-diem aja, gak kaget gitu."
"Perasaan gue beda Ki, gue udah tau dari awal dia mirip Dio, udah berusaha sekeras mungkin buat gak ngehalu. Tapi Raga dateng gitu aja. Entah kenapa .... semakin hari wajah mereka semakin mirip," gumam Nellsa.
"Gue pusing Sa, gue berpikir Dio gak mungkin ada di Rotterdam. Dia pergi tanpa meninggalkan jejak, sedangkan Raga mungkin udah lama tinggal di sini. Bahasa Belandanya aja hampir lancar, lo denger kan waktu dia ngajak kita keliling?"
"Tunggu dulu Ki, kenapa setiap ucapan Raga itu ada beberapa kalimat yang sama persis sama ka Dio ucap dulu."
"Itu cuma kebetulan Sa."
"Tapi gue ngerasa .... ah entahlah."
Di ruang kamarnya. Nellsa mulai meraih ponsel dan membuka sebuah aplikasi bernama instagram. Walau ia tak niat, jemarinya mulai menulis nama Raga dilaman pencarian instagram. Sungguh rasa semakin menjangkit beberapa hari di Rotterdam karena sosok Raga.
"Nah ketemu."
"Dia emang famous, followersnya banyak. Kian bener, ka Dio kan gak pernah punya akun sosmed, tapi ... ini siapa?" Nellsa melihat foto seseorang yang hanya terlihat sebuah punggung belakangnya, dan berfoto dengan Raga membelakangi kamera.
"Smile on the pleasure that never fades." Nellsa membaca caption milik Raga.
"Nellsa, ayo kita harus kumpul ada bimbingan buat besok pulang," teriak Kian.
"Eh ... iya Ki."
...-o0o-...
..."Rotterdam, kota besar kedua di Belanda terletak di provinsi Holland Selatan. Bagiku ini pengalaman yang sungguh tidak akan ada harganya itu, aku dapat pengalaman, kebersamaan, dan lainnya. Satu hal yang sebenarnya sangat aku suka dari ini, aku bisa melihat dia yang tak pernah mencintaiku, dengan orang yang berbeda, watak berbeda, sifat berbeda, jiwa berbeda tapi dengan satu wajah yang sama." Diary Nellsa....
...-o0o-...
TingTung
Sebuah notifikasi email berbunyi di ponsel Nellsa.
^^^Raga^^^
^^^Sa, lo tau gak lo mirip siapa?^^^
__ADS_1
Me
Emangnya mirip siapa?
^^^Raga^^^
^^^Mirip kucing gue di rumah, ekekek^^^
Me
Kok lo ngeselin ya?
"Raga. Ra ... ga ... dia sebenernya orang kayak gimana sih? Dia kan makhluk asing, kenapa mudah banget akrab sama orang lain," gumam Nellsa senyum.
^^^Raga^^^
^^^Sa, sebenernya ada yang mau gue sampein sama lo, besok tolong dateng ke toko Roti biasa.^^^
Notifikasi kembali dari Raga, namun sayangnya pesan itu terhenti karena Nellsa sudah memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpi.
"Dia ko gak bales, emm mungkin sibuk atau tidur."
••
"Uhuhuhuhu gue males pulang, gue betah di sini." Kian merengek.
"Ini negeri orang Ki, 100% juga lebih nyaman tinggal di negara sendiri," timpal Nellsa.
"Gue masih mau di sini, kalau bisa gue jual tempe aja deh di sini," ucap Putra.
"Udah udah, semuanya terima kasih untuk apresiasi kalian selama ini. Ini sungguh kebanggaan bagi kampus Yuniar, pertama kali melakukan observasi di Rotterdam, Belanda. Kami sungguh sangat senang, terlalu senang hingga rasanya sedih karena terlalu sering kita bersama, kita bisa hidup di negeri orang selama 20 hari terakhir. Semoga penelitian kita berjalan lancar, tepuk tangan untuk kita semua," ucap Pembimbing.
"Untuk itu, sebelum keberangkatan kita kembali ke Indonesia akan lebih baik jika kita berdoa terlebih dahulu dengan kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai." Diko mulai memimpin doa.
**
Mereka sampai di Bandara, terlihat Nellsa sudah rapih untuk membawa kopernya ke dalam pesawat. Di dalam pesawat Nellsa sempat memikirkan Raga.
"Eh iya email? Aduh gak boleh main gadget lagi," batinnya.
"Gue bakalan kangen Raga, dia gak tau kan kita pulang hari ini."
__ADS_1
"Gue sempat bales email dia, tapi gue gak sempat bilang kalau pulang hari ini."
"Aduh Sa, kenapa gak bilang? Selama ini kan dia banyak bantu kita di sana."
"Gue ... gue keburu tidur Ki, gak sempat bales emailnya lagi."
Kian ngambek dan meninggalkan Nellsa tidur.
"Yah kok malah tidur. Gimana dong Ki? Gue belum berterima kasih sama dia."
"Kenapa rasanya gue sedih gini ya, gak bilang sama Raga kalau gue pulang hari ini. Demi apapun, gue sebenernya senang nemuin dia. Semuanya tentang masa lalu yang pernah ada di hidup gue. Entah dia Dio atau bukan, nyatanya gue seneng," batin Nellsa seraya menatap awan-awan yang melewati setiap kaca jendela pesawat.
Disamping itu, Raga tengah menunggu di toko Roti di pertengahan Rotterdam. Ia terus melirik arloji di tangannya. Sesekali matanya memencar ke jalan memastikan bahwa ada gadis yang tengah berjalan menuju tempat ia terduduk.
"Email gue kok gak dibales ya. Apa mereka udah pulang ke Indonesia?" batin Raga bertanya. Matanya terus merasa cemas menatap jalan di luar toko. Ia berdiri dengan cemas.
Raga berlari untuk menuju kampusnya hari itu. Dengan langkah cepat dan kaki panjang yang dimilikinya, Raga mulai memasuki ruangan rektorat. Di sana Raga membicarakan tentang penelitian mahasiswa kampus yang berasal dari Indonesia.
"What, 20 day?"
"Ya! Today, they will return to Indonesia."
"Thank you for information Sir."
Raga pergi berjalan di sekitaran kampus.
"Gue telat satu langkah, gue akan temuin lo di sana. Gue pasti nemuin lo," batin Raga.
Dua hari kemudian, waktunya Raga untuk pindah ke Indonesia. Memang, keluarganya sudah merencanakan jauh untuk kembali menatap di Indonesia seperti keinginan Raga saat ini.
"Mom, Hurry up!"
"Sabar Raga, kamu ini kenapa coba? Kamu lumayan lama stay di sini, apa kamu gak sedih ninggalin Rotterdam nak?"
"Raga kan lahir di Bandung bu, gimana Raga gak antusias mau kembali ke sana. Benar kan yah?"
"Iya nak, kamu benar. Soal pendidikan, kamu udah urus?" tanya Pak Handi, Ayah Raga.
"Raga udah urus satu minggu yang lalu yah."
"Oke, ayo kita pulang ke negara kita."
__ADS_1
Berikan Feedback : Vote nd coment :)