AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
TEORI HATI


__ADS_3


Siang terang datang, matahari menyorot tajam kampus Yuniar. Sebagian mahasiswi tengah berkipas-kipas karena terasa panas. Erick terlihat sedang meminum sebotol air dingin di kantin. Wajahnya terlihat sedikit memerah pengaruh cuaca.


"Duh, mantap jiwa gue. Kenapa hari ini panas banget ya. Neraka bocor nih."


Dari belakang, Diko menepuk pundak Erick hingga dia terpingkal kaget.


"Sial, bikin kaget aja."


Diko terkekeh. Ia tau betul, temannya itu mempunyai kapasitas otak dibawah rata-rata. Ia mudah sekali untuk dibohongi, atau pun ditindas oleh orang lain. Namun dari semua paparan itu, Erick adalah tipe sahabat yang sejati menurutnya. Seseorang terlihat berjalan disekitaran kantin membuat Erick melebarkan matanya kaget.


"Sial, king kong sawah!" Erick mulai mengumpat di belakang punggung Diko, melihat Aldan tengah berjalan menuju kantin untuk makan.


"Hehehe, ada Monyet Albino!" Aldan tersenyum sinis melihatnya.


"Ngapa lo? Kayak liat setan aja!"


"Dia lebih serem dari setan boy."


Aldan menghampiri mereka, dengan senyuman ramahnya, Aldan mulai menyapa Diko. Ia bahkan tak canggung walau mereka baru beberapa kali kenal karena Raga.


"Hay, bro!" ucapnya lantas duduk membawa sepiring makanannya.


"Heh king kong sawah, ngapain lo ke sini? Gak punya temen lo ya. Ha Ha Ha." Erick memulai pertarungan kata.


"Heh monyet Albino, mau gue bogem lagi lo?"


"Monyet Albino? Kingkong sawah? Hahaha kalian cepet banget akrab, jangan-jangan ada something di antara kalian."


"What? Najis!"


Aldan melototi Erick.


"Eh ngomong-ngomong, tumben lo gak sama Raga. Di mana dia?" tanya Diko.


"Dia ada pemotretan sekarang, siang nanti dia ke sini cuma kuliah umum. Ngomong-ngomong, lo fakultas ekonomi juga kan? Kenapa lo mau diikutin sama Monyet Albino ini?" Aldan membuat Erick geram.


"Iya, gue gak tau kenapa dia tiba-tiba milih Tehnik, gue tadinya bareng dia. Tapi gue mengurungkan niat."


"Iya iya gue tau, karena Nellsa kan, haha." Erick membuat Diko tertegun kaget.


Diko menyenggol lengan Erik dengan refleks.


"Heh, diem lo!" bisik Diko.


"Heh, kingkong sawah! Gue bakalan bikin perhitungan sama lo."


"Coba aja kalo lo berani," ketus Aldan.


Kuliah umum dimulai, Nellsa berjalan menuju kelasnya.


"Sa, gimana kondisi lo?"

__ADS_1


"Gue gak apa-apa kok Ki."


"Gue kira lo bakal geger otak atau amnesia."


"Kian, yang nimpah gue cuma bola tenis bukan bola meriam."


"Yaudah gue seminar dulu ya, gue gak ikut kuliah umum, gue pergi dulu bye."


Terlihat gaduh ruang kelas sebelum seorang Profesor masuk untuk menghentikannya.


"Selamat siang semua. Baik semuanya, kita mulai kuliah umum kita sekarang."


Pembelajaran sudah dimulai 10 menit yang lalu, terlihat pria tergesa-gesa masuk ke dalam kelas.


"Maaf bu saya telat."


"Raga," batin Nellsa menutupi wajahnya dengan buku.


"Kenapa kamu bisa telat?"


"Maaf bu saya ada urusan," sahut Raga menundukan kepalanya.


"Dari Fakultas mana kamu?"


"Ekonomi bu!"


"Yaudah, silahkan duduk. Kali ini saya kasih kompensasi, tapi lain kali di saat ada kuliah umum seperti ini, saya tidak suka ada mahasiswa yang terlambat."


"Baik bu."


"Jangan ditutupin gue udah tau."


"Suutt, jangan ajak gue ngobrol. Tuh Dosen gue denger killer," bisik Nellsa.


Ditengah pembelajaran, Raga memakan sandwich di kelas. Bu Dosen terlihat sedang fokus menulis beberapa materi di white board. Nellsa melotot menatap Raga.


"Heh, ngapain lo?" bisik Nellsa menundukkan kepalanya cemas.


"Ya makanlah, masa tidur!"


"Lo gila? Ini jam kuliah," bisik Nellsa keras.


"Heh, gue belum makan dari pagi, gue sibuk gak punya jam. Gue gak fokus belajar kalo laper," ucap Raga datar membuat Peofesor itu terusik. Ia lantas menyembunyikan sandwich di tangannya.


"Saya tidak suka ada kegaduhan di kelas ini, saya tau kalian dari tadi mengobrol terus," ketus profesor itu membuat Nellsa melotot.


"Saya minta maaf bu."


Nellsa melirik sinis Raga, karenanya hampir saja dirinya dibuat malu di depan mahasiswa Yuniar. Sementara Raga, hanya tersenyum manis tanpa dosa melihat wajah Nellsa yang ketakutan malah membuatnya menggemaskan.


Selesai kuliah umum, Nellsa merapihkan laptopnya ke dalam tasnya. Raga masih terlihat menulis sebuah catatan yang membuat Nellsa meliriknya penasaran.


"Kepo banget," ucap Raga yang fokus pada tulisannya. Ia bahkan tahu sedari tadi Nellsa meliriknya.

__ADS_1


Nellsa menoleh ke samping kanan dan kirinya. Bahkan semua orang sudah keluar dari kelas dan hanya mereka berdua yang ada di sana. Nellsa sering sekali mendapat jadwal kuliah umum sama dengan Raga. Berbeda dengan teman lainnya. Nellsa adalah anak yang paling rajin dalam perkuliahan. Ia pun mengambil kelas bahasa internasional di kampusnya.


"Lo ngomong sama gue?" tanya Nellsa.


"Lo liat orang lain di sini selain lo?" Pertanyaan Raga membuat Nellsa memutar bola matanya canggung.


"PR itu pekerjaan rumah bukan kampus."


"Gue lagi catat jadwal gue buat ke depannya."


"Seleb sibuk banget ya?"


"Jangan panggil gue seleb." Raga menatap Nellsa datar. Bahkan ia tak suka disebut seleb oleh beberapa orang.


"Setiap orang harus jatuh cinta sama pekerjaannya. Kalau gak begitu, apapun yang dilakuin pasti bernilai keraguan."


"Gak paham."


Raga membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Ia lantas menggantungkan tasnya pada pundak lebar miliknya. Ia menatap Nellsa dengan diam. Mata Nellsa memencar aneh ketika Raga mulai menatapnya dengan pekat. Nellsa hendak melangkah.


"Sama halnya ketika lo menyukai seseorang."


Kaki Nellsa terhenti ketika ucapan Raga bahkan membuatnya terasa aneh.


"Pekerjaan yang gue lakuin bagi gue serasa ketika gue mencintai seseorang. Lo akan berusaha yang terbaik untuk membuat orang yang kita cinta bahagia. Termasuk dalam hal pekerjaan, lo akan berusaha yang baik untuk mencapai tujuan."


"Manusia dan pekerjaan itu berbeda." Nellsa menoleh balik dan menanggapi ucapan Raga.


"Manusia dicinta karena hati, tapi pekerjaan dicintai karena uang. Lo bisa beli pekerjaan apapun yang lo mau, tapi lo gak bakal bisa beli hati seseorang." Nellsa tersenyum dan lantas pergi meninggalkan Raga yang juga ikut tersenyum.


Raga pulang dengan Aldan, satu mobil berdua. Aldan bahkan menyeringai aneh ketika melihat Raga tersenyum sendiri sambil menyetir.


"Belum minum obat lo ya?" tanya Aldan.


"Apaan? Gue gak sakit."


"Lo senyum sendiri yang bikin gue sakit mata."


"Oh, iya emang?"


"Ya Tuhan. Lo kelamaan gaul sama kompeni begini nih.Gue tau nih alasan lo senyum begini tiap hari di kampus. Rambutnya lurus, mukanya imut, badannya bodygoals kan?"


"Jangan ngomong macem-macem. Gue turunin ditengah jalan mau lo?"


"Jyah, dia ngancem. Ok, gue diem."


NOTE :


CONTACT ME ON


GMAIL : lidia.maulida30@gmail.com


IG Official : @lidiaya_

__ADS_1


IG Author : @lidstudioo


__ADS_2