AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
GUESSED


__ADS_3


Pagi hari di Rotterdam, suhu udara yang masih rendah, Nellsa terbangun karena suara alarm ponselnya yang terdengar nyaring. Nellsa berganti pakaian untuk berlari pagi sekitaran penginapannya.


"Kian, ayo lari pagi!" Nellsa berusaha membangunkan Kian yang masih terpejam matanya.


"Eunghh kenapa sih, masih ngantuk juga," sahut Kian lemah.


"Emm yaudah deh gue sendiri aja."


Nellsa mulai berlari kecil, walaupun suhu udaranya lumayan rendah, Nellsa tetap berjalan. Lumayan untuk dirinya bisa menatap pemandangan kota Rotterdam di pagi hari. Nellsa sangat menyukai hal itu. Ditengah perjalanan, seseorang mulai mengikuti langkahnya. Mata Nellsa memencar merasa was-was. Kemudian, seorang lelaki terlihat lebih berumur darinya menghampiri Nellsa dengan gerakan berlari kecil seperti yang dilakukannya.


"Hey, kenapa kamu keluar sepagi ini Nona?" Seseorang berbahasa Belanda mulai mengikutinya.


"Nona, lebih baik kamu ke rumahku saja, kita akan bersenang-senang di sana," ucap pria itu seduktif dengan bahasanya membuat Nellsa bingung.


Nellsa berlari hendak meninggalkan pria itu, tapi pria itu mengejar dan menahan tangannya.


"Let her go!" Terdengar suara laki-laki dari belakang mereka.


"Raga!" Nellsa kaget. Ia meringis dan berusaha melepaskan tangannya dari orang itu.


"Let her go, she is mine," ucap Raga. Laki-laki itu memasang malu di wajahnya, gerutuan kecil keluar dari mulut pria itu, ia lantas melangkah pergi.


Nellsa mulai heran. Entah kebetulan atau memang sudah takdir ketika ia terus melihat Raga di manapun ia berada. Terlebih lagi, Raga sering sekali menolongnya.


"Kenapa lo bisa ada di sini?"


"Gue gak tau."


Mereka berbincang sambil berjalan santai. Hembusan napas Raga begitu terdengar. Ia sampai ikut berlari untuk bisa menyelematkan gadis bernama Nellsa.


"Apa setiap pagi lo lari pagi begini? Bahaya buat orang baru kayak lo."


"Gue baru 3 hari lakuin ini, gue pikir di sini orangnya ramah."


"Berfikir positif itu harus, tapi waspada itu lebih diharuskan."


Nellsa memperhatikan wajah Raga dari samping. Mata yang indah, rahang yang kokoh, seakan dia melihat pujaan hatinya dulu di sekolah, yaitu Dio.


"Dia bener-bener mirip sama ka Dio, iya bener ka Dio. Kian masa gak ngenalin, tapi dia bilang namanya Raga bukan Dio, semua ini bikin gue gila. Gue gak bisa nahan semua ini," batin Nellsa sedikit mengerutkan dahinya.


"Apa lo lagi berpikir kalau wajah gue ngingetin lo sama seseorang?" Raga senyum membuat Nellsa kaget seakan Raga bisa membaca pikirannya.


"Jangan kaget gitu, gue cuma omong kosong aja kok, dari tadi soalnya lo liatin gue terus. Hey, mumpung lo masih di Rotterdam, gimana kalau besok kita keliling, temuin gue di tempat lo sarapan waktu itu. Lo boleh ajak teman lo sebanyak yang lo mau, gue seneng bisa kenal orang Indonesia di sini."


"Apa? Emm tapi ... tapi ..."

__ADS_1


"Gue pergi, see you."


...-o0o-...


..."Gue gak tau lagi isi dari pikiran gue sekarang. Gue berusaha lupain Dio dan sekarang wajahnya muncul dengan nama Raga, dia bereinkarnasi atau apa? Awalnya gue gak sama sekali melihat rupa Dio dalam diri Raga tapi gue pernah dengar, banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah yang sama, gue yakin gak yakin ... karena sang pencipta menciptakan manusia pasti berbeda dan itu suatu kebesarannya yang sungguh luar biasa. Dio emang orang yang gue suka, gue cinta. Maafin gue gak bisa perjuangin lo dan pergi gitu aja ka, tapi rasa ini seakan gak pernah hilang walau sekeras apapun gue lupain lo."Diary Nellsa....


...-o0o-...


Pagi Rotterdam yang sejuk, Nellsa menarik Kian, Gladis, Hera, Diko dan Fajar untuk pergi menemui Raga. Hanya Kian dan Diko teman Nellsa sejak SMA. Diko sendiri adalah senior mereka di sekolah dulu. Dan sekarang ia menjadi seniornya di kampus.


"Lo yakin temen baru lo itu punya maksud baik sama kita?"


"Bener tuh Sa, takutnya dia malah manfaatin kita buat hal lain," ucap Kian yang sedang memakan snack di tangannya.


"Sebelum lo ngomong, habisin dulu snack di mulut lo itu. Gue yakin kok dia orang baik, dia mau ngajak kita keliling Roterrdam dan itung-itung kita bisa liburan gratis tanpa tourguide kan?"


"Gue mau mastiin dulu, gue gak percaya kalo belum ketemu sama orangnya langsung," ucap Fajar.


"Iya ka, maka dari itu ayo kita ke sana."


Beberapa menit mereka sampai, terlihat Raga sedang membaca sebuah Novel terduduk di sebuah kursi dekat jalan. Raga melihatnya kaget, karena Nellsa membawa banyak orang lebih dari dia kira.


"Hai ....." sapa Nellsa pada Raga, dengan wajah datar Raga bingung melihat teman yang Nellsa bawa.


"Lo bilang, gue boleh bawa orang sebanyak yang gue mau. Gue bawa temen-temen gue sekalian, gue gak mau nyasar sendirian he." Nellsa memasang giginya rapih.


Di sisi lain, ada seorang yang mengerutkan dahinya bingung. Ia menatap begitu fokus Raga yang sedang memperkenalkan dirinya di depan semua orang. Pandangan Diko mengalihkan fokus Raga. Ia menatap balik Diko dengan keanehan. Diko mendekat menatap Raga dengan sangat dekat. Ia menatap Raga dari ujung rambut sampai kaki. Raga dan yang lain bingung dengan tingkah Diko saat itu.


"Kenapa kalau gue liat lo, gue jadi inget seseorang. Lo ... lo mirip sama ... ah entahlah."


Raga menatap Diko aneh.


"Ternyata bukan cuma gue yang ngerasa itu, ka Diko pun begitu," batin Nellsa. Ia mengalihkan pandangannya ke dasar tanah.


"Kalian kenapa sih? Orang se-ganteng dia di bilang mirip orang lain. Liat! Mukanya kayak aktor asia." Kian mulai mengalihkan segala praduga dari Nellsa maupun Diko kala itu, ia tak ingin masalah kemiripan wajah Raga dengan Dio berbuntut panjang, karena Kian yakin Raga bukanlah Dio.


"Emm gue Fajar."


"Gue Hera."


"Gue Gladis."


"Dan gue, si imut si cantik si cerdas Kian. Cukup lo panggil gue Ki, An, atau Kian aja."


"Yaudah, bisa kita pergi sekarang? Gue mau ngajak kalian ke museum dulu, di sana banyak banget pengetahuan menarik."


"Kenapa gue ngerasa flashback waktu sekolah dulu ya," batin Nellsa, ia mulai melamun.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Raga terus memperhatikan Nellsa dari jauh dan membuat Diko begitu heran.


"Kenapa? Cantik ya?" Diko mencairkan suasana.


"Eh, gue heran aja," ucap Raga dengan senyum menatap Nellsa dari belakang.


"Oh heran dia itu aneh ya? Sebentar dia galak, sebentar dia polos, sebentar dia lembut. Nellsa dari SMA emang kayak gitu."


"Apa lo satu SMA sama dia?"


"Sama Kian juga. Gue senior mereka berdua. Mereka lucunya minta ampun deh. Gak ada Kian kalo gak ada Nellsa, sebaliknya gitu. Oh iya, sebelumnya lo tuh mirip banget sama temen sekelas gue dulu. Namanya Dio, dia pangeran sekolah waktu di SMA, dia famous banget, tampan, pinter, cewek pada klepek-klepek deh sama dia." Ucapan Diko membuat Raga membulatkan matanya.


"Terus, kenapa dia gak ikut sama kalian?" Raga sedikit canggung.


"Entah ke mana dia, sejak lulus gue lost kontek sama dia, dia pernah bilang sesuatu sama gue (Diko, banyak kesempatan. Good luck buat lo, karena nama lo hampir sama kayak nama gue, gue harap ketampanan gue gak bisa di samain sama lo) itu perkataan yang masih mengiang dipikiran gue sejak saat itu gue gak pernah lagi nemuin dia, rumahnya tiba-tiba kosong, katanya sih dia pindah. Gak ada yang tau mereka pindah ke mana." Diko membuat Raga menjadi pendengar baik kala itu.


Tiba-tiba saja Raga sedikit mengucak matanya. Entah ia terenyuh akan perkataan Diko, atau hanya menepis genangan air yang ada di mata karena terhempas angin yang begitu dingin.


"Gue pikir lo itu dia bro. Tapi saat denger nama lo Raga, gue berpikir banyak orang di seluruh dunia ini yang punya wajah sama. Gue senang nemuin lo, ngingetin gue sama sahabat gue," ucap Diko seraya tangan kekarnya menepuk pundak Raga.


Nellsa menguping pembicaraan Diko dan Raga, air mata Nellsa tidak bisa dibendung lagi.


"Selama ini gue udah tahan, dari awal pertama liat dia, sebenarnya ka Dio .... terus ada di pikiran gue, tapi saat dia bilang namanya Raga, entah kenapa hati gue ngerasa aneh. Sebenarnya lo di mana ka?" batinnya.


Nellsa menghampiri Kian. Wajahnya menyimpan banyak rahasia yang membuat Kian penasaran.


"Ada apa Sa?"


"Gue ... entah kenapa gue inget sama Ka Dio."


"Sa, Dio itu masa lalu. Sekarang entah dia ke mana lo gak tau kan, dia gak bales surat lo, dia gak respon perasaan lo. Bicara sama lo juga ia enggan waktu sekolah dulu, lo kan udah berusaha lupain dia ... kenapa sekarang lo harus keinget sama dia?"


Nellsa menunduk sendu dihadapan Kian.


"Yaudah ayo lanjut. Gue tau selama ini lo mikirin wajah Raga kan?"


Nellsa menatap Kian dengan cepat. Kian bahkan tahu apa yang dirasakannya selama ini tapi ia hanya terdiam tanpa berbicara pada Nellsa.


"Lo ... lo ternyata tau semua ini?"


"Sebenarnya juga dari awal liat dia, gue pikir lo ketemu sama Dio. Gue sengaja bersikap gak peduli, supaya lo gak terluka lagi kalau tau Raga emang mirip sama Dio dan kenyataannya Raga bukan Dio."


Kian memegangi pundak Nellsa, mengelusnya dengan perlahan. Ia tau betul bagaimana perasaan Nellsa saat itu.


Note :


Silahkan tonton Trailer Cast After 20 Day di Yt : Lidstudioo

__ADS_1


__ADS_2