Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 14 ; Pengendalian Emosi Mie Ayam


__ADS_3

“Johan sadarlah!” ucap seorang Odessa dari dalam lubuk hatinya.


Spontan Johan tersadar dari alam bawah sadarnya sebab tamparan keras dari sang ketua. Johan menatap wajah ketua dengan air mata yang masih mengalir. Melihat wajah ketua yang begitu khawatir dengan Johan membuat Johan begitu tersentuh. Johan memeluk ketua seerat eratnya sambil berkata “aku melihat kematian kakek melalui ingatan Odessa, aku melihat para roh terbakar hidup hidup dari ingatan Odessa, aku melihat teman teman papahku membakar hutan lewat ingatan Odessa. Semua ingatan Odessa mengalir diotakku. Aku tidak menyangka Odessa melalui kehidupan yang sangat rumit ini”


“benar bukan? Setelah kau melihat ingatan Odessa, cobalah berinteraksi dengannya. Panggil dia dan eratkan hubungan kalian berdua” ucap sang ketua.


“baiklah” jawab Johan.


“usap dulu air matamu itu. Odessa bisa merasakan Johan yang sedang diluputi kesedihan. Ini adalah latihanmu, bagaimana caramu mengendalikan emosi positifmu agar tidak terbuang dan terluapkan dengan emosi negatif. Perlihatkan kepada kita pengendalian emosimu” ucap sang ketua.


Johan pun mengusap air matanya, berjalan ke arah pohon dan duduk di atasnya. Johan mengambil posisi semedi dan kemudian meningkatkan insting serta semua indranya. Dalam hati yang terdalam Johan berkata “Odessa, apa kau mendengarku?”


Spontan Odessa menjawab “iya Johan, aku mendengarmu. Kau kembali lagi. aku senang sekali” jawab Odessa.


Mendengar suara Odessa yang seakan akan tidak terjadi apa apa membuat hati Johan tersayat. Johan masih membayangkan akan perjuangan Odessa dalam bertahan hidupnya.


“ada apa Johan? Aku merasa kalau kamu sedang menangis” ucap Odessa.


“kenapa? Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya kepadaku. Aku melihat ingatanmu, aku melihatmu bersama dengan kakek, aku melihat kakek memberi nama kepadamu. Ternyata pemberian nama kita sama. aku melihat kakek meninggal terbakar hidup hidup melalui ingatanmu. Kenapa kau tidak menceritakan semuanya kepadaku” ucap Johan dengan suara yang penuh isak haru tangisnya dalam hati.


“biarkanlah masa lalu dan kita harus hidup di masa depan, Johan” jawab Odessa.


Seketika Johan teringat akan ucapan dari ketua barusan. Johan teringat oleh kata kata ketua yang berbunyi “Ini adalah latihanmu, bagaimana caramu mengendalikan emosi positifmu agar tidak terbuang dan terluapkan dengan emosi negatif”


“benar juga aku harus bisa mengendalikan emosiku dan tidak tenggelam didalamnya”


“ada apa Johan? Kenapa kok diam?” tanya Odessa.


“aku ingin lebih tau, lebih mengenalmu. Aku ingin mempererat hubungan kita” jawab Johan/.


“eh? kok tiba tiba banget? ada apa Johan?” tanya Odessa.


“apa kau ingat kalau kita pernah membeli dua pot yang sama berisi pohon kaktus muda?” tanya Johan.


“ohh iya, aku ingat” jawab Odessa.


“kenapa kamu tidak bawa itu? punya mu tertinggal dirumahku” ucap Johan.


“baiklah kalau begitu, aku akan kerumahmu untuk melihat pohon kaktus kecil itu bersamamu, dirumahmu lagi” jawab Odessa.


“semoga aku bisa menjalani tugas di willsh” jawab Johan.


“Johan, aku mau bicara kepadamu” ucap Odessa.


“apa itu?” tanya Johan.


“saat kakekmu berada di dunia willsh, dia mencariku, padahal aku belum mati dan jiwaku masih belum ada di dunia willsh. Saat kamu berada di dunia willsh, carilah aku di pohon asalku. Aku saat ini berada disana” jawab Odessa.


“hah? sekarang kau berada di dunia willsh?” tanya Johan.


“yaahhh namanya aja akhiratnya para roh. Roh yang telah mati dikumpulkan di tempat asalnya. Namun hanya saja ini cuma replika dari dunia asli. kemudian setelah menyelamatkanku, kau akan bertemu dengan Kruger dan Greisha. Jika kau diberikan tawaran oleh Greisha dan Kruger untuk menjadi roh, tolak lah mentah mentah jangan seperti kakekmu. Kakekmu terlalu lama berfikir hingga kehabisan waktu dan tidak sempat untuk membunuh setiap manusia yang seharusnya sudah mati disana” jawab Odessa.


“apa kakek bimbang dengan pilihannya?” tanya Johan.


“iya, kakek bimbang. Karena kakek berfikir kalau menjadi roh akan lebih mudah dari menjadi manusia. Kakek berfikir kalau dia bisa bersama dengan nenekmu selamanya, tidak bisa meninggal dan abadi di bumi seperti para roh pada umumnya” jawab Odessa.


“terimakasih Odessa, aku sangat terbantu akan hal itu” jawab Johan.


“aku akan selalu menunggumu untuk menyelamatkanku. Hingga sampai kau memasuki dunia willsh dan aku bertemu denganmu, aku akan sangat meyakinkanmu. Jangan lupakan aku” ucap Odessa.


“aku tidak akan pernah bisa melupakanmu” jawab Johan.


“ohh iya, apa kamu udah kasih tau ke Kahfi adiknya Lia kalo dia harus minum jamu brotowali?” tanya Odessa.


“hah? kenapa?” tanya Johan.


“lah bukannya Kahfi itu ketua geng motor” jawab Odessa.


“hah? ketua geng motor? Kapan?” tanya Johan.

__ADS_1


“yang dulu kamu balapan sama seseorang, itukan anak buahnya Kahfi. yang kamu balapan dan menang tapi nggak jadi ngambil motor mereka semua” ucap Odessa.


“ohhh, yang habis dari mall” jawab Johan.


“nahh iya” ucap Odessa.


“tapi kok aku ngga ketemu sama Kahfi? masa iya dia beneran ketua geng motor?” tanya Johan.


“iya bener kok, Kahfi adiknya Lia” jawab Odessa.


“aku baru tau itu” jawab Johan tertawa lepas.


“kamu ini kemana aja” ucap Odessa tertawa lepas pula disana.


Obrolan mereka pun berlajut, para tetua sampai khawatir kalau Johan kehabisan energi disana. namun tubuh Johan sama sekali tidak kelelahan saat itu. tubuh Johan benar benar tidak merasakan adanya tanda tanda kehabisan energi.


“apa kamu tidak apa apa, kita udah ngobrol sangat lama” ucap Odessa.


“iya juga ya, tapi aku ngga ngerasa capek sama sekali kok” jawab Johan.


“udahlah kamu istirahat aja, besok atau besok lusa baru kamu ke willsh, pokoknya jangan lupakan aku” ucap Odessa.


“iya sayangku cintaku manisku” jawab Johan.


“dih najis” jawab Odessa.


“lah dipuji ngelunjak” ucap Johan.


“pokoknya aku gamau kamu kenapa napa, sekarang istirahat dan fokus latihan” tegas Odessa.


“baik tuan putriku, aku balik dulu, udah matiin telfonnya” ucap Johan.


“lah dikira kita telfonan” jawab Odessa.


“iya iya, udahan ya,.. dadahh” ucap Johan.


Johan perlahan membuka matanya, tetap dalam posisi semedi hanya saja ia membuka matanya. Ia perlahan menatap ke arah para tetua dan Adam.


Respon Johan pada saat itu hanya raut wajah yang datar, namun perlahan datarnya wajahnya berubah menjadi senyum lebar. Ia tersenyum seraya berteriak kencang “waaaahhh aku kangen banget sama dia, aku jadi pengen ke willsh sekarang juga”


“bukan itu maksudku!” sahut tegas Adam memukul kepala Johan hingga benjol.


“maaf” jawab Johan seketika jinak ditempat.


“bagaimana? Apa kau mulai bisa membedakan antara emosi positif dan negatif?” tanya Adam.


“aku sudah bisa, aku juga merasakan efeknya. Selama aku berkomunikasi dengan Odessa, aku menyaring dalam dalam emosi negatifku dan mengeluarkan emosi positifku. Nyatanya aku tidak gampang lelah. Malah aku diusir sama Odessa karena kelamaan bertapa” jawab Johan


“benar bukan? Jadi itulah caranya agar kamu bisa selamat di dunia willsh” jawab sang wakil.


“kalau begitu, aku mau balik. Aku laper parah mo meninggal” jawab Johan.


“masih banyak mie terbengkalai di dapur aula, buat aja sendiri, kita dah bosen makan mie” jawab sang wakil.


“apa disini gaada yang jualan makanan enak apa?” tanya Johan.


“sebenernya ada sih, pak Abdi yang sering makan disana. jadi disana ada kedai, jualan mie ayam. Kedengarannya sih b aja, tapi pas kita berempat diajak sama pak Abdi makan disana, rasanya seperti anda menjadi ironmen” jawab sang ketua.


“jadi penasaran, gas yuk kita kesana?” ajak Johan.


“boleh” jawab Adam.


Maka mereka semua pun berjalan ke arah aula kembali. jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sesampainya mereka di aula, Johan berlari ke arah dalam dan membuka dengan begitu kencangnya pintu kamar tamu mereka.


“selamat sore kawand kawand ku tercintah, aku dapat kabar kalo ada tempat yang super duper sangat amat luar biasa membanggongkan. Ada kedai yang jualan mie ayam, letaknya agak jauh sih, di desa sebelah. Kuranglebih dua kilo an dari sini. Gimana apa kalian tertarik!?” teriak Johan di dalam ruangan itu.


Selepas Johan berteriak seperti itu, Johan melihat semua teman temannya sedang makan mie ayam dari kedai yang sama. bahkan kemasan dari sterofoam nya pun sama.


“bentar lagi makan” jawab Callysta.

__ADS_1


“a-apa kalian? makan mie ayam di kedai itu?” tanya Johan dengan raut wajah kecewa.


“dibeliin pak Abdi, orangnya berangkat minjem motornya di aula sini” jawab Farel.


“ja-jahat banget kalian. sampai hati kalian. tega banget kalian ninggalin aku dan makan sendirian. Kalian tidak pernah memikirkan perutku yang bergejolak meronta ronta membutuhkan makanan, sedangkan kalian, asyiknya makan sendiri. benar benar begitu syulid, lupakan rehan, apalagi rehann enaakkk…” ucap Johan dengan mendramatisir keadaan.


“udahlah jangan lebay, apa kau tidak memikirkan perasaan penulis yang ngetik naskahmu ini?” tanya pak ketua yang berjalan memasuki ruangan.


“iya juga, pasti penulisnya jijik juga” jawab Johan.


*iya sih, aku ngebayang wajah nya Johan juga jijik, keknya Johan dah kena sindrom rehan ter rehan rehan:(


“kalau begitu, biar bapak aja yang berangkat” ucap pak wakil.


“pake motor yang mana pak?” tanya Johan.


“motor lejen yang bener bener enak dan bergiji banget” jawab pak wakil.


“emangnya nada bicaranya kek gitu? Walaupun ini cuma naskah tulisan tapi intonasi dan suaranya terngiang ngiang loh pak” jawab Johan.


“udaahh kalo emang kepo ikut bapak aja” ajak sang wakil.


“gimana yang lain?” tanya Johan.


“kita bungkus aja” jawab pak ketua.


“yaudah kalo gitu, kita makan disana aja pak” jawab Johan.


“boleh” jawab pak wakil.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan dan berjalan ke arah garasi motor. Disana mereka melihat pak Abdi sedang makan ditemani oleh beberapa ayam yang makan saudaranya sendiri.


“eh pak Abdi kok makan diluar?” tanya sang waki.


“ini, lagi ngasih makan ayam” jawab pak Abdi.


“kasih makan apa pak?” tanya Johan.


“sama daging ayam di mie ayamnya” jawab pak Abdi.


*jedeeerrrr


Spontan suasana berubah menjadi begitu drastis. Suara gemuruh petir menggema seantero langit setelah pak Abdi mengucap beberapa kata dari mulutnya.


“sepertinya akan hujan, kita lebih baik bergegas supaya tidak kehujana-“ ucapan pak wakil tersahut henti.


“kenapa? Kenapa ayam disini begitu psikopad sehingga makan saudaranya sendiri” jawab Johan dengan wajah mendramatisir keadaan.


“heh ingat! Novel ini genrenya bukan drama, jadi jangan sok sok an dah!” sahut pak wakil.


“kalian mau kemana?”


*jedeeerrrrrr


Ucapan pak Abdi pun diikuti gemuruh petir yang benar benar kencang dan angin yang berhembus mulai mendingin.


“kita mau beli mie ayam yang sama kaya pak Abdi. Johan bener bener ngidam soalnya” jawab pak wakil.


“iya nih pak, katanya enak banget. jadi pengen” jawab Johan.


“kalo gitu, cepetan, keburu kehabisan. Soalnya yang makan ditempat juga lumayan banyak” jawab pak Abdi


*jedeeerrrrrr


“apa apaansih, setiap kali bapak ngomong selalu ada petir” ucap pak Abdi dengan kesalnya.


*jedeeerrrrr duaarrrr duaarrr lebb wuiingg duuaaarrrr


“udahlah pak, keknya abis ini hujan deres banget. kita mau buru buru biar nggak kehabisan” ucap pak wakil.

__ADS_1


Pak wakil mengeluarkan motor lejen yang lejat dan bergiji banged nya kemudian Johan menaiki jok belakangnya. Perlahan pak wakil menarik gasnya dan kemudian beranjak dari sana.


__ADS_2