
Pagi datang. Sekilas angin melewati celah kaca jendela kamar apartemen Raga. Cuaca terlihat memang kurang sempurna pagi itu. Mendung terlihat di langit Bandung. Gerimis pun mulai turun. Raga pergi ke kampus, jaket hitam dikenakannya tidak lantas ia lepas dan memakainya sampai ke dalam kelas.
"Hai Dan!"
"Hey, bukannya di luar hujan ya? Lo gak basah?"
"Gue bawa mobil."
Raga mulai membuka jaket hitamnya, para gadis berdecak kagum walau hanya melihat Raga membuka jaketnya.
"Ah, gue iri sama lo! Kenapa semua gadis di sini meleleh liat lo." Aldan sinis meliriknya.
"Kemeja putih? Lo mau ngelamar kerja?" Aldan terkekeh.
"Gue lagi pengen aja pake kemeja putih."
"Mau kemeja apapun, semuanya cocok kok di badan kamu Raga. Kamu ganteng hari ini," ucap seorang gadis teman kelasnya.
"Thanks." Raga membalasanya dengan senyuman tampan.
"Uwww, kapan gue bisa dipuji begitu sama cewek," batin Aldan menatap tajam Raga.
Jam pertama selesai, Raga pergi ke kantin dengan Aldan. Kebetulan di sana ada Nellsa, Kian, Diko juga Erick. Terlihat Raga sedang memesan makanan, dibawa makanan itu ke satu meja kosong.
"Raga!" panggil Erick seraya melambaikan tangannya.
"Dia bukannya yang sok kenal sama lo ya, yang salah nyebut nama lo itu?" Aldan berbisik di telinga Raga.
"Sini gabung aja," teriak Erick.
Nellsa terdiam seraya memakan sebuah mie di piringnya. Raga dan Aldan menghampiri mereka. Diko terkejut menatap Raga dari ujung kaki sampai kepalanya. Ya, Raga sedikit berpenampilan aneh menurut mereka. Padahal, di Rotterdam saja Raga adalah model yang sudah tak diragukan lagi. Apapuna yang dikenakannya, pasti selalu cocok di tubuhnya.
"Wah, kemeja putih. Lo keliatan keren, gue jadi inget sama Dio iya kan gengs?" tanya Erick membuat Nellsa dan lainnya menoleh pada Raga.
Fokus Nellsa terhenti saat melirik Raga berdiri tegap di depannya. Semuanya malah menjadi canggung.
"Aneh, gue hampir gak bisa bedain dia sama Dio, kalau penampilannya begini. Dia bener-bener keliatan kayak Dio," batin Diko.
"Hey! Ayo duduk." Diko tersenyum ramah mengalihkan segala pikirannya.
Kian terus memperhatikan Raga dengan mulut yang penuh akan makanan.
"Ada yang salah?" Raga terlihat heran karena semua mata melirik aneh menatapnya.
"Ke mana anting lo?"
"Gue simpen, gue pake kalau gue lagi mau."
Kian menganggukan kepalanya beberapa kali. Nellsa diam-diam melirik Raga dan membuat Raga tersenyum kecil.
__ADS_1
"Apa kerjaan lo di Rotterdam selain kuliah?" tanya Erick.
"Gue model di sana, juga photographer kalau gue lagi mau."
"Wah pantes aja, kenapa lo gak bilang sama gue kalau lo model. Gue kan bisa pinjem beberapa baju endorse lo buat ketemuan sama cewek," timpal Aldan.
"Lo siapa?" Erick menatap sinis Aldan.
"Oke, sebelumnya kita belum kenalan. Gue Aldan Gautama, temen kelasnya Raga."
••
Siang terik, Raga mendatangi sebuah studio foto Adi, orang yang waktu itu dikenalnya di kampus. Ia memperhatikan dalam kartu nama itu. Beberapa kali Raga mengecek website tentang studio itu.
"Kamu siapa?" tanya Staf yang sudah berdiri tegak di depan studio.
"Saya mau bertemu dengan Adi, saya dapat kartu nama ini." Raga menyodorkan sebuah kartu nama pada staf itu.
"Oh silahkan masuk."
Sampai di dalam, Adi langsung memakaikan Raga sebuah Jas berwarna Navy. Raga terlihat mebingungan, bahkan dirinya belum menyapa sama sekali.
"Apa-apaan ini?" tanya Raga heran.
"Ada iklan handphone, kita belum punya model. Kamu aja ya? Kebetulan kamu ada di sini Raga."
"Wira, tolong tata rambutnya setampan mungkin. Satu lagi, Beno, cari pantofel yang sesuai," teriak Adi pada seluruh stafnya.
"Ke ... kenapa anda tau kalau saya mau ke sini?"
"Nanti aja bicaranya."
Raga sudah terlihat tampan untuk segera melakukan pemotretan.
"Uw good job handsome, ini sih udah expert banget." Adi berdecak kagum, karena kelihaian gerak-gerik Raga yang memang profesinya adalah seorang model. Ditambah aura ketampanan wajah asia Raga mulai keluar. Pemotretan untuk iklan sebuah ponsel itu pun berlancar lancar.
"Raga terima kasih untuk hari ini, mungkin kami akan rugi kalau gak dapet peran untuk model ini."
"Gak apa-apa selow aja, saya sudah terbiasa begini. Di Rotterdam, ini adalah pekerjaan saya." Ucapan Raga membuat Adi kaget.
"Apa? Rotterdam? Wah bener-bener gue gak salah orang." Tepukan pundak oleh Adi membuat Raga canggung.
**
Sore hari yang penuh dengan angin, Bandung saat itu sedang cerah. Raga kembali melihat bunga mawar putihnya di kamar.
"Bunganya gak layu, padahal udah 2 hari gini masih aja segar," gumam Raga lantas mengambil sebuah novel.
Di balkon apartemennya, Raga mulai melamun dengan novel yang masih dipegang erat tangannya. Raga pergi menggunakan kaos hitam juga topi berwarna selaras. Tangannya mulai membuka pintu cafe yang ada dihadapannya.
"Malvin."
__ADS_1
"Hey Ga, gimana hari-hari lo di sini?"
"Berjalan lancar sih, gue ikutin aja. Tapi ..." Raga membuat Malvin penasaran.
"Tapi apa?"
"Gue saranin, lo harus tetap kayak gini bro. Cepet lo kasih kertas itu sama dia," ucap Malvin setelah mendengar beberapa penjelasan Raga kala itu.
"Gue takut, gue takut kalau gue jujur semuanya akan hilang."
"Gue tau ini berat banget buat lo." Malvin menepuk pundak lebar milik Raga.
Raga lantas pergi ke kampus karena ada jam siang hari itu. Dengan tas yang disoren di pundak kanannya, Raga berjalan dengan datar.
"Raga." Panggilan Diko membuat Raga menoleh cepat.
Diko mengajak Raga untuk sekedar minum kopi di Cafe.
"Kenapa akhir-akhir ini, cara berpakaian Raga sama kayak Dio ya," batin Diko memperhatikan pakaian Raga.
"Kenapa? Ada yang salah? Apa hitam gak cocok buat gue?" Raga tersenyum halus.
"Ah nggak kok, eh iya lo tinggal di mana?"
"Deket kampus ini, gue tinggal di Apartemen Grand Lake."
"Emm ngomong-ngomong, lo tau di mana SMA Pertiwi?" tanya Raga.
"Itu SMA gue, kenapa lo nanya soal itu? Dan kenapa lo tau SMA itu?"
Diko mulai sedikit curiga.
"Kenapa Raga tiba-tiba nanya soal SMA pertiwi, sebenarnya dia siapa sih? Gue gak yakin kalau Raga lama tinggal di Rotterdam," batin Diko.
"Kenapa lo nanya soal itu?"
"Gue punya temen, adiknya itu mau masuk SMA itu. Temen gue gak bisa temenin adiknya buat liat sekolahnya, gue mau gantiin dia buat temenin adiknya ke sana," sahut Raga canggung.
"Oh, biar nanti gue kirimin alamatnya ke lo. Gue ada jam nih, gue duluan ya."
"Oh oke, gue cabut dulu Dik." Ucapan Raga membuat Diko berbalik badan menatapnya.
"Ada apa?" Kedua alis mata Raga berkedut, karena bingung Diko menatapnya dengan aneh.
"Oh nggak ko, gue pergi sekarang." Diko kikuk sendiri.
"Kenapa gue jadi denger suara Dio? Sial, kenapa nih orang malah bikin gue curiga?" batin Diko.
NOTE :
LIKE, COMENT, SHARE AND RATE.
__ADS_1