
Seorang gadis bernama Nellsa sedang asyiknya melamun dengan diary di tangannya. Raga menghampirinya dengan masih menggunakan kaos juga topi berwarna hitam. Mata Nellsa melebar melihat kedatangan Raga. Ia bahkan tak suka dengan situasi itu.
"Hay Sa!"
"Eh lo Ga. Ada apa?"
Raga mulai duduk di samping Nellsa dengan tenang. Ia menghela napasnya sampai terdengar oleh Nellsa.
"Melamun itu indah, melamun itu obat, melamun itu bukan alihan dari tegangan otak yang berlebihan."
"Lo ngomong apa?"
"Cuma kutipan dari buku yang gue baca. Udah sore, harusnya lo pulang bukan ngelamun di sini, itu bahaya!"
"Suka-suka gue." Nellsa mulai risih karena Raga terus saja ada dihadapannya secara tiba-tiba. Dan selalu ingin mencampuri urusannya.
"Lo gak kerja?"
"Kerja?" tanya Raga aneh. Beberapa detik ia mulai teringat dengan komersialnya di tv.
"Oh itu. Akhirnya gue dapet kerjaan yang sama di Indonesia."
"Kenapa lo malah pindah ke Indonesia kalau Rotterdam pun bisa buat lo dapetin apa yang lo mau?"
"Nggak, Rotterdam gak bikin semua apa yang gue mau itu ada. Sudah sejak lama gue berharap untuk pulang ke Indonesia. Ternyata, tinggal di negeri orang itu benar-benar bikin lo ngerasa kesepian. Juga, gue gak bisa nemuin sate ayam di sana."
Nellsa menatap canggung Raga. Ia menyimak perkataan Raga dengan sangat baik. Nellsa kemudian tersenyum dan terkekeh tipis membuat Raga menoleh padanya. Raga menatap Nellsa dari samping, rambut yang terurai terbawa haluan angin. Ia seperti tersihir melihat Nellsa saat itu begitu dekat. Namun sesuatu terjadi di batinnya. Menggebu keras layaknya sebuah drum tengah dipukul. Nellsa menoleh balik padanya.
"Kenapa lo liat gue kayak gitu?" Nellsa mulai canggung. Ia bergeser agak sedikit lebih jauh dari Raga. Raga bahkan belum berhenti menatapnya membuat Nellsa semakin risih bersambung dengan gugup.
"Gue suka mata lo." Raga mulai menatap atap langit. Ya, beberapa detik memperhatikan Nellsa, rasanya sudah mrmbuat jantungnya berlari marathon.
"Apa? Ngomong apaan sih lo gak jelas deh." Nellsa semakin gugup.
"Gue bohong." Raga senyum tipis tanpa menoleh pada Nellsa.
__ADS_1
"Ih ... ngeselin," batin Nellsa.
"Gue gak ngeselin, gue jujur. Lo punya mata yang indah, gak usah pake lensa kaca lagi." Raga mulai menatap atap-atap langit yang begitu biru terlihat.
"Dia aneh, apa jangan-jangan dia bisa baca pikiran orang?" batin Nellsa.
"Gue gak ahli baca pikiran orang, gue bicara sesuai apa yang gue liat." Ucapan Raga membuat Nellsa melotot kaget.
"Hah? Lo, ih gue mau pulang aja deh, gue duluan!" ujar Nellsa lantas melangkah untuk pergi. Bahkan ia tak sadar kalau telah meninggalkan diarynya di kursi taman.
Fokus tersenyum pada Nellsa yang pergi, Raga menoleh ke sisi kursinya. Sebuah buku berjenis diary tergeletak. Ya, Raga pikir itu adalah milik Nellsa. Ia melihat Nellsa sudah terlalu jauh pergi dari tempatnya. Diambil diary dan dibuka halaman pertama oleh Raga. Terdapat sebuah tulisan,
"Menunggu kamu itu menyenangkan, walaupun rupamu tak ada dihadapanku, izinkan aku terus mencintaimu."
Itu perkataan yang mengawali halaman pertama diary Nellsa. Sepuluh meter kira-kira Nellsa sudah berjalan menjauh dari Raga, Nellsa baru mengingat diarynya. Ia melotot dan lantas berbalik badan dan berlari ke tempat dimana ia meninggalkan diary tersebut.
"Diary gue, aduh jangan sampe Raga baca itu," batin Nellsa seraya terus berlari.
Raga yang kebetulan sedang memegang diary milik Nellsa, lantas diambil paksa oleh pemiliknya. Dengan tatapan datar, Raga terkejut.
"Gue gak baca apa-apa, gue baru aja mau balikin ke lo."
"Lo yakin?"
Raga menganggukan kepalanya.
"Yaudah gue pergi."
"Semuanya akan kembali," gumam Raga.
...-o0o-...
..."Air ombak menyirami beberapa karang tanpa bekas. Begitu pun dengan kamu. Kamu siram beberapa bagian dari diriku tanpa bekas yang ku sebut cinta. Aku tidak ahli sajak, tapi saat aku mengenalmu dan terus memikirkanmu, entah kenapa aku membuat sajakku sendiri untukmu. Aku memang melihat rupamu di depan mataku. Tapi rasanya, hatiku mengatakan kamu belum datang menghampiriku dengan hatimu." Diary Nellsa....
...-o0o-...
"Hey itukan Raga? Wah bangga banget yah, punya model setampan Raga kuliah di kampus kita." Beberapa gadis sedang membicarakan Raga yang menjadi bintang iklan di Televisi.
__ADS_1
"Itu kan Raga." Kian menunjuk televisi di cafe saat itu.
Nellsa menengok ke arah TV perlahan.
"Iklan ponsel?" gumamnya aneh.
"Hebat ya, baru beberapa hari dia udah jadi bintang iklan di sini." Kian berdecak kagum melihatnya.
"Kalau kayak gini, dia bener-bener beda dari Dio. Dio kan orangnya gak suka tempat umum, apalagi diliat orang banyak kayak gitu. Gue harus cari Dio, kira-kira rumahnya masih ada gak ya? Apa udah di gusur?" batin Diko.
Diko mendatangi rumah lama milik Dio. Alih-alih penasaran apakah teman lamanya itu masih berada di tempat atau memang Dio benar-benar sudah pindah. Terakhir Diko bersamanya, pada saat kelulusan SMAnya dulu. Semenjak itu, Diko sangat penasaran ke mana pergi sahabat karibnya itu tanpa meninggalkan pesan. Diko mengingat alamat rumah ataupun jalan yang pernah ia lalui untuk mengantar Dio pulang sekolah saat SMA lalu.
"Gue rasa ini kalau gak salah rumahnya," gumam Diko. Ia sudah sampai di halaman rumah.
"Permisi..." Diko memberi salam beberapa kali, belum kunjung ada yang menjawab.
Panggilan ketiga, seorang laki-laki keluar dari rumahnya. Ya, jantung Diko mulai berdetak. Ia bahkan sudah mengira kalau rumah itu masih terisi dan tidak kosong.
"Kamu siapa ya?" tanya seorang pria, berbadan tegap dan berkumis agak tebal.
"Maaf pak, saya mencari Dio. Apa bapak kenal?"
"Dio? Saya kurang tau. Yang tau semuanya istri saya. Saya cuma menyewa rumah ini. Tapi istri saya lagi ada di rumah rekannya," ucap laki-laki paruh baya itu.
"Oh iya deh pak, siapa tau istri bapak tau ke mana pindahnya teman saya yang dulu tinggal di sini. Lain waktu saya balik lagi pak, saya permisi dulu."
Diko melihat album kenangan sekolah yang dulu pernah mereka buat. Diperhatikannya telinga kiri milik Dio di dalam foto.
"Dia gak punya tindik, lagi pula Dio bukan orang yang suka fashion. Aduh Dio, lo ke mana sih? Gue gak tahan liat Nellsa terus berbayang rupa lo, apa lo pernah amnesia? Atau lo punya saudara kembar? Terus, siapa Raga itu?"
Pikirannya dibuat risih karena kecurigaannya pada Raga semakin menjadi. Ya, menurutnya itu adalah hal gila karena Raga ia temui di Rotterdam. Namun semua kemiripannya dengan Dio malah membuatnya pusing.
NOTE :
LIKE, COMENT, SHARE AND RATE.
THX
__ADS_1