
Disaat Adam membukanya, ia tidak menemukan satupun orang disana. mereka malah bertemu dengan petugas kebersihan yang sedang mengepel ruangan didalam sana.
“pak, izin bertanya, orang orang yang sebelumnya ada disini kemana semua ya?” tanya Adam.
“ohh iya nak, orang orang disini tadi keluar untuk mengunjungi rusun para pengungsi” jawab lelaki tua itu.
“rusunnya dimana ya pak?” tanya Adam.
“rusunnya ada di rumah lama eyang” jawab lelaki tua itu.
“baik pak, terimakasih banyak” ucap Adam menutup kembali pintu tersebut.
“iya nak”
“dimana?” tanya Johan.
“di rusun pengungsi, katanya rusunnya ada di rumah lama eyang” jawab Adam.
“berarti di depan pohon Odessa” ucap Johan.
“bagaimana apa kita kesana atau nunggu disini aja?” tanya Adam.
“aku pengen kesana, aku pengen ketemu sama seseorang” jawab Johan.
“hah? sama siapa?” tanya Adam.
“kak Johaannnn” teriak anak kecil kecil itu berlarian menuju ke Johan.
Nyatanya anak kecil kecil itu masih saja membawa mainan yang Johan beri dahulu. Seperti biasa, Guntur, Ryu, Fathur, Juan, Aji dan Aqila berbondong bondong berebutan tangan Johan untuk digandengnya.
“kita maen kesana aja yuk” ucap Johan menunjuk ke arah bekas pohon hornbeam tebangan milik Odessa.
“iya” jawab mereka serentak.
Mereka berbondong bondong berjalan ke arah sana dan kemudian duduk. Seperti biasa Aqila yang selalu dipangku duduk oleh Johan dan bermain bersamanya sementara yang lainnya bermain didepannya.
Perlahan Lia, Naomi, Callysta, Farel, Nyoman dan Jehian mendatangi Johan yang sedang menjadi penghibur bagi anak anak kecil itu. mereka semua melihat Johan sedang bermain bersama dengan anak anak desa itu.
“jadi aku mulai mengerti kenapa kau selalu bersihkeras ingin pergi kemari” ucap Lia.
“gimana? Seru bukan? Hehehe” jawab Johan seraya mengelus kepala Aqila dipangkuannya.
“kak Johan?” tanya Aqila.
“iya Aqila? kenapa?” tanya balik Johan.
“apa mereka teman teman kak Johan? Wajah mereka menakutkan” ucap Aqila memegangi tangan Johan.
“heh Aqila, wajah mereka tidak menakutkan, hanya jelek aja” jawab Ryu.
“heh Ryu, kau mirip sekali seperti Nyoman, hahaha” jawab Johan mengelus kepala Ryu.
“dia masih belom jinak, tidak sepertiku yang sedikit kalem” ucap Nyoman.
“kak Johan? Kenapa kak Odessa tidak ikut juga?” tanya Aqila.
Satu pertanyaan yang membuat mereka semua terdiam disana. hanya ada suara mobil pemadam kebakaran mainan yang bertabrakan dengan robot mainan yang bersuara. Sementara yang lainnya, terbungkam akan pertanyaan Aqila.
“eehhh,,.. eemmm anu. Di-diaa lagi,.. lagi sekolah‼. Naahhh iya, kak Odessa sedang sekolah. Jadi kalian juga harus seperti kak Odessa. Kalian kalo udah gede juga harus sekolah” ucap Johan.
“hah? sekolah? Apa serunya?” tanya Fathur.
“kalian akan dapat teman baru. Teman kalian akan sangat banyak dan pastinya kalian bisa menemukan teman yang mempunyai mainan yang sangat amat banyak” jawab Johan.
__ADS_1
“banyaknya seberapa kak? Apa sampai satu juta ribu ratus weweweket” tanya Aji.
“i-iyaahh sangat banyak” jawab Johan.
“kalau begitu, kita mau sekolah” ucap mereka serentak.
“naahh gitu dong” jawab Johan dengan tawa lepasnya.
Beberapa menit selang Johan bermain bersama anak anak desa, nyatanya mereka semua tertidur. Johan sedikit berteriak kepada teman temannya untuk membantunya menggendong anak anak desa yang tertidur di tanah yang kering.
“dasar mereka, mereka pun tak peduli mau tidur di tanah atau dimanapun” ucap Adam.
“iya, kalau aku mah mau tiduran di dekat danau, ekhem” jawab Nyoman sedikit menyindir.
“yaaahh ekhem,.. pokoknya kita harus membawa mereka semua” ucap Adam mengalihkan topik.
Masing masing dari mereka menggendong anak desa dan meninggalkan Johan sendirian disana. Johan hanya bisa melihat anak anak desa itu memasuki rusun. Nyatanya rusun itu berjumlah 5 rusun dengan masing masing 20 kamar dengan bangunan tingkat dua dimana satu lantai setara 10 kamar untuk satu kamarnya adalah satu keluarga.
Disekitaran mereka sudah berupa ladang gandum, padi dan sayur mayur serta buah buahan. Nampak begitu berbeda seperti dahulu Johan dan rombongannya terakhir kali kemari.
“yang paling berbeda hanyalah satu, kau tidak ada disini. Odessa” ucap Johan seraya memegang sisa tebangan pohon hornbeam yang ia jadikan kursi tempatnya duduk sedari tadi.
Saat Johan mengelus elus tebangan pohon hornbeam itu, Johan tak sengaja tertusuk pecahan dari remah remah kayu keras pohon itu. nampaknya kayu itu masuk kedalam daging di jari telunjuk Johan sebelah kiri.
“sial, jariku tertelusup kayu” gumam Johan.
Johan pun beranjak berdiri dari tempat duduknya yaitu bekas tebangan pohon milik Odessa itu dan kemudian berjalan kearah rusun. Namun sempat beberapa langkah ia meninggalkan tempat itu, ia merasa terpanggil namanya oleh seseorang dari sebaliknya. Spontan ia menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan tubuhnya.
Begitu terkejutnya ia ketika ia melihat bayangan tubuh Odessa tengah duduk di tebangan kayu sisa pohonnya itu. begitu tidak percayanya Johan sampai ia menggosok kedua matanya. Namun naas, nampaknya itu hanyalah halusinasi. Selepas Johan mengusap kedua matanya, bayangan Odessa kali itupun menghilang.
Namun nyatanya, suara yang masih saja memanggil nama Johan masih terdengar jelas di telinganya.
“apa aku kelelahan?” tanya Johan dalam dalam.
“Johan, aku disini. aku di pohonku!” ucapan dari suara yang sangat Johan kenali.
“iya, ini aku, Johan. Suaranya bukan dari bumi, tapi dari ikatan kita” jawab Odessa.
“Odessa kau dimana!?” teriak Johan melihat sekeliling.
“duduklah dan rasakan kehadiranku” ucap Odessa dari suara hati Johan.
Johan pun mencabut alis kirinya dan kemudian menggenggamnya erat. Sontak terkejut, Johan benar benar terkejut akan suara Odessa yang sangat amat terdengar jelas. Johan berjalan mendekati tebangan pohon itu dan nyatanya suaranya semakin jelas. saat Johan menempelkan telinganya ke arah sisa tebangan pohon itu, nampaknya dari sanalah asal suara itu.
“tunggu sebentar, aku ada ide” ucap Johan.
Johan duduk bersila di atas sisa tebangan pohon Odessa dan kemudian membuat sikap bertapa. Johan bertapa tanpa berniat untuk memanggil Greisha, melainkan untuk meningkatkan insting dan semua indranya.
“aku merasakan angin berhembus melalui setiap bulu di tanganku, aku merasakan suara kicauan burung yang berada di atas bangunan rusun. Dan aku pun mendengarkan-“ ucap dalam hati Johan tersahut henti.
“Johan, apa kau bisa mendengarku!?” tanya Odessa dengan suara yang sangat jelas dari lubuk hati.
“aku bisa mendengarmu, Odessa. Apa kau bisa mendengarku” tanya balik Johan.
“iya, aku bisa,… aku bisa mendengarmu” jawab Odessa dengan suara rintihnya.
“seandainya aku berada disisimu, aku yang pertama kali mengusap air matamu itu, Odessa” ucap Johan.
“ti-tidak,.. aku tidak menangis kok” jawab Odessa masih dengan suara rintihnya.
“kamu ngga pernah pandai untuk berbohong. Mau gimanapun, aku yang paling mengenalmu”
Ucapan dari Johan benar benar menyentuh hati Odessa dari dimensi yang berbeda. Odessa tak kuat untuk menahan isak tangis air matanya. Suara tangisnya terdengar jelas oleh Johan.
__ADS_1
“bagaimana!? Bagaimana caranya agar aku bisa kembali, Johan!?” ucap Odessa dengan haru air matanya.
“tenangkan dulu fikiranmu itu. bernafaslah dengan tenang, tarik nafasmu kemudian buang, tenangkan dirimu terlebih dahulu” jawab Johan.
“aku, aku tidak bisa tenang. aku sendirian disini. aku tidak ada teman, aku tidak ada seorangpun yang bisa kuajak bicara. Setiap hari, semenjak kejadian itu, aku selalu menunggumu untuk menemuiku, aku selalu memanggil namamu, aku tidak tidur, tidak makan, hanya menunggumu. Sementara dari balik duniaku, aku telah dibayang bayang oleh Kruger. Aku takut, Johan,..” ucap Odessa.
Ucapan dari Odessa membuat Johan tak kuasa menahan tangis air matanya. Konsentrasi Johan terganggu, ia kehilangan komunikasi dengan Odessa. Ia melepaskan meditasinya hanya untuk sekedar mengusap air mata. Ia memeluk kedua kakinya sendiri dan menangis di atas sisa tebangan pohon milik Odessa.“sial! Kruger!? Dia itu, aku ingin menghabisinya” gumam Johan dalam hati.
Tak lama setelah itu, ia merasa kalau pundaknya dipegang oleh tangan yang kecil namun rapuh. Nyatanya tangan yang memegang pundaknya itu mampu menenangkan emosi negatif yang membanjiri fikiran Johan. Sontak terkejut, Johan mendelangah, menaikkan wajahnya dan menatap siapa yang memegang pundaknya itu.
Begitu terkejutnya ketika ia melihat sang kakek dengan senyumnya memegang pundaknya. Ia tak kunjung menahan isak tangis air matanya. Ia menangis sekencang kencangnya tak menghiraukan situasi dan kondisi dari orang lain.
“keegoisan kakek mengundang cucu kakek ke arah yang salah. Seharusnya kakek tidak memberikan simbol itu kepadamu saat kakek berada dirumahmu yang berada di kota. itu menjadi beban yang berat untukmu. Karena kakek, kau harus berurusan dengan Greisha, dengan Kruger, melalui willsh dan menyelamatkan roh tercintamu. Kakek merasa sangat bersalah, namun kakek tidak menyesali keputusan kakek, karena kakek tau nak Johan lah satu satunya orang yang mampu mengemban beratnya menjadi seorang manusia setengah roh seperti kakek dan nenekmu dahulu” ucap kakek.
“kakek! Bagaimana kakek bisa kemari?” tanya Johan.
“seharusnya kakek yang bertanya seperti itu, bagaimana caranya kau bisa menghubungi kakekmu ini sedangkan seharusnya kita sudah berbeda alam? Kakek merasa terpanggil. Kemampuanmu telah terasah setelah kau berkomunikasi lebih dalam bersama Greisha. Dasar orang itu, dia selalu merepotkan” ucap sang kakek.
“apa kakek juga sering bermimpi bersama Greisha?” tanya Johan.
“tidak hanya Greisha, melainkan juga Kruger” jawab sang kakek.
“hah? kakek bertemu Kruger!?” tanya Johan.
“jangan membencinya, dia hanya melaksanakan tugasnya dengan baik. Kau yang salah karena kau yang membencinya. Walaupun dia masih belum mengetahui waktu yang tepat untuk menghukum roh seperti kakek” jawab sang kakek.
“bagaimana kakek bisa tau?” tanya Johan.
“kakekmu ini berteman baik dengan Greisha dan Kruger, kakekmu ini menulis buku tentang semua yang berhubungan dengan mereka berdua, dan juga kakek menambahkan beberapa simbol yang telah Kruger takuti. Salah satu simbolnya telah kakek turunkan kepadamu, Johan” ucap kakek.
“apa itu alasan mengapa Kruger takut kepadaku?” tanya Johan.
“bukan takut, Kruger hanyalah dewa yang masih labil. Dia tidak bisa belajar dari kesalahan. Maka dari itu, pesan kakek ialah, bantulah Kruger dan temani dia. Dia masih belum mengerti akan tugasnya. Perbaiki kelakuannya dan jangan membencinya. Titipkan salam kepada Kruger dari teman lamanya yang selalu berusaha untuk menyatukan dua hubungan yang telah terpisah selama ribuan tahun lamanya” jawab kakek.
“kakek mau kemana?” tanya Johan.
“sebaiknya kau berhenti bersemedi, kakek bisa melihat kemampuanmu masih lemah. Jika kau terlalu lama bertapa, kau akan kehabisan energi. Kakek tidak mau melihatmu berada di dunia yang sama seperti kakek” jawab sang kakek.
“hah? bukannya Johan dari tadi sudah selesai semedi?” tanya Johan.
“kau hanya terbawa emosi. Kendalikan emosimu jangan seperti kakekmu atau kau akan gagal dalam ujianmu di Willsh. Berusaha mengontrol emosi negatifmu dan jangan terlalu membuang emosi positifmu. Jika kau mampu mengendalikannya, kau akan lebih hebat dari Greisha” jawab sang kakek perlahan menghilang dari hadapannya.
“kakek, ucapkan salamku kepada nenek disana” ucap Johan seraya mengusap air matanya.
“baiklah,.. kalau begitu, kakek pergi dulu” ucap dari suara sang kakek yang perlahan memudar.
Selepas Johan melihat tubuh sang kakek menghilang dari hadapannya, perlahan suara Odessa mulai muncul perlahan. Johan juga menyadari bahwa dirinya tidak menggagalkan semedinya, namun dirinya hanya terbawa emosi hingga mengundang kakeknya.
“Johan? Kamu dimana? Kenapa kamu tiba tiba menghilang!?” tanya Odessa.
“ma-maaf, aku habis pipis sebentar” jawab Johan.
“hmm, bodoh! Padahal aku udah khawatir” jawab Odessa.
“ma-maaf Odessa, aku tidak bisa berlama lama untuk menghubungimu, kalau sampai energiku habis, aku akan menyusulmu disana dan tidak bisa menyelamatkanmu. Energi ku sebentarlagi hampir habis. Aku ingin beristirahat terlebih dahulu” ucap Johan.
“baiklah, aku juga akan istirahat. Aku lega karena kamu masih hidup dan bisa menghubungiku” jawab Odessa.
“sebentar lagi, aku akan menyusulmu disana, tunggulah aku” ucap Johan.
“aku akan selalu menunggumu” jawab Odessa.
“kalau begitu, aku akan kembali, terimakasih,…” ucap Johan.
__ADS_1
“terimakasih Johan, aku mencintaimu” jawab Odessa.
Perlahan Johan dengan sengaja membuka matanya, nampak teman temannya dan semua tetua desa yang lama berdiri didepan Johan. Mereka semua melihat Johan yang bertapa di atas sisa tebangan pohon Odessa.