Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 7 ; Berangkatnya ke Engkobappe


__ADS_3

“jangan bertindak gegabah. Kau mudah sekali diselimuti emosi negatif. Kau harus bisa tenang dalam menghadapi situasi yang sangat genting. Berlatihlah untuk tenang agar kau bisa bermeditasi dan menghubungi Greisha dimanapun dan kapanpun” ucap Adam.


“kau benar. Aku juga merasa aku tidak mudah tenang. terimakasih atas sarannya. Aku akan berangkat sekarang” ucap Johan.


“kemana?” tanya Adam.


“ke engkobappe. Aku pernah kesana sendirian, tapi saat itu aku ketinggalan bis. jadi yaahhh apa boleh buat” ucap Johan.


“aku akan menemanimu”


“hah? apa kau sudah gila? Kau harus kerja bodoh!.”


“aku tidak akan membiarkan sahabatku satu ini melakukan perjalanan jauh sedangkan kakinya masih sakit” tegas Adam.


“hey, kakiku ini hanya ditembak dua peluru, satu kanan satu kiri. Dan itupun udah dua bulan lalu. Sekarang sudah sembuh. aku hanya perlu pembiasaan berjalan aja. istilahnya aku lupa cara berjalan. Otot kakiku juga melemah karena aku sangat jarang bergerak. dan juga kan yang lainnya juga ikut denganku”


“tapi kan-“


“kau harus bekerja, akan sia sia pemberian terimakasihku jika kau tidak bekerja” sahut Johan.


“baiklah, siapapun tidak akan bisa melawan kalau Johan sudah membujuk” jawab Adam.


“kalau begitu, kau bisa membantuku berlatih berjalan” tegas Johan.


“iya”


Maka Adam mengangkat tubuh Johan dan membuatnya berdiri di samping kasurnya. Johan pun berdiri menggunakan kedua kakinya. Johan begitu berusaha hingga kedua kakinya bergetar kencang. Johan berjalan ke lemari, mengambil pakaian ganti dan kemudian memindahkan keranjang pakaian kotornya di depan kamar.


“gimana? Bisa gak?” tanya Adam.


“bisa kok, aku cuma gak terbiasa aja. kakiku masih lemes banget” jawab Johan.


“kau terlalu memaksakan diri, benar apa kataku kalau aku harus menemanimu kesana. Lagipula kan aku dan riana juga yang menerjemahkan seisi kitabnya” jawab Adam.


“hmm,… okelah, tapi untuk kali ini saja. kau harus bekerja dengan giat. Pikirkan Naomi juga” jawab Johan.


“yaelah Naomi mah selalu pulang kenyang dan terus terusan di kirim makanan sama Nyoman” jawab Adam.


“eh? Nyoman ama Naomi?” teriak Johan begitu terkejut.


“lah kok baru tau? Kemana aja selama ini?”


“aku merasa bersalah pas kemarin dirumahsakit. Gimana perasaan Nyoman pas itu” ucap Johan.


“udahlah dia juga maklum kalo kau baru tau”


“sekarang jam berapa? Kok yang lain belom dateng?” tanya Johan.


“yang lain ada di bawah bantu masak bunda” jawab Adam.


“siapa aja yang udah datang?”


“Lia, Farel sama Jehian”


“Nyoman belom datang”


“dia katanya bantu ortunya belanja bahan bahan dulu di pasar. Seharusnya itu tugasku dan aku mau berangkat, tapi dia maksa buat kerumahmu. Jadi yaahhh, aku terpaksa kesini”


“yaudah, biar aku jalan sendiri turun kebawah”


“terserahmu. Kau bisa kan berjalan sendiri turun kebawah? aku yang akan menyiapkan barang barangmu”


“santai aja mah. Itung itung juga latihan kaki”


“okelah kalau begitu”


Johan membuka pintu kamarnya dan berjalan menuruni tangga. Melihat hal itu, spontan semua orang berlari ke arah Johan dan spontan membantu Johan untuk berjalan.


“ada apa kalian semua? Aku udah bisa jalan. Aku cuma berlatih” jawab Johan.


“jangan bodoh untuk berlatih di tangga. Lagipula dimana Adam? Kenapa dia tidak menjagamu?” tanya Farel.


“gatau tuh, dia malah tidur tiduran di kasurku” ucap Johan sedikit berteriak.


“woii kau bilang sendiri kalau aku yang membereskan barang barangmu, dasar lucknut!” teriak Adam dari dalam kamar.


“hihihi, seharusnya kau membantuku berjalan disini!” teriak Johan dengan tawa lepasnya.


“woiyllaahhh gatau lagi lah, terserahmu mau jatoh apa aku gapeduli” teriak Adam diikuti tawa Johan lepas.


“yaudah sini makan, kita semua masak sup hangat sebelum perjalanan” ucap Lia.


“iya iya”

__ADS_1


Johan pun duduk di meja makan bersama dengan Jehian, Lia, Callysta, Farel, mamah dan papahnya. Johan menyendok kuah dari supnya, memakannya bersama dengan nasi merah dan telur mata sapi. Sedikit kornet dan beberapa tumis kecambah.


“bener bener lama banget aku gak makan makanan rumahan” ucap Johan.


“gimana? Aku Callysta dan mamah yang buat” jawab Lia.


“enak juga. sayangnya kecambahnya kurang lama dimasak. Jadi masih agak keras dan bau. Yang lainnya udah sempurna bangett nget nget nget” jawab Johan.


“lain kali aku bakal masak tumis labu bumbu kacang, gimana?” tanya Callysta.


“haahh!?” tanya Johan dan Lia bersamaan.


“mereka berdua alergi dengan kacang dan labu” jawab Farel.


“ohh iya? Aku gatau”


Di tengah tengah sarapan mereka, terdengar ketukan pintu depan rumah. Saat Callysta membukanya, itu hanyalah Nyoman dan Naomi. Spontan Callysta terkejut kehadiran Naomi disana.


“kau tidak sekolah?” tanya Callysta.


“kau pergi sekolah?” tanya Naomi.


“enggak enggakk‼ jangan bilang kau ikut dengan mereka sedangkan aku sekolah sendiri?” tanya Callysta.


“kau sudah terlanjur mengenakan seragam. Jadi berangkatlah sekolah. Kau akan terlambat” jawab Naomi.


“bang Johaaann‼ aku ikut” teriak Callysta.


“enggaakk! Kamu harus sekolah!” teriak Johan dari ruang tengah.


“gamau tau, Naomi aja ikut, masa aku sekolah sendirian?” teriak Callysta.


“ehh? Naomi ikut? Baguslah kalau begitu. Kau berangkatlah sekolah” teriak Johan.


“eeehhhh? Gamau pokoknya gamau, titik” teriak Callysta.


“gimana mah? Callysta ikut apa engga?” tanya Johan.


“gapapa ajak aja kasian. Semuanya ikut masa dia enggak. Tapi jaga adikmu itu jangan sampe ilang. Kamu tau sendiri kalo otaknya agak miring dikit” jawab papahnya.


“iya, jagain adikmu itu” jawab mamah.


“yaudah deh iya” jawab Johan.


*tulit tulit tulit


“nada dering siapa tuh? Jelek banget” ucap Nyoman.


“huss jangan bilang gitu, aku aja dah nahan ketawa” sahut bisik Naomi.


“siapa nih yang menelfonku” tanya Farel mengambil ponselnya dari saku celananya.


“siapa?” tanya Jehian.


“halo pak Abdi!?,….. iya pak kita semua dah ngumpul di rumah Johan,… iya pak,… bolehh pak,… iya,.. iya iya,.. wokehh siapp,.. iya pak,… iya iya iya”


“apaansih iya iya doang kek meja resepsionis hotel, ada apa?” tanya Jehian.


“dia udah didepan bawa elf sekalian bawa kopi dari sana katanya” jawab Farel.


“orang itu gapernah berubah. Dia masih kecanduan sama kopinya” lantang Johan tertawa menggelengkan kepala.


Maka mereka semua pun berjalan keluar, Callysta dan Johan berpamitan dulu dengan kedua orangtuanya. Selepas itu, barulah Johan menaiki kursi bagian tengah. Nyatanya kursi mereka pas 8 orang dan menyisakan satu kursi di bagian depan. kursi tersebut memang disengaja kosong untuk barang bawaan pak Abdi sepulang nanti.


Di bagian paling depan terdapat pak Abdi yang sedang menyopir, disusul dibelakangnya Adam dan Adam, Nyoman dan Naomi, Farel dan Lia dan terakhir Callysta dan Jehian. Sebuah elf pun penuh dengan mereka semua


“aahhh nikmad bangett bisa duduk luas banget. kaki kita juga bisa lurus” ucap Lia.


“iya, nggak kek dulu yang kita duduk aja desek desekan” jawab Johan.


“iyalahh jelas. sekarang bapak dah resmi jadi sopir penyewa mobil elf. Jadi untuk kalian bapak gratiskan karena bapak juga udah kangen sama kopi di desa. Bapak dah ngidam banget berbulan bulan” jawab pak Abdi.


“lah kopi yang dulu dah abis pak?” tanya Johan.


“satu galon pun bapak abiskan dalam sehari” jawab pak Abdi diikuti tawa seisi mobil.


Mesin mobil pun menyala, pak Abdi menginjak pedal gas dan mulai pergi dari sana. Mereka semua membuka kaca mobil karena mereka masih ingin menghirup udara segar dari pagi hari. Mereka start perjalanan dari rumah jam 7 pagi dalam keadaan perut yang terisi oleh sarapan pagi mereka, namun,…


“kalau di mobil mulut diam aja tanpa cemilan juga bosen juga. bener gak?” tanya Jehian.


“kita aja masih belom masuk tol udah bingung snack” sahut Adam.


“tapi kan?” ucap Jehian tersahut henti.

__ADS_1


“udah udah, aku aja yang putar lagu biar mulutmu bisa diem dikit” sahut Johan.


Johan memutar playlist di spotify miliknya yang tidak premium dan memutar playlist yang ia buat sendiri. satu playlist full album Novo Amor. Lagu pertama yang Johan putar benar benar cocok untuk perjalanan pagi hari yaitu lagu berjudul “Oh, Round Lake – Novo Amor” disambung dengan lagu berjudul “Emigrate – Novo Amor”


Hangatnya mentari pagi menghangatkan suasana disana. embun pagi sehabis hujan membasahi dedaunan, jalanan dan fasilitas umum jalanan lainnya.


“ohh iya, Nyoman” ucap Johan.


“iya ada apa?” tanya Nyoman.


“aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku tidak tau kalau kalian berdua-“ ucap Johan terhenti.


“yaelah, cuma gitu aja? santai aja mah” jawab Nyoman.


“aku yang ngga enak. Aku aja baru tau tadi pagi” ucap Johan.


“gapapah, aku yang harusnya makasih soalnya udah bantu nemenin dia” jawab Nyoman.


“ada apa nih?” tanya Naomi.


“siapa yang kalian maksud?” tanya Lia.


“rahasiaaaa” jawab Johan dan Nyoman bersamaan diikuti tawa mereka berdua.


Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, mereka semua masih jauh dari kata sampai. Di jalan tol mereka hanya bisa melihat perkampungan dari sebuah desa. Rumah rumah sederhana, orang berjualan sembako dan lain lain.


“gimana nih? Mulutku dah asem banget” ucap Jehian.


“yaudah iyaa, dari tadi ngoceh mulu. Bapak berhenti ke supermarket” ucap pak Abdi dengan nada kesalnya.


“yeeaayy terimakasih bapak Abdi yang super duper sangat amat luar biasa tampan baik hati dan tidak sombong” ucap Jehian begitu senangnya.


Mereka semua turun ke supermarket, membeli beberapa makanan instan cepat saji dan beberapa snack serta minuman. Pak abdi dibelikan kopi sementara yang lain membeli snack yang begitu banyaknya. Bahkan total mereka semua membeli snack sebanyak 150 ribu rupiah.


“gilak banyak banget, apa gak salah kalian mau beli sebanyak ini?” tanya Johan.


“kita tau perjalanannya akan sangat jauh, jadi yaahh kita hanya berantisipasi” jawab Jehian dengan senyum lebarnya.


“dan kamu? Apa kamu yakin cuma beli roti sama susu?” tanya Johan kepada Callysta.


“aku agak pusing” jawab Callysta memegang kepalanya.


“apa kamu mual? Abis ini duduk sama abang, biar Adam yang dibelakang sama Jehian” ucap Johan.


“heem” jawab Callysta.


Mereka membayar barang belian mereka masing masing dan kemudian kembali kedalam mobil. pak Abdi menyeruput kopi buatan supermarket tersebut dan hanya bisa mengeluarkan lidah seraya berkata “ini kopi apaan, pait doang gaada aroma”


“adanya cuma itu. emangnya bapak mau kopi yang di dalem kulkas?” tanya Farel.


“gamau, malah kemanisan. Gaada rasa kopi kopi nya” jawab pak Abdi.


Pak abdi pun menginjak pedal gas dan kemudian beranjak meninggalkan tempat itu. mereka semua membuka snack mereka dan memakannya sementara Callysta hanya membuka roti dan meminum susu disamping Johan.


“aku beli obat pusing, abis makan diminum obatnya” ucap Johan.


“iya” jawabnya.


“abang udah bilang jangan ikut dan mending sekolah aja. kalo disekolah kan ada UKS kamu bisa tiduran disana” ucap Johan.


“yaudah sekarang aku tiduran disini kan bisa” ucapnya.


“hah? gimana?” tanya Johan.


Seketika Callysta meminum obatnya dan kemudian menggunakan kedua paha Johan menjadikan bantalan agar dia bisa tiduran disana. Johan tidak bisa menerimanya, dan tidak bisa menolaknya. Ia hanya diam melihat ulah adiknya itu.


“dasar,…” ucap Johan menghela nafas dalam.


Disepanjang perjalanan, Callysta hanya tidur di pangkuan Johan sementara kedua kaki Johan sudah kesemutan setengah mati. Setiap kali kepala Callysta bergerak, kesemutannya semakin menjadi jadi. Johan hanya bisa mengelus kepala adiknya yang tengah tertidur sementara ia hanya bisa melihat pemandangan luar. Pemandangan yang sama seperti dulu, mirip yang ada di mimpinya bersama dengan Greisha.


“kira kira sampainya jam berapa?” tanya Johan.


“kenapa? Apa kau keburu buru?” tanya pak Abdi.


“tidak, cuma nanya doang” jawab Johan.


“mungkin jam 12 nanti, tapi jika kau bilang terburu buru dari awal, mungkin kita sampai di jam 9 tadi” jawab pak Abdi.


“yaudah pak agak ngebut aja” ucap Johan.


“boleh” jawab pak Abdi.


Berjam jam berlalu, mereka semua tak henti hentinya mengoceh, mengobrol masalah yang tidak penting sementara Johan hanya diam memaku menatap jendela, mendengarkan kicauan dari obrolan tidak penting teman temannya.

__ADS_1


__ADS_2