AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
LUNCH TIME


__ADS_3


Sore hari datang, Nellsa terlihat membawa banyak buku di tangannya. Hari itu adalah harinya untuk membuat makalah. Beberapa buku dari perpustakaan disewanya.


Dengan langkah terbata-bata, Nellsa berusaha untuk tetap seimbang. Karena dia tidak membawa goodie bag, terpaksa harus memegang buku berjumlah 6 buah tersebut. Terlebih lagi, buku itu sangat tebal. Diko menghampiri Nellsa dan mengambil paksa buku itu dari tangan Nellsa.


"Eh eh ka Diko!"


"Kenapa lo bawa tas sekecil itu?"


"Nellsa cuma ada satu matkul, Nellsa gak bawa banyak buku jadinya. Gak apa-apa kok ka, biar Nellsa aja sendiri." Nellsa hendak mengambil kembali buku itu, namun tangan Diko menggenggam lengan Nellsa untuk menghentikannya.


Diko terlihat canggung, Nellsa segera melepaskannya.


"Makasih ka, udah bantu."


"Udah jangan sungkan, gue geli dengernya."


Mereka mulai berjalan berdampingan. Tak sadar dibalik drama mereka, Raga terlihat memperhatikan dari pagar koridor lantai 3. Aldan menghampirinya.


"Liat apa lo?"


"Udara." Raga membuat Aldan bingung.


"Hah? Emangnya udara bisa diliat ya?" Mata Aldan memencar bingung.


Raga terkekeh, menatap kebodohan Aldan.


"Sejak kapan gue punya temen gangguan mental?"


"Wah lo ngejek gue. Heh bule lokal, traktir gue makan dong. Lo kan banyak job, sekali-kali traktir gue."


"Bukannya lo udah makan?"


"Kenapa lo bisa tau gue udah makan?"


"Bau mie ayam di mulut lo berkeliaran, bikin polusi."


Aldan mulai menghirup napasnya sendiri.


"Kok dia tau ya?" Aldan menyeringai aneh.


Pagi hari, Nellsa dengan fashion sederhananya berjalan di sekitar lingkungan kampus Yuniar. Terlihat Kian sedang memakan cemilan di taman kampus. Dengan mulut penuh cemilannya, Kian mulai memainkan ponselnya dengan serius. Dibuka sebuah aplikasi instagram olehnya.


"Emm, IG milik Raga makin hari makin banyak aja followersnya, kece juga nih anak. Profesional banget visualnya."


Nellsa menghampirinya dengan Diary yang tak luput dibawa.


"Masih aja bergelut sama diary tua itu, apa sih yang lo mau tulis? Coba buka lembaran baru, liat nih Raga."


"Gue baru dateng, lo udah buang-buang oksigen." Nellsa menghela napasnya malas.


Kian masih bergelut dengan ponselnya, sementara Nellsa mulai melakukan peregangan otot jarinya dengan menulis beberapa karangannya dalam diary.


Diary Nellsa, dibelinya sejak ia masih menginjak kelas satu SMA. Dimulai saat dia menyukai seseorang, Nellsa tidak memegang ponsel walaupun di zamannya sudah termasuk zaman milenial. Hanya satu pria yang membuat tangannya mulai menulis tentang cinta, yaitu Dio.


Raga berjalan di sekitar koridor kampus sambil melihat datar ponselnya. Wanita berkulit putih menghampirinya. Ya, itu Kennia Ardita, seseorang yang masih penasaran dengan sosok Raga. Kennia menghampiri Raga dan hendak mendorongnya dengan kesal, namun Raga menoleh lebih dulu.


"Lo lagi!"

__ADS_1


"Raga, lo yang muncul di iklan handphone itu. Cukup populer lo ya. Sebelumnya gue belum kenalan resmi sama lo, gue Kennia Ardita. Putri kampus di sini," ujarnya dengan sombong.


"Emangnya ada program putri kampus ya di sini?" Raga membuat Kennia terdiam malu.


"Oh iya, lo kenapa bisa kenal Nellsa?"


"Gue kenal dia di Rotterdam, waktu fakultas ekonomi study ke Belanda."


"Kok bisa ya? Kenapa wajahnya begitu mirip sama Dio, tapi ka Dio yang gue kenal bukan kayak gini penampilannya," batin Ken.


Raga lantas pergi meninggalkannya, dilihat Arloji miliknya menunjukkan pukul 10 pagi.


"My promise!" gumamnya senyum dengan melangkah cepat menuju kantin kampus.


Nellsa dan Kian sedang berjalan di koridor untuk menuju kantin. Sampai di sana, terlihat seorang laki-laki tengah duduk dengan kaki dilipat juga novel cinta yang sedang dibacanya.


"Raga," sapa Kian.


"Gue mau nagih imbalan waktu itu, gue laper. Pesenin nasi goreng satu."


Kian dan Nellsa bingung, namun Kian sudah menduga hal itu dan beranjak pergi dari kantin.


"Kian mau ke mana?"


"Sorry, ada yang ketinggalan," teriak Kian berusaha menghindar.


Nellsa memesankan satu piring nasi goreng untuk Raga.


"Udah impas."


Raga segera melahap makanannya.  Nellsa mengernyitkan dahi, menatap datar Raga yang tengah serius makan. Seluruh wajah Raga ditatapnya, Nellsa mulai terbayang sosok Dio. Dio yang dulu dilihatnya secara jauh, sekarang dia serasa ada di dalam bola matanya.


"Lo gak ada kelas?" Pertanyaan Raga seketika memecah tatapan Nellsa.


"Apa gue masih ngingetin lo sama Dio?" Raga menghentikan proses makannya.


Nellsa terdiam kaku dan bingung mendengar pertanyaan Raga.


"Kenapa lo ngomongin dia, lo orang asing mana tau Dio kayak gimana." Nellsa terlihat canggung sambil meminum es kelapa dihadapannya.


"Gimana perasaan lo saat ini ke dia? Dia udah lama jauh dari lo. Apa perasaan lo masih sama kayak dulu?" Pertanyaan Raga sekali lagi membuat Nellsa melotot kaget.


"Upss, sorry! Gue ada kelas sekarang. Gue gak mau telat, bayarin nasi gue ya." Belum sempat mendengar jawaban Nellsa. Raga melangkah pergi secara tergesa.


Nellsa memasang wajah sendunya, matanya mulai menatap kekosongan seraya mengetuk-ngetuk sedotan di dalam gelas esnya.


Pulang dari kampus Raga melihat Kennia yang hendak tertabrak mobil karena berusaha menyeberang jalan. Raga lantas menarik Ken ke dekapannya. Kennia melotot kaget dan menatap penuh wajah Raga.


"Kalau nyebrang pake mata." Raga membuat Kennia tertegun kaku.


Dengan visual tampannya, sepertinya Raga membuat Kennia terpaku karena itu. Raga lantas tergesa-gesa pergi.


"Makasih," teriak Kennia yang masih hanyut dalam peristiwa itu.


"Ya ampun, kenapa gue ngerasa aneh gini ya. Dia ternyata orang baik, dia persis kayak ka Dio," batin Ken.


Raga dan Aldan pergi ke toko bunga Mentari.


"Ka, tolong minta 20 tangkai mawar putih, dirangkai ya."

__ADS_1


"Buat apa lo bunga mawar putih?" Aldan menyeringai aneh, dengan kacamata hitamnya, Aldan mulai menggoda beberapa pelayan di toko itu.


"Bad habbit."


Setelah mendapat satu buah buket bunga, Raga melangkah pergi tanpa sadar bahwa ia membawa temannya.


"Heh tungguin, pengen tinggal tinggal aja. Manis ... kakak pergi dulu ya, bye...."


Raga turun di suatu tempat, ia menyuruh Aldan untuk menunggu di mobilnya sementara.


"Mau ke mana? Kenapa lo berenti di sini? Tempat apa sih ini? Sepi banget."


"Gue mau jengkuk saudara gue! Lo tunggu, gue gak bakalan lama kok. Jagain mobil gue."


"Oke oke, tenang aja."


Aldan bersiul di dalam mobil seraya menunggu Raga untuk kembali, ia hanya asyik dengan dirinya sendiri di mobil tanpa mengetahui tempat yang Raga tuju.


Beberapa menit Raga kembali.


"Ke mana bunga lo?"


"Gue kasih buat saudara gue, dia senang banget. Yo cabut udah sore gini. Lo serius mau nginep di apartemen gue? Apartemen gue bukan tempat penampungan orang galau."


"Yahelah, malem ini aja deh boy. Gue kan udah banyak bantu lo di kampus, gue lagi bosen suasana rumah."


"Iya iya!"


"Asik, lo emang bener-bener orang baik deh."


Sampai mereka di Apartemen Grand Lake.


"Bu ini temen kelas Raga di kampus, namanya Aldan Gautama, dia mau izin menginap di sini."


"Selamat sore tante, saya Aldan. Saya izin menginap di sini malam ini."


"Oh iya boleh kok. Raga, kenapa diem aja? Ajak Aldan makan, Ibu udah siapin makanannya di meja makan."


"Makasih banyak tante."


"Punya Ibu baik bener."


"Itulah Ibu gue."


Di kamar, mata Aldan memencar melihat beberapa benda koleksi milik Raga.


"Jangan sentuh apapun," ucap Raga sambil membaca novel miliknya.


"Iya iya gue ngerti." Aldan lantas merebahkan tubuhnya ke kasur, beberapa menit ia mulai mendengkur mengusik ketenangan Raga tentunya.


"Sial, nih anak bikin gue insomnia malem ini."


Raga menoleh pada nakas. Terlihat sebuah bingkai berisikan foto yang membuatnya tersenyum. Ia lantas menaruh bingkai tersebut dalam laci dengan senyum terus melekat di wajahnya.


NOTE :


Contact me on


Gmail : lidia.maulida30@gmail.com

__ADS_1


IG Official : @lidiaya_


IG Author : @lidstudioo


__ADS_2