
Hari kedua berlalu dan sekarang mereka bebas untuk menjelajahi Rotterdam. Kian mengajak Nellsa untuk datang ke Restoran hotdog yang dipromosikan Raga saat itu.
"Ah gak mau ah, malu."
"Ngapain malu, ini promosi loh Sa. Lumayan hemat uang kita sampai 18 hari ke depan."
Suasana kota Rotterdam yang mendung, suhu udara masih terbilang rendah mereka mulai menyusuri pertokoan dan sampai di Restoran Hotdog. Gadis bermata bulat itu lalu duduk di kursi Resto.
"Goedemorgen! Would you like to order?" tanya seorang waiter.
"Emm, I wanna this one, and this one." Kian menunjuk menu resto.
Dengan lahap mereka mulai memakan hotdog itu, Raga melihat mereka dan menghampirinya. Dengan tatapan datarnya, Raga hanya memperhatikan mereka, hal itu membuat Kian merasa terganggu.
"Heh ngapain lo natap kita begitu?" tanya Kian aneh seraya memasukkan hotdog ke mulutnya.
"Ini bukan Indonesia, pake sedikit etika buat makan."
"Kenapa gue harus denger suaranya lagi? Gak mungkin. Ini gak mungkin Nellsa,"batin Nellsa, seraya matanya melirik lelaki dengan tinggi semampai.
"Heh, kenapa ngelamun? Nanti gak enak kalo ditunda." Kian membangunkan Nellsa dari lamunannya.
Seperti mengalami masa lalu yang sangat suram terlihat, Nellsa berusaha memikirkan seseorang.
"Kenapa saat gue liat Raga itu gue jadi inget Dio, cowok pertama yang gue suka. Dia juga yang pertama nolak surat cinta gue." Nellsa menulis diary yang penuh akan cerita, matanya mulai meloloskan cairan bening yang sempat terpendam dalam.
__ADS_1
Masa lalu Nellsa tidak seindah bongkahan berlian yang tertera di mahkota kehormatan. Dia pernah menyukai seorang laki-laki berwujud makhluk tertampan di sekolahnya dulu. Cinta bertepuk sebelah tangan yang Nellsa alami, membuatnya melupakan keras seluruh masa lalunya. Sampai saat ini Nellsa tidak pernah ingin membayangkan sosok Dio, laki-laki yang pertama membuatnya jatuh cinta. Cinta memang harus di perjuangkan, tapi tidak untuk dipaksakan. Saat itu Nellsa melupakan apapun yang berhubungan dengan Dio, walaupun itu sangat sulit untuknya.
••
Sepatu berwarna hitam dipakainya, syal berwarna putih melekat di lehernya dan long blazer berwarna coklat tengah pas di tubuhnya, membuatnya begitu cantik terlihat. Siapa yang tidak suka Nellsa, gadis dengan tinggi 165 cm itu dikagumi di kampusnya. Tapi hanya Dio lah yang tak pernah menganggapnya ada waktu di sekolah dulu. Nellsa menjadi bintang kampus di universitasnya, seluruh laki-laki tidak ada yang tidak kenal dengannya. Nellsa yang dulu berkacamata untuk mengobati miopinya, sekarang berubah drastis dan begitu elegan terlihat.
Nellsa berjalan melewati setiap toko untuk mencari toko dimana ia bisa membeli sebuah sarapan paginya.
"Emm Sa, gue ke toko sana dulu ya. Nanti kita ketemu lagi di jalan ini, lo gak apa-apa kan?"
"Gak ko, gue mau cari sarapan dulu."
Nellsa memasuki toko, dia memesan sebuah roti bakar untuk disantapnya sebagai sarapan. Beberapa jam Nellsa duduk di resto kecil itu, Nellsa pergi untuk meminta bill.
"How much?"
"8 Euro."
"What happen?"
"I guess, I forgot to bring my wallet."
Nellsa terlihat memasang wajah paniknya.
"Aduh deh di mana sih, perasaan tadi gue udah bawa," batinnya mulai panik.
"Hey, do you want to pay?" Pelayan itu membuat Nellsa semakin panik.
__ADS_1
"Emm sorry, I forgot to bring my wallet! Can I call my friend?"
"Hey, if you doesn't have any money, why are you here?"
Tiba-tiba tangan seorang laki-laki menyodorkan uangnya ke pelayan.
"I will pay for breakfast," ucap laki-laki itu.
Nellsa terpaku melongo melihat laki-laki itu.
"Raga!"
"Tinggal di negeri orang itu gak enak, seengganya lo harus teliti dalam hal apapun." Raga membawa rotinya dan melangkah pergi, Nellsa mengikuti langkahnya perlahan.
"Kali ini gue berhutang sama lo. Kalo kita ketemu lagi, gue akan bayar itu." Nellsa tertunduk.
"Harus ketemu." Raga sibuk memakan roti dengan langkah santainya.
"Hhhh??"
"Hutang itu harus dibayar, maka dari itu kita harus ketemu." Raga tersenyum tampan, mata tajamnya selalu membuat siapa pun yang menatapnya pasti terhanyut.
"Kenapa lo makan sambil jalan?" Nellsa heran seraya terus mengikuti langkah Raga.
"Gue tau ini gak baik, tapi udah biasa. Kenapa lo sarapan sendirian?"
"Gue, tadinya sama temen tapi dia malah nyasar ke toko lain. Oh iya mungkin dia cari gue. Gue duluan ya? Emm iya mana nomor lo biar gue bisa kontek buat bayar hutang."
__ADS_1
"Temuin gue di depan toko tadi. Gue ada di sana besok." Senyuman Raga selalu terpancar, ia lantas menanggalkan jejaknya untuk pergi.
Punggung laki-laki itu mulai menjauh, namun Nellsa malah menatapnya sendu. Sesekali ia menahan semua sesak di hatinya. Selama beberapa hari, Nellsa selalu bertemu dengannya. Beberapa keanehan Nellsa alami, ia terus menerus menatap wajah lelaki itu untuk memastikan bahwa dugaannya selama ini salah tentang kecurigaannya pada orang asing itu yang ia kira adalah Dio. Kemiripan wajah mereka sungguh mengejutkan penglihatan Nellsa diawal. Namun ketika lelaki itu berlaku asing di depannya, membuatnya lantas menyingkirkan segala praduga dalam batinnya.