AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
BLACK RING


__ADS_3


Raga melihat White Rose di kamarnya yang masih segar terlihat. Pasalnya ini sudah seminggu mawar itu ada di meja kamarnya. Masih tegak tanpa layu, masih harum semerbak tanpa bau.


Pagi mendung merasuki wilayah kota Bandung. Hujan turun, gemercik airnya mulai menetes di atas payung wanita bermata bulat yang tengah berdiri di depan gedung Tehnik.


"Kenapa hujan sih, gue kan ada kelas pagi." Nellsa jengkel, pagi-pagi sekali ia harus berurusan dengan hujan.


Raga keluar dari mobil, langsung menyebrang ke gedung Tehnik. Gedung Tehnik adalah gedung terdekat dari lokasi parkir kendaraan kampus Yuniar.


"Raga, aduh deh. Sembunyi di mana nih gue," batin Nellsa berusaha menghindari Raga.


Rambut yang basah terkena hujan membuat pria berhidung mancung itu semakin tampan terlihat. Ia menggosokkan rambutnya dengan tangan, terlihat cipratan air mulai mengenai lengan baju Nellsa.


"Aduh, gedung Ekonomi masih jauh. Gimana gue nyebrang jalan," gumam Raga lantas melirik payung berwarna merah di sampingnya.


Di bawahnya terlihat seorang gadis yang menutupi setengah wajahnya dengan payung. Raga menatap aneh seraya menunggu hujan Reda. Sesekali ia melepas senyumnya.


"Aduh, gimana gue mau pergi." Nellsa terus cemas dalam batinnya, ia sungguh tidak ingin hari itu berurusan dengannya, Raga. Ya, jika terus menerus pasti pikirannya lagi-lagi melayang entah ke mana. Dan berujung dengan ingat pada sosok Dio.


Nellsa melangkahkan kakinya hendak menyebrang, namun Raga mengambil payung itu dengan sergap.


"Gue juga ada kelas pagi."


Raga memegang payung itu dan mulai berjalan berdampingan dengan Nellsa. Nellsa hanya menatapnya kebingungan walau kakinya mulai melangkah bersama Raga kali itu. Sampailah mereka di gedung Ekonomi.


"Nih, makasih ya!" Raga memberikan sekaleng kopi untuk Nellsa.


"Hhh? Hey gue bukan ojek payung!"


"Gue kasih itu bukan sebagai imbalan. Gue takut hidung lo banjir lagi. Minum kopi gue, itu masih hangat karena terus di dalam tas." Raga meninggalkan Nellsa yang terdiam bingung.


"Ih ngeselin, tapi dia bener-bener beda dari ka Dio. Sebenarnya ka Dio di mana sih, usaha gue jadi sia-sia kalau gue liat Raga," batinnya.


Diko dan Erick terlihat memainkan gitar di taman kampus. Ya, seperti biasanya mahasiswa tengah beristirahat dari kegiatan belajar, diskusi dan presentasi. Mereka bernyanyi ria, ditambah saling bertukar pikiran.


"Raga!" Lambaian tangan Erick terlihat di matanya.


"Eh, kalian ngapain?"


"Biasa lagi ngopi-ngopi aja, join aja. Gue pesenin satu kopi buat lo."


Diko memperhatikan Raga dari ujung kaki hingga kepala. Raga memakai baju panel juga topi berwarna hitam selaras. Mata Diko pekat saat Raga datang menghampiri lokasi duduknya.


"Kenapa?" Raga mulai risih dengan tatapan Diko yang memang akhir-akhir ini membuat dirinya penasaran dan merasa aneh.

__ADS_1


"Oh nggak, topi lo bagus!" Diko berucap sambil memetik gitarnya.


"Oh, gue dapet ini di Rotterdam. Tadinya mau diambil orang, tapi gue duluan yang dapetin ini." Raga terkekeh saat bercerita.


"Nih kopi buat lo." Erick menyodorkan kopi untuknya.


"Thanks!"


"Lo bisa main gitar?"


Raga langsung merampas gitar dari tangan Diko dan mulai memetik senarnya dengan nada yang beraturan.


"Dio dulu gak bisa main gitar, jago juga lo." Ucapan Erick membuat Diko terdiam.


"Cincin hitam?" batin Diko terus melirik cincin berwarna hitam di jari telunjuk Raga.


Diko mengingat saat Dio meminum kopi di kantin sekolah dulu.


Flashback...


"Cincin hitam, kayak dukun lo!" ucap Diko.


"Lo gak tau, ini fashion boy," sahut Dio.


"Si Dio mah sukanya fashion kuno, menurut dia itu udah paling bagus," timpal Erick.


"Wah wah, cincin hitam. Pasti dari Rotterdam, iya kan?" Erick antusias.


Raga terdiam menatap Diko yang sedari tadi menatap cincin hitam di jari telunjuknya.


"Nggak, ini punya seseorang." Pandangan Raga beralih melirik Diko yang memang terlihat aneh saat itu.


"Seseorang?"


"Temen gue." Hampir saja ucapan Raga membuat Diko berpikiran luas.


"Wah, bisa nih gue diajak ke Rotterdam. Sebel gue, kenapa Fakultas Tehnik gak ngadain study keluar sih." Erick hanya bergumam padanya.


"Kapan-kapan, gue akan ajak lo ke Rotterdam."


"Wah beneran boy? Bravo man, baru kenal juga lo sama gue, tapi gue rasa udah kenal lama sama lo. Mantap lah!"


"Kenapa gue bisa curiga gini ya sama Raga, gak harus kayak gini Dik. Tapi, kenapa dia malah buat gue penasaran lebih dalam?" batin Diko.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Raga terlihat sedang duduk di sofa apartemennya dengan jemari yang masih setia memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Raga, tolong kamu pesenin karangan bunga buat pembukaan kantor temen Ayah. Karena Ayah baru kerja lagi di sini, Ayah mau ngucapin selamat buat dia, Ayah kerja dulu."


"Baik Ayah."


Mobil putih sedang melaju, di dalamnya terlihat seorang pria sedang memperhatikan ponselnya yang sedang berada dalam aplikasi Google Map. Ia memainkan stirnya dengan mata masih memencar mencari toko bunga.


"Di mana gue bisa dapet karangan bunga? Aduh kenapa gue bisa lupa jalan gini ya. Padahal baru lima tahun di Belanda." Raga masih canggung untuk berkendara sekitar Bandung, dia belum terbiasa lagi setelah kepergiannya yang memakan waktu begitu lama.


"Toko Bunga Mentari, emm mungkin ini kali ya." Raga lantas turun dari mobil. Ia masuk ke dalam toko dan langsung disambut oleh beberapa pelayan berwajah cantik.


"Selamat datang di toko bunga kami, ada yang bisa saya bantu kak?"


"Apa di sini tempat dimana saya bisa dapet karangan bunga?"


"Kakak datang ke tempat yang tepat. Silahkan pilih dulu, nanti sebutkan untuk siapa dan untuk hal apa, biar kami yang urus."


Raga melihat sekitaran, matanya mendapati bunga mawar putih. Ya, mawar putih sekarang menjadi candunya. Tak tahu kenapa Raga lantas teringat dengan mawar putihnya di rumah.


"White Rose!" gumamnya di depan bunga mawar putih yang terpajang.


"Maaf Kak, itu tidak kami jual. Ini punya teman kami, dia sangat menjaga bunga ini sampai seindah ini."


"Kenapa dipajang di sini?"


"Saya juga kurang tahu, tapi jika anda mau beli, kami punya bunga yang lain."


Raga kembali ke Studio Adi untuk pemotretan.


"Raga, lo hari ini pemotretan untuk busana aja sih, brand baru request dari temen gue."


"Oke!"


"Nanti malem gue transfer. Cek ponsel lo buat jadwal baru lo, setelah iklan Hp lo keluar di Televisi, banyak yang cari-cari lo, termasuk Agency."


"Apa? Agency? Selama berkarir di Rotterdam, belum pernah ada agency yang nawarin gue buat casting kak." Raga terkekeh.


"Ngomong-ngomong tinggi lo berapa?"


"190." Raga membuat Adi melotot.


"Pantesan, gue merasa jadi kurcaci kalau di samping lo. Yaudah lo boleh istirahat. Thanks ya!"


NOTE :


CONTAC ME ON :

__ADS_1


GMAIL : lidia.maulida30@gmail.com


IG : @lidiaya_


__ADS_2