
Keesokannya mereka bertemu, terlihat Nellsa sedang menunggu di toko Roti.
"Kenapa lo lama?" Nellsa mengangkat alis meminta penjelasan.
"Gue ada urusan."
"Oke, nih uang lo yang kemarin. Makasih ya, kalo gak ada lo mungkin gue udah ditahan seharian di sini,"sahut Nellsa seraya mengaduk secangkir teh di tangannya.
Raga menatapnya tajam, menatap seluruh wajah Nellsa dan membuat Nellsa bingung.
"Apa yang lo liat?"
"Lo suka baca?"
"Baca apa?"
"Novel atau semacamnya?"
"Suka, emangnya kenapa?"
"Lo punya minus?"tanya Raga dengan mata memicing menatap mata Nellsa, gadis berwajah manis itu terheran.
"Maksud lo?"
"Ouh, emm maksud gue apa lo punya minus karena sering baca?" Raga canggung seraya matanya menatap sekitaran dengan menyerudup secangkir teh miliknya.
"Oh, itu ... gue emang punya minus dulu, gue sempet pake lensa kaca tapi sekarang gue ngerasa minus gue udah ringan gak usah pake kacamata lagi. Sebenernya bukan cuma itu alasan gue lepas kacamata gue ... ada masa lalu yang bikin gue lepas kacamata."
Raga membulatkan matanya mendengar perkataan Nellsa.
"Eh sorry omongan gue ke panjangan ya?"
Nellsa kembali ke penginapan.
"Dari mana lo?" Kian heran.
"Gue abis ketemu Raga balikin uangnya."
__ADS_1
"Ehey jangan-jangan ini awal." Kian menatap Nellsa tajam.
"Maksud lo awal apaan?"
"Awal pertemuan lo sama Raga yang akan berlanjut Sa, OMG! This is chance."
"Hey lo ngomong apa sih, gak jelas. Syukur-syukur kita ketemu orang Indonesia baik kayak Raga. Kalo gak ada Raga, lo juga gak mungkin kan mau bantu gue, lo kan pelit,"ucap Nellsa seraya membuka sarung tangannya.
"Ow ow ow, lo bilang gue pelit? Sa gue bukan pelit tapi terlalu hemat, haaa...."
"Itu sih sama aja ... yaudah ayo ah bikin laporan. Nanti ka pembimbing negor kita."
Novel berjudul (haruskah aku) selalu dibawanya kemana pun, itu salah satu novel kesayangannya sejak kelas (X) SMA, di saat pertama kali dia merasakan cinta dan pergi dari cinta, novel itu serasa sebagai pembimbing gadis yang usianya sekarang menginjak 20 tahun.
"Semuanya, kalian akan menginjak semester 3 harus benar-benar belajar yang tekun. Anggap saja ini sebagai bahan percontohan skripsi kalian, sekarang kalian menyelesaikannya bersama sama, tapi saat nanti skripsi kalian harus mandiri,"ucap salah satu pembimbing.
"Maaf ka, sekarang kakak menginjak semester 5 apa sudah ada bahan pembahasan pembuatan skripsi?"tanya Kian.
"Itu pasti ada, pasti ada setiap dosen mata kuliah khusus yang sedikit memberikan ilmu atau kalian bisa mengikuti kuliah umum, karena kampus ini baru dan saya akan menjadi angkatan pertama. Ini salah satu kebanggaan bagi saya, kampus kita semakin maju pesat, banyak teknologi baru dan fakultas baru yang muncul. Dan satu lagi, kampus kita salah satu kampus terbaru paling bergengsi dan di sohor dunia Internasional!! Claps your hands."
Ini baru hari kelima mereka di sana, Kian dan Diko mengajak Nellsa untuk pergi ke Cube house salah satu museum di Rotterdam, Belanda. Merasa bersenang-senang melepas penat setelah 4 hari terus melakukan penelitian.
"Coba ka fotoin."
Nellsa tidak sengaja melihat Raga dengan sebuah camera di tangannya, memotret seorang gadis yang tengah berlenggok untuk memasang beberapa gaya.
"Itu kan Raga. Itu beneran Raga?" Batinnya selalu berkata nama orang asing itu. Matanya memicing fokus pada orang yang dilihatnya.
"Sa, ada apa?"
"Oh gak apa-apa ko."
Nellsa akhirnya mengikuti permintaan kakinya untuk melangkah menghampiri orang asing bernama Raga.
"Raga." Nellsa membuat Raga kaget.
"Ouw, kayaknya kita lebih sering ketemu." Raga senyum tipis.
"Raga, Is it done? I feel cold." Wanita berperawakan bule itu mulai mengeluh.
__ADS_1
"Yeah, you can break now."
"Lagi apa lo?"
"Ini? Kerja sampingan gue di sini."
"Lo ... kayaknya lo orang sibuk ya?"
Raga tersenyum tipis mendengar perkataan Nellsa.
"Nellsa ... gue cari-cari lo." Kian menghampiri.
"Di mana ka Diko?"
"Dia lagi di sana, keluarganya katanya nelpon."
"Eh .. hai! Lo lagi. Kayaknya kita sering ketemu lo di sini. Lo tinggal di sini?"tanya Kian, Raga sedikit mengangguk.
Raga refleks merapikan rambutnya ke samping, Mata Nellsa tak bisa untuk tidak memperhatikannya.
"Kebiasaan itu ... kayak ada orang yang punya kebiasaan itu. Saat liat apapun soal dia, kenapa gue ke inget seseorang ya,"batin Nellsa, ia mulai mengedipkan matanya beberapa kali.
"Nellsaaaa," panggil keras Diko.
"Kalian di sini ternyata."
"Dia .... dia siapa?" Diko membulatkan matanya heran.
"Dia Raga, orang Indonesia yang tinggal di Rotterdam, dia pernah bantu Nellsa, waktu dompet Nellsa ketinggalan.
Diko terus menatap fokus Raga dengan kebingungan. Pupil matanya sedikit melebar. Dahinya mengerut dengan heran.
"Raga, come here!" Panggilan wanita bule itu memecah keheningan di antara mereka.
"Oke, I'll be back."
"Gue cabut dulu ya ..."
Keheningan terjadi saat Raga sudah menjauh. Diko menatap fokus dasar tanah kebingungan diikuti oleh Nellsa. Sementara, Kian menatap bingung kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalian? Kenapa?"