
...
Segelas teh di pagi hari yang membuat pikiran jernih walaupun airnya berwarna keruh, namun rasanya itu cukup untuk menghangatkan seorang gadis yang sedang membaca novel....
Seluruh mahasiswa YU (Yuniar University), tengah mempersiapkan keberangkatan untuk kunjungan ke Erasmus University, Rotterdam. Bus yang membawa mereka sudah siap melaju, namun kali ini Nellsa telat karena terlalu serius membaca novel sebelum keberangkatannya.
"Tunggu ... tunggu, wait ... wait!!!" Nellsa berteriak mengejar Bus.
"Aduh Nellsa, kenapa sih kamu gak pernah tepat waktu?" Pembimbing menegurnya.
"Maaf ka, ada yang ketinggalan tadi."
°°
Diputarkan sebuah lagu ballad, earphone sudah terpasang di telinga seorang gadis bernama Nellsa. Setiap celah bangunan juga pepohonan ditatapnya lewat jendela bus yang sungguh bening terlihat. Tiba-tiba Nellsa memikirkan pria asing yang ditemuinya di toko.
"Kenapa rasanya orang itu gak asing, gue serasa pernah liat dia, dan dia ....."
Belum sempat Nellsa bergumam dalam batinnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiri kursi kosong dan terduduk di sampingnya. Dengan membawa segelas kopi hangat yang disodorkan ke Nellsa, ia tersenyum ramah.
"Hey, mikirin apa sih?" tanya Diko, dia laki-laki yang Nellsa kenal akrab dari SMA dan sekarang menjadi senior di kampusnya, kebetulan dia pembimbing saat itu.
__ADS_1
"Eh ka Diko, makasih." Nellsa tersenyum tipis.
"Emm ... Rotterdam sejuk ya Sa, kayaknya gue betah di sini."
"Hey, kita punya rumah di sana, kenapa harus betah di sini. Negeri orang itu gak enak."
"Iya iya iya, gue ko kalah terus ya bicara sama lo." Diko tersenyum lebar.
(••)
Mereka sampai dan tengah disambut hangat oleh perwakilan kampus tersebut, sebelumnya mereka sudah terlebih dahulu izin pada kedutaan besar Indonesia di Belanda.
Di sana mereka mendapatkan pelajaran tentang bagaimana pembelajaran berlangsung di kampus Erasmus. Nellsa melihat pria yang ditemuinya di toko sedang memberikan sebuah selebaran di sana.
"Ki .... Ki, liat deh liat. Itu kan cowok yang ketemu gue di toko waktu itu."
"Kan, gue kan pernah bilang sama lo, apa dia kuliah di sini?"
Mereka menghampirinya.
"Hey!" panggil Nellsa, pria itu menoleh.
"Do you call me?"
__ADS_1
"Hey, ini aku yang di toko itu." Perkataan Nellsa membuat pria itu senyum tipis.
"Hai lagi, kita ketemu lagi," sahut laki-laki itu sambil terus tersenyum, Kian memperhatikan wajah pria itu sejenak.
"Sempurna banget sih, gue rasa pernah liat. Tapi kalo diliat dari dekat gue gak pernah liat wajah dia." Kian terlihat aneh, tatapan kebingungannya terus terfokus pada pria asing di depannya.
"Apa kamu bilang?"
"Aku di sini lagi kunjungan dan kamu? Apa kamu kuliah di sini?"
"Hey, santai aja. Nggak, gue di sini cuma mau kasih selebaran promosi hotdog, bantu orang itu." Pria itu menyodorkan selebaran promosi hotdog pada mereka.
Nellsa dan Kian heran.
"Hah? Hotdog?"
"Iya, kalo kalian mau coba silahkan datang ke sini, bye." Pria itu senyum dengan melambaykan tangannya pada Kian juga Nellsa.
"Siapa nama kamu?" teriak Nellsa.
"Raga ...."
"Ganteng-ganteng namanya aneh, cuma satu suku kata. Ra-Ga, eh dua deh. Tapi gue gak pernah denger nama itu. Mungkin kita liat di film-film aja kali Sa mukanya kan tampang aktor, tapi gue jadi mikir kalau dia itu ...." Ucapan Kian terpotong.
__ADS_1
"Emm, Raga! Seperti ada satu hal dari masa lalu saat gue liat wajah dia, Nellsa dugaan lo salah. Untung aja lo gak salah sebut nama dia." Nellsa berusaha menguatkan batinnya.
"Tadi dia bilang (gue), itu artinya dia emang Indonesia tulen Sa. Tapi wajahnya, kayak aktor Asia ya?" timpal Kian dengan canggung.