AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
WELCOME BACK INDONESIA


__ADS_3

...



...


Beberapa jam perjalanan mereka lewatkan. Raga dan keluarga segera mencari apartemen untuk dibeli. Negosiasi berjalan dan satu apartemen mereka dapatkan.


"Bu apa kita gak bisa pindah ke rumah yang dulu?" Raga membuat Bu Nera terdiam.


"Ibu gak mau, di sana terlalu banyak masa lalu yang terlalu sakit untuk Ibu, Ayah juga untuk kamu Raga." Bu Nera tertunduk sendu. Raga lantas memeluknya dengan hangat.


"Raga tau itu, dan Raga gak akan buat Ibu nangis, kecewa apapun itu yang berartikan buruk buat Ibu. Raga akan buat Ibu seneng terus."


Raga mulai merapikan kamarnya, ditaruh sebuah bingkai berisikan fotonya dengan seseorang. Raga tersenyum kecil menatapnya. Raga Alvanio, pria tampan bertubuh tinggi itu terlihat sumringah melewati setiap celah jalan kota Bandung. Matanya memencar melihat beberapa bangunan yang memang telah asing di matanya. Kebahagiaan tak terkira ketika ia menginjakkan tanah kelahirannya kembali setelah bertahun-tahun.


"Huw, Bandung .... I'm Comeback." Teriakan pertama keluar dari mulut Raga.


Kota Bandung, kota kelahirannya yang mungkin begitu dirindukannya sejak lama. Udara yang begitu segar sangat terasa di lubang hidung mancungnya. Langkahnya mulai menuju ke Apartemen. Terduduk di sebuah sofa dengan kebingungan. Ia berusaha mencari kontak teman lamanya lagi. Kepergiannya telah membuatnya kehilangan kontak dengan teman-temannya.


"Siapa yang bisa gue hubungin di sini ya, kira-kira Malvin masih inget gue gak ya," batin Raga sambil menyerudup secangkir kopi.


Raga mulai mendatangi alamat Malvin yang masih diingatnya. Rumah yang dulu ia sering datangi untuk bermain, sangat berbekas dipikiran Raga.


"Mereka udah pindah belum ya?"


Diketuk pintu oleh Raga, keluar seorang wanita paruh baya.


"Cari siapa ya?"


"Bu Aurel, Ibu Aurel kan?"


"Kamu siapa ya?"


"Ini saya Raga bu, teman Malvin waktu SMP."


"Raga? Hah? Raga? Bukannya kata Malvin kamu menetap di Belanda?"


"Eh sebelumnya masuk dulu, kita bicara di dalam," ucap Bu Aurel, mereka memulai perbincangan hangat.


"Jadi kamu mau menetap lagi di sini? Kamu udah besar ya nak, makin tampan aja."

__ADS_1


"Hehe, saya pikir kalian udah pindah dari sini, ngomong-ngomong Malvin di mana ya bu?"


"Malvin lagi kerja di Cafe, dia gak mau kuliah katanya malah milih kerja."


"Nama cafenya, Lananta Cafe. Kamu temui aja dia di sana."


"Makasih banyak Bu!"


Dengan langkahnya, Raga mulai mencari lokasi Cafe dengan bantuan Google Map. Sampai di Cafe, pintu dibuka oleh Raga, mata Raga memencar ke seluruh isi cafe. Pelayan cafe merasa aneh dengan kedatangan Raga yang matanya berbinar-binar mencari sosok Malvin di sekitaran. Terlihat seseorang yang tak asing sedang memberikan pelayanan pada customer.


"Malvin!"


Awalnya Malvin tidak mengenalinya, banyak perubahan terjadi pada Raga. Terutama pada tubuhnya yang semakin terlihat berisi, ditambah ABS yang tertampak pada baju yang ia kenakan.


"Lo ... wait! Lo ... lo ... Raga bukan?" Sungguh kejutan yang membuat Malvin tertegun kaget.


"Iya gue Raga. Lo gak berubah."


Malvin langsung menghampiri dan memeluk laki-laki bertubuh semampay itu.


"Apa kabar bro? Gue kira hidup lo udah nyaman di Rotterdam."


"Anting di telinga kiri lo itu gak bisa bohongin gue, dari dimarahin sama pak Asep karena pake anting kayak preman dulu, lo gak bisa bohongin gue Ga. Ya ampun, gue gak nyangka lo ada di sini. Surprise banget buat gue."


"Kenapa lo kayak baru ke tempat ini? Tindakan lo aneh tau. Liat, temen-temen gue pada liatin lo. Lama di sana lo bener-bener kayak orang bule."


"Ini Cafe pertama yang gue injak selama gue di Indonesia." Mereka terlihat melepas rindu, dan bernostalgia bersama. Secangkir kopi menemani mereka.


"Gue mau stay lagi di sini."


"Stay? Ga, sorry ya, gue gak tau masalah keluarga lo," ucap Malvin menepuk pundak Raga.


"Sekarang makin ganteng aja lo, followers IG makin banyak, famous juga lo sekarang."


"Lo kepoin IG gue?"


"Iya, gue mau yakinin itu lo. Gue gak ada keberanian buat DM lo, takut lo sombong."


"Ah gue rasa gue udah terlalu sibuk selama ini hehe."


"Lo gak kuliah?" tanya Raga.

__ADS_1


"Gue gak minat, gue udah nyaman di sini. Dan lo, gimana kuliah lo di sana?"


"Gue udah urus surat pindah, gue mau cari kampus di sini."


"Oh iya gue punya rekomendasi nih, ada salah satu kampus baru bergengsi bro di daerah sinilah, kalau gak salah nama kampusnya Yuniar deh. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang mampir ke sini dan mereka bukan orang sembarangan bro."


Malam kembali, dengan bintang yang tak terlihat di langit karena malam itu mendung menghampiri sebagian langit Indonesia. Nellsa sudah kembali ke rumahnya. Ponsel yang tergeletak segera ia raih untuk melihat sebuah notifikasi tertunda yang belum sempat ia baca di pesawat.


"Hah? Raga email gue? Aduh gue ketiduran lagi, dia pasti nunggu di toko itu. Pasti dia kecewa," batin Nellsa.


Me


Sorry ga, gue udah pulang ke tanah air! Gue gak sempet buka email lo. Makasih untuk semua bantuan lo selama di Rotterdam.


Laki-laki berambut basah karena baru saja selesai mandi itu langsung membuka laptopnya, terdapat balasan email dari Nellsa dan menbuatnya begitu antusias untuk segera melihat apa yang wanita itu tulis.


"Wah Nellsa bales."


"Kira-kira di mana dia tinggal sekarang ya. Kalah gue tanya, mungkin dia bakal curiga."


Raga


It's Ok, gue seneng kenal sama lo. Di Rotteram yang luas gue bisa nemuin gadis secantik lo, orang Indonesia juga, gue seneng.


Pujian Raga malah membuat Nellsa blushing sendiri. Matanya memencar canggung. Dahinya mengernyit heran. Nellsa menatap lama monitor ponselnya. Napasnya berhembus datar. Ia meraih sebuah diarynya. Sebuah foto terpampang jelas dan bahkan tak pernah bisa ia lupakan di setiap harinya. Wajah itu. Ya, wajah itu kini ada lagi di depan matanya. Semua kehaluan yang ia alami kini telah terjadi. Bahkan dulunya tak percaya reinkarnasi, kini ia berpikir kembali.


Raga menatap bingung ponselnya namun akhirnya ia mampu menarik senyum karena gadis bernama Nellsa. Raga bahkan tak pernah melupakan cara gadis itu bicara padanya. Tersenyum, menyapa juga tingkah lugunya, membuat Raga selalu tersenyum.


"Ada apa? Seneng banget kayaknya kamu," tegur bu Nera.


"Ah nggak kok bu, aku seneng aja tadi nemuin Malvin lagi. Dia gak pernah berubah lo bu."


"Ah masa? Kapan-kapan ajak dia main Raga."


"Itu pasti bu."


Raga menatap kembali layar ponselnya.


"Kenapa gue malah kangen ya sama Nellsa. Rasanya pengen liat dia terus setiap hari. Sabar, gue akan kasih ini ke dia," gumam Raga seraya memegang selembar kertas di tangannya.


Tinggalkan vote gess :)

__ADS_1


__ADS_2