AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
WHITE ROSE


__ADS_3


Raga begitu fokus pada langkahnya untuk menuju gedung Fakultas Tehnik kampus Yuniar. Sudah diterka sebelumnya bahwa itu bukan tidak ada maksud pergi ke sana. Niat Raga untuk menemui Erick. Ya, Erick yang sebelumnya dibilang Kian bahwa ia begitu dekat dengan Dio. Mata Raga menangkap sosok Erick sedang berjalan dengan santainya di sekitaran taman.


"Erick?"


Panggilan Raga hampir saja membuat Erick salah sebut namanya.


"Dio! Eh, maksud gue Raga kan?" Erick menghampiri dengan senyum.


"Sebelumnya kita belum kenalan resmi, gue Erick. Diko udah cerita soal lo ke gue, maaf gue salah terka." Erick menjulurkan tangan kanannya.


Raga meraih tangan Erick, mereka berjabat tangan.


"Gue mau bicara sama lo." Ucapan Raga membuat Erick menatapnya datar. Bahkan Raga yang baru saja ia kenal mengajaknya untuk bicara. Memang sepertinya Raga adalah oranh yang sangat friendly berbanding terbalik dengan teman SMAnya dulu.


Mereka duduk di sebuah cafe, mata Erick tak henti menatap wajah Raga dengan detail. Begitu seriusnya sampai membuat Raga begitu heran. Raga menaikkan sebelah alisnya menatap Erick.


"Semua sama, cuma Dio gak punya tindik di telinga."


"Oh ini, gue pake ini cuma buat fashion. Gue lepas kalau emang gue gak mau pake." Raga melepas anting di telinga kirinya. Ia bahkan memiliki tindik di sebelah kiri telinganya.


"Kaalau kayak gini, lo beneran mirip sama Dio. Gue bingung, kenapa di dunia ini ada orang semirip ini. Gue minta maaf, udah salah terka. Gue jadi gak enak sama lo."


"Gak apa-apa kok, gue udah biasa."


"Ngomong-ngomong, lo mau bicara soal apa?"


"Gue, sebenarnya gue mau nanya tentang Dio."


Raga membuat Erick kaget.


"Tentang Dio? Nanya soal apa?"


"Apa lo punya foto Dio? Kian bilang, lo yang paling deket sama dia dulu, juga sering jadi photographer dadakan Dio."


"Oh, lo mau mastiin kalau lo emang mirip sama Dio? Kian bisa banget bilang gue babunya Dio. Kalau ketemu gue jitak tuh anak. Emmm Gue punya beberapa fotonya, bentar gue ambil laptop gue dulu di temen."


"Oh lagi dipinjem. Kalau gitu gak apa-apa, lain kali aja. Gue sekalian nyapa lo kok."

__ADS_1


"Udah selow aja, temennya Diko temen gue juga."


Erick lantas melangkah pergi mengambil laptopnya.


Beberapa menit Erick kembali dengan membawa sebuah laptop di tangannya. Dibuka laptop miliknya, semua foto Dio ditunjukannya pada Raga. Pupil mata Raga seketika melebar seraya melihat sebuah foto di laptop milik Erick.


"Bener kan, gue hampir gak bisa bedain lo sama Dio."


"Apa gaya Dio kayak gini selama dia SMA?"


"Lo tau, dia sering banget pake kemeja putih juga pake topi. Dia pernah bilang kalau ini Fashion terbaiknya." Ucapan Erick membuat Raga terdiam seraya menatap seluruh foto Dio di laptop Erick.


"Ngomong-ngomong, lo gak usah buka anting lo. Gue makin sulit bedain lo sama dia." Erick tersenyum tipis.


"Emm, mereka benar. Ternyata yang mereka sebut Dio itu ini. Apa ini alasan Nellsa selalu menghindari dari gue beberapa kali?"


"Apa lo bilang?"


"Nggak kok. Yaudah, makasih ya Rik. Gue mau balik ke kelas, satu lagi nih buat lo." Raga memberikan satu batang coklat untuk Erick.


"Hey, gue bukan anak kecil, tapi gue suka coklat, thanks."


•••


Setelah duduk beberapa menit. Ia terbangun dan berjalan di atas pasir pantai. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjang berwarna putih yang dikenakannya.




Raga melihat seorang anak perempuan yang sedang bermain pasir di pesisir pantai. Mata Raga memencar mencari seseorang yang mendampingi anak itu namun sepertinya tidak ada siapa-siapa yang ada di sekitarnya. Takut anak itu menghampiri air dan tenggelam, Raga segera menghampirinya.


"Hay dek! Kamu sendirian? Sama siapa?"


Gadis kecil itu terus menatap Raga dengan tatapan datarnya. Matanya begitu bulat sempurna saat ia melihat Raga. Gadis bergaun putih, berambut ikal yang manis membuatnya tersenyum.


"Ini buat kakak." Gadis kecil itu menyodorkan Raga sekuntum bunga mawar berwarna putih yang sedari tadi dipegangnya.


"Buat kakak?"

__ADS_1


"Buat seseorang yang ada pikiran kakak. Kakak jangan takut, karena dia terus bersama kakak," ucap anak perempuan itu.


Raga melotot kaget mendengar ucapan gadis itu, seakan gadis itu tau beberapa masalah di hidupnya saat ini. Raga terdiam dengan menatap bunganya, bunga yang masih segar membuat Raga terus tersenyum menatapnya. Begitu fokusnya pada bunga, ia lupa mengucapkan kata terima kasih pada gadis kecil itu. ia hendak mengeluarkan suara, namun suatu hal terjadi.


"Maka ..." Mata Raga memencar aneh, saat gadis yang tadi ada di depannya menghilang tiba-tiba. Ia terus melotot heran pada bunga mawar putih yang dipegangnya.


"Cepet banget larinya tuh anak." Ia menaikkan bahunya tak mengerti.


Raga pulang ke apartemen dengan membawa sekuntum bunga mawar putih, itu hal yang berbeda dari seorang Raga. Diambil sebuah vas kaca yang diisi air, ditaruh bunga itu ke dalamnya. Bu Nera teralih fokus saat Raga memegangi sekuntum bunga mawar putih dan membawanya ke dalam apartemen mereka.


"Raga, kamu dapet dari mana bunga itu nak?"


"Ini, Raga dikasih bunga ini dari anak kecil di pantai tadi bu, Raga sempat mampir ke pantai. Udah lama banget Raga gak ke pantai, kalau Raga ada waktu, Raga mau ajak Ibu juga ke sana. Di sana pemandangannya indah banget bu."


"Kenapa kamu ke pantai sendiri-sendiri? Anak muda sesusia kamu malah milih nongkrong di cafe setelah pulang kuliah." Bu Nera tersenyum tipis.


"Pantai itu bisa memberikan segalanya buat Raga. Bisa menghilangkan pusing, stress, ditambah merefresh pikiran Raga."


"Apa kamu punya teman di sini? Ibu takut kamu belum bisa beradaptasi dengan baik di sini."


"Bu, ini tempat kelahiran Raga. Mana mungkin Raga gak bisa beradaptasi. Lagi pula, kalau Raga tinggal di sini, Raga gak akan pusing karena kendala bahasa."


Sejenak Bu Nera mulai mengerutkan dahinya menatap bunga itu. Ia bahkan baru ingat kalau Raga mendapatkannya dari anak kecil.


"Nak, kamu bilang itu dari anak kecil? Dia sama orangtuanya?"


"Raga gak lihat siapa-siapa bu, Raga mau bilang makasih anak itu langsung pergi."


Bu Nera terdiam bingung.


"Kenapa ibu merinding ya nak?"


"Udah ah, ibu mah terlalu berlebihan. Kalau emang anak kecil itu hantu, bunga ini juga pasti akan hilang." Raga terkekeh tipis.


"Kamu ini. Eh iya, kenapa bunganya kamu kasih air nanti layu gimana? Dia pasti gak tahan lama Raga."


"Di bawahnya ada air, dia gak mungkin layu sampai satu minggu ke depan," jawabnya senyum.


NOTE :

__ADS_1


DON'T FORGET TO LIKE, COMENT, SHARE AND RATE. THANK U


TBC ...


__ADS_2