AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
CURIOUS


__ADS_3


Suara hentakan kaki terdengar nyaring di sepanjang koridor kampus. Raga tengah membaca novelnya di aula kampus. Terlihat oleh matanya, sepatu oxford berwarna abu dihadapan kakinya. Raga melirik, dilihatnya dari ujung sepatu hingga kepala. Berdiri seorang gadis berwajah datar di depannya. Raga menatapnya bingung, duduk dengan kaki dilipat. Tangannya masih memegang novel bacaannya.


"Siapa lo sebenarnya?" Dahi Ken mengernyit menatap Raga. Alisnya ia kerutkan saking penasarannya dengan sosok Raga yang ia panggil dia kemarin.


Raga kembali fokus pada novelnya setelah melirik Ken sekilas. Sungguh, Raga tak ingin sekali berurusan dengan gadis tempramen macam Kennia.


"LO TULI? APA LO BUTA?" tanya Ken begitu ketus seraya terus menatap Raga yang belum kunjung menanggap pertanyaannya. Bahkan Raga sama sekali tak menatap wajahnya.


Lama kelamaan, Raga terasa risih. Ia perlahan berdiri, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana jeans hitam miliknya. Raga mulai menatapnya datar.


"Lo! Cewek yang sengaja melesatkan bola ke kepala Nellsa. Gue liat pukulan lo harusnya mengayun bukan datar. Harusnya itu di diskualifikasi karena lo melakukan servis yang salah. Entah kenapa gue berpikir kalau wasit salah. Salah karena mau jadi kambing hitam lo." Raga terkekeh setelah ia mampu membuat Ken melotot.


"********. Siapa lo sebenarnya? Beraninya lo menghina seorang Kennia. Lo orang asing yang bahkan gak pantas menyebut hal itu depan gue. Dan lo tau apa akibat dari apa yang lo ucap tadi?"


"Gue gak peduli. Lo udah ganggu aktifitas gue hari ini. Gue Raga Alvanio, bukannya gue udah sebut nama gue di depan lo waktu itu. Apa lo tuli?"


Beberapa detik Ken mengingat waktu kemarin. Ya, memang benar ia menyebut namanya sangat jelas depan Ken. Raga menatap Ken yang terlihat kebingungan.


"Lo bilang gue Dio?" Pertanyaan tambahan dari Raga membuat Ken menatapnya tajam.


"Oke gini aja. Gue Raga dan bukan Dio yang lo kenal." Raga membuka dompetnya. Diambilnya sebuah kartu dari dalam. Ia menunjukkan kartu identitasnya pada Ken. Ken lantas mengambilnya paksa dari tangan Raga, dibacanya secara serius kartu itu. Dahinya mengerut heran setelah melihat KTP yang Raga sodorkan.


"Raga Alvanio. Kenapa lo bisa mirip sama orang yang gue kenal?" Ken mengerutkan dahinya heran.


Raga mengambil kembali kartu identitasnya dari tangan Kennia, dan lantas pergi tanpa basi-basi.


"Sial! Cowok sombong macam dia kenapa bisa ada di sini? Terlebih lagi dia bawa wajah yang familiar dan berurusan dengan mereka. Apa dia Dio? Dari logatnya sih dia emang beda sama Dio. Bukannya ka Dio pindah entah ke mana ya? Masa kembali lagi jadi kayak gitu, gue harus tau tuh cowok lebih jauh lagi."batin Kennia.


...-o0o-...


..."Ka Dio tau, semirip apapun orang asing itu sama kakak, Nellsa bisa bedain perasaan Nellsa sama kakak. Melihatnya memang serasa kakak ada di hadapan Nellsa, tapi sebaliknya Nellsa gak pernah merasa kakak datang dengan nama yang berbeda. Ka Dio, sejauh apapun kakak pergi, please kembalilah. Jangan menunggu suratnya usang, dan bercampur dengan debu." Diary Nellsa....


...-o0o-...


Nellsa kembali ke toko bunga Pak Maman. Dengan sumringah wajah cerianya, membuat bunga-bunga menyambutnya dengan keindahan yang terpancar dari sebuah warna. Gadis berwajah imut itu lantas mengambil semprotan air dihadapannya. Disemprotnya bunga mawar putih miliknya dengan cairan penyubur tanaman sekaligus penghilang hama. Nellsa sangat menyukai yang namanya bunga. Menurutnya bunga bukan hanya memiliki lambang, tapi bunga bisa merileksan pikiran dan membuat hati bisa merasa lebih tenang.

__ADS_1


"Aduh, seneng banget deh liat ini pagi-pagi."


"Nellsa, pagi-pagi begini kamu sudah datang. Kamu gak kuliah?"


"Nggak kok Pak, Nellsa ada kuliah umum aja siang nanti. Liat pak Maman, bunga Nellsa tambah mekar, pertumbuhannya lumayan cepat."


"Wah, kamu pinter rawat bunga mawar."


"Keindahan bunga kamu, hampir aja mencuri hati laki-laki yang kemarin terus natap bunga kamu Sa," sambung Lili, salah satu pelayan di toko bunga Mentari.


"Laki-laki?"


"Iya, kayaknya sih dia tertarik gitu. Senyum terus di depan bunganya."


"Emm, aku gak rela ini dijual. Selagi dia masih mekar juga hidup dengan tenang, aku gak mungkin ninggalin dia Li."


"Tapi dia ganteng banget loh Sa. Badannnya tinggi, wajahnya kayak aktor Thailand itu loh yang tinggi, ganteng itu. Aku aja rasanya sampe meleleh liat dia senyum di depan bunga kamu."


"Lebay banget Li kalau sampe kayak gitu."


"Ada ada aja si Lili. Halunya ketinggian kalau udah bilang kayak malaikat gitu."


"Hem, Nellsa jadi penasaran Pak Maman, mau liat malaikatnya Lili." Nellsa terkekeh.


"Awas kamu ya Sa kalau liat dia jatuh cinta. Kamu bakalan kena sihir karena godain aku terus."


"Aku bakalan tunggu sihir itu." Nellsa terlihat konyol ketika ia bahkan menjawab pernyataan Lili sambil terkekeh geli bersama Pak Maman.


Sementara di sisi lain, setelah pertemuannya dengan Ken pagi itu Raga mulai melamun di kantin. Ia bahkan memiliki mata kuliah yang sangat padat hari itu. Ia membuka sebuah ponsel, dilihatnya beberapa foto dari dalam galerinya.


"Hayoloh!" Aldan mengejutkannya dengan sempurna. Hampir saja ponsel Raga terjatuh karena ia begitu terkejut.


Aldan melirik monitor ponsel Raga yang terlihat masih menyala. Matanya memicing fokus hingga membuatnya penasaran. Raga menyadari hal itu dan langsung dimatikan layar ponsel miliknya itu.


"Bokap lo?"


"Apaan?"

__ADS_1


"Foto tadi."


"Oh iya ini, waktu wisuda SMA gue di Belanda. Tiba-tiba aja gue kangen momen ini." Raga tersenyum tipis seraya tertunduk.


Aldan terlihat memasang wajah aneh membuat Raga heran mrnatapnya.


"Kenapa lo?"


"Em, tadi gue liat ada perempuan dari tadi liatin lo di sana. Tapi gue yakin dia bukan fans lo. Hati-hati lo, jadi seleb udah mulai banyak penguntit."


"Gue bukan seleb."


"Gue cuma mau bilang lo hati-hati aja."


"Dan?" Raga memanggilnya dengan nada datar. Ia bahkan tertunduk saat memanggil Aldan.


"Ada apa?"


"Apa rasa penasaran sama rasa suka itu beda?" Pertanyaan Raga membuat Aldan menyeringai aneh.


"Nih, gue tebak emang lo lagi jatuh cinta nih sama cewek sini nih. Tingkah lo dari kemaren udah kayak anak umur 10 tahun lagi naksir temen kelasnya. Hey ayolah, siapa?" tanya Aldan.


"Ah bukan siapa-siapa."


Raga melangkah pergi meninggalkan Aldan.


"Lo yang nanya lo yang pergi. Udah lah, pusing gue."


NOTE :


CONTACT ME ON


GMAIL : lidia.maulida30@gmail.com


IG : @lidiaya_


IG Author : @lidstudioo

__ADS_1


__ADS_2