AFTER 20 DAY

AFTER 20 DAY
CAFE SCENE


__ADS_3


Pagi menjelang, kertas sudah berterbangan di kamar Nellsa. Ia terlihat tergesa pagi itu sampai membingungkan bu Franda.


"Nellsa kenapa terburu-buru gitu?" tanya Bu Franda.


"Maaf bu, Nellsa udah telat ke kampus. Nellsa ada kuliah umum, Nellsa berangkat dulu ya bu."


Sampai di sana, dosen sudah memulai mata kuliahnya.


"Fakultas apa kamu?"


"Ekonomi Pak."


"Kenapa telat? Ini sudah jam berapa? Waktu saya nggak banyak, saya harus mengajar di kelas lain."


"Maafkan saya pak."


"Jangan diulangi, silahkan duduk."


"Terima kasih pak."


"Alarm lo rusak ya?" tanya seorang laki-laki yang wajahnya tertutup topi tepat duduk di samping Nellsa membuatnya bingung.


"Raga?"


"Morning, ini kuliah umum pertama gue, mohon bimbingannya ya." Raga tersenyum dengan menyemburkan senyuman manis yang terlihat di kedua belah pipinya.


Nellsa menatap Raga aneh. Dahinya mengernyit heran. Ia lantas terfokus pada pembelajaran. Menghiraukan Raga yang terus meliriknya dengan senyum.


"Kenapa sih harus ketemu sama dia," batin Nellsa jengkel. Ia bahkan selalu bertemu Raga di manapun, bersamaan dengan sedikit kesialan karena telat masuk kelas.


Selesai kuliah umum, Raga mengikuti Nellsa dari belakang. Ia melangkah selaras mengikuti langkah kaki Nellsa.


"Kenapa lo ngikutin gue?" Nellsa berbalik menghentikan langkahnya dengan risih.


"Apa? Jalanan ini bukan punya lo. Gue jalan lima langkah lebih jauh dari lo di belakang. Apa itu artinya gue ngikutin lo? Gue mau ke kantin."


Nellsa terdiam malu bersambung kesal. Ia tau, Raga sangat perfect, ke mana pun ia melangkah pasti selalu ada paparazi di sela-sela kampus. Ia orang yang datar, berbicara sesuai apa yang ia ingin. Dan selalu mematikan lawan bicaranya seketika.


"Heh, kenapa lo jadi jutek gini sama gue? Waktu di Rotterdam, lo gak sejutek ini. Apa ini ada hubungannya sama orang yang mirip sama gue itu?"


"Tolong jangan bahas itu sekarang."


"Gue cuma mau berteman baik sama lo. Kalau emang wajah ini bikin lo muak, gue bisa buka topeng gue sekarang."

__ADS_1


"Ngawur deh lo."


Di kantin, Aldan sudah menunggu Raga.


"Hey boy! Udah selesai kuliah umum lo?"


"Kenapa lo gak ikut?"


"Hehe, gue paling males kalau kuliah umum, harus bangun sepagi itu, gue gak bakalan bisa." Aldan memasang giginya rapih.


Diko menghampiri Nellsa yang sedang makan bersama Kian.


"Hay para gadis. Gue ikut makan ya?"


"Apaan sih ka Diko, ikutan aja!"


"Berani galak sama senior, denda lima puluh ribu." Diko membuat Nellsa terkekeh.


"Nah akhirnya ketawa juga, akhir-akhir ini susah banget buat si Nellsa senyum."


"Ka Diko bisa aja."


"Gimana pun gue seneng liat lo bisa senyum kayak gini Sa. Selama ini mungkin Dio orang yang paling beruntung karena dicintai sama orang kayak lo. Andai gue itu Dio, gue bakalan buat lo seneng terus setiap harinya," batin Diko seraya menatap dalam wajah Nellsa.


Balkon lantai tiga fakultas ekonomi selalu menjadi tempat favorit Raga untuk melamun. Dia sedikit aneh, mungkin memang aneh. Aldan yang berbinar-binar karena penasaran langsung menghampiri laki-laki bertubuh semampai itu.


"Eh, gue gak ngelamun."


"Masih mau nyangkal? Dari tadi lo ngapain aja?"


"Gue udah biasa, di Rotterdam gue emang selalu begini. Nikmatin keindahan alam, udara segar, juga orang berlalu-lalang."


"Hah? Hey bro, panas begini, rame kayak gitu, terus cuma ada satu pohon di sana lo bilang keindahan alam? Aneh lo."


"Aldan, menurut lo ... apa kita salah suka sama orang yang suka sama orang lain?" Pertanyaan Raga yang terkesan aneh membuat Aldan kaget.


"Di sini gue bilang, kalau lo cinta seseorang, cintailah. Tapi kalau dia menyukai orang lain, apa lo akan terus kejar dia? Please! Berjuang sendiri itu melelahkan."


"Gue dapet amanah cinta seseorang, gue harus kirim cinta itu ke orang lain, terus apa gue harus lakuin itu?" Raga bergumam ditengah lamunannya.


"Lo ngomong apa sih, gue gak ngerti. Gue bukan ahli cimta." Aldan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Raga melewati koridor kampus, dia berpapasan dengan Nellsa.


"Nellsa tunggu!"

__ADS_1


"Ada apa?"


"Di mana nemuin makanan enak di sini selain kantin?" Pertanyaan Raga mampu membuat Nellsa mengedipkan matanya beberapa kali.


Mereka sudah duduk di sebuah cafe, mata Raga berlalu-lalang ke setiap sudut cafe.


"Jadi, cafe di Indonesia itu kayak gini?"


"Lo gak pernah ke cafe selama di Indonesia?"


"Iya, dari kecil sampe gue SMP gue gak pernah yang namanya hangout ke cafe. Cafe di Rotterdam jadi cafe pertama yang gue injak."


Nellsa terdiam bingung.


"Seluruh kegiatan gue, gue habisin di Rotterdam," ucap Raga seraya menyeruput secangkir kopi.


"Lo yakin? Kenapa bisa? Lo gak punya masa kecil di sini?"


Nellsa membuat Raga terdiam seketika, ia lantas menghentikan proses minum kopinya.


"Masa kecil gue terlalu indah, gue hampir gak bisa ngerasain itu lagi saat ini. Secangkir kopi ini juga, jadi kopi pertama yang gue coba di Indonesia."


"Ehey, lo lahir di sini sampe kopi pun lo belum pernah coba?" Nellsa menyeringai aneh.


"Sebenarnya gue pernah punya hari yang gak pernah bisa gue rasain lagi. Dimana satu anugerah dateng ke hidup gue yang gak bakal gue dapetin 2 kali selama hidup gue."


Ucapan tak sadarnya membuat Nellsa kebingungan. Nellsa membulatkan matanya seraya memakan sebuah cemilan di tangannya. Raga beralih pembicaraan dan menanyakan soal Dio pada Nellsa, sontak jantung Nellsa serasa terkena sengatan mendengar pertanyaan Raga.


"Ngapain lo nanya itu?"


"Gue cuma mau tau, gimana orang yang lo sebut Dio yang mirip sama gue itu?"


"Ka Dio, dia orang yang begitu tegas. Dia pendiam namun punya karisma, tegas dalam berpikir, ramah terhadap orang yang lebih tua. Pokoknya lebih banyak kebaikan yang dia punya. Gue minta maaf karena selama ini ganggu lo dengan terus menyebut Dio depan lo. Gue gak pernah merasa se-gila ini, dia jadi orang yang pertama yang buat gue penasaran, yang bisa bikin hati gue ngerasain apa itu jatuh cinta." Nellsa berucap dengan penuh perasaan, lamunannya membuat Raga menatapnya sendu.


"Terus, apa lo pernah jalin hubungan sama dia?"


"Em, soal itu ... gue gak pernah tau isi hatinya. Dia terlalu cuek sama hal semacam itu. Dia terlalu famous, dia gak peduli apapun bentuk respon ke dia." Nellsa tertunduk malu, ia membuang senyum sembarang.


"Lo yakin dia orang yang gak peduli?" Raga menatap tajam Nellsa, membuatnya salah tingkah sendiri.


"Emm, gue mau balik ke kampus. Ada satu matkul lagi." Nellsa pergi dengan canggung.


"Kenapa sih dia harus nanya itu? Bikin gue tegang aja," batin Nellsa.


NOTE :

__ADS_1


To be continue... Like, coment and share hehe


__ADS_2