AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
EMAIL


__ADS_3

l



Sepuluh hari berlalu, mereka tengah sibuk membuat laporan untuk diselesaikan saat kembali ke tanah air nanti.


"Nellsa?! Apa benar dia orangnya? Akhirnya gue nemuin nama itu. Gue pikir akan nemuin nama itu di Indonesia nanti, tapi dia datang sendiri ke Rotterdam," batin Raga tersenyum seraya melihat sepucuk surat di tangannya.


Raga pergi untuk menuntut ilmunya di Rotterdam University of Applied Sciences, sekolah tinggi kejuruan di Rotterdam. Raga seorang yang biasa saja, hanya visualnya yang tampan membuat dia begitu kebanjiran job di Rotterdam, dia photographer sekaligus model untuk beberapa brand. Raga sangat friendly terhadap siapapun termasuk orang yang baru dikenalnya.


"Bu, kapan kita kembali ke Indonesia? Raga kangen suasana di sana," ucap Raga dengan mulut yang sibuk memakan semangkuk oats buatan ibunya.


"Secepatnya kok Ga, kamu kayaknya ngebet banget ke sana. Ayah kamu bilang, kita masih ada waktu 10 hari lagi, baru kita akan menetap kembali ke Indonesia, Ayah kamu akan urus itu secepatnya ko." Ibu Nera menuangkan segelas susu untuk puteranya itu, dia Ibunda tercinta Raga.


"Kamu yakin ninggalin pendidikan kamu di sini?" tanya Ibunda membuat Raga melemah.


"Em, keputusan Raga udah bulat bu. Raga di sana akan cari kampus yang pendidikannya gak kalah sama di Rotterdam, walaupun harus ngulang semester atau apalah, tergantung prosedur dari kampus itu. Karena Raga baru menginjak semester muda mungkin lebih mudah buat itu, semoga aja."


Suatu hari Nellsa dan kelompoknya yang beranggotakan Kian, Bima, Ressa dan Putra mendapat tugas untuk pergi ke Rotterdam University of Applied Sciences mencari narasumber untuk beberapa mata laporan penelitian kelasnya.


"Hemm tugas mulu, kapan liburannya? Ini udah 11 hari kita di sini, tapi belum dapet liburan sesungguhnya iya kan?" Nellsa mengeluh. Niat keduanya ke Rotterdam selain penelitian adalah bisa liburan.

__ADS_1


"Heh, setelah ini kita baru bisa free. Maka dari itu ayo cepet kita harus cepet-cepet ke sana. Selesain tugas dan liburan sepuasnya," ucap Putra.


Mereka pergi dengan menaiki kendaraan umum di Rotterdam.


"Mr. Karel udah nunggu katanya. Ayo kita masuk."


Observasi merek lakukan, beberapa profesor juga mahasiswa mereka wawancarai. Beberapa penelitian sudah mereka dapatkan. Hanya tinggal mengolah dan mengurus kelengkapannya saja.


Sepucuk hidung mancung, berbadan tinggi tegap terlihat berjalan melalui koridor kampus. Salah satu wanita mengajaknya meminum secangkir kopi di Cafe, masih di sekitaran kampusnya. Mereka berbincang ringan, mungkin sekedar membicarakan masalah pelajaran. Ya, laki-laki itu tentu saja adalah Raga. Ia menyerudup kopinya seraya tersenyum setelah melakukan perbincangan dengan teman kampusnya. Matanya lantas beralih fokus pada kaca jendela bening cafe yang memperlihatkan keadaan luar. Ia melihat seorang gadis berjalan perlahan dengan mata memencar. Mulutnya begitu gatal untuk segera memanggil nama gadis cantik itu.


"Nellsa!" Panggilan Raga membuat Nellsa kaget.


"Raga, kenapa dia ada di sini?"


Mereka akhirnya melakukan perbincangan hangat. Nellsa mengajak seluruh temannya untuk mengenal Raga saat itu.


"Emm lo kuliah di sini? Hey Kian, Putra, Bima, Ressa sini-sini. Gue ketemu Raga di sini."


"Hey, kenapa kebetulan itu selalu ada ya. Lo kuliah di sini? Wah hebat." Kian begitu antusias bertepuk tangan.


"Maka dari itu, kalau kalian butuh narasumber untuk beberapa informasi tentang jurusan ini, silahkan kalian bertanya, gratis."

__ADS_1


"Wah beruntungnya kita ... kalau kayak gini pasti tugas cepet selesai guys," ucap Putra.


Mereka hendak kembali ke penginapan, seluruh temannya berjalan di depannya selangkah lebih jauh dari Nellsa yang di belakang.


"Nellsa wait." Panggilan Raga menghentikan langkah Nellsa.


"Why?"


"Boleh minta email lo? Gue minta email lo, siapa tau kita bisa bertukar ilmu juga informasi."


Raga menyodorkan secarik kertas, ditulisnya alamat email di sebuah kertas oleh Nellsa. Awalnya bingung, tapi tangannya tanpa sadar lantas mengambil kertas yang Raga sodorkan padanya.


"Tapi, gue boleh nanya banyak tentang lo buat penelitian gue?" tanya Nellsa bertanya gugup.


"Itu boleh banget." Senyuman Raga bahkan membuat Nellsa tak bisa lama-lama menatapnya. Ia lantas tertunduk membuang pandangannya pada Raga.


"Thanks."


"Gue pergi dulu, bye."


Nellsa berjalan tak sadar, kenapa? Ia selalu terpikirkan oleh Raga, yang memang visualnya tak asing bagi penglihatannya.

__ADS_1


"Nellsa buang jauh pikiran itu, dan dia itu orang asing. Tapi kenapa lo kasih email lo gitu aja kalo dia orang asing? Ih apaan sih gue." Sebentar ia mengeluh, menggaruk kepalanya refleks, atau sekedar merutuki dirinya yang selalu mudah akrab dengan orang asing. Terlebih lagi diri seorang Raga yang ada sangkutpautnya dengan masa lalunya.


__ADS_2